Mendengar pertanyaan tersebut dua sejoli, Ravin dan Inara malah saling bertatapan dengan kerutan kening yang jelas terbaca bahwa keduanya bingung. Tetapi, tidak satupun dari keduanya membalas ucapan Elvan.
Sebaliknya, Elvan yang tidak mendengar jawaban mereka berasumsi lain. “Jika begitu lebih baik kalian segera bercerai!”
“Apa yang kamu katakan? Bercerai?” Ravin tercengang.
“Ya, bercerai? Kalian tidak bahagia, kan? Kalian jelas tidak saling mencintai? Dan pernikahan ini hanya dipaksakan buat kalian,” ujar Elvan panjang. Hatinya sendiri pun merasa sedikit nyaman, mendengar perkataannya sendiri yang masuk logika dan gigih dengan segera mendesak mereka. “Apa lagi yang kalian tunggu, aku akan kembali bersama Inara?”
Ravin semakin tercengang, mulutnya terbuka dengan kebodohan adiknya yang sepertinya saat ini tidak bisa ditolerir sedangkan, Inara menatapnya tanpa ekspresi dan menjawabnya dengan sangat sengit dan penuh denguan jijik. “Elvan, apa sekembalinya kamu entah dari mana itu, otakmu jadi, tak waras? Apa kamu pikir aku mau balik sama kamu? Setelah kamu ninggalin aku dipelaminan, kamu kira hanya dengan omong kosongmu ini kita bisa kembali seperti dulu?”
“Inara, aku bisa jelasin semuanya. Aku tahu aku salah tapi, aku gak bermaksud untuk ninggalin kamu apalagi putus… dan, melihat hal ini semua?!” Raut wajah Elvan segera berubah menjadi memelas bahkan, kedua lututnya sudah berada di lantai dengan tangan yang sudah ingin meraih tangan Inara tetapi, ditolak karena Inara menjauhkan tanganya tidak ingin disentuh.
“Elvan,” panggil Ravin melihat adiknya sedikit menyedihkan. “Kami tidak akan bercerai lagipula, pernikahan bukan permainan yang bisa kamu lepas atau ikat seenaknya. Kamu udah ngelepas hak buat nikahin Inara dan itu, gak bisa diulang atau kembali lagi karena dia udah jadi, kakak ipar kamu.”
Brakkk!
Kepalan tangan Elvan menyentuh meja kayu dengan sangat keras membuat benada-benda di atas mejanya pun bergetar karena kekuatan sentuhannya. “Apa kalian menikah benar-benar hanya karena perintah dari Mommy atau …” Mata tajam Elvan mendongak, sengit memandang Ravin dan Inara. “Sebenarnya kalian sudah bermain di belakangku, kan selama ini?”
“Apa kamu tahu apa yang kamu ucapkan?” balas Ravin dengan menundukkan tubuhnya dan balas menatap tatapan Elvan dan itu lebih dingin seratus kali lipas dari yang dilakukan Elvan.
“Aku tahu.” Elvan menela salivanya, menguatkan tekad serta tatapannya. “jika itu memang tidak benar? Kenapa kalian tidak mau bercerai?”
Bunyi sendi-sendi dari kretekan tiba-tiba saja terdengar dari tangan Ravin yang mulai tidak bisa menahan sabar lagi dengan ucapan tidak masuk akal adiknya. “Karena kami sudah sepakat dan memutuskan sejak awal sebelum pernikahan terjadi jika, kami tidak akan bercerai kecuali.. jika, kami memang benar-benar tidak cocok tapi?!” Ravin menjeda perkataanya, sambil menegakkan punggungnya lalu merangkul bahu Inara membiarkannya bersandar langsung di bahu lebarnya. “Kami sangat cocok dan tentu saja sudah saling mencintai jadi, sejak awal aku tidak pernah berniat menceraikan Inara sejak dia jadi istriku.”
Jika ini adalah sebuah film kartun, Ravin maupun Inara pasti bisa melihat bagaimana kepulan asam dari gunung perasaaan yang mendidih marah, meluap ingin menyemburkan larva kemarahannya. “Ravindra Malik!” teriak Elvan tak kuasa membendungnya lagi dan seperti batu ketapel yang dilemparkan, tubuhnya melesat menerjang Ravin.
Hampir saja Ravin tidak bisa menahan serangan Elvan ketika tangannya sendiri sedang merangkul Inara tetapi, siapa bilang dia harus berperasaan ketika adik kandungnya berbuat ulah dengan mulai menyerangnya. Karena itu dengan kekuatan yang cukup Ravin menjulurkan kakinya dan membuat tubuh Elvan terpental tepat jatuh di sofa. “Jaga sopan santun kamu!” kecamnya penuh keseriusan pada Elvan yang sedang mengerang, memegang dadaanya yang baru saja di tendangnya.
Di sisi lain, tubuh Inara bergetar dipelukan Ravin. Saat Elvan hendak menyerang, dirinya sendiri hanya bisa tertegun tidak mampu bergerak dan hanya memejamkan matanya ketakutan. “Mas, baik-baik saja?” tanyanya setelah bisa mengendalikan diri dan menatap Ravin, yang ternyata memeluknya sangat erat dan menyembunyikannya dalam pelukannya.
Ravin menoleh, melihat mata kekhawatiran Inara yang langsung membuatnya mengelus wajah cantiknya tersebut. “Tidak apa-apa, jangan khawatir!?” balasnya sambil mengalihkan pandangannya dan tentu saja, Inara mengikuti tatapannya dan menemukan kondisi Elvan yang sedang mengerang sakit, mengusap -dadaanya sendiri. “Inara, pergilah ke kamar dulu, biar aku berseni dulu urusan di sini.”
Tangan Inara tiba-tiba langsungn mencengkeram. “Jangan berkelahi!”
Mendengar suara yang ketakutan itu Ravin menolehnya, hampir tertawa dan tidak peduli jika, di depannya ada Elvan. Dikecupnya bibir Inara. “Tenang saja, sekarang lebih baik pergi ke kamar dulu!”
Dengan bijak, Inara mengikuti perintah Ravin meski, masih penuh kekhawatiran tentang keadaan dua bersaudar ini. “Hati-hati, yah?!”.
“Kamu sudah lihatkan, Van?” tanya Ravin dengan wajah sangat serius. “Kamu masih mau keras kepala dan bersikap bodoh?”
“Aaaaargh!” kesal Elvan menjerit marah dan tidak peduli lagi apapun, dia memilih kembali menyerang tetapi, segera ditangkap lengah oleh Ravin.
Ravin itu pemegang sabuk hitam meski, sudah sangat lama tidak menggunakan keahliannya Ini tetapi, kemampuannya sudah menempel di darah, tulang dan daging. Jadi, bagaimana pun dia masih sangat mampu menahan serangan Elvan yang sedang kalut. Sekejap saja Ravin bisa membalik serangan tersebut. Dia yang menarik terlebih dulu kerah baju Elvan dan langsung memberinya pemukulan. “Apa kamu mau berhenti!”
“Sialan! Aku tidak punya kakak sepertimu,” ucapnya penuh dengki dan tidak membiarkan dirinya sendiri kembali mendapat pukulan, Elvan menyarangkan pukulannya dan tak pelak itu mendarat di pipi Ravin.
Sakit. Tentu saja, bogem mentah adiknya ternyata sama kuatnya dengan miliknya. Ravin meludahkan darah di bibirnya dan masih bersikap santai. “Sekali lagi aku tanya. Apa kamu bakal menyerah?”
“Gak akan berengsek! Harusnya kamu yang lepasin Inara. Dia cuma cinta sama aku?!” balas Elvan penuh teriakan marah.
Ravin mendengus keras, mendengar jawaban Elvan. Dia mencengkeram kerah bajunya dan memelotinya scae untuk menyadarkan adik bungsunya yang manja sepertinya jika, hanya beberapa pukulan itu sudah bisa dibilang cukup.
“Sialan, mati saja kamu sana!”
“Dasar bocah tengkik!” geram Ravin, ‘kuberi kesempatan malah disia-siakan.’ Setelah itu perkelahian pun terjadi dengan tubuh Elvan dihempaskan Ravin dan mulai memukulnya agar menyerah dan tidak memikirkan Inara lagi.
“Apa kamu sudah bisa sadar, hah …hah?” tanya Ravin dengan napas terengah serta kepalan tangan yang masih teracung di atas siap mendarat kapanpun Elvan menjawab tak sesuai harapannya.
Sebenarnya Elvan, sudah ingin menyerah atau setidaknya di harus bisa memukul balik serangan Ravin. Sayang, tenaganya hari itu lemah. Perutnya bergetar karena kelaparan. Tadi pagi, dia hanya makan sedikit karena tidak berselera jadi, tentu saja hari ini dia kalah dengan kedua tangan dan hanya bisa memejamkan mata menerima pukulan Kakaknya.
***
Keluar dengan rasa malu dan marah sebenarnya bukan Elvan sama sekali tetapi, baru saja dia dikalahkan oleh kakaknya dan terusir begitu saja dari apartemennya. Elvan membanting pintu mobil, sangat kencang setelah bisa mendudukan diri sendiri di depan kemudi setir. Emosinya masih belum juga reda, kembali meluap dan hanya bisa memukul setir sebagai pelampiasan.
Elvan mengendarai mobil dalam keadaan marah, entah mau pergi ke mana lagi setelah ini. Tidak ada tujuan yang bisa ia pikirkam kecuali, wanita lain yang sebelumnya sempat menggoyahkan perasaannya tetapi, akhirnya benar-benar menghancurkan mimpinya. “Nadira! Duk …duk… “
Nadira berlari tergopoh-gopoh keluar dari ruman kontrakannya setelah mendengar suara teriakan dan melihat Elvan berdiri di sana dengan keadaan kacau. “Van, kamu gakpapa?” tanyanya langsung khawatir dan hendak memegang lengannya tetapi, ditangkis.
“Jangan menyentuhku! Ini semua gara-gara kamu.”
Tentu saja Nadira langsung tercengang. ‘Kenapa dengan si Bodoh ini?’ tanyanya dalam hati tidak berani mengungkapkannya ke permukaan meski, sekarang wa karena mulai kesal dan geram.
“Terus, kalau ini memang salah gue buat apa lo kemari lagi ke sini? Apa ini rumah lo? Atau, tempat induk sarang lo?” balasnya emosi.
Sesaat Elvan benar-benar terdiam dan bingung hanya mampu mengepalkan tangannya saja. Nadira yang melihat betapa kacau dirinya akhirnya menyerah dan melupakan amarahnya sendiri. Menarik ujung lengan baju Elvan dan menyuruhnya masuk ke rumahnya. “Ayo, masuk! Jangan cuman berdiri di sini atau lo mau banyak orang liat.”
Penuh perhitungan akhirnya Elvan bersedia masuk karena lelah menghimpit, tanpa menunggu dipersilahkan tubuhnya sudah terhempas di sofa. Nadira, yang melihatnya sangat kacau akhirnya tidak tahan juga dan segera pergi ke dapur membawa air minum, kemudian berbalik lagi mencari baskom dan obat-obatan seadanya. Inginnya dia membantunya sendiri tetapi, pria ini sedang tidak stabil, Nadira tidak mau jadi bahan kemarahannya lagi dan akhirnya hanya meletakkan semuanya di depan pria itu.
“Minum dulu lalu bersihkan wajah lo terus obati.”
Tubuh Elvan benar-benar sedikit gemetar, entah karena rasa sakit karena dipukuli atau karena terlalu lapar sehingga membuat hilang terkuras. Meraih gelas di depannya pun dia cukup gemetar kedinginan. Setelah dia minum seteguk, rasanya cukup luar biasa tepat sekali, Nadira memberinya air teh hangat, itu seperti mengembalikan fitalitasnya meski tidak sepenuhnya. Rasanya tubuhnya lebih baik dari beberapa menit lalu.
“Sudah lebih baik?” tanya Nadira.
Diberi pertanyaan seperti itu, tiba-tiba saja raut wajah Elvan menjadi sedikit memerah perasaan malu karena sudah berbuat onar di sana-sini mulai meruntuhkan egonya. “Maaf, aku gak bermaksud ganggu kamu.”
“Yah, lo emang gak bermaksud ngganggu tapi, jelas lo pengen melampiaskan kemarahan lo ke gue.”
Elvan ingin mengelak tetapi, rasanya tidak bisa hatinya tidak mengizinkan jadi, dia hanya bisa menunduk dan tetap menghabiskan teh hangatnya sebelum dia ingin bicara serius dengan Nadira. ‘Sebenernya apa yang salah kenapa malah jadi seperti ini,” keluh Elvan pada akhirnya.