Memberi salam

1995 Kata
“Maafin Mommy, Sayang! Dasar anak nakal itu, dia sangat berani kabur dari rumah. Mommy bakal hukum dia setelah dia pulang, lihat saja!” Suara Deswita berapi-api dari video call yang terhubung. “Sudah, gapapa, Mih! Nasihatin saja dia, gak usah dimarahin lagi,” ujar Ravin terdengar sangat bijak. Di sampingnya Inara menoleh dengan sudut matanya, melihatnya dengan sangat aneh. Kurang dari satu jam lalu saat Inara mengobati lukanya saja Ravin begitu sangat cerewet, dia bukan hanya mengumpati Elvan tapi, juga kesal ujarnya dan bilang akan protes pada orangtuanya terutama Ibunya yang tidak bisa mengatur anak bungsunya. “Ok, ok, tapi kamu gak terluka, kan, Vin ? Seberapa banyak dia mukul kamu, Sayang. Udah kamu obtain.” “Mommy, bisa lihat sendiri, nih!” Ravin memperlihatkan sudut bibirnya yang terluka. “Dia mukul aku di sini! Duh, sakit sekali. Rasanya pengen nangis sambil guling-guling,” ujarnya hiperbola. “untungnya aku kuat banget gak nangis pas dipukul. Terus juga, langsung diobatin Inara. Kalo ngga ada Inara, aku gak tahu apa besok bisa masuk kerja atau malah masuk rumah sakit?” Kepala Inara berkedut kencang, tangannya gatal mencubit lengan Ravin. “Yah, ngomongnya ngasal banget, sih,” ujarnya lalu berpaling pada Deswita di dalam smartphone-. “Mom, jangan dengerin Mas Ravin, yah?! Dia sedang lebay banget padahal, lukanya cuman sendikit.” “Tapi tetap saja dia terluka, Sayang. Inara kamu harus jagain Ravin, yah, jangan biarin dia demam nanti malam kalo ngga, panggil aja Dokter sekarang. Dokter syaraf! Yah, Ravin!” tiba-tiba saja nada suara Deswita dengan cepat berubah dan video kembali pada Ravin. “Dasar anak kurang ajar, pasti kamu mukul adik kamu habis-habisan, kan? Berani sekali kamu bikin dia babak belur.” Raut wajah Ravin menjadi kaku, senyum lebarnya dengan cepat menghilang ketika mendengar ibunya baru saja menegurnya. “Kan, dia yang mulai, Mom.” “Jangan banyak alasan! Meski, dia yang mulai seharusnya kamu bisa lebih baik buat nenangin dia. Dia itu sedang emosi dan gak stabil.” “Yah, sekarang kenapa Mommy marah sama aku, sih? Gak tau ah, aku juga mau marah sama Mommy.” Ravin segera meninggalkan ponselnya pada Inara dan berlalu pergi begitu saja. Inara menoleh, matanya mengikuti Ravin terheran-heran sampai punggungnya tidak lagi terlihat. “Mom, sejak kapan Mas Ravin jadi, tukang merajuk begitu.” Deswita menepuk dadanya, “Jangan hiraukan dia. Inara kamu baik-baik saja, kan? Elvan tidak mengatakan atau melakukan apapun padamu, kan?” “Aku baik-baik saja, Mom. Elvan juga tidak melakukan apapun.” Dari balik sana Deswita menghela napas, tersenyum kaku saat dia melihat Inara. Ada rasa tidak nyaman saat melihat menantunya dan ingin mengatakan sesuatu. “Ya, sudah, yah, Sayang! Baik-baik jaga Ravin.” “Iya, Mom. Mommy juga baik-baik saja. salam buat Daddy, yah!?” Kemudian, sambungan telepon terputus. Inara menarik napas lalu melihat pintu kamar yang tertutup, dia takut jika Ravin benar-benar merajuk dan marah segera kakinya berjalan cepat masuk. “Mas?” “Hm?” sahut Ravin mendongak tetapi, matanya tetap pada isi laptonya. Dia sedang berbaring santai dengan laptop dipangkuannya seolah tidak ada yang terjadi membuat Inara heran lagi. “Aku kira Mas sedang merajuk marah dan bersembunyi diselimut sambil menangis,” ujar Inara sambil mendekat dan duduk di sampingnya. Ravin tertawa mendengar tebakan Inara. “Tadi, aku hanya sedang bercanda saja dengan Mommy. Gak mungkin aku beneran marah,” ujarnya sambil tertawa. Inara pun tidak salah lagi tertawa. “Aku kira itu sungguhan karena baru pertama kali liat Mas, merajuk kayak gitu.” “Masa? Kalo gitu kamu harus antisipasi jika, aku marah sungguhan.” “Kenapa?” Ravin berpose berpikir lalu, menyingkirkan laptopnya dan menarik Inara untuk semakin mendekatinya. Tidak diragukan lagi, bibirnya tidak bisa diam sesaat dan mendarat di mana saja di wajah Inara kemudian berbisik ditelingannya. “Orang bilang, marahku itu sangat menakutkan! Jadi, jangan membuatku terlalu marah sampai aku gak bisa mengendalikan diri, Ok?!” Telinga Inara jadi, jangan panas mendengarnya. Kulit wajahnya jadi memerah ditambah kelakuan nakal Ravin yang bukan hanya berbisik tetapi, juga menggigit cuping telinga dan mendesahkan napas membuat gatal sekujur tubuh. “Mas!” pekik Inara sambil mendorong d**a bidangnya suaminya yang tiba-tiba saja jadi, nakal dan m***m. “Udah, yah! Jangan nakal aku lagi dapet.” “Aaaakh!” jaeritan kesengsaraan Ravin tiba-tiba datang lagi, wajahnya ditekuk kecewa tetapi, malah membuat Inara tertawa terbahak-bahak. Di saat Inara yang merasa puas melihat penderitaan Ravin berbeda lagi dengan sahabatnya Nadira yang harus menahan tangis sekaligus marah hanya karena perlakukan Elvan di luar batas. Plak!! Wajah Elvan itu sudah cukup memar. Ravin memang tidak ragu untuk memukulnya tetapi, juga cukup berhati-hati. Dia tidak membuat luka yang berbahaya seperti di mata atau hidung yang kemungkinan bisa bengkok. Ravin menyarangkan bogem mentahnya hanya pada rahang juga pipi tidak berlebihan jika bagian gusinya-lah yang membengkak disertai giginya yang ngilu dan hampir copot dan sekarang sepertinya ruang dalam mulutnya terluka dan berdarah karena sebuat tamparan yang dibuat Nadira. “G-gue gak sengaja,” gagap Nadira yang melihat antara pipi Elvan dan tangannya yang digunakan untuk menampar pipi tersebut. “I-itu refleks karena lo baru aja bikin gue takut,” ucapnya sedikit keras khawatir Elvan sampai tidak mendengarnya. Elvan tidak bisa mengatakan apapun tetapi, matanya sudah berkaca-kaca merasakan nyeri bahkan, tatapannya tidak bisa lepas dari telapak tangannya yang kini berdarah setelah menyentuh mulutnya yang sepertinya terluka karena tamparan barusan. Nadira tiba-tiba terhenyak setelah tidak mendengar jawaban Elvan dan memerhatikan darah yang muncul dari sela-sela bibirnya. “Van, lo berdarah.” “Lagi-lagi ini karena kamu?!” Helanya membuang napas dan terdengar seperti desahan penuh penyesalan. “Aku gak tahu kenapa bisa-bisanya malam itu ke sini dan menyatakan cinta yang sebenarnya aku raguin juga dan harusnya aku bersyukur mendengar penolakanmu bukannya frustrasi dan pergi menyendiri meninggalkan Inara yang akhirnya harus menikah dengan kakakku pada akhirnya. Ini semua salah kamu, Nadira. Aku nyesel pernah kenal sama kamu,” ucapnya lalu berdiri dan pergi. Mendengarkan semua keluhan Elvan barusan, Nadira hanya bisa tercengang dengan tubuh bergetar menahan tangis sekaligus marah. Kata-katanya cukup menusuk perasaannya. Siapa Elvan? Siapa dia yang bisa berkata seperti itu? Hanya remasan demi remasan tangan Nadira memeras pakaiannya dan akhirnya air matanya tidak lagi bertahan dan terjun bebas seperti arung jeram. Di tengah-tengah langit sore dengan matahari terbenam tersebut Nadira terisak, menangisi kesalahan yang ditimpakan padanya begitu saja. Sebelum itu terjadi, Nadira-lah yang akhirnya membantu Elvan yang kesulitan membersihkan dan mengobati lukannya. “Kenapa sampai begini?” tanyanya perihatin. Elvan melirik wajah Nadira yang cukup dekat dengannya, memerhatikannya dengan teliti merasakan debaran cinta yang pernah ia sebutkan sebelumnya. Rasanya sungguh sangat aneh, bagaimana perasaan itu kini hilang dengan mudah padahal, dia begitu yakin setelah berbulan-bulan sebelum acara pernikahannya akan dilaksanakan dia begitu nyaman di sisi Nadira. Kemana-mana Nadira-lah yang menggantikan sosok Inara yang selalu sibuk dengan urusan butik dan pelanggannya sebelum menjelang pernikahan. Dengan alasan tersebut Inara berkeinginan dan berpikir jika setelah menikah nanti, dia bisa mengambil cuti melakukan bulan madu lebih lama. Tetapi, karena itu juga Inara terlalu sering mengabaikan Elvan membuatnya berakhir terus bersama Nadira. Di saat itulah benih-benih perasaan itu muncul dan membuat kacau semuanya. “Lo ngapain liatin gue terus?” “Kapan kamu mau pake gaya bicara lebih baik. Setidaknya sama aku?” “Emang, kenapa gaya bicara gue? Lo gak suka?” Elvan menghela napas. “Bukan masalah gak suka tapi, apa kamu juga pake bahasa lo dan gue ketika ketemu pelanggan?” “Gue ngelakuin itu, kok,” tukas Nadira lalu berdiri dan membereskan baskom serta obat-obatan yang sudah digunakan dan kembali, membawa sekantong es batu untuk meredakan lebam-lebam di wajah Elvan. “Pake ini juga, biar wajah lo gak bengkak.” “Makasih,” balasnya sambil menarik lengan Nadira dan mendudukannya di sampingnya. Nadira mendelik tidak suka, “Apa-apaan, sih, lo,” ujarnya sambil memundurkan diri, sedikit memberi jarak. “Aku, kamu..apa sulitnya gunakan kata itu? Apa aku kurang pantas buat mendengarnya dari bibirmu itu.” Tunjuk Elvan tepat ke bibir Nadira yang masih bisa dijangkaunya. “Ish, jangan pegang-pegang.” Nadira menghalau lagi tangan Elvan dan memalingkan wajahnya yang sedikit bersemu merah. Elvan terkekeh. “Tadi saja, kamu pegang-pegang bibirku. Aku gak masalah. Aku cuman pegang gak bakal cium atau…” Elvan menggeser tubuhnya mendekat. “Kamu pengen aku cium, yah?” “Lo jangan suka ngadi-ngadi minggir sana,” ketus Nadira malah merasa sangat kesal setelah digoda seperti itu. Jauh di dalam hatinya Nadira merasakan benci dan marah pada dirinya sendiri setelah bagaimana jika dia dulu pernah terpikat dengan pria tak punya otak depan matanya. Apa yang salah darinya sehingga diam-diam masih memendam perasaan dan malah membuatnya menutup hati pada pria-pria lainnya. ‘Sialan! Gue udah harus bener-bener berhenti mikirin ini orang. Lama-lama dia cuman bikin gue jijik. Tadi, aja dia marah-marah nyalahin gue sekarang, kurang ajarnya malah sok-sokan bikin gue ge-er.’ “Nad, apa yang harus aku lakuin?” Elvan memegang tangan Nadira dengan kepala merunduk bertanya seolah dialah harapan terakhirnya. Melihatnya seperti ini, Nadira ingin menghancurkan dirinya sendiri, yang masih mamandangnya dengan perasaaan tak tega dan kasian. “Maksud lo apa?” tanya Nadira dengan nada suara baik-baik saja. “Kumohon bantu aku, Nad. Rasanya aku gak tahan dan gak bisa terima kalo Inara harus bareng kakakku, Ravin. Hatiku rasanya sakit banget liat mereka.” “Jadi, pernyataan cinta lo di malam itu bohong? Kalo aja gue jawab iya saat itu, bukannya lo juga bakal ninggalin Inara? Jadi, buat apa lo sakit hati kayak gini?” Nadira dengan jujur membuka suaranya yang sebenarnya penuh perhatiannya yang menyakitkan. Seharusnya dialah yang lebih marah dan kecewa, bagaimana Elvan bisa seperti ini padahal, seluruh masalahnya berawal dari dirinya sendiri. Elvan yang diberi pertanyaan seperti itu bergerak kaku dengan mata yang mengintip ekspresi Nadira. “Aku sebelumnya benar-benar merasa cinta sama kamu dan merasa gak mampu buat ninggalin kamu buat nikah sama Inara karena kupikir kamu pasti bakal sangat sedih karena … meski, kamu gak omong kalo kamu cinta sama aku. Aku tahu kalau kamu akhirnya mendem rasa buat aku.” “Bullshit! Banget, sih, lo?! Lo gak bakalan tahu, kalo bukan gue sendiri yang ngomong. Udahlah berhenti bicara omong kosong dan terima kenyataan kalo Inara akhirnya udah jadi kakak ipar lo.” “Gak! Pernikahan mereka hanya dipaksa. Inara, kan cuman cinta sama aku. Bayangkan tiga tahun lamanya aku udah bersama dia, banyak kenangan manis yang kami miliki! Mereka gak cocok dan gak akan bahagia. Mas Ravin gak bakalan mencintai Inara seperti aku yang cinta sama dia.” “Sok tahu!” Nadira melepas genggaman tangan Elvan, mendelik marah padanya. Hatinya sakit. Sakit buat dirinya sendiri juga buat Inara, sahabatnya. Entah kenapa baru sekarang dia bisa melihat wajah asli Elvan, beruntungnya dia tidak pernah bergaul terdalam dan hanya menyimpan perasaannya begitu saja “Mereka itu sangat bahagia. Gue lihat sendiri Mas Ravin jelas nerima Inara dan cinta banget sama dia.” “Dari mana kamu tahu?” tanyanya sengit. “Gue tahu karena gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Gimana abang lo memperlakukan Inara,” jawab Nadira dengan tatapan rumit dan sekilas iri beruntungnya sahabatnya yang bisa dicintai dengan mudah apalagi oleh dua bersaudara ini. “Begitu juga sebaliknya. Meskipun, pernikahan mereka bukan karena cinta tapi, sekarang mereka udah saling cinta sebaiknya lo, terima semua itu toh, lo juga turut andil dalam pernikahan mereka.” “Gak, akan!” teriak Elvan marah dan mencengkeram pergelangan tangan enarik Nadira, menahannya sangat kuat seolah ingin mematahkannya tetapi, akhirnya dihempaskannya akhirnya kemudian Elvan mulai tertawa sinis sambil memandangi Nadira dari atas ke bawah. “Kamu bilang gitu karena, kamu pikir aku akhinya bisa bebas buat milih kamu, kan? Nad, aku bersyukur saat itu kamu nolak aku karena akhirnya, aku sadar siapa yang sebenarnya aku cintai. Ternyata, aku cuman anggap kamu teman special. Maafin aku tapi, gak mungkin kita bersama.” ‘Dasar berengsek, otak udang?!’ pekiknya marah dalam hati. “Lebih baik lo enyah aja, Dan, jangan pernah ke sini lagi atau bahkan, lo bisa pura-pura gak kenal lagi sama gue.” “Nad, bukannya lo cinta sama aku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN