Masa lalu

1859 Kata
Nadira biasanya tidak pernah bisa diam, dia akan melakukan sesuatu. Apa saja akan dia lakukan selama itu adalah jam kerja. Entah itu hanya menyortir atau hanya sekadar mengukur ulang atau juga, dengan telaten memastikan desain para pelanggan. Dia sebagai pemilik kedua butik ini sama sibuknya seperti Inara bahkan, mungkin lebih menyibukkan diri sendiri dan tidak mau pekerjaanya kurang dari yang Inara kerjakan. Dengan melakukan semua itu, dia merasa setara dengan sahabatnya tersebut. Hidaup terlampau kekurangan pernah menjadi masalah besar bagi Nadira, yang terlahir dari keluarga Broken home. Ibu dan ayah yang sebelumnya selalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai tidak pernah peduli apa anaknya tumbuh dengan baik atau tidak. Semenjak kecil Nadira terbiasa berjuang sendiri, entar dari umur berapa tetapi, selama yang dia ingat ayah ataupun ibunya tidak pernah melakukan apapun dan hanya memastikannya untuk tidak kelaparan dengan hanya memberinya makanan sisa bekas mereka makan. Saat waktunya sekolah dasar, bibinya-lah yang mendaftarkannya meski dia pun tak sepenuhnya membiayainya tetapi, setidaknya membuatnya menjadi anak terdidik. Semua pakaian sekolah dasarnya hanya bekas dari pemberian orang lain dan tidak pernah ada uang. Jadi, dia hanya bisa menjajakan dagangan bibinya sebelum mendapatkan beberapa lembar rupiah. Saat menuju sekolah menengah, Nadira masih berusaha melanjutkan meski begitu sulit. Dengan menjajakan kue dan mencari beasiswa dia akhirnya menyelesaikan sekolah menengahnya dan bertemu Inara di sekolah menengah atas. Orang yang pertama kali meminta berteman dengannya, tidak peduli seberapa suramnya dia. Kali ini bukan lagi karena Nadira kekurangan uang dan terlihat sangat lusuh dan miskin. Dia juga baru saja ditinggal kabur ibunya yang melarikan diri dan ayahnya yang ditangkap polisi. Tinggallah, dia sebatangkara dengan segala kesulitan hidup. Mungkin hidup perih tetapi, bayangan masa depan di mata Nadira tidaklah pernah suram. Dia bermimpi ingin menjadi sukses, memiliki uang dan bisa hidup nyaman dan untuk memenuhi semua itu dia harus belajar sekaligus bekerja meski, sulit. Selama itulah Inara memasuki kehidupan Nadira. Awalnya keduanya hanya teman sebangku biasa lalu, menjadi sahabat sampai sekarang juga selamanya. Itu harapan Nadira yang sedari kecil tidak pernah merasakan hangatnya keluarga tetapi, setidaknya dia punya sahabat yang setia. Sehingga, sedemikian iri-nya dia pada kehidupan Inara dia tidak pernah ingin mengkhianatinya. Itulah yang membuatnya tidak sampai hati mengatakan cinta pada Elvan dan memilih memendamnya bahkan, sampai saat Elvan datang sendiri di malam itu. Nadira adalah sahabatnya juga saudaranya satu-satunya. “Euhmmm… kenapa terus-terusan melamun?” tanya Inara sambil menjepit hidung bangir Nadira, yang sejak tadi hanya bertopang dagu saja di sebuah meja di dalam sebuah café dan hanya menatap lalu lalang pelanggan dari balik kaca. Nadira meninggalkan butiknya dan duduk di sana hampir satu jam lebih dengan memesan minuman dan beberapa cake yang bahkan, tidak disentuhnya. Nadira menggeram melepaskan tangan jahil Inara pada hidungnya lalu, menariknya untuk duduk dan mulai bergelayut manja penuh desahan berat. “Gue pinjem pundak lo sebentar.” “Kamu punya masalah apa, cerita donk?” “Gak ada masalah, kok! Cuman lagi ngebebanin pikiran aja.” “Saking gak punya beban pikiran, yah? Ya, udah mau aku transferin beban pikiranku, hm?” Mata Nadira mendelik dan mendengus tetapi, setelahnya dia tetap lanjut bersandar di bahu Inara. “Lo bagiin aja sama laki lo itu, si Mas Ravin pasti dia kesenangan banget,” ucapnya sinis. Inara hanya tertawa mendengarnya. “Kenapa, sih, masih gak suka sama Mas Ravin? Dia suamiku, loh dan Nad, kamu, tuh sahabat aku masa—“ “Hey-hey,” sela Nadira cepat sambil berdiri tegak. Tidak ingin Nadira salah paham. “Siapa bilang gak suka, sih? Asal dia baik dan bisa bahagiain ,lo, sebagai sahabat itu cukup.” “Kalo gitu kenapa? Aku liat dari pagi—“ “Iya, tau wajah gue ditekuk, jutek , jelek pula,” sela Nadira lagi kali ini sambil menghela napas keras. “Lo, udah cinta beneran sama Mas Ravin, yah?” “Menurut lo?” “Gue masih berharap lo bisa pertimbangin Elvan lagi,” sahut Nadira tidak terduga. Mengantisipasi jawaban Inara, Nadira menegakkan punggungnya bahkan, meliriknya dengan sudut matanya tidak ingin terlalu jelas terlihat. “Gak akan ada pertimbangan lagi buat dia, Dira. Tapi, kalo buat diri kamu sendiri gimana? Kamu bilang pernah cinta sama Elvan. Kenapa gak coba kamu perjuangin?” Tiba-tiba saja napas Nadira teras berat, tangannya mencengkeras sisi kursi yang sedang didudukinya. Teringat apa yang sudah terjadi kemarin lalu antara dia dan Elvan. Rasanya bodoh jika, dia bersedia mengejar cinta pria plin-plan kayak dia. “Gue gak mau! Lagian jelas Elvan itu cinta banget sama, lo.” Inara tertawa sinis. “Omong kosong. Udahlah, karena kita sama-sama gak mau sama dia. Gak perlu kita obrolin lagi soal dia…jadi, sekarang!” Inara bangkit berdiri dan menarik Nadira. “Balik kerja sana! Selesaiin pesanan pelanggan.” “Anjaayyy! Gue kan baru mau males-malesan.” “Gak ada waktu males-malesan! Ayo, let’s go!” Semangat Inara sambil menarik sahabatnya kembali ke ruangan studio mereka. Tidak lupa dia juga membawa makanan dan minuman yang belum sempat di makan Nadira sambil memesan beberapa lagi untuk dibagikan pada karyawan mereka. ** “Elvan, kamu masih diam di kamar?” Deswita menggedor pintu kamar anak bungsunya, tidak tahan melihatnya mengunci pintu sendiri setelah pulang dari pelariannya. “Apa kamu gak lapar? Cepat buka pintunya! Kamu harus makan.” Di sampingnya Ravin menghela napas, kasihan melihat ibunya teriak-teriak tapi tak diacuhkan oleh Elvan, si Anak Manja. “Biar, aku dobrak aja, deh, Mom. Coba Mommy-nya minggir!” Mendengarnya tentu saja Deswita menolak, dia memukul Ravin beberapa kali di pundaknya. “Enak saja, didobrak! Ini gara-gara kamu juga, sih?! Mommy bilang jangan sampe dipukuli adiknya masih aja dipukul,” ujarnya kesal lalu berbalik lagi ke depan pintu, menggedornya sambil berseru lebih keras. “Elvan, Sayang. Kamu denger baru aja Mommy bales dendam buat kamu. Mommy pikir Mommy udah pukul balik kakak kamu, jadi, ayo makan dulu. Buka pintunya!” Ravin yang jadi korban puku alasan tak jelas ibunya hanya bisa meringis kesakitan. Dia datang kemari khusus buat adiknya, Elvan setelah Deswita mengomeli tak henti ditelepon dan menyalahkannya karena telah memukul adiknya terlalu keras. Ravin awalnya enggan tetapi, demi tidak diteror ibunya sendiri lebih baik datang dan bicara lagi dengan adiknya. “Elvan keluar! Duk duk duk!” Kesal Ravin sambil berseru memanggilnya. Di dalam kamar Elvan sebenarnya sedang duduk dan mencoba merokok. Dirinya merasa frustrasi dengan semua hal, serasa apa yang dilakukannya semenjak mengambil keputusan untuk pergi menjadi salah semua. Tidak mudah menerima semua kenyataan ini, jauh dari itu niat awalnya hanya untuk pergi sesaat dan kembali setelah meyakinkan diri. Tidak sampai berbulan-bulan bahkan, bagaimana bisa saat berada di sana dia tahan tidak menghubungi siapapun. “Aaaack! Sialan, aku emang g****k banget.” “Mommy, nyerah aja! Dia gak bakal keluar.” “Mommy, gak bisa nyerah. Enak aja, kalo adik kamu tambah parah gima—“ “Berisik!” sela Elvan akhirnya membuka pintu dengan tampang sangat buruk, membuat duo ibu dan anak. Deswita dan Ravin terpaku diam yang kemudian disertai helaan napas. “Sekarang udah liat akunya, aku baik-baik aja. Jadi, Mommy dan juga lo, Mas … pergi! Aku mau istirahat.” “Tapi, makan dulu,” ujar Deswita cepat. Dia mendorong troli makanan yang sengaja dia bawa sejak tadi. Awalnya Elvan enggan tetapi, rasa lapar sudah menyentuh perutnya juga yang sejak kemarin tidak terisi makanan dan cuman air. Diam-diam meski, malu Elvan menarik trolinya masuk dan dengan gerakan gesit Ravin mengikutinya masuk untuk bicara lagi. Elvan awalnya tidak sabar sampai saat dia akan berbalik kakaknya yang menutup pintu. “Masuk! Kita bicara lagi,” ujar Ravin dengan mata jelas memerintahkan adiknya untuk tidak protes. Tentu saja Elvan ingin protes tetapi, rasa lelah dan lapar membuat tubuh sangat lemah dan akhirnya pasrah. Melihat adiknya sangat lesu, Ravin yang pengertian yang mendorong troli sampai ke meja dan membuka beberapa tudung saji ada sepiring nasi serta lauk pauknya juga, ada buah-buahan serta beberapa cemilan yang digemari Elvan sendiri. Plak! “Jangan sentuh makanannya, ” ujar Elvan sembari menggeplak tangan Ravin yang ingin memegang piring makannya. “Aku cuma mau pegang piringnya, gak bakalan ngambil makanannya juga.” Elvan mendengus, memalingkan wajahnya menarik piring makannya tidak mau berhadapan dengan kakaknya. Revan dengan sabar mengawasinya dengan kedua tatapan matanya tidak meninggalkan sosok Elvan sampai dia selesai makan dan minum. Di balik itu akhirnya Elvan bisa menenangkan hatinya, tidak seperti kemin perasaannya kini lebih tenang. “Oke, jadi apa yang mau Mas Ravin omongin? Apa akhirnya kalian mau bercerai? Inara masih sangat mencintaiku, kan? Harusnya Mas Ravin gak pernah nikahin dia, dia, tuh, milik aku.” “Berhenti ngomongin perceraianku sama Inara kalo tidak, mau mulutmu ku jahit, hah? Gak akan ada perceraian. Kami sudah saling mencintai—“ “Berengsek!” teriak Elvan berubah kembali jadi emosi. “Kalau begitu buat apa ke sini pergi!” usirnya penuh amarah. Ravin tidak bergeming oleh kemarahan Elvan sebaliknya sangat tenang. “Aku ke sini tentu aja ada yang harus ada yang dibicarain. Alasan apa yang buat kamu milih pergi saat acara pernikahan? Aku denger sesuatu dari Mommy.” Elvan terkekeh mengejek, “Aku tahu Mas Ravin bakal gini! Mas Ravin masih belum lupain Mba Jovanka, kan? Aku akan mempertemukan kalian lagi tapi, segera bercerailah dengan Inara.” Ravin berdiri, dengan matanya yang dingin. “Aku gak peduli dengan wanita cukup hanya dengan memastikannya. Ternyata, dia masih hidup? Baguslah. Hanya itu… dan, Elvan bersihin otak kamu itu, Inara udah jadi, kakak ipar kamu . hormati dia.” “Mas!” Elvan histeris, memegang tangan Ravin dengan matanya yang berkaca-kaca. “Balikin Inara sama aku.” Ravin menghela napas sambil menghempaskan tangan Elvan dan berpaling pergi tanpa mengatakan apapun lagi. “Aku cuma mau pegang piringnya, gak bakalan ngambil makanannya juga.” Elvan mendengus, memalingkan wajahnya menarik piring makannya tidak mau berhadapan dengan kakaknya. Revan dengan sabar mengawasinya dengan kedua tatapan matanya tidak meninggalkan sosok Elvan sampai dia selesai makan dan minum. Di balik itu akhirnya Elvan bisa menenangkan hatinya, tidak seperti kemin perasaannya kini lebih tenang. “Oke, jadi apa yang mau Mas Ravin omongin? Apa akhirnya kalian mau bercerai? Inara masih sangat mencintaiku, kan? Harusnya Mas Ravin gak pernah nikahin dia, dia, tuh, milik aku.” “Berhenti ngomongin perceraianku sama Inara kalo tidak, mau mulutmu ku jahit, hah? Gak akan ada perceraian. Kami sudah saling mencintai—“ “Berengsek!” teriak Elvan berubah kembali jadi emosi. “Kalau begitu buat apa ke sini pergi!” usirnya penuh amarah. Ravin tidak bergeming oleh kemarahan Elvan sebaliknya sangat tenang. “Aku ke sini tentu aja ada yang harus ada yang dibicarain. Alasan apa yang buat kamu milih pergi saat acara pernikahan? Aku denger sesuatu dari Mommy.” Elvan terkekeh mengejek, “Aku tahu Mas Ravin bakal gini! Mas Ravin masih belum lupain Mba Jovanka, kan? Aku akan mempertemukan kalian lagi tapi, segera bercerailah dengan Inara.” Ravin berdiri, dengan matanya yang dingin. “Aku gak peduli dengan wanita cukup hanya dengan memastikannya. Ternyata, dia masih hidup? Baguslah. Hanya itu… dan, Elvan bersihin otak kamu itu, Inara udah jadi, kakak ipar kamu . hormati dia.” “Mas!” Elvan histeris, memegang tangan Ravin dengan matanya yang berkaca-kaca. “Balikin Inara sama aku.” Ravin menghela napas sambil menghempaskan tangan Elvan dan berpaling pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN