“Ayo, kamu makan dulu,” bujuk Maria, dia sudah duduk di depan Jovanka dengan kedua tangan memegang kotak sarapannya siap untuk menyuapi tetapi, sama sekali anak gadisnya tidak menyahut. “Jangan diam saja, bicaralah pada Mama!”
Jovanka hanya menoleh wajahnya masih sepucat kertas putih, matanya yang dulu bulat cantik dan selalu berbinar kini, tampak meredup. Bibir merahnya yang ranum kini, berubah pucat dan kering. Rambut panjangnya yang hitamnya lagi pun tak terlihat terlalu terawatt dari hari ke hari malah semakin rontok bahkan, usapan lembut cukup membuatnya helain mahkota wanita itu jatuh satu persatu. Kondisi tubuhnya dengan sangat cepat turun derastis.
Melihat putrinya seperti ini Maria, memiliki perasaan sesal dengan kedatangan Jovanka ke Indonesia jika, hanya akan membuatnya sakit saja. Kabar tentang pernikahan Ravin benar-benar sebuah pukulan besar baginya. “Jika kamu seperti ini terus Mama yang gak tahan, Jo,” ujarnya menahan isak tangis. “Lebih baik kita pindah lagi saja keluar negeri. Kamu gak bisa hidup lebih lama kalo di sini terus, Mama gak tahan lihat kamu gini terus.”
Maria terus saja mengomel dengan sesekali menjatuhkkan air matanya dan di depannya Jovanka hanya menatapnya kosong seolah semangat hidupnya tak lagi ada. Tidak kuasa lagi akhirnya Maria hanya bisa meletakkan piring makanya dan berlalu pergi keluar. Bertanya-tanya dengan hati gamang dan rapuh. Bagaimana bisa hanya dalam sekejap semangat hidup Jovanka hilang begitu saja dan lebih seringkali dia bertanya pada Tuhan kenapa harus putrinya, kenapa tidak membiarkan dirinya yang sudah tua ini yang menaggung penyakit seperti itu.
Di dalam ruang rumah sakit. Jovanka yang bangun dari komanya tadi malam masih merasa kosong, dia tidak berharap masih bisa hidup setelah semua rasa sakitnya datang dan berpikir jika, hari itu mungkin hari terakhirnya hidup. “Mah, secercah harapanku untuk sejenak merasa bahagia lagi kini benar-benar sudah hilang. Gimana aku masih bisa tahan,” ucapnya pada udara kosong di mana hanya ada dirinya seorang.
Tetapi, sepertinya dia salah. Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan di pintu dan siluet orang yang tidak diduganya muncul. “Ra… ah, Elvan!”
Elvan tersenyum kecil mendengar dan melihat jika Jovanka masih mengenalinya. Dia sangka saat orang sekarat, tidak ada yang bisa dikenalnya lagi. Itu yang dia ingat dari kakeknya yang sakit dan linglung sampai akhir hayatnya dia tidak pernah mengenali keluarganya sendiri. “Mbak Jo, aku baru mendengarmu ada di sini?”
“Siapa yang mengatakannya?”
Elvan mengambil tempat duduk dan melihat wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya ini. sejak terakhir kali bertemu, kenapa dia terlihat begitu berubah drastic. Sejenak, dia tidak percaya kejatuhan Jovanka kali benar-benar membuatnya menjadi lebih lemah dari saat dia menemukannya pingsan di luar negeri. “Mbak Jo dengan cepat berubah sekali.”
“Apa aku tampak sangat jelek?”
“Tidak juga, hanya terlalu putus asa,” jawabnya jujur. “Meski, Mbak Jo sakit harusnya masih bisa merawat diri jangan tak acuh. Bukankah Mba Jo pernah bilang mau menikmati hidup yang tinggal sebentar ini? Tolong, jangan disia-siakan.” Entah kenapa Elvan merasa dirinya terdengar terlalu sok bijak, memangnya apa yang dia tahu tentang menikmat hidup dan kematian tetapi, sepertinya disaat seseorang terdesak Tuhan selalu tahu untuk memberi jalan keluar.
“Kamu mau apa ke sini?” tanya Jovanka tidak hangat ataupun dingin. Dia juga tidak merasa buruk dengan kata-kata Elvan barusan malah rasanya terlalu benar tetapi, untuk saat ini dia hanya ingin merasa tetap sedih apalagi kalau bukan teringat janji manis yang dibuat Elvan sebelumnya hingga, hampir sepenuhnya membuatnya percaya.
“Sebelumnya aku harus minta maaf.” Elvan menegakkan lehernya dan mantap melihat dua bola mata sayu milik Jovanka. “Aku juga gak pernah nyangka kesalahan yang kubuat malah memberi jalan Mas Ravin buat nikah duluan. Itu karena semua permintaan Mommy dan… juga kesalahanku yang malah pergi,” ujarnya kali ini masih dengan wajah terluka tetapi, juga penuh kemarahan ketika melihat telapak tangannya yang kuat meremas lututnya sendiri.
“Apa Ravin bahagia?” tanya lirih Jovanka dengan hati berdenyut sakit meski, dulu dia juga yang memilih pergi karena penyakit ini tetapi, sekarang dia juga karena alasan yang sama hanya tujuannya yang berbeda. Jika, dulu dia ingin Ravin bahagia tanpanya yang mungkin sangat menyulitkan, sekarang dia ingin bahagia bersama Ravin di sisa waktunya yang tidak bisa ditebak.
“Aku gak percaya, kalo Mas Ravin bilang dia bahagia dan mencintai Inara …padahal, sekali lihat aku tahu mereka berbohong. Juga, …” Elvan menatap Jovanka. “Mas Ravin masih nanyain keberadaan Mbak Jo.”
Bola mata Jovanka sedikit membesar mendengar kabar yang lebih tidak terduga. “Apa yang dia tanyakan?”
Elvan sedikit berdeham, ragu sejenak. Tidak ingin menipu wanita di depannya lagi apalagi memberi harapan palsu tetapi, hatinya pun ragu mungkin ini bisa menjadi harapan terakhirnya ketika bisa bersama Inara lagi. “Dia hanya bertanya apa kamu udah benar-benar kembali?”
“Dia menanyakan hal itu?”
“Iya dan hanya itu …”
Jovanka merasa tidak puas, dia masih ingin perhatian lebih dari mantan kekasihnya itu. Rasanya begitu sangat rindu, bagaimana bisa dulu dia sangat bertekad meninggalkannya, keluh Jovanka yang tidak pernah bisa mengulang waktu. “Apa dia ingin bertemu denganku?” tanyanya, penuh keraguan serta pengertian yang jelas. Ravin tidak pernah ingin menemuinya lagi.
Tangan dingin Elvan menepuk punggung tangan Jovanka yang tidak menggunakan jarum infus. “Meski, sekarang belum aku pasti bakal bikin kalian ketemu.” Janji Elvan.
“Gak perlu! Dia juga pasti gak akan mau ketemu sama aku.”
Elvan sejenak jadi bingung, gak ada alasan besar buat mereka bertemu jika, kedua orang ini sendiri yang berniat untuk bertemu. “Apa Mbak Jo beneran gak mau ketemu sama dia? S-sebenarnya aku belum ngasih tahu kebenaran penyakitmu, Mbak. Apa gak pernah kepikiran jika, Mas Ravin tahu ternyata Mbak Jo sakit dank arena alasan inilah Mbak pergi. Apa tidak mungkin, dia akan kembali dan menjagamu, Mbak?”
Bola mata Jovanka kembali membesar, tiba-tiba dadanya berdetak cukup keras membayangkan apa yang terjadi. Dia sedikit tertegun, apa dengan penyakit ini dia bisa menarik perhatian Ravin lagi meski, tidak masuk akal. Ingin rasanya dia mencoba. Semakin besar Elvan memberinya harapan semakin dia merasakan rindu pada mantan prianya. “Apa bukannya dia malah akan marah dan bersyukur aku jadi begini sekarang? Membayangkannya saja begitu mengerikan jika, dia tahu semua yang kulakukan.”
“Kita belum melihatnya. Mas Ravin mungkin terlalu banyak terluka tapi, dia juga sangat kuat untuk terus mencintai Mbak Jo selama lima tahun selama ini.”
Jovanka kembali termenung, menunduk dengan pikirannya yang berlayar-layar kemana-mana. Kepalan tangannya seolah jadi, pemicu untuk menyelamatkan diri. “Kalau begitu kali ini! kamu harus menepati janjimu.”
“Aku akan berusaha,” sahut Elvan sendiri tanpa ragu dan penuh keyakinan tetapi, terkadang yang seperti ini pun malah dengan mudah membuatmu terlena. Elvan segera membayangkan masa depannya yang cerah tetapi sayang, segera kenyataan menghancurkannya.
Dari balik pintu datang Maria dengan wajahnya menahan emosi. Dia mendengar sebagian apa yang dibicarakan Elvan dan yang paling membuatnya muak adalah dengan kata-katanya. " Akan Berusaha." Berapa kali dia mendengar para Dokter mengatakan hal itu saat melakukan perawatan Jovanka . Yah, mereka hanya bisa berusaha tetap saja Tuhan yang mengambil keputusan.
Jovanka sudah banyak menderita lima tahun ini apa itu tak cukup? Sekarang, seseorang ingin memberikan harapan yang mustahil pada putrinya dengan kata-kata " akan berusaha." Apa ini lelucon untuknya. Jelas-jelas sudah menikah apa yang bisa diharapkan lagi oleh Jovanka belum lagi penyakit yang bersarang ditubuhnya. “Jangan pernah mengganggu putri saya lagi. Saya mohon biarkan dia tenang!” Tanpa basa-basi menarik lengan Elvan dan menggusurnya setenga langkah untuk membuatnya menyingkir. "Sekarang pergi!"
Diusirnya Elvan dari sana dengan tak hormat dengan napas masih memburu menahan kesal. Bahkan, tatapannya pun terbilang sangat sengit membuat Elvan merinding tetapi, apa dia bisa berhenti begitu saja. “T—tante! Bisa denger dulu masalahnya. Saya gak bermaksud mengganggu Mbak Jo . Saya hanya ingin membantu."
"Bantu? Apa yang bisa kamu bantu? Kamu bisa sembuhin penyakitnya?"
Tentu saja tidak bisa. Memangnya siapa dia Dokter juga bukan? Dalam kehati-hatian Elvan menarik napasnya, berusaha tenang dan menenangkan wanita paruh baya di depannya. "Aku hanya ingin memberi Jovanka dan Kakakku waktu bahagia mereka entah itu sedikit atau banyaknya waktu yang tersedia. Mereka masih sangat saling mencintai."
“Ngga. Cukup! Jovanka sakit dan lemah. Hal lain tidak penting yang dan utama adalah kesehatannya. Kamu pergi saja dari sini! Jangan pernah datang lagi."
"Mah," panggil Jovanka akhirnya menarik perhatian Maria. " A- aku..."
"Jovanka," potong Maria dan menggenggam tangan kedua putrinya. Dia juga tahu jika, putrinya masih sangat mencintai mantan tunangannya tetapi, semua sudah berlalu bertahun-tahun. "Sekarang, Ravin sudah menikah apa yang bisa diharapkan lagi darinya."
Mendengar kenyataan yang dibawa ibunya Jovanka tercengang. Dia tahu dan seharusnya mengerti pria yang dicintainya itu tak akan pernah dimilikinya sampai akhir dan hanya air mata kesendirianlah yang tersisa. “Begitu menyedihkan, yah, Ma. Jo, sama sekali gak beruntung bahkan, cuman buat lepasin rindu ke dia aja sekarang udah gak bisa hiks! Ravin udah bukan milik aku lagi,” tutur Jovanka sambil menitikkan air mata.
Maria merasa sesak dan sakit melihat putrinya seperti ini. Berapa banyak penderitaan yang harus dialaminya, kenapa tidak biarkan dia bahagia di sisa hidupnya yang mungkin saja sesingkat itu. “Mama gak ingin kamu menderita lagi, Jo. Mama terlalu menyayangimu. Lihatlah ke depan jika, kamu nanti sembuh carilah pria lain yang lebih dari Ravin.”
Jovanka bukan bahagia mendengarnya tetapi, hatinya semakin sakit dirasa. Dia menangis sambil tertawa. “Aku gak bisa sembuh, Mah. Hanya gerbang kematian yang sedang menanti.”