Inara berbalik, mengambil kunci mobilnya setelah hanya mencapai pintu keluar. Hampir saja dia lupa sepertinya karena terlalu terbiasa pergi bersama-sama dengan suaminya dia jadi, melupakan punya kendaraan sendiri. Di pagi hari ini Ravin terpaksa harus berangkat terlebih dulu karena urusan kantornya sedangkan, Inara yang menolak datang lebih pagi milih pergi sendiri saja.
“Ah, apa mulai besok aku juga pakai mobil sendiri lagi aja, ya?” monolognya sambil berjalan keluar tidak lupa, dia meluruskan pakaiannya dan berjalan di lorong yang sepi menuju bassment.
“Apa Mas Ravin gapapa, ya, sekarang. Kan, sayang sekali mobilku yang sudah jarang dipake. Lama-lama bakal jadi penuh debu kalo begitu terus, yah? Lebih baik nanti, aku bicara baik-baik, ah. Lagian Mas Ravin itu terlalu manja, pergi ke mana-mana aja pengen bareng udah kayak bocah kembar siam,” keluh Inara sambil terkekeh lucu membayangkan mereka jadi kembar siam.”
Inara menekan remote mobil dari jauh. Tersenyum senang meilihat mobil merahnya terparkir apik berjalan mendekat sambil mengusap body mobilnya “Bersih,” ujarnya senang lalu menepuk-nepuk pelan kap mobilnya. “kalo gitu, ayo, berangkat!” Inara siap menarik handle pintu mobilnya
Tetapi, tiba-tiba sebuah tangan mendorong handle pintu mobil kembali tertutup. Cukup terkejut Inara segera menoleh dan melihat orang yang tidak pernah dia ingin temui lagi. “Elvan, apa-apaan kamu?” tanyanya dengan nada membentak dan mendorong d**a pria itu sedikit menjauh.
Napas Elvan setengah menderu, penuh tatapan rindu dan penyesalan juga rasa sakit sesaat setelah Inara mendorongnya menjauh. “Nara,” panggilnya kali ini ingin memeluknya. Tidak peduli jika Inara meronta dan menolak pelukannya.
“L-lepas, Van! Lepasin!” teriak Inara mulai kesal karena sulit lepas dari pelukan Elvan sehingga, dengan setengah hati Inara harus menggunakan kekauatannya. Bugh! Sebuah kepalan tangan baru saja jatuh bersarang di perut Elvan membuatnya terbelalak dengan tubuh bagian perut melengkung menahan nyeri yang disertai mual. Tatapan tak percaya datang dari kedua bola mata Elvan. Baru pertama kalinya dia mendapat perlakuan kasar dari Inara. “Aaaakh!’ pekiknya tak berdaya.
Sebaliknya Inara sendiri menarik napasnya dalam-dalam dan menepuk kedua tangannya lega. “Seharusnya kamu gak berlaku kurang ajar dengan seenaknya memeluk seseorang tanpa izin atau kamu bakal disebut orang cabul.”
Akhirnya, karena tidak ingin membuat masalah lebih banyak keduanya memilih untuk duduk berhadapan di sebuah café, tanpa ada pihak ketiga untuk meluruskan dan menyelesaikan urusan mereka yang tersisa. Selama beberapa menit berlalu sama sekali tidak ada yang memulai berbicara. Elvan yang canggung dan masih memikirkan harus mulai bicara dari mana padahal, sebelumnya dia sudah mempersiapkan semuanya dari rumah tetapi, ternyata malah blank.
Sebaliknya, Inara yang tidak punya alasan untuk mulai bertanya. Dia sudah punya hubungan yang lain tidak perlu lagi baginya untuk bertanya, kenapa? Apa atau bagaimana dia bisa pergi meninggalkanya saat pernikahan lalu terjadi. Semua sudah berlalu dan tak mungkin lagi diulang. ‘Bosan juga rasanya harus bergelut dengan hal yang sudah pasti. Pokoknya setelah ini terserah Elvan mau mengerti atau tidak aku tidak punya urusan lagi.’
“Jadi, Elvan apa yang mau kita bicarakan lagi? Bukankah terakhir kali semuanya sudah cukup jelas.”
“Inara, bisakah kamu memberiku kesempatan kedua?”
“Tidak.” Tolak Inara cepat. “Elvan, sekarang keadaan sudah seperti ini tidak akan ada kesempatan kedua. Berhentilah terus membuat keributan!”
Elvan belum menyerah, tangannya bergerak meraih tangan Inara yang sedang di atas meja. “Aku masih sangat mencintaimu,” ucapnya sambil terus mengeratkan genggaman tangannya.
“Lepas!” Inara dengan kuat menarik tangannya dari genggaman tangan Elvan. Lalu, mengusapnya sedikit sakit. Matanya pun tajam memelototi Elvan dengan dengusan sinis. “Jangan pernah menyentuhku dengan sembarangan, apa kamu tidak mengerti arti menghormati wanita? Apa aku baru tahu jika, kamu pria yang seperti ini.”
“Apa maksudnya?” tanya Elvan mengerang dan tidak mau mengerti. “Sejak kapan aku tidak bisa menggenggam tanganmu? Dan, apa itu berlebihan memegang tangan kekasihmu sendiri. Aku masih kekasihmu dan berhak melakukan apapun.”
Mendengar pernyataan Elvan, Inara merasa pria di depannya memang sudah gila dan tidak bisa diajak bicara. “Apa yang membuat kamu gila kayak gini, Van? Sudah jelas …aku iparmu sekarang dan kita sudah putus setelah kamu pergi begitu saja di hari pernikahan.”
“Karena itu… dengarkan penjelasanku. Kamu harus tahu kenapa aku pergi?”
“Apa dengan itu semua bisa terulang. Gak, Van! Aku gak butuh alasan kepergianmu lagi …juga, aku juga harus jujur. Aku gak kecewa atau menyesal dengan pernikahanku sekarang ataukah …aku malah harus berterimakasih sama kamu yang gak pernah muncul.”
Rasanya hati Elvan remuk redam mendengar pernyataan Inara. Bagaimana bisa menjawabnya, hatinya untuk Inara masihlah utuh dan tak rela ia berikan pada siapapun termasuk sang Kakak. Tidak bisakah, dia bercerai saja. Dia masih akan menerima Inara bagaimanapun statusnya sekarang. “Aku masih cinta sama kamu, Sayang.”
Inara tidak semangat lagi untuk berbicara dan memilih berdiri bersiap pergi. “Terimakasih untuk masa lalu kita, sekarang waktunya kita melihat ke depan. Aku tidak akan minta maaf karena kamu’lah yang bersalah dan aku masih tetap berterimakasih karena bisa membuatku bisa menikah dengan Mas Ravin,” ujar Inara untuk kedua kalinya. Dia hanya melakukan itu untuk menegaskan harapan Elvan saja meski, dia senang juga membuatnya menyesal. “Elvan, berhentilah berbuat bodoh seperti ini. Selesaikanlah perasaanmu sampai sini, mungkin aku bukan cinta sejati kamu… aku tulus bicara seperti ini, Elvan. Lupakan masa lalu dan tataplah masa depanmu sendiri karena langkah kita masing-masing masih panjang.”
Setelah mengatakan hal sepanjang itu Inara akhirnya berbalik pergi tanpa pernah berbalik lagi. Sedangkan, Elvan tengah mengerang frustrasi sebelum akhirnya melihat punggung Inara yang semakin jauh dengan perasaan tak tertahankan. “Apa semuanya benar-benar sudah berakhir?” lirihnya sesak.
**
Perasaan Inara benar-benar tak nyaman setelah pertemuannya dengan Elvan jadi, entah dengan keberanian apa. Inara yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan Ravin bersedia datang tanpa undangan. Padahal dulu saja saat menjadi kekasih Elvan, dia harus datang ke sini dengan sedikit paksaan tetapi, sekarang. Sepertinya bagus juga memiliki suami seperti Ravin yang selalu mengatakan rindu dan membuatnya berbalik merindukan tiap waktu apalagi di waktu seperti ini. Di saat dia butuh ketenangan.
Saat memasuki perusahaan Inara tengah menggunakan ponselnya karena kebetulan Nadira memberinya panggilan. Sahabatnya sepertinya khawatir belum juga melihat batang hidungnya setelah hari makin siang dan Inara cukup bersyukur dengan adanya panggilan dari Nadira. Dia tidak terlihat kaku saat memasuki lobi perusahaan meski, belum apa-apa dia sudah dicegat seorang penjaga keamanan menanyakan keperluannya.
“Iya, Dir! Hari ini aku cuti dulu masuk butik, Ok?! Aku lagi di perusahaan Mas Ravin.”
“Ngapain ke sana?” tanya Nadira cukup heran mendengarnya karena baru kali ini mendengar Inara bersedia masuk perusahaan.
“Bentar!” Tiba-tiba Inara menghentikan sesaat obrolannya dengan Nadira ketika seorang petugas keamanan berdiri di depannya dengan senyum ringan tetapi, raut wajah yang tegas. “Ada apa, Pak?”
“Boleh tahu Nona ada keperluan apa? Dan, mau ke mana?”
“Ini hanya keperluan pribadi. Aku mencari atasan Anda, Pak Ravindra Malik,” jawab Inara jujur dengan tangan masih memegang gawainya yang menempel di telinga. Tidak heran juga dia mendengar tawa cekikikan Nadira dari seberang sambungan.
“He he … lo, dicegat satpam , heh? Ya, ampun istri Bos kena palang.”
“Berisik lo, Dir.” Setelah mengatakan hal itu penjaga keamanan di depannya sedikit mengerutkan kening tetapi, tetap ramah dengan mempersilahkannya berjalan menuju resepsionis dan di dampingi dirinya. Dia juga tidak tampak terganggu dengan Inara yang masih menelepon.
“Maaf, kalo boleh saya tahu. Keperluan pribadi apa, yah? Biasanya, Bos besar tidak menerima pertemuan pribadi kecuali, Anda sudah membuat janji?”
Inara melirik penjaga keamanan tersebut. Awalnya, dia tidak ingin menyebutkan hal seperti ini tetapi, jika dipikir lagi seharusnya dia juga bisa bangga dengan posisi suaminya. “Saya istrinya, masa harus buat janji juga, sih!”
Petugas keamanan itu sekarang yang jadi gelagapan. “Kalau begitu Nyonya tunggu sebentar di sini biar saya ke depan duluan,” ucapnya tanpa menunggu jawaban Inara segera setengah berlari ke meja resepsionis entar bicara apa.
Digawainya, terdengar suara Nadira yang ber uwou …sedikit bangga mendengar percakapan Inara. “Aduh, Nyonya masih harus buat janji, tuh,” sindirnya renyah masih dengan penuh tawa. “Geli, deh, Nyonya. Aku dengernya.”
“Duh, itu bibir masih lemes aja. Berhenti ketawa! Aku juga jadi malu tahu.” Jujur Inara dengan pipi merona.
Belum berhenti di sana Nadira masih penasaran. “Tadi, lo belom jawab. Ngapain lo pergi ke sana?”
“Gak ngapa-ngapain cuman lagi kangen aja, mau ngajak dia makan siang itu juga kalo berhasil.”
“Gila lo,” Terdengar tawa dari Nadira mendengar jawaban ajaib sahabatnya. “Sejak kapan lo berani bilang kangen.”
“Yeay, lo aja yang gak tau,” sahut Inara dengan pipi yang makin memerah merona. Merasa tidak tahu malu sekali mengatakan hal jujur seperti itu. “Udahlah, ya, aku tutup.”
“H-hey, tunggu Nyonya Bos semisal, si Bos nya gagal lo culik. Lo harus balik ke butik, yah, banyak kerjaan, nih!”
“Aishh! Aku gak janji. Kemarin kamu cuti berapa hari, tuh. Udah jangan protes, biasanya juga rajin.” Putus Inara lalu, segera memasukkan ponselnya ke dalam tas clutch- nya dan melihat ke depan di mana para karyawan sepertinya tengah memerhatikannya yang memberikan senyuman tipisnya.
Tahu jika tatapan mereka tengah ketahuan sang Objek segera mata mereka beralih tempat pada hal lain kecuali, si wanita resepsionis dan penjaga keamanan tadi mereka tersenyum sang lebar dan penuh kesopanan. Inara berjalan lebih mendekat ke mereka.
“Jadi, apa saya bisa bertemu sama Pak Ravin?” tanya Inara to the point.
“Oh, tentu. Nyonya. Asisten Pak Ravin bilang Pak Ravinnya sedang rapat tapi, Anda bisa naik ke atas terlebih dulu,” ujar sang Resepsionis kemudia dia berbalik pada petugas keamanan di samping Inara. “Pak Dedi, bisa anterin Nyonya sampai lift- yah? Katanya, langsung pake lift khusus aja.”
“Iya, siap Mbak,” sahut Dedi. Kemudian menoleh pada Inara. “Nyonya, Ayo, saya antarkan.”
“Oke, terima kasih.”
“Tidak masalah Nyonya.”
Setelah diantarkan tepat di depan pintu lift, akhirnya Inara dalam keadaan sendirian. Di bisa bebas menghela napas, sebenarnya dia cukup gugup untuk pergi ke perusahaan Ravin seorang diri bahkan, tanpa pemberitahuan. Masih ada dampak dari masalalu dia paling takut menjadi bahan pembicaraan terutama di perusahaan ini. pastinya beberapa karyawan tahu jika, dia mantan kekasih bos mereka sebelumnya dan yang malah menikah dengan kakaknya. Memang sudah berlalu beberapa bulan lamanya tetapi, pada masanya diskusi ini sangat panas.
Dan, seperti yang dipikirkan Inara. Sebenarnya, para karyawan yang tiba-tiba mendengar dari ruang resepsionis jika Nyonya besar datang untuk pertama kalinya. Diam-diam mereka sudah bergosip di group chatting mereka masing-masing tentang alasannya datang ditambah dengan kabarnya kepulangan bos lama mereka Elvan. Sebenarnya, seharusnya mereka merasa kapok untuk tidak pernah lagi bergosip tetapi, semakin dilarang semakin senang para karyawan ini untuk melanggarnya.
Jika mulut mereka untuk bergosip ditutup maka, masih ada sepuluh jari-jari mereka yang siap untuk melancarkan aksinya bahkan, terkadang mungkin lebih kejam. Mengantisipasi kedatangan sang Nyonya besar. para karyawan dengan sikap duduk tegak berpura-pura focus pada pekerjaan tetapi, tangan merekalah yang bekerja.
Ting! Bunyi lift dengan cepat terbuka, berdiri di sana Rudi asisten Bos Besar. “Selamat pagi, Nyonya,” sapanya cepat.
“Pagi juga!” balas Inara dengan senyum kakuknya tidak menyangka bakal ada orang yang menunggu di depan lift. Setelah basa basi kecil dengan Rudi, Inara menjadi selesbritis dadakan. Semua orang jadi, sangat penasaran pada Nyonya besar yang baru pertama kali datang menjadi sensasi yang kuat.
Rudi sudah berdiri di depan sebuah pintu ruangan dan akan mengetuknya tetapi, Inara dengan cepat mencegahnya. “Bukannya Bos Ravin sedang Rapat?”
“Iya, tentu saja. di dalam mereka sedang berdiskusi sebelumnya. Anda tadi bilang datang untuk memberinya kejutan jadi, saya tidak mengatakan apapun pada bos saat dia meminta ujian pergi.”
“Bagus! Anda sangat keren jadi, biar saya saja yang masuk langsung.”
Rudi langsung mengerti dengan kosep memberi kejutan tuh sepertti apa htak lupa, dia segera mundur palan-pelan. Inara sendiri berjuan agar tidak gugup. Dia menarik napas, menatap pintu di depannya seperti sepasang kekasih ynag sudah lama tidak bertemu , rasanya terlalu aneh juga menggelikan tetapi cukup bagus buat diwaspadai.
Pertema kali, Inara mengetuknya lalu tak disangka segera terdengar sahutan dari dalam menyuruhnya untuk masuk. Maka, demgan senyuman lebar Inara membuka pintu dan sebuah kejutan yang langsung meruntuhkan senyuman di bibir Inara hari ini, menyisakan mata tajam menyipit galak.
“Inara!?”