‘Lagi ngapain mereka? Kenapa deketan begitu?’. Semua pertanyaan itu terlintas dibenak Inara dengan mata yang tak lepas dari melihat Ravin juga wanita yang berdiri di sampingnya sampai saking seriusnya. Inara sepertinya, menghiraukan perkataan Ravin yang sedang berseru memanggilnya sebelum akhirnya dia sadar dengan cepat setelah dipanggil Rudi, yang berada di sampingnya.
“Nyonya!”
“…hah?” sahut Inara sedikit tertegun dan melihat kembali pada Ravin.
“Ayo, masuk!” Ravin menyuruhnya masuk sambil menggerakan satu tangannya. Inara tidak bisa tidak untuk tersenyum setelah melihat wajah cerahnya serta senyuman lebarnya yang seperti hangatnya sinar matahari.
Langkah Inara kini tak ragu lagi dengan senyum penuh kebahagian di berjalan dan sengaja dia langsung ke arah Ravin di mana wanita yang tidak tahu diri masih berdiri di samping tanpa berpindah atau bergeser bahkan, setelah melihat dirinya. “Awas minggir,” ujarnya pada wanita tersebut dingin tetapi, berbalik lagi menatap Ravin senyumnya kembali kesemula.
Ravin merentangkan tangannya terbuka, tidak disangka istri cantik tiba-tiba saja datang memberinya kejutan. Juga tak sungkan baginya menarik istrinya langsung dalam pelukannya apalagi tanpa sengaja melihat kilat kecemburuan Inara sungguh itu sedikit banyak membuatnya bahagia. “Kenapa gak bilang dulu mau ke sini?’ tanya Ravin setelah membuat Inara jatuh dipelukannya dan mencium pipinya.
“Mas!” gemas Inara sedikit berteriak manja. “Ih, gak usah gini, malu!” Awalnya Inara, kan cuman ingin mencium pipinya sebagai sapaan. Bukan langsung duduk dalam pelukan begini, keluhnya dalam hati tetapi, juga tidak bergerak untuk lepas dari pelukan suaminya.
Memang tidak seharusnya Inara untuk malu. Dia dan Ravin nyatanya sudah menjadi suami istri dan yang seharusnya malu dua orang lain yang masih berdiri memerhatikan mereka. Terutama Fatin, manager umum perencanaan yang sebelumnya masih berdiskusi dengan Ravin dan enggan bahkan, sedikit tidak peduli dengan kedatangan Inara.
Fatin adalah sedikit banyak dari para wanita di perusahaan yang terpikat dan jatuh hati pada Ravindra Malik, Bos mereka yang tidak kalah tampan dan berkarisma dibanding adiknya Elvan bahkan, saat ini setelah mengenal cukup lama Bos ini mereka sangat menyesalkan kenapa dia menikah dengan mantan wanita adiknya. Mereka, berhalu ria dengan membayangkan jika, mereka bertemu lebih dulu dengan pria tampan sekaligus menjanjikan ini.
“Bu Fatin,” panggil Rudi memberinya kode untuk segera pergi terlebih dulu.
Fatin sebenarnya enggan tetapi, dia tidak punya alasan lain untuk tetap tinggal. Jadi, mau tak mau dia membereskan pekerjaanya di atas meja dan tersenyum hanya melihat Bos-nya tanpa menghiraukan Inara. “Karena ini tidak terlalu mendesak, saya kembali Pak Ravin. Apa yang sebutkan tadi akan saya sesuaikan. Selamat siang.”
“Baiklah, terimakasih atas kerja keras Anda Bu Fatin.”
“Tidak masalah, Pak. Saya permisi.”
Setelah Fatin dan Rudi , para pegawainya itu pergi hanya tinggal mereka berdua. Ravin menatap Inara yang masih di atas pangkuannya, wanita itu kini masih menatap punggung Fatin meski, sudah lagi tak terlihat bayangannya sekalipun. Ravin mencoba berdeham menarik perhatian Inara. Ssyangnya, tidak sampai wanita menoleh sendiri dengan mata tajam menyelidik.
“Apa pekerjaan wanita bernama Fatin tadi?”
“Kenapa menanyakannya?” tanya balik Ravin sambil mencium pipi Inara memeluknya erat. “Kamu cemburu, yah? Dia ke sini cuman untuk berdiskusi desain yang kusuruh dibekerja di departemen peninjauan. Sudah jelas? Lalu, sekarang katakana kenapa tiba-tiba kamu kemari?”
“Mas, tidak senang aku kemari?”
“Bukan, aku hanya terkejut, h-hey jangan cemberut ….” Ravin menggoyangkan tubuh Inara dalam pelukannya saat melihat bibirnya yang mencebik kesal. Sungguh manis. “Aku heran, Sayang. Tadi pagi kamu gak mau pergi bareng jadi, emang mau bikin kejutan yah.. so sweet banget, sih,Beb.”
Inara mencibir, mencubit bibir Ravin yang terlihat menggemaskan. “Ishh, ini bibir pinter gombal. Tapi, maaf aja ya… aku gak maksud buat kejutan malah aku yang terkejut,” jawab Inara yang kemudian hendak menyingkir dari pangkuan Ravin tetapi, tidak dibiarkannya oleh pria itu. “Lepas, Mas!”
“Ngga, Sayang,” kukuh Ravin tidak membiarkan istrinya. “Jadi, apa yang buat kamu terkejut?”
Inara melipat kedua tangannya di depan d**a. “Aku terkejut lihat Mas ternyata sedeket itu sama pegawainya.”
“Gak ada deket-deketan. Itu biasa aja, dia hanya lagi nunjukin desainnya saja,” ujar Ravin sambil mendusel dipelukan istrinya supaya dia tidak cemburu atau marah. “Lain kali, aku janji bakal jaga jarak dengan para pegawai wanita di sini juga di mana pun… cuman kamu yang boleh deket kayak gini.”
“Oh, termasuk Mommy, hm?”
“Y-yah, itu beda lagi donk.” Mendengar nada protes dengan rasa takut Inara tertawa dibuatnya. Dia senang sekaligus bangga suaminya ini begitu sayang dengan ibunya tetapi, juga sangat mencintainya. Dia bukan tipikal anak mami yang selalu nurut tetapi, jika ibunya membutuhkannya seperti mengajaknya berbelanja jarang sekali dia menolak. Jika, sudah seperti itu. Inara juga menjadi teringat saat hari pernikahan mereka terjadi.
“Muaaach,” Ravin mencium pipi Inara kembali. “Kamu melamun, Sayang. Apa yang kamu pikirin.”
Inara menoleh, mengusap sayang rambut serta wajah Ravin. ‘Aku harap gak akan pernah menyesal sudah menikah dengan pria ini,’ ucap Inara dalam hati. “Aku tadi sempat bicara lagi dengan Elvan.”
“Apa yang kalian bicarain?” tanya Ravin kali ini dengan nada serius.
“Masih seperti sebelumnya.”
“Bocah itu, apa gak ada kapoknya. Dia tidak menyadari kesalahannya sama sekali, yah?!” ujar Ravin dengan sedikit kesal, lalu kembali menoleh pada Inara. “Tapi, dia gak sampai buat macem-macem sama kamu, kan?”
“Ngga, mana dia berani.”
“Baguslah! Lalu, jika bisa kamu jangan dulu bertemu hanya berdua dengannya.” Nasihat Ravin lembut, dia bukan memikirkan hanya tentang dirinya tetapi, juga Inara. Dia tidak mau ada lagi, orang yang berbicara buruk tentangnya.
Inara mengangguk setuju, dia tidak perlu bertanya kenapa. Dia juga sadar jika, kejadian seperti tadi dilihat orang yang dikenal atau dia terlalu lama bersama Elvan bisa-bisa akan terdengar gossip. Inara paling tidak tahan mendengar gossip kurang baik tentangnya. “Setelah ini kita makan siang bersama, yah? Mas Ravin bisa, kan? Gak ada jadwal lain?”
“Gak ada tenang aja. Kalo ada, Mas bakal tetep pilih makan siang bareng kamu. Apa mau pergi sekarang aja?” Ravin melihat jam tangannya. “Kita cari restoran dulu.”
“Apa gak papa? Mas, kan masih banyak kerjaan.”
“Gapapa, lah! Sesekali, Mas juga bosen di kantor terus,” ujarnya sekarang membawa Inara berdiri dan mengambil jas nya yang masih tersampir disandaran kursi. “Lagian perusahaan gak bakalan langsung bangkrut kalo akunya pergi sebentar.”
Tidak membalasnya, Inara memangnya bisa apa jika, bosnya sendiri yang bicara. meski, begitu. Tentu saja dia juga yang paling bahagia karena suaminya tetap memberi posisinya yang paling penting di atas semuanya.
**
Jovanka sedang menyisir rambut rapuhnya menghadap cermin di mana tengah memantulkan sosoknya yang tampak pucat dengan mata cekung penuh lingkaran hitam. Jovanka tidak tahu sejak kapan dia semakin tak terawatt, rasanya saat baru saja kembali ke sini. Dia masih bisa menampilkan senyum yang membuat wajahnya lebih segar dan cerah.
“Kenapa sekarang aku begitu buruk? Penampilanku rasanya kembali ke saat sedang dikemoterapi tiga tahun lalu. Ini sangat jelek!” Marahnya sambil meletakkan sisir dengan suara keras di meja rias.
Maria baru saja berjalan ketika mendengar suara tersebut, dia menoleh melihat putrinya. “Kenapa, Sayang?”
“Tidak ada apa-apa, Ma,” jawab Jovanka lesu.
Maria tentu saja tidak percaya dengan mudahnya, dia menghampiri putrinya dan mengambil kembali sisir yang diletakkan Jovanka dan mulai menyisirinya secara perlahan. Selama beberapa waktu keduanya diam tidak berbicara satu sama lain sampai Jovanka akhirnya meminta Maria untuk berhenti.
“Sudah, Ma. Mau seberapa banyak lagi rambutku rontok.”
“Maaf, Sayang,” balasnya penuh penyesalan.
“Sudahlah, Ma. Jangan minta maaf.” Akhirnya Jovanka melepaskan hatinya yang penat dan memeluk ibunya mencari kehangatan dan ketenangan yang ia butuhkan. “Mah, kalo aku pergi begitu saja. Mama akan baik-baik saja, kan?”
“Jovanka,…” Maria tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Orangtua mana yang bisa berpikir akan baik-baik saja setelah ditinggalkan putra-putri mereka. Itu adalah penderitaan tak terbayangkan dan jika mampu menolak, Maria tidak pernah ingin mengalaminya. Lebih baik jika, gilirannya yang terlebih dulu.
“Mama, gak jawab?! Apa sulit banget, yah, melepas Jo pergi?”
“Jo, kamu putri Mama yang paling berharga. Apapun Mama lakukan buat kamu tapi, Mama gak akan pernah baik-baik saja.”
“Papa juga,” lanjut Haris yang tiba-tiba datang dari balik pintu. Dia sudah mendengar apa yang dibicarakan oleh istri dan anaknya. Hatinya juga sakit mendnegar suara kepayahan dari putri cantiknya yang dulu sangat energik dan luar biasa. Mungkin tidak hanya Jovanka sendiri yang merindukan masa lalu tetapi mereka juga, dia dan Maria.
Lima tahun lalu hanya satu minggu sebelum pernikahan Jovanka dan Ravin. Jovanka menerima surat pemeriksaan kesehatanya dan membuatnya langsung terpukul berat. Berpikir sebelumnya jika sakit kepala dan sampai pingsan tersebut itu hanya berpikir anemia, ternyata bukan sel darah merahnya yang bermasalah melainkan kanker sel darah putih menyerang tubuhnya adalah Leukimia.
Segera dalam satu minggu kehidupan Jovanka sangat berubah. Sikap optimisnya yang biasanya selalu melihat ke depan dan berpikiran terbuka seketika berubah menjadi pesimis apalagi dengan mudahnya mereka bisa memvonis pasien dan berhasil membuat Jovanka terperosok jatuh. Jika saja Dokter itu bisa lebih bertanggungjawab mungkin, Jovanka tidak akan semenyedihkan ini karena kehilangan orang yang dicintainya.
Keadaan Jovanka sepertinya tidak kembali kekeadaan optimal setelah mendengar kabar pernikahan Ravin. Sungguh malang nasibnya yang mempermainkannya. Dan, lebih tak berdaya adalah dirinya karena tidak mampu melakukan apapun untuk putri tercintanya.
“Pa,” panggil Jovanka segera merentangkan tangannya untuk menangkap pelukan ayahnya. “Pa, terimakasih rasanya hidupku tidak bisa lebih berarti lagi. Kalian adalah sumber kebahagian terakhirku.”
“Begitu juga, Mama dan Papa kamulah sumber kebahagian kami.”
Jovanka mendongak menatap wajah ayah dan ibunya dengan wajah memelas meminta sesuatu yang sulit mereka penuhi tetapi, juga enggan mereka tolak. “Tidak bisakah, hanya melihatnya dari jauh?! Ma, Pa … aku ingin bertemu dan berbicara dengan Ravin…”entah itu tawa atau tangis. Jovanka melakukan keduanya. Dia sangat kesal dan penuh penyesalan saat ini. “Ke mana waktu lima tahun ini dan kenapa aku baru berani melakukannya setelah seperti ini!? Tidak hanya berbicara aku juga ingin bersama Ravin di sisa hidupku ini,” jujurnya yang mungkin sudah terlambat begitu jauh.