Pertemuan

1590 Kata
"Bukan cuman kekasihku yang diambilnya, perusahaan juga sudah dipegang lagi Mas Ravin kalau sudah begitu aku harus apa?” tanya Elvan dengan penuh gumpalan kusut di hati. Melihat orang tuanya masih dan terlihat sangat tenang, sekali lagi Elvan harus dibuat mundur satu langkah lagi. Dihempaskannya tubuhnya di sofa, duduk tepat menghadap kedua orang tuanya yang sedang menikmati minum teh mereka. Adibrata akhirnya selesai yang pertama, meletakkan cangkir teh segera di atas meja lalu, kemudian memandang putra bungsunya yang sudah dewasa tetapi, hanya fisiknya saja. Berbeda lain dengan sifat dan sikapnya yang terkadang kekanakkan yang terbilang lebih egois dibandingkan kakaknya Ravin yang punya sifat keras kepala tetapi masih bisa dibujuk dan diberi pengertian. Elvan tidak seperti itu, dia batu tidak mau mengerti keadaan karena baginya keinginannya yang harus terpuaskan. "Kenapa harus khawatir dengan pekerjaan. Kamu hanya tinggal memilih mau ditempatkan di mana?" "Kalau begitu aku mau jabatan ku kembali," jawabnya. "Bagaimana bisa, jabatan itu sudah kakakmu yang pegang jadi kamu bisa memilih jabatan yang lain. Entah itu di perusahaan yang sama dengan Ravin atau di perusahaan Daddy," bujuk adibrata dengan sedikit sakit kepala melihat Elvan yang tampak kukuh dengan keinginannya. "Aku menolak, aku mau jabatan ku kembali karena itu perusahaan yang pertama kali kurintis," sahut Elvan tidak senang dan Kukuh dengan pendiriannya. Disampingnya Deswita melihat suami dan putranya sedang berdebat tetapi, dia tidak mau ikut campur karena itu soal perusahaan, biar saja suaminya yang yang akan mengatur Elvan akan bekerja dimana. Bukan seperti anak itu tidak mampu mencari pekerjaan dengan kaki dan tangannya sendiri. Elvan menoleh pada ibunya, Deswita. Yang diam, tatapannya seolah meminta wanita itu mengatakan sesuatu." Apa kamu tidak mau mau mengatakan sesuatu. " "Memangnya apa yang harus Mami katakan semua keputusan ada di tangan kamu." Adibrata kembali bicara. "Awalnya, Ravin menolak untuk bekerja di perusahaan dan mengambil alih jabatanmu tetapi, perusahaan butuh kepemimpinan dan kamu tahu sendiri. Daddy, bisa ngambil dua tugas jawaban sekaligus lagi. Sangat melelahkan, Jadilah Daddy memaksa Mas-mu dengan perjanjian dia akan menjadi pemimpin lima tahun ke depan. Dan, ditahun itu kalau kamu mengambil alihnya kembali Ravin akan bersedia turun jabatan." "Oh, murah hati sekali dia. Setelah lima tahun? Apa dia sedang mencalonkan diri sebagai presiden," sarkas Ravin penuh kebencian sebenarnya. Entah kenapa hatinya begitu sulit menerima keadaan yang berubah disekitarnya meski, sudah menyadari ini memang semua berawal darinya tetapi, dalam benaknya selalu tergantung kenapa? Apa kesalahannya begitu fatal hingga dunianya diguncang seperti ini. "Perusahaan akan kesulitan jika dalam satu waktu kepemimpinan diganti berkali-kali setelah semua kebijakan Ravin buat, dia juga tidak bisa mudah lepas tangan," ujar Adibrata sambil menyesap kembali teh nya, dengan pandangan tak lepas dari Elvan. "Apa kamu mau membuat perusahaan sendiri?" Elvan cukup terkejut mendengar pertanyaan dari ayahnya tidak menyangka akan ditawari hal seperti itu. 'Apa membuat perusahaan itu mudah, seberapa mudah? Kenapa ayahnya bisa mengajukan seperti itu? Kenapa rasanya sedang diasingkan? Tidak mungkin, kan?' "Apa Daddy, menyuruhku membuat perusahaan?" "Hm, sepertinya itu rencana yang lumayan bagus. Lakukanlah?" Cukup lama Elvan diam dan hanya menatap kedua orang tuanya silih berganti. "Aku ingin menolak. Tapi, Daddy dan Mommy tidak akan membiarkannya,kan?" "Apa maksudnya? Apa yang tidak membiarkannya?" tanya Deswita sambil mengerutkan kening tidak mengerti ucapan Elvan."Kamu anak kami juga apanya yang salah jika, menyuruhmu membuat perusahaan sendiri atau usaha sendiri. Tidak seperti kamu kekurangan banyak hal. Kamu bahkan, punya pendidikan dan juga kemampuan. Punya Mommy, juga Daddy. Cobalah!" Elvan mendengus keras, sambil memalingkan wajah. Tidak senang dengan kata-kata Deswita yang seolah-seolah menyisipkannya meski, sebenarnya tidak. Itu bukan ide buruk tetapi tetap saja, dia tidak suka. Tidak ingin berbicara lagi Elvan berdiri dan berlalu pergi. Enggan untuk berbicara lebih banyak jika, tidak memuaskannya. Memangnya apa yang diharapkannya lagi, sekarang bagi orang tuanya Ravin segalannya. Dia sudah mengecewakan mereka dan sepertinya Dirinya belum dimaafkan sepenuhnya. Adibrata dan Deswita hanya saling memandang setelah melihat punggung Elvan yang berlalu pergi begitu saja dan kemudian menghela napas sedih. Mereka masih tidak mengerti kenapa Elvan tidak bisa diajak bicara lagi dan tampak tidak menyadari kesalahannya. Bukan hanya Elvan yang sedang kecewa pada mereka tetapi, mereka juga kecewa pada putranya yang hanya menyalahkan keadaan. ** "Mbak Jo, apa Mbak belum mengambil mengambil keputusan?" Tanya Elvan saat menghubunginya dari gawainya. "Aku sudah," jawab Jovanka dengan suara kecil, yang dipenuhi ketidakyakinannya. "Aku merindukan kakakmu tetapi, sepertinya dia tidak. Jika, dia tahu keberadaanku bukankah harusnya dia datang menemuiku?" "Jangan berharap banyak. Tentu saja karena sekarang dia punya istri," sahut Elvan kejam tetapi, bukan hanya untuk Jovanka melainkan dirinya sendiri. "Maaf, kata-kata barusan terdengar kejam juga menyakitkan!! Tapi, kalau ingin memisahkan mereka kita harus kejam." "Elvan, aku mungkin tidak bisa memisahkan mereka. Hidupku tak akan lama." Mendengar jawaban seperti itu Elvan terdiam, hatinya meruntuk. 'Sialan, kalo si Jovanka ini mati apa mereka bisa dipisahin? Hah, jadi bagaimana ini ? Kalo wanita ini memdekati Mas Ravin terus tiba-tiba meninggal rasanya akan percuma...arghhh!' teriaknya dalam hati. "Van," panggil Jovanka dengan suara kecil. Malu karena wanita sepertinya yang punya penyakit seperti dia berani mengejar pria sehat seperti Ravin bahkan, di saat pria itu juga sudah menikah. Tetapi, sekali lagi bukankah ini dorongan dari Elvan sendiri. Apa dia masih punya kesempatan? Apa dia berani?. "Mbak, jangan khawatir. Mas Ravin itu orang yang tulus. Dia pasti bisa nerima lagi kehadiran Mba apa adanya." "Tapi, gimana sama istrinya?" "Soal Inara, serahin saja sama aku. Yang terpenting Mbak bisa narik perhatian Mas Ravin lagi meski ...tidak lama." 'Karena, saat perhatian Mas Ravin teralihkan aku bakal buat Inara kembali jatuh cinta sama aku.' Jovanka akhirnya menarik napas lega mendengar jawaban Elvan. "Kalo begitu aku akan bersiap-siap untuk menemuinya. Elvan, haruskah aku buat janji untuk bertemu Ravin atau harus berpura-pura tidak sengaja bertemu saja?" Mata Elvan tiba-tiba berbinar. Dia berpikir sesuatu seperti tidak ada salahnya dengan usulan Jovanka. Biarkan mereka bertemu tak sengaja lalu, selanjutnya Ravin terus-menerus menemui Jovanka. "Mbak, keduanya ide baik kamu bisa melakukan yang mana saja hanya selanjutnya .... mintalah simpati Mas Ravin, dia pasti bakal luluh kalo itu Mbak Jo." Menelan salivanya, Jovanka merasa berdebar hanya dengan membayangkannya bisa bertemu Ravin. Segera setelah dia bisa memulihkan kesehatannya sedikit lebih baik dengan bantuan pengaturan Elvan, Inara akan bertemu Ravin tetapi, sebelum itu terjadi dirinya harus menyaksikan pemandangan yang membuatnya iri sekaligus sakit hati. Jauh di dalam sebuah restoran Jovanka melihat keberadaan Ravin yang sedang berpakaian casual, hanya dengan sebuah kaos serta celana panjang santainya tersenyum dan tertawa bersama seorang wanita, yang hanya bisa dia lihat punggungnya saja. Meskipun, tidak terdengar apa yang mereka bicarakan atau apa yang mereka tetapi, hanya dengan gesturnya saja. Jovanka bisa menebak jika, Ravin tengah menyuapi wanita di sampingnya. Senyum bangga dan puas, diberikan Ravin tiap kali suapan demi suapan disendoknya habis dimakan Inara. Beberapa hari ini, istri cantiknya menjadi kurang nafsu makan dan jelas membuatnya khawatir jadi.. akhir pekan seperti ini keduanya pun memutuskan ingin menghabiskan waktu santai dengan bersama. "Mas, udah! Aku sudah kenyang." Ravin melirik dan melihat beberapa sajian makan di mejanya. Tidak banyak yang habis tapi, Inara sudah ingin berhenti. "Makanmu belum juga banyak? Cobalah sesuatu kalo begitu." " Sudah, Mas. Aku kenyang. Giliran, Mas yang makan dan habisin ini semuanya, ya?" Tunjuk Inara pada makanan di atas meja mereka. Bibir Ravin mencebik juga dengan otak yang mencoba untuk berpikir, yang menghasilkan kening di dahinya. "Ini bakal jadi makan siang yang berat, Sayang." "Hey, Mas. Harus kuat dong. Mas yang pesen yang banyak, nih..!?" "Yah,ini semua juga buat kamu," ujar Ravin sembari menyantap makanannya. "Terima kasih, Sayang atas perhatiannya tapi aku bener-bener kenyang," ujarnya nya membalas dengan mengambil dan bergantian mencoba menyuapi Ravin. Ravin tidak menolak dengan senang hati membuka mulutnya mengunyah dan menghabiskan apa yang diberikan Inara. "Ayo,nikmati lagi makanannya!" Mendengar seruan itu Inara segera kembali menyerahkan sendoknya kepada Ravin agar dia bisa makan lebih nyaman. Beberapa kali Ravin mencoba untuk kembali menyuapi Inara tetapi, wanita cantik ini menolak dengan menggelengkan kepalanya dan mencoba bersikap imut. Tidak seberapa jauh dari sana. Jovanka, sendiri hanya bisa melihat dengan wajah termenung dan bingung tubuhnya kaku dan hanya fokus melihat Ravin dari jauh. Ada rindu yang tidak bisa terucap, ada kasih yang tak bisa disampaikan, ada juga cinta yang sulit untuk dilepaskan. Jovanka mencoba untuk tenang menarik nafasnya dalam-dalam dan memperbaiki setiap sudut pakaian yang sedang digunakannya terlebih tiap titik riasan di wajahnya. "Tenanglah, Jo. ini semua pasti berhasil. Aku hanya perlu membuat ini seperti tidak disengaja. Lalu, demi masa lalu memintanya untuk bertemu beberapa kali sebagai pelepas rindu tapi, Ravin. Apa kamu masih bisa merindukanku setelah memiliki wanita sehat dan baik di sampingnya?" Jovanka masih bertanya-tanya meski hatinya kuat dan ingin mencoba untuk bertemu kembali dengan Ravin dia tidak percaya diri seperti dulu begitu banyak keraguan dalam dirinya. Penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun telah menggerogoti semua hal yang pernah dibangga-banggakannya sedikit-banyak tidak bersisa. Sehingga yang paling terlihat paling banyak tersisa hanyalah kerangka tulang yang dibalut kulit lemah ini dan akan habis tak lama setelah dia mati. Saat mengingat hal itu Jovanka berdiri dia tak mau menyesal seumur hidupnya apalagi, jika sampai dibawa mati. Tidak perlu kesengajaan dia kan sengaja berjalan menghampiri Ravin dan istrinya, -Inara- tekadnya kini kali ini kuat dia tak mau kalah lagi dengan ketidakpercayaan diri. Saat ini Ravin dan Inara masih asyik berbincang mereka tidak memperhatikan sekitar sehingga, Jovanka luput dari pandangan keduanya sampai dia berdiri di depan meja mereka. "Ravin," panggilnya lemah tetapi, terasa penuh tekad. Inara mendongkak Lihat seorang wanita di depannya lalu pada suaminya yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling bertatapan dan selama beberapa waktu mereka diam. Membuat Inara semakin bingung dan ingin bertanya pada suaminya. "Siapa ini, Mas?" tanyanya yang sulit terpendam dalam hati tetapi, berhasil membuat keduanya berbalik menatapnya. "Aku Jovanka, mantan kekasih Ravin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN