"Aku Jovanka mantan kekasih Ravin."
Bukan hanya Inara yang terkejut tapi juga Ravin. Dia tidak menyangka jika Jovanka akan menyebutkan hal seperti kata 'mantan kekasih' karena sepertinya hal itu tidak perlu disebutkan telah berapa banyak waktu yang mereka lewati bertahun-tahun ini tanpa saling berhubungan. Selama beberapa saat mereka bertiga saling diam menunggu salah seorang dari mereka memecah keheningan.
Inara tidak marah atau langsung cemburu ketika wanita ini ini memperkenalkan dirinya sebagai mantan kekasih suaminya. Dia hanya sedikit terkejut mendengar nama Jovanka, yang dia dengar dari suaminya Ravin jika mereka tidak pernah bertemu lagi setelah pernikahan mereka yang gagal. Jovanka yang pergi sulit dicari apalagi ditemui tidak ada teman, saudara, atau kerabatnya yang bersedia memberitahukan keberadaannya atau mengatakan alasan kenapa dia pergi.
Beberapa bulan lamanya Ravin sudah hilang arah karena tak ada kontak atau kabar sekalipun begitu juga orangtua Jovanka sendiri yang sama-sama menghilang bak ditelan Bumi, setelah tidak pernah mengatalan alasan yang jelas kemudian mereka pun tidak bisa ditemui lagi sampai beberapa tahun kemudian. Meskipun, Ravin tahu jika mereka pergi keluar negeri dan ternyata berada di sana dalam jangka waktu lama langkahnya tak pernah sampai ke sana. Keputusan mereka untuk pergi tanpa mengatakan apapun cukup membuatnya berhenti berharap pada wanita tersebut.
Perlahan tapi pasti semuanya berubah, begitupun perasaan Ravin yang sudah mengikhlaskan kegagalannya. Dia sekalipun tidak pernah merasa trauma untuk mencoba berhubungan dengan wanita lain tapi, hanya sebelumnya memang tak ada wanita yang bisa menarik perhatiannya. Entahlah, apa itu yang disebut trauma? Karena yang Ravin yakini saat itu adalah dia sedang memperbaiki diri sembari menemukan Belahan Hati yang sesungguhnya dari Tuhan. Dan benar saja, Tuhanmenjawabnya tanpa perlu mencari-cari jodohnya telah siap berdiri dipelaminan untuk langsung dirinya Pinang.
Memikirkan hal trsebut disaat termenung sesaat seperti ini Ravin tidak bisa tidak tersenyum sambil melihat istrinya, Inara bersyukur dengan pernikahan mereka. Kemudian matanya menoleh pada Jovanka."Lama tidak bertemu, Jo."
"Y-ya, Ravin, lama tidak berjumpa," sapa Jovanka kembali dengan senyum lega karena dia akhirnya cukup berhasil melakukan hal ini dan tidak disangka Ravin pun tidak menatapnya dengan buruk.
Jovanka masih berdiri, sama sekali Ravin tidak mempersilahkannya duduk. Bingung dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah harus duduk tanpa tahu malu atau pergi dari sana lebih awal? Sayang kaki Jovanka sepertinya sudah terpaku di sana dia enggan pergi masih melirik Ravin da n Inara bergantian. 'Haruskah dia bertanya lagi? Apakah harus seperti ini bodoh?' batinnya saat itu tatapannya pun tak lepas dari melirik Inara.
Inara peka, berhasil menenangkan diri melihat Ravin sambil tersenyum lalu menoleh pada Jovanka."Hai, aku Inara," ujarnya sambil mengulurkan tangan mengajak berkenalan."Istrinya Mas Ravin."
Jovanka tersenyum kaku mendengar pernyataan tersebut tetapi, dia tetap menerima uluran tangan Inara. " Aku nggak tahu Ravin ternyata sudah menikah."
"Ah, begitu! Haruskah, aku minta maaf karena kami memang tidak mengundang banyak orang."
"Tidak masalah soal itu," sahut Jovanka merasa kedinginan hatinya setelah Inara menyebutkan pernikahan mereka.
Ravin masih diam melanjutkan makannya seolah tidak terganggu dengan kedatangan jovanca atau sebenarnya tengah berpura-pura. Sudut mata Inara melihat hal itu dalam hati meruntuki suaminya yang hanya diam.
Kembali Inara melihat Jovanka yang masih berdiri dan menatap suaminya.
"Apa kamu mau duduk?" tanyanya akhirnya tak nyaman melihat orang berdiri tepat didepan meja makan mereka. "Apa kamu sudah memesan tempat atau makanan?"
Tanpa malu dan segan lagi Jovanka berujar, "Bisakah aku duduk di sini? Aku belum pesan apapun, aku melihat kalian dari pintu lalu langsung menghampiri ke sini."
"Silakan saja," sahut Ravin akhirnya membuka suara sambil membersihkan mulutnya dengan tisu."karena kami sudah selesai jadi, duduk dan mulai memesan selalu nikmati makan siangmu."
Tentu saja Jovanka tercengang bukan begitu maksudnya dia ingin duduk dan berbicara lagi dengan Ravin. Tetapi ravine sepertinya sudah bertekad. Dia sudah mengulurkan tangan pada Inara dan berdiri bersiap pergi mengabaikan Jovanka.
"Apa kamu begitu membenciku?" tanya Jovanka menahan lengan Ravin dengan tatapan matanya yang sedih.
Dengan lembut Davin melepaskan tangan Jovanka dari lengannya lalu menatap mata wanita itu. "Kenapa aku harus membencimu tanda tanya kita tidak mempunyai dendam jadi tidak perlu saling membenci."
Mendengar jawaban seperti itu rasanya lemas tubuh Jovanka, hatinya merasakan sakit atas perbuatannya dulu meninggalkan Ravin. Pria ini tidak bersalah hanya dirinya yang lemah dan tidak bisa menerima keadaan Kalau sebentar lagi dirinya akan mati. Mengalami situasi seperti ini pastilah penyakit Jovanka terangsang dan benar saja tiba-tiba pandangannya mengabur, tidak ingin Ravin melihatnya lemah Jovanka berusaha untuk tidak jatuh pingsan tetapi, tetap saja tubuhnya lemah. Dia jatuh pingsan.
Melihat tubuh Jovanka yang hampir Limbung Davin refleks menangkapnya tidak membuatnya jatuh sampai ke lantai."Jo,Jo,bangun kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Jovanka kemudian, dia segera melihat Inara. "Sayang, dia jatuh pingsan."
Ravin dan Inara sama-sama terkejut mereka akhirnya memutuskan membawa Jovanka ke rumah sakit dan lalu melalui gawai Jovanka sendiri Ravin menghubungi keluarganya untuk segera datang. Namun sebelum itu, seorang dokter berbicara pada mereka terutama pada Ravin tentang kesehatan Jovanka.
Mendengar hal tersebut Ravin sedikit bersimpati meskipun, ada perasaan masa lalu akhirnya Ravin tidak mengatakan terlalu banyak. Di lain sisi Inara hanya merasa sedikit heran dengan kerutan dikeningnya. 'Kenapa dokter itu seolah ingin mereka mengetahui keadaan Jovanca terlalu banyak? Jelas-jelas mereka bukan keluarganya.'
Dan, ternyata itu memang permintaan Jovanka sendiri. Berdasarkan perasaan dingin yang dia terima dari sikap Ravin terhadapnya di restoran sebelumnya. Jovanka saya memikirkan hal ini baginya sepertinya nya tidak ada cara lain untuk menarik perhatian Ravin kecuali dengan penyakitnya meski, egonya kini sedikit terluka. Jovanka tidak ingin merasa dikasihani tetapi akhirnya, dirinya memilih hidup dari belas kasihan Ravin hanya Ravib. Itu pun agar akhir hidupnya tidak penuh penyesalan.
"Semoga saja Ravin bisa menungguiku di sini dan istrinya pulang. Membiarkan kami berdua menghabiskan waktu," lirih Jovanka dengan suara kecil, yang sudah membuka matanya dan sekarang tengah melihat keluar dari celah pintu memerhatikan sang Dokter dan Ravin yang sedang berbicara.
"Sayang," panggil Ravin. "Apa kamu tidak keberatan jika pulang terlebih dulu. Kamu pasti lelah,kan?"
Tanpa ragu dan malu Inara menunjukkan ketidakbahagiannya dengan wajahnya yang langsung ditekuk. Jelas meski kini wanita bernama Jovanka itu sedang sakit tetap saja dia mantan kekasih suaminya."Aku tidak mau, kita sudah mengantarnya ke rumah sakit itu cukup jadi, Mas ayo pulang!"
Ravin mencoba memberi pengertian dengan memeluknya terlebih dahulu lalu membelai surai hitam indah milik istrinya sebelum memberinya kata-kata pengertian." Sayang, aku nggak akan lama ini hanya sampai kedua orang tuanya tiba di rumah sakit. Cuman berbeda sama kamu. Sayang, kamu sedang tidak enak badan dan perlu pastinya perlu banyak istirahat jadi, kembalilah terlebih dahulu."
"Alasan! Mas paling pengen berduan aja sama mantan Mas itu," jawab Inara sembari berbalik pergi sedikit marah.
"Sayang!" Ravin hendak mengejar Inara tetapi, sebuah suara keras sekaligus lemah menghentikannya.
"Vin, Ravin!"teriak Jovanka parau bahkan sekarang dia bersiap bangkit menyingkap selimutnya membuat mau tak mau Ravin menarik napas, dan berbelok karena melihat Jovanka yang hampir terjatuh dari tempat tidurnya. Beruntung wanita itu hanya menggelantungbterbelit selimut tidak sampai tersungkur.
"Apa yang kamu lakuin? Kamu hampir saja jatuh," ujar Ravin yang tiba-tiba merasa khawatir kemudian, segera membaringkan Jovanka kembali. "Diamlah, yang tenang jika kamu sedang sakit. Aku masih mengejar istriku dulu." Setelah mengatakan kata-kata itu Ravin berlalu tanpa mendengar jawaban Jovanka.
"T-tapi, Vin," ucap Jovanka terbata dengan tangan terulur ingin menarik lengan Ravin tetapi, tidak berhasil. Tangan itu menggantung cukup lama sampai akhirnya terhempas jatuh sendiri. Tanpa peringatan an airmata Jovanka pun seluruh menetes di atas pipi. Sedih mencengkeram karena kali Ravinlah yang pergi darinya.
Ravin berjalan di koridor melihat kesana kemari sebelum akhirnya memasuki lift dan turun ke lobby untuk mencari Inara. Dan benar saja Inara sudah berada di sana berdiri di luar lobby sepertinya sedang menunggu taksi. "Ya, ampun. Hah... bisa-bisanya berjalan begitu sangat cepat," ujar Ravin merasa takjub sekaligus lega masih bisa mengejar istrinya.
Meskipun, sedang berbicara sendiri langkah kaki Ravin tidak berkurang sama sekali. Dia mendekat hendak memanggil Inara tetapi, sebelum bisa berhasil ada seseorang menghalangi pandangannya juga, suara kerasnya yang menggema dan menarik perhatian banyak orang. Sudut mata Ravin tidak mungkin salah, Inara baru saja menoleh dan memperhatikan keberadaannya Tetapi wanita itu malah melengos pergi memasuki sebuah taksi meninggalkan Ravin dengan segala keributan disekitarnya.
"Ravin, Ravin ...Jo baik-baik saja,kan? Tidak ada yang berbahaya? Tadi itu kamu,kan yang memanggil kami?" Pertanyaan tadi datang bertubi-tubi membuat telinga Ravin sendiri langsung pekak. Dan, yang paling penting Inara sudah berbalik di depan matanya dalam marah.
"Ravin?!" Kali ini suara pria paruh baya."Mah, tenang dulu sebentar! Bagaimana Ravin bisa menjawab jika, Mama terus berbicara."
Ravin menghela napas -'-setuju dengan pendapat H--aris lalu pandangannya beralih pada sepasang suami istri di depannya yang sudah lama tidak pernah ia temui. "Om, Tante. Apa kabar?" tanyanya tanpa berbasa basi.
Mendengar sapaan Ravin yang ramah, kedua orang tua Jovanka. terutama ibunya nya merasa sedikit malu tetapi, Ravin tak menghiraukan hal tersebut. Dia malah melanjutkan kata-katanya karena sudah memastikan orangtua Jovanka ada berada di sini berarti dia bebas untuk pergi dia akan segera menyusul Inara. "Om, Tante Jovanka tampaknya baik2 saajń tidak perlu khawatir titik Ya sudah ditangani medis dan terlihat lebih baik."
Orang tua Jovanka yang mendengar penjelasan Ravin merasa sangat lega dan bersyukur. Raut wajah Mereka pun tak tampak lagi tegang malah kini berubah kemerahan karena merasakan malu dan sedikit bingung ketika Ravinlah yang memang berdiri didepan mereka setelah apa yang terjadi beberapa tahun lalu.
"Ravin, terima kasih."
"Yah, Om dan Tante tidak perlu sungkan.Ini bukan apa-apa jika, orang lain pun yang jatuh pingsan tepat di depan saya. Saya pasti akan membantunya juga."
Mendengar sanggahan dari Ravin yang tak menghiraukan perasaan kedua orang tua Jovanca. Kedua orang tua ini mengalami sedikit ketidaknyamanan mendengar jawaban nada dingin dari Ravin. Mereka akhirnya tanpa ragu menatap mata Ravin yang membuat hari mereka kedinginan sendiri. Tak Terlihat lagi Ravin yang dulu ramah ceria dan manis penuh senyum.
"Tante gak papa kan?" tanya Ravin melihat Maria yang tiba-tiba berubah lagi menjadi pucat. Maria yang penuh rasa bersalah karena kisah masa lalu dia dan putrinya harus hancur. Di detik berikutnya jari cari Maria menyentuh lengan Ravin tetapi dengan cepat dihindari oleh Ravin sendiri.
"Melihat kalian sudah berada di sini maka, sepertinya aku tidak dibutuhkan lagi. Aku akan pergi jadi, ini saatnya aku permisi!"
Maria Tentu saja tidak rela, dia ingin menahan Ravin lebih lama dan semua dilakukan untuk putrinya Jovanka."A-apa kamu tidak ingin menemui Jovanka lagi?"
"Jovanka rasanya tidak pernah membutuhkan kehadiran saya tetapi sebaliknya ...jadi, lebih baik Om dan tante segera menemaninya. Dan Aku akan segera pergi karena memiliki urusan pribadi sendiri."
"T-tapi, Vin." Terlambat Ravin tidak mau mendengar dia tetap berjalan ke depan dan menghiraukan suara panggilan Maria dan Harris . Dipikirannya saat ini adalah keberadaan Inara, istrinya.