Merindukanmu

1522 Kata
Di hari itu Inara sebelumnya cukup kesal tetapi, tidak sampai berlarut-larut karena hanya dalam hitungan menit Ravin sudah menyusul kembali ke apartemen tepat di belakang setelah kedatangannya. Membuatnya lega dan bisa berpikir positif lagi jika,suaminya tidak terpengaruh dengan kondisi mantan kekasihnya sambil berpikir lebih positif jika, Ravin memang mencintainya seperti dirinya juga mencintai pria tersbut. Sekarang Inara sedang berkutat dengan masakannya memotong sayuran yang akan dipersiapkan untuk makan malam. Di tengah hal itu juga sekali-sekali dia bisa melihat Ravin yang sibuk bekerja didepan meja makan seolah seperti sedang mengawasinya. "Kenapa, Sayang. kamu ingin aku yang memasak?" tanya ravin tanpa menoleh pada Inara Jadi sepertinya pria itu tahu sedang diperhatikan oleh istrinya. Inara hanya tersenyum senang melihat suaminya duduk di sana seolah tengah, menemaninya memasak. "Enggak, Mas aku masih bisa kok, masak sendiri meski mungkin masakanku tidak seenak masakan hasil tangan, Mas. " "He-i, kata siapa itu? Masakanmu tidak kalah enak kok, nyatanya Mas paling suka garame asem manis buatan kamu." Inara mengangguk sambil tersenyum setuju dan tidak mempersoalkan lagi siapa yang paling pintar memasak dan terus melanjutkan pekerjaannya begitu juga Ravin yang masih berkutat dengan pekerjaan kantornya. Jadi, seperti inilah yang kadang-kadang terjadi jika salah satu dari mereka sibuk dengan pekerjaan tepati harus tetap ada dirumah membiarkan Inara memasak sendiri atau terkadang Ravin yang memasak dan Inara yang sibuk bekerja di depan meja makan sana. Teringat kembali dengan mantan suaminya Inara merasakan simpati pada wanita bernama Jovanka tersebut. Dia tidak tahu pendapat Ravin tentang hal ini. Jadi setelah selesai mereka makan malam, membersihkan diri dan siap untuk tidur. Inara yang sudah berselimut berbalik menghadap Rapin mengganggu suaminya yang sudah memejamkan mata. "Sayang, aku sedang capek! Nanti subuh aja, ya?" "Ih, siapa juga yang mau gituan," ujar Inara menjadi sewot mendengarnya dengan perasaan sedikit malu. Ravin tersenyum bersmirk tanpa membuka matanya. Dia benar-benar lelah ingin tertidur tetapi, istri cantiknya ingin menggoda dia jadi, ditariknya tubuh Inara untuk di dekap. Mendapati perlakuan seperti itu. Inara juga tidak bisa apa-apa tetapi, juga tidak berniat berhenti mengganggu memenceti hidung Ravin sampai terbangun. "Bangun sebentar, buka matanya dulu! Aku mau ngomong." Menghela nafas dengan mata yang sudah kurang dari 5 watt Ravin membuka matanya. Lalu melihat ke depan wajah istrinya."Ada apa, Sayang?" tanyanya yang terdengar seperti keluhan. "Mas, bener-bener sudah ngantuk berat, nih?" Inara menjadi sedikit menyesal melihatnya tetapi, pertanyaannya tidak bisa menunggu lebih lama lagi bodohnya Kenapa tidak ditanyakan sejak tadi. "Hanya sebentar, Maaf. Pikir harus mencari waktu yang tepat jadi aku bertanya saat ini," ujar Kinara. "Oke, jadi apa itu? " "Perasaan Mas setelah bertemu mantan Mas tadi? Apalagi setelah mendengar ternyata dia sedang sakit." "Gak ada perasaan apa-apa. Lalu,soal penyakitnya Mas sudah tahu dari dulu jadi hanya perasaan simpati saja tidak lebih." Tapi masih memaksakan membuka matanya lalu, membelai rambut Inara."Jangan khawatirkan apapun yang gak jelas sekarang, dihati Mas hanya ada kamu seorang." "Gombal sekali, suamiku ini!" Inara mencium dagu Ravin karena, tempat itulah yang bisa dijangkaunya lalu, lanjut memeluknya erat. "Aku lega sekarang. Ayo, kita tidur, Mas." Ravin berdeham mengiyakan dan mulai memejamkan matanya lagi tetapi, sayangnya gilirannya yang kesulitan untuk tidur kembali. Kantuknya hilang tiba-tiba karena Inara baru saja mengingatkannya pada Jovanka, yang terpaksa membuatnya mengibgat masa lalu dengan wanita yang pernah mengisi hari-harinya sebelum lima tahun lalu sepertinya tak tersisa banyak darinya. Jovanka yang dia kenal menghilang tiba-tiba disaat digelarnya acara pernikahan mereka, bukan hanya dia saja yang hilang tetapi juga seluruh keluarganya, yang saat itu tak juga datang. Apakah itu untuk permintaan maaf atau memberikan alasan hal tidak ada sama sekali. Di saat itu ukan hanya rasa malu yang diterima tetapi, juga harga diri yang terinjak. Tidak hanya untuknya tetapi, juga kedua orangtuanya. Sehingga, saat pernikahan Elvan yang di mana anak itu malah kabur. Deswita, ibunya mengembangkan perasaan trauma berlebihan tetapi, hasilnya tidak buruk sama sekali. Ravin melirik Inara dalam pelukannya, tak luput dia belai dan kecup kepalanya. ** "Wow, wow ... " Roy si Heboh bertepuk tangan sangat heboh seolah baru melihat seorang artis nyatanya, dia yang baru tiba ini hanya sedang melihat Ravin yang sudah sangat jarang berada ditongkrongan sejak dia menikah. "Akhirnya lo mau dateng nyamperin kita-kita lagi. Ke mana aja lo, Bro?!" Ravin memutar bola matanya, sambil menyesap minumannya santai tidak menjawab pertanyaan sahabatnya yang tidak bermutu itu. Mereka, hanya tidak bertemu selama dua minggu ini karena semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. "Eh, si Roy kayaknya minta diselepet, nih?!" Dan, yah, benar saja. Roy yang riang dan tengah merentangkan tangannya seolah ingin memeluk Ravin dan duduk di sampingnya harus berani menghadapi kenyataan karena sedetik setelah bokongnya menyentuk sofa sebuah jari tangan Ravin lentik dan cantik sudah menyentuh kening kesayangannya dengan suara berderang tulang bertemu tulang --'Ctak'-- yang nyaring. Membuat tawa puas dari sekitar, begitu juga Ravin sang Pelaku yang tidak menampakkan wajah penyesalan. Sedangkan,Roy .harus memegang kepalang supaya tidak pecah bahkan, rasa sakit yang tidak berperi ini mengaburkan suara jeritannya yang terendam yang tampak nyata adalah bola matanya berkaca-kac--ah, tidak air matanya ternyata sudah luruh jatuh banyak sekali. "Ravin, sialan!" teriaknya setelah berhasil mengendalikan diri. Mendengar kemarahan dan kesakitan dari Roy, hal itu menjadi bahan gelak tawa kelima orang lainnya. Dan, Roy yang paling menderita hanya bisa mendelik pada mereka semua. "Jadi, kalian sudah mendengarnya juga?" tanya Ravin sambil meletakkan gelas minumannya di atas meja. Marco mengangguk, "Yah, Helen katanya pernah ketemu dia di rumah sakit... -Ben!" panggil Marco sedikit berteriak pada seorang bartender yang sedang meracik minuman tak jauh dari spot tempat duduknya. "Seperti biasa." "Ok, Bos!" Jawab si Bartender sambil mengacungkan jari jempolnya. "Heh, kalo nyatanya dia balik lagi kemari. Kenapa juga dia harus kabur bertahun-tahun? Tapi, kenapa si Helen ketemu di rumah sakit, bukannya si Jo udah sembuh, ya?" tanya Roy sedikit bingung, karena yang dia ingat dan kabar terakhir yang mereka ketahui juga yaitu Jovanka sudah sembuh dari penyakitnya dan masa pemulihan. Entah itu Marco, Gary atau Roy mereka melirik ke arah Ravin yang tampak tenang. Sedikit heran sebenarnya sejak urusan pernikahannya yang gagal bersama Jovanka. Ravin enggan membahasnya terutama setelah mengetahui alasan kenapa Jovanka pergi melarikan diri. Menurut Ravin kala itu, Jovanka adalah wanita konyol yang mengetahui penyakit tentang dirinya tapi, tidak berani menghadapinya dan malah melarikan diri seolah dirinya tidak akan menerima keadaannya. Perasaan kecewa Ravin sangat besar itu tidak perlu menyebutkannya bahkan, setelah tak perlu repot-repot lagi untuk menemuinya lagi. "Aku sudah melupakan perasaanku padanya. Itu masa lalu lagipula kalian tahu sekarang gue udah punya Inara." "Yah, beruntungnya sahabat kita ini sudah menikah," ujar Gary dengan wajah memelas sedih teringat jika, dirinya sedang dalam masalah dengan kekasihnya. "Kalian yang masih jangan ketinggalan," ucapnya ngawur. Marco menggeleng dan melempar serpihan kulit kacang pada Gary. "Cuci muka, lo. Belom apa-apa udah mabok." "Terus kenapa lo nanyain dia,Bro?" tanya Roy di samping Ravin sambil sibuk mengunyah kacang. "Hm, dia nemuin gue pas gue lagi bareng Inara. Kejutan, bukan? Setelah bertahun-tahun." "Wow, akhirnya dia punya keberanian." Ravin mendengus kecil, dengan smirk di bibirnya. "Terus yang lebih menarik, dia pingsan tepat setelahnya..." Kemudian, Ravin menceritakan semuanya bahkan, saat Inara hampir marah karena niatnya menunggui Jovanka dan hal itu malah menimbulkan gelak tawa bagi mereka kepuasan tersendiri saat melihat kawanmu sedikit menderita. "Inara benar-benar tidak marah,heh!" "Hampir kalo,gue gak balik sedetik aja dibelakang dia," tutur Ravin dengan tentetan tawa merasa lucu karena pertama kalinya Inara menunjukan perasaan cemburunya. "Lalu, soal Jovanka gue gak tau apa yang dia mau. Sudah beberapakali dia menghubungiku." "Mau apa dia?" "Itulah yang gak jelas. Aku tidak mengangkatnya dan menimbulkan persoalan yang tidak perlu." "Hati lo bener-bener dingin, Men." Ravin mengangkat bahu tidak peduli. Dirinya memang seperti ini, saat kecewaan besar datang tentu sulit kembali seperti semula tidak ada yang bisa dikatakan meski, maaf terucap bukan berarti akan seperti dulu lagi dan teman-temannya mengerti hal ini. Dia bukan orang yang egois bisa meninggalkan orang yang dicintainya hanya karena dia sakit. Malam belum terlalu larut ketika Ravin kembali ke apartemenya dan menemukan istrinya, Inara sudah terlelap tidur. Tak ingin mengganggunya Ravin setenang mungkin menyelesaikan ritual malamnya dengan mandi dan berganti pakaian. Sebelum akhirnya dia bisa berbaring dengan nyaman rasa haus mendera sayang minum yang biasanya di samping nakas sudah kosong jadi, terpaksa dia harus bangun dan kembali ke dapur. Ravin yang sedang menuangkan air ke dalam botol harus terkejut, ketika gawai ditangannya berdering beruntung segera ia redam atau akan membangunkan Inara dan tanpa melihat nama yang tertera. Ravin segera menjawab panggilan tersebut. "Vin." Terdengar suara wanita yang mau tak mau cukup dihafalnya. "Jovanka? Kamu itu?" "Ternyata kamu masih mengingatku." "Bagaimana aku tidak ingat," ujar Ravin sambil memijat keningnya pusing dengan sikap Jovanka, yang tidak akan seperti ini. Lalu, kemudian dia melanjutkan lagi. "Jo, baru saja kemarin lusa kita bertemu dan beberapa hari ini kamu selalu menghubungiku ada apa sebenarnya?" tanyanya dengan dingin. "Apa aku tidak boleh menghubungimu?" "Apa pantas seorang wanita menghubungi seorang pria menikah ditengah malam?" "Kamu pasti membenciku," lirih suara diseberang sambungan. "Aku merindukanmu,Vin?! Sedikit lama Ravin bisa menjawab, sesaat dia tengah menggali kembali perasaannya pada Jovanka. Wanita masa lalunya yang sungguh sangat menyebalkan karena tidak bisa diakui jika ada sedikit rindu di dalam hatinya padahal seharusnya itu benar-benar kosong dan tanpa disebutkan lagi. "Ravin...‐!" "Aku tidak, Jo. seperti ini cukup lebih baik kita akhiri panggilan ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN