"R-ravin."
"Aku di sini," sahut ravin. " jadi, sebenarnya ada apa kamu menelponku?"
"Aku benar-benar merindukanmu. A-aaku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Kesalahan--"
"Jo, kesalahanmu memang besar," sela Ravin dan sekarang dia memilih duduk di kursi meja makan menatap kosong pada gorden yang tertutup. "Tapi, kamu tahu apa yang lebih penting dari itu? Semua sudah berlalu. Aku tidak membutuhkan hal-hal yang sudah terjadi dan lewat."
"V-vin, gak kayak gini!? A-aku sakit, aku butuh waktu..."
"Tentu saja, Jo. Kalau begitu luangkan waktumu beristirahat dan pulihlah dengan segera. Ini sudah terlalu larut, aku harus pergi tidur hoaaam!.. selamat malam" Ravin benar-benar menguap dan mematikan sambungan teleponnya tanpa ragu.
Kembali ke kamar Ravin masih melihat Inara masih tertidur. Dengan mata yang sudah sepet dan lima watt tak ada lagi yang ingin dia lakukan kecuali berbaring lalu tertidur sambil memeluk istri cantiknya. Malam itu Ravin sama sekali tidak bermimpi mungkin karena terlalu lelah seharian bekerja tidurnya lelah sampai keesokan harinya.
Di samping Ravin,orang yang sedang dipeluknya dan dikiranya tertidur tiba-tiba membuka mata mendongak hanya untuk melihat jika Ravin sudah benar-benar tertidur. Inara menarik napas. Entah harus lega atau tidak, baru saja tadi di dia sempat mendengar percakapan antara Ravin dan tentu saja yang ditelepon adalah,Jovanka mantannya. 'Apa mau dia? Kenapa harus menelepon suaminya di tengah malam juga,hah?? Aku harap wanita itu tidak punya niatan lain.'
**
"Masih pagi tapi, wajah udah ditekuk aja. Apa suami lo nggak ngasih jatah?" Gurau Nadira sambil datang ke sisi meja Inara dan melihat Apa yang sedang dikerjakan sahabatnya itu. "Ya, kok gitu?! Kerjain yang bener, itu kan pesenan klien!"
"Berisik, ini udah bener, kok! Tenang aja kamu tahu beres."
"Yah, Dasar!" Sebal Nadira memutar bolanya tetapi, akhirnya tidak bisa mengatakan apapun lagi. Jadi, seperti ini soal desain terserah Inara, Nadira hanya pelaksana yang melakukan fitting dan membuat bahan baku menjadi bahan jadi. Atau terkadang sebaliknya, jika ada beberapakali desain tampak lebih baik dari Inara.
Pesanan pakaian khusus seperti terkadang berfokus terutaman pada baju pengantin dengan gaya modis dengan gaun putih juga,tidak sedikit mode kebaya untuk acara-acara penting.
"Nar, apa gak terlalu kolot? Klien kita masih muda, loh?"
"Dia yang mau. Dia pengen baju bener-bener tradisional kayak dulu bentukannya. Katanya,dia juga mau pake sanggul khas jawa yang besar itu."
"Masa? Emang ini acara buat nikahan, yah? Padahal cewe-cewe yang nikah pake adat pengen modisan dikit. Apa itu dilapis berlian swarosky--"
Inara terkekeh dengan imajinasi, Nadira."Kagaklah, dia buat penampilan naik panggung teater dan jangan salah bahan yang dibawa benar-benar halus, kualitas batik no.1."
"Kenapa gak desain modern aja, kayaknya bakal lebih wow...aja gitu. Apa bener-bener cerita teaternya ngusung tema jaman dulu? "
"Oy, gue getok juga tuh, kepala?! Ya, iyalah secara itu putri-putri keraton gitu! Tapi,katanya cuman sekali take, sayang sekali." Inara menghela napas sedih. Kliennya bilang, dia bukan pemeran utamanya tapi, dia ingin pakai busana kebaya terbaik dengan bajet sedikit lebih murah. "Tapi, gapapa semua ini buat kepuasan diri karena juga bawa nama Indonesia ke Kancah internasional. Mereka bakal manggung di Prancis keren, kan? Dan, bukan cuman klien kita ini yang berdiri dan berperan disana tapi, baju rancangan gue juga ikut berperan."
"Wow, luar biasa sekali!?" Nadira yang mendengarnya merasa tak cukup membayangkan jika, desain Inara dan hasil jahitannya bakal sampai di panggung internasional. "Nih, orang tau kita dari siapa,sih? Bisa-bisanya datang ke butik kita dan pesan pakaian kayak gini."
"Bu Mar, katanya dia yang ngerecommend butik kita."
"Owh, beruntungnya kita."
Inara mengangguk, menyetujui ucapan Nadira sambil terus menorehkan coretan-coretan di atas layar tab-nya. Meneruskan pekerjaannya, tetapi tidak sepenuhnya pikirannya ada pada garis coretan di tangannya karena masih ada hal yang mengganjal dibenaknya tentang kejadian semalam. Pikirannya melayang takut takut jika selama dia tidak disisi Ravin wanita yang bernama Jovanka itu itu akan terus menghubungi suaminya.
"Lo, kenapa menghela nafas terus?" Nadira bertanya sambil memijit bahu Inara di belakang punggungnya." Rileks! Tenang aja desain lu bagus, kok. "
"Bukan itu, aku kepikiran aja sama Mas Ravin," ujarnya sambil menyandarkan punggungnya dan menikmati pijitan sahabatnya, di bahunya.
"Memangnya ada apa? Kenapa dengan Mas Ravinmu itu?"
"Gue ketemu sama mantannya Mas Ravin sebelumnya dan terus semalam mantan tiba-tiba nelpon Mas Ravin di tengah malam. Bikin gue sedikit curiga, gila nggak, sih?!"
"Kenapa harus gila? Wajar aja kan lo bininya, jadi namanya lo itu cemburu. "
"Sebenarnya gue nggak mau, ah cemburu. Apalagi mantannya Mas Ravin itu lagi sakit, terus yang gue dengar dari dokternya sendiri. Dia itu udah kena kanker Stadium Akhir."
"Turut perihatin,deh," sahut Nadira yang sebelumnya tidak tahu harus bicara apa karena mendengar penyakit yang begitu mematikan. "Gue jadi kasihan, berarti umurnya enggak lama lagi ya."
"Maybe, umurkan urusan Tuhan gue nggak tahu pasti."
Nadira melirik Inara, dia juga jadi mengingat tentang Elvan. Pria b******k dan bebal yang ternyata masih berani kembali datang ke pintu rumahnya padahal pertengkaran mereka terakhir kiranya bisa membuat hubungan mereka retak dan tidak pernah kembali seperti semula tetapi, Elvan malah meminta maaf dan membuatnya tidak tega untuk tidak memaafkannya.
Mereka sudah berteman cukup lama meski, terakhir kali dia berbuat salah dengan fatal tapi, sekali lagi ya Itu tampak benar-benar menyedihkan. Sekarang katanya dia sudah menjadi pengangguran juga, tidak tahu apa yang mau dilakukan karena kepergiannya dia bukan hanya kehilangan Inara tapi juga pekerjaannya jabatannya di perusahaan. Hal itu membuat Nadira menjadi lebih kasihan tapi, tidak ada yang bisa dilakukannya.
"Kenapa sekarang lo yang diam? " tanya Inara sambil menepuk lengan Nadira untuk berhenti memijit."Udah mijitnya. Thank you!"
"Ok," sahut Nadira sambil kembali ke tempat duduknya dan berhadapan dengan Inara."Inara, boleh gue tanya sesuatu?"
"Hm, tanya aja. Kayak, yang ke siapa? Jadi apa?"
"Apa lo bener gak pernah mikir buat balik lagi sama Elvan? Lo, beneran udah cinta ya, sama Mas Ravin?" Nadira sedikit khawatir ketika berbicara hal ini dia juga berbicara dengan sangat cepat khawatir dengan tanggapan Inara yang akan marah tetapi, entah kenapa dia masih ingin memastikan hal ini.
Inara yang sekali lagi mendapat pertanyaan seperti ini dari Nadira, menarik napas jengah tetapi, kali ini tidak ingin melewatkan apapun dengan tatapan matanya dia menekan Nadira. "Jawablah dengan jujur, dengan mengatakan hal ini berulangkali sebenernya apa maksudnya? Lo, bilang pernah bilang suka dia, kan? Lo bisa kejar dia sekara--"
"Gue bukan mau ngejar dia," potong Nadira cepat dengan suara tinggi penuh rasa bersalah. Tetapi, nada suaranya kembali turun dan tak ayal raut wajah Nadira pun cepat berubah jadi frustasi. "Aku pengen lo ngasih kesempatan buat Elvan ...gue mohon jangan marah dulu," ujarnya setelah melihat tatapan mata Inara tidak surut tajam menatapnya. "D-dia ... jadi frustrasi, Nar. Dia udah tau kehilangan,Lo tapi, dia juga akhirnya kehilangan karirnya. Banyak orang yang ngetawain dia sampai dia gak berani ketemu sama temen-temennya."
Menghela napas, mendengarnya Inara pun menjadi ikut prihatin. Dia jadi teringat apa yang terjadi sebelumnya pada dirinya sendiri yang, khawatir akan banyak orang yang mencemooh pernikahannya bahkan, sampai dia tidak mau bertemu Nadira. Dia butuh waktu tapi, akhirnya ketakutannya terlalu berlebihan mungkin itu juga yang terjadi pada Elvan sekarang.
"Aku juga,kan pernah menghadapi fase itu tapi, akhirnya bukan apa-apa dan sepertinya ini juga yang terjadi pada Elvan. Seharusnya dia tidak perlu terlalu khawatir, dialah yang memilih untuk pergi dan sekarang hanyalah hasil dari sesuatu yang sudah dituainya."
"Apa yang lo, omongin bener. Harusnya dia bisa lebih kuat dari lo."
"Jadi?" Tatap Inara menyipit pada Nadira. "Lo juga harus ngerti gak ada pertanyaan lagi kayak gitu."
"Ok, gue juga bilang itu terakhir kali, kok." Nadira mengangkat kedua Jari tangannya seolah telah bersumpah. "Janji. T-tapi, gimana soal kerjaan dia? Apa suami lo--"
"Itu bukan urusan kamu, Dira," sela Inara dengan gelengan kecewa karena pertanyaan itu sedikit menyinggungnya. Dia sangat tahu bagaimana Ravin sebelumnya, yang tidak mau mengambil jabatan itu dengan banyak pertimbangan tetapi, jelas mertuanya yang memaksa memberinya tanggungjawab. 'Kalau aku dalam posisi Mas Ravin?! Dan, tidak secerdas dirinya saat ini. Seperti apa aku? Apa aku hanya orang singgahan yang cuman jadi pengganti sementara saja. Beruntungnya, Mas Ravin pun memiliku, yang bisa mencintainya dengan cepat dan tidak tergoda lagi untuk kembali pada Elvan. Bagaimana jika,iya . Menyedihkan.'
"Dira," panggil Inara setelah cukup lama diam dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing ."si Elvan itu dia gak bakalan langsung miskin atau menderita. Kalau dia mau berusaha banyak hal yang bisa dia lakuin, gak usah terlalu khawatirin dia."
Mulut Nadira terasa kering, senyumnya sedikit sambil mengangguk mengerti. "Ok, aku gak khawatir kalo dia bakalan sampai miskin cuman yah ...begitu. rasa frustrasi yang lebih bisa membuat gila dan mengkhawatirkan."
Inara tidak menjawab mengangkat bahunya seakan dia juga tidak akan mau mengerti lagi dengan pria itu. Hubungannya saat ini hanyalah sebagai istri kakaknya, tidak perlu terlalu sibuk untuk mengatur keputusan hidupnya. Sebaliknya yang dia khawatirkan itu wanita bernama Jovanka itu. Jadi, Inara menghambil gawainya dan menghubungi Ravin.
Butuh waktu untuk sambungan teleponnya di angkat tapi, Inara cukup sabar karena, tahu seberapa banyak pekerjaan Ravin. Ternyata, kali ini Inara butuh waktu lama menunggu sambungan telepon tersambung hingga kedua kalinya barulah telepon diangkat.
"Halo, Sayang," sapa Ravin yang sepertinya terdengar tergesa-gesa. "Ada apa?"
Raut wajah Inara sedikit tertekuk. "Halo juga Mas. Mas kamu sibuk banget,yah? Barusan Mas lagi rapat,yah ? Apa keganggu?"
"Gak ganggu, Sayang tapi emang kerjaan ku memang lagi banyak."
"Padahal, sebentar lagi waktunya makan siang . Apa aku harus ke sana saja, ya? Kita makan siang bareng?"
"Sayang, aku ingin tapi, aku ada rapat bersama klien sambil makan siang," ucap Ravin menghela napas penuh kecewa sangat terdengar jelas.
Indera juga tidak kalah kecewa lalu, mau bagaimana lagi. "Ya, sudah gapapa. Tapi, waktunya makan malem Mas gak boleh terlambat pulang, ok!"
"Ok, sayang! Sampai jumpa nanti malem." Kemudian sambungan terputus begitu saja, Inara hanya bisa mendesah lalu bertopang dagu menatap kosong ke depan sambil, memikirkan dirinya yang entah kenapa akhir-akhir ini, itu selalu ingin dekat dengan suaminya belum lagi mood swing yang tiba-tiba jadi, kekanakkan. Jika, teringat kemarahannya saat di rumah sakit hal itu membuatnya sedikit malu. Terlihat jelas sekali sekarang pencemburu.
"Nara!" teriak Nadira yang ternyata sudah berkali- kali memanggilnya tetapi, tidak dihiraukan." Ya, ampun lo ngelamunin apa, sih? Dipanggil dari tadi."
"Sorry," jawabnya tanpa bersalah dan kembali tersenyum riang.
"Kita makan siang diluar, yuk!?"
Akhirnya mereka memutuskan pergi ke sebuah restoran korea hanya karena Inara sangat ingin memakan mie hitam yang diingatnya dan Nadira pasrah saja tidak terlalu ingin apapun, yang terpenting baginya hanya cukup mengganjal perut.
"Ini dijamin halal,kan, Mba?" tanya Inara pertama kali pada pramuniaga nya.
"Tentu saja, Mbak. Semua di sini dijamin kehalalannya," jawab pramuniaga itu pasti.
Mendengar hal itu, Inara tak ragu untuk memesan. "Ok, kalo gitu. Aku pesen mie hitam ini ...eum, Jjangmyeon terus pangsit gorengnya sama ini steak sterloin-nya. Minumnya teh hijau."
"Inara, Yah, berapa banyak yang kamu pesen itu perut atau gentong. Sejak kapan kamu sebanyak gitu?" Nadira terheran-heran mendengar pesanan sahabatnya yang tidak biasa.
"Udah bawel, pesen aja saja punyamu."
"Ya, udah Mba. Aku pesen chicken katsu aja minumnya samain . Teh hijau."
Selesai dengan pesanan mereka Inara dan Nadira kembali mengobrol tentang segala hal yang berada di sekitar mereka tetapi, beberapakali Nadira tampak gugup matanya selalu tertuju pada pintu keluar belum lagi kedua tangan yang saling meremas dengan sesekali menatap mata Inara.
"Ada apa,sih? Lo kebelet?"
"Ngga, Nar. t--tapi .."
"Apa?"
Nadira menghela napas hendak bicara tetapi, tepat waktu seseorang baru saja memasuki pintu restoran. Mau tidak mau membuat Nadira mendesah dan menatap Inara dengan penuh permintaan maaf. "Maafin gue, Nar."
"Maafin, apa'an sih?" tanya balik Inara di mana dia tidak tabu apapun karena posisi duduknya yang memang membelakangi pintu restoran. Inara belum dapat petunjuk sampai tatapan Nadira masih saja menatap ke belakang punggungnya. Dia siap menoleh tetapi, seketika ada seseorang yang menutupi kedua matanya dengan sebuah tangan. "Siapa?" tanya Inara terkejut sambil menyentak tangan itu sedikit kasar.
Inara tidak bisa tidak marah, dia bisa merasakan kedua tangan yang menutupi matanya adalah tangan seorang pria bahkan, cukup tak asing sampai-sampai dirinya tanpa sengaja membaui wangi tangannya. Inara menatap Nadira dengan sorot tajam sambil menggeretakkan gigi. "Naddddira!"
"Nara."