Mencoba menerima

1611 Kata
"Aku minta maaf kalo kedatanganku buat kamu gak nyaman tapi, apa harus segitunya, Nar?! Aku, loh, yang kamu tinggal nikah—" "Dan, aku yang kamu tinggalin dipelaminan sendirian. Apa kamu pikir itu lelucon?" sela Inara dengan memutar bola matanya bosan dan muak melihat pria di depannya. "Aku salah," aku Elvan akhirnya. " makanya aku ke sini mau minta maaf dengan tulus. Kamu bersedia,kan? Kita tidak mungkin terus seperti ini. Mau tak mau aku harus akui sekarang kita adalah saudara ipar." Jawaban Elvan terdengar begitu lirih di akhir kalimatnya tetapi, bukan berarti Inara bahkan –juga Nadira, yang sejak tadi menunduk gusar– tidak mendengar sampai-sampai dia mengorek kupingnya tak ragu untuk memastikan pendengarannya masih baik. "Kamu gak budeg, Nara. Yah, tadi aku memang bicara begitu, kita sudah jadi saudara ipar. Apa kamu gak mau maafin aku karena masih punya hati sama aku?" "Ngga," sahut Inara cepat. "Tapi, kamu beneran gak punya pemikiran lain,kan?" Elvan menggeleng tanpa melepaskan tatapannya pada sosok Inara. 'Gimana aku bisa rela lepasin kamu tapi, keadaaanlah yang maksa aku buat kayak gini hah...,' helas Elvan dalam hati kemudian matanya tak luput dari melirik Nadira yang sedang melihatnya. Elvan tidak tahu maksudnya tatapannya, sama sekali tak terbaca oleh pikirannya. Di sisi lain Inara menarik napas lega. Yang seperti dia bilang tidak mungkin mereka harus menjadi musuh padahal, jelas-jelas Ravin dan Elvan adalah saudara kandung. Yang berarti dia sebagai istrinya Ravin adalah kakak Iparnya, mereka keluarga dan harus harmonis. Tidak ada perselisihan lain, semua adalah masa lalu. "Kamu senang, kita udah baikan?" Satu alis Inara terangkat mendengar pertanyaan Elvan, yang terbit dengan senyuman tulusnya seperti di masa lalu dan membuatnya juga tidak tahan untuk tidak tersenyum dan mengulurkan tangan. "Tentu saja, aku senang akhirnya bisa menghentikan ketegangan konyol ini." Elvan, tak ragu meraih tangan yang terulur tersebut. "Aku harap aku juga cepet Move on ...kayak kamu." "Aku tidak pernah merasa cepat untuk Move on, yang kulakukan hanyalah segera memutuskannya. Aku harap kamu juga kayak gitu ... putuskanlah kalo kamu bisa bahagia dengan orang disampingmu yang kamu rasa tepat," ujarnya secara tak sengaja melirik Nadira. Nadira yang mendapat lirikan dari dua orang di samping dan di depannya segera meletakkan minumannya yang baru saja disesapnya. "Berhenti liatin gue, mau sampe kapan tangan kalian gantung di sana. Kagak pegel,heh? Apa mau sekalian ijab qobul." Inara benar-benar terkejut dan segera menarik tangannya secepat kilat. Elvan sendiri malah merasa sangat kehilangan, mundur dengan tangan kosong dan hanya tersenyum lemah. "Baru saja kalo gak diingetin, aku gak merasa pegel tapi, sekarang...," ujarnya terkekeh sinis. 'Salah lagi gue kayaknya,' dengus batin Nadira yang merasa tersindir Elvan. Tetapi, sebelum pembicaraan lain berlanjut akhirnya Inara mengalihkan perhatiannya pada makanan yang sudah tersaji di atas meja dan hampir dingin. Sayang sekali jika terus diacuhkan jadi, tak ada alasan lain untuk segera menyantap makanan enak. "Kamu gak makan, Van?" tanya Nadira sedangkan, Inara asik dengan mie idamannya. "Ngga," sahutnya tanpa menoleh dan masih menatap asik Inara yang sedang makan dengan lahap. "Sejak kapan kamu jadi, makan begitu banyak?" Elvan mengulurkan tisu ke sudut mulut Inara yang terkena saos. Mendapat perlakuan seperti itu, Inara sedikit mendelik mengambil tisunya sendiri untuk menghapusnya dan makan dengan tenang. "Oh, ya, kamu belum lihat aku gini,yah?" Inara tersenyum setengah tertawa. "Ini kayaknya karena Mas Ravin, kayaknya kamu juga tahu,kan, Van kalo mood nya lagi gak bagus makannya banyak banget." Kepala Elvan memgangguk setuju dengan senyum yang tak sampai matanya. Tak mungkin dia tidak tahu, kakaknya itu bisa jadi, paling rakus kalo sedang marah. Orang lain tidak akan bisa makan dan minum jika, sedang sedih beda dengannya. "Hm, ya, bahkan terakhir kali, Mas Ravin hampir jadi, orang gila karena banyak makan. Waktu itu saat ditinggalkan mantan tunangannya..." Inara menghentikan acara makannya, mengingat siapa mantan kekasih dari suaminya yang baru saja disebutkan Elvan, pasti itu Jovanka, kan. Entah kenapa meski, itu di masa lalu tapi, rasanya sangat membuat cemburu tanpa alasan. "Nara, lo gapapa?" Nadira menyadari mood buruk Inara dia juga, sempat melirik Elvan dengan tatapan tajam dan pria itu hanya mengangkat bahu seolah tidak peduli. 'Dasar cowo sialan!'. "Jangan terpengaruh. Lo, janji bakal habisin makanan yang lo pesen." Inara melirik Nadira dan makanan di depannya sebenarnya dia jadi, tidak punya nafsu makan lagi tetapi, mengingat sahabatnya yang sangat mencintai ah, bukan ...Mas Ravin juga sangat cinta makanan. Dia gak suka menyisakan makanannya kecuali, kalo benar-benar sudah tak sanggup makan. "Ok, sekarang aku laper lagi, Kok! Dan, Elvan lebih baik kamu tutup mulutmu, pesanan makananmu atau pergi." "Wow, sifat tegasmu ternyata masih ada tapi, aku gak mau pesan makanan lain," uajrnya dengan mata jahil menarik piring steak yang dipesan Inara. "Aku makan ini!" Tangan Inara sudah terangkat ingin menolak tetapi, akhirnya menghela napas dan tidak mengatakan apapun menghabiskan mie Jjangmyeonnya –hitam– sendiri. * "Dira, serius nih aku tinggalin?" "Iya, lo pergi duluan aja. Tapi, gue gak balik ke butik lagi,ya?" Kening Inara berkerut. "Memangnya mau ke mana? Biar gue anter." "Gak usah, bentar lagi juga temen gue jemput,kok?!" "Beneran,nih? Liat cuaca udah mendung lagi tau," ujar Inara masih keukeuh ingin mengantarkan Nadira yang tampaknya tidak terganggu hujan atau hanya harus menunggu di depan pelataran restoran. Tetapi, setelah memastikannya memang tidak ingin diantar Inara melanjutkan perjalanannya. Nadira juga tidak tampak tidak sabar, dia hanya sesekali melirik jam tangannya lalu, mengambil ponsel dan earphone- nya di dalam tasnya untuk mendengarkan musik dan menunggu. Tin tin! "Kamu mau pergi ke mana?" "Pergi ke suatu tempat," sahut Nadira tidak terlalu peduli dengan kehadiran Elvan dan tetap meneruskan pekerjaanya. "Ada apa? Kenapa gak pergi?" tanyanya heran karena melihat Elvan dan mobilnya belum juga melaju pergi. "Ayo, kuantar!" "Gak, perlu. Ada yang jemput." Meskipun, begitu Elvan tidak juga pergi dia malah menatap Nadira lamat-lamat. Tidak dipungkiri wanita di depannya cukup tomboy, dengan rambut yang diikat ekor kuda dan dandanan tipis tetapi, kali ini dia menerapkan lipstik di bibirnya dan make-up tipis. Baju putih dan celana Jeans sangat sederhana tidak kalah cantik Jika, dengan Inara yang lebih sering menggunakan dress- dress selutut yang selalu memperlihatkan kaki jenjangnya. "Di sini sudah akan hu—" "Ah, itu dia," potong Nadira sambil melambai pada seseorang yang datang dengan motornya. "Lihat orang yang kutunggu sudah datang, sudah cepat pergi," ujar Nadira sebelum dia berjalan menghampiri Bagas, teman kencannya. Belum resmi nyatanya mereka masih melakukan pendekatan. Elvan mengerenyit dia melihat Nadira dan pria di sampingnya dari kaca spion sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat. Memukul kepala setirnya Elvan tiba-tiba keluar dan segera menghampiri mereka. Sesampai di sana dia langsung menarik lengan Nadira lalu, melepaskan helm yang baru saja terpasang di kepala Nadira. "Hari udah mau hujan, kamu gak boleh naik motor. Ayo, ikut! Aku yang anterin," ujar Elvan menyerahkan helm pada pria yang masih duduk diatas motornya tanpa meliriknya sedikit pun. "Van, lo, apa-apaan, sih?!" Marah Nadira sambil mencoba melepaskan tarikan tangan Elvan tetapi, ternyata lengannya di cengkeram sangat kuat. "Sakit, Van! Lepasin tangan gue." "Aku lepasin saat naik mobil." "Gue gak mau!" Bagas yang melihat Nadira diperlakukan seperti itu tentu saja tidak tinggal diam, dia bangun dari motornya. "Hey, Mas. Kamu siapa? Lepasin tangan Nadira." Elvan berhenti dan menoleh. "Aku gak bakalan ngapa-ngapain Nadira, lebih baik kamu pergi sendiri sama motor kamu itu!? Apa kamu gak lihat ini hari mau hujan!" Memang tidak salah air hujan sudah mulai berjatuhan ke bumi tetapi, bukan berarti Nadira bersedia diseret-seret seperti ini. Pria yang bernama Bagas juga tahu hari sedang hujan tapi, dia bisa apa hanya motor yang dia punya jika saja, tahu cuaca dengan cepat berubah dan akan hujan mungkin tadi sebelumnya dia bakal meminjam mobil perusahaan saja. Nadira pun sebenarnya merasa tidak masalah dengan hujan apalagi hanya sekedar menaiki motor. "Hey, apa masalahnya sama hujan gue mau ikut Bagas naik motor." "Nggak lo, bisa aja sakit." Bagas akhirnya tidak tahan juga melihat Nadira diperlakukan kasar. "Jangan berbuat kasar! Nadira ingin pergi dengan saya jadi lepasin tangannya." "Iya, lo apa-apaan sih, Van. Lepasin gue!" Kesal Nadira kesakitan, dia juga berusaha bergerak melepaskan cengkeraman Elvan. "Kamu diem!" Sentak Elvan lebih keras pada Nadira yang langsung terhenyak diam lalu, menoleh pada Bagas. Dari atas langit air hujan yang besar-besar mulai berjatuhan ke bumi bersamaan dengan suara gemuruh petir. Elvan yang belum sempat bicara lagi malah harus menjerit kesakitan setelah Nadira menginjak kakinya sekuat tenaga, mendorongnya sampai punggungnya terhempas ke body mobilnya sendiri dan kemudian melepaskan diri. Mendelik penuh tatapan tajam adira menjauh dan menarik lengan Bagas menjauh kembali ke posisi motornya berada. "Ayo, pergi cepat! Tinggalkan dia saja. Jangan pedulikan. "Nadira!" teriak Elvan karena sakit sekaligus marah. Motor itu sudah melewatinya saat baru saja dia ingin menangkap Nadira lagi. "Sialan! Apa dia gak merhatiin hujan kayak gini?!" Elvan Frustrasi sendiri. "Dira, Maaf, yah?! Kalo tahu bakal hujan tadi aku pinjem mobil kantor dulu." "Udah, gak masalah. Hujan cuman air doang, kok!" Setelah mengatakan hal itu hujan benar-benar mengguyurnya sangat deras. Membuat senyum yang dibuat-buat Nadira menjadi luntur lalu, bersembunyi dibalik helmet nya. Bagas menghentikan motornya dipinggir jalan dj mana mereka bisa berteduh. Perjalanan yang mereka cukup jauh tak mungkin terus berjalan dalam guyuran hujan. "Kita berhenti dulu di sini!" Nadira hanya mengangguk dan turun setelah motor berhenti. Keduanya berteduh disebuah kolong jembatan dengan para pemotor lainnya. Tidak berselang lama turun Bagas segera melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di bahu Nadira. "Pake itu, hawanya sangat dingin nanti kamu kena flu." "Makasih, Gas," jawab Inara jujur dan tanpa ragu menggunakan jaket Bagas. "Maaf, ya, harusnya tadi kamu ikut mobil dia saja mungkin gak bakalah kehujanan gini." Nadira hanya diam dan merapatkan jaketnya, tidak menanggapi. Dia tidak memedulikan hal seperti air hujan di depan matanya ini. Malah yang bersarang dalam benaknya adalah sosok Elvan dan sikapnya yang sok peduli tadi, setelah sekian lamanya bersahabat baru kali tadi dia bersikap seolah ingin melindunginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN