"Mba Jo. Sebenarnya sedang apa? Apa masih di rumah sakit?" tanya Evan tanpa basa- basi ketika mendengar sambungan teleponnya terjawab. Perasaannya tengah menggebu kesal entah, apalagi masalahnya. Dirinya pun sendiri tidak tahu persis terapi yakin, tiap kali melihat figura pernikahan kakaknya dan Inara kebenciannya dihati selalu berkali-kali lipat.
Hari-harinya tidak pernah terasa baik rasanya setelah menginjakkan kakinya pulang ke Indonesia yang semua di dapatkan adalah kabar buruk. Seolah-olah dirinya berpikir jika ini adalah karma karena telah meninggalkan Inara. Tetapi, Tuhan tidak mungkin bisa sekejam ini. Bagaimana kesalahannya hanyalah karena sikap bodohnya.
'Yah, sialan bodoh!' Pekik Elvan berkali-kali dalam hati. Pikiranya tidak bisa lepas dari sosok Inara dan Nadira entah kenapa, nama wanita terakhir itu masih saja tertulis dalam benaknya terlebih emosinya lebih tinggi saat melihat Nadira dalam boncengan pria lain.
"Elvan, kamu masih di sana?"
"Hah, apa?" Akhirnya Elvan tersadar dari lamunannya. Sebelumnya Jovanka sudah berbicara cukup banyak dan mulai berteriak setelah tak lagi mendengar ada balasan dari lawan bicaranya. Elvan menyugarkan rambutnya, duduk di sisi ranjang melihat keluar jendela dengan tangan masih memegang telepon di telinga. "Baru saja aku melamun, Mba. Jadi, gimana sama kabar kamu?"
Jovanka menghela napas seperti juga Elvan, dia juga sendiri tengah duduk di sisi jendela. "Kabarku masih seperti ini saja tidak ada hal yang baru."
"Besok, ayo, pergi ke apartemen Mas Ravin. Mbak gak mudah nyerah,kan buat balikan lagi sama Mas Ravin ... dan gak cuman nungguin mati aja." Kalimat terakhirnya tak pernah dia ucapkan Elvan hanya dalam hati saja.
"Mau apa kita ke sana?" tanya Jovanka ragu tapi,juga penasaran ingin pergi. Fia sedang meremas-remas boneka dalam pelukannya. "Apa Ravin gak bakalan nolak kehadiran kita?"
Elvan bisa mendengar nada ragu dari ucapan Jovanka entah, kenapa perasaan nya kesal bukan main tidak ada yang berhasil seperti yang dipikirkan. "Terserah kamulah, Mbak. Kamu mau pergi atau tidak . Aku gak bisa maksa atau ngasih alasan lain," sahutnya sedikit pedas. Setelah mengatakan hal tersebut Elvan segera menutup sambungan teleponnya.
Jovanka menatap layar ponselnya dengan tidak percaya baru saja Elvan mematikan sambungan teleponnya.
"Dasar anak kurang ajar ...tidak sopan!" Kesalnya. Lalu, kemudian dia hanya mendesah dan berjalan ke cermin melihat penampilan dirinya. Rambut yang mulai menipis, kulit pucat lingkaran hitam di bawah mata, bibir pucat dan kering. Sungguh tidak seperti Jovanka yang dulu bahkan sekarang yang tidak sebanding dengan Inara, wanita yang sehat dan cantik.
"Tapi, masa hidupku juga tak akan lama lagi . Apa aku gak bisa sedikit egois aja aja saat ini? Hah, atau sebenarnya ... memang terlalu malu berhadapan dengan kamu, Vin. Kamu bagiku terlalu sempurna," ujarnya sendu.
***
Akhirnya meskipun Jovanka mengatakan dirinya terlalu malu dan rendah diri untuk pergi dengan tubuh ringkih miliknya tetap saja, kakinya bersedia melangkah pergi ke luar meminta alamat pada Elvan, berdiri di sana di depan pintu apartemen dengan tangan penuh kotak kue.
Ravin dan Inara sedang asyik berolahraga berdua penuh dengan peluh keringat. "Sayang, bel pintunya berbunyi," ujar Ravin yang masih berdiri di atas tredmill.
Inara yang sedang melakukan senam lantai meliriknya tetapi, tidak ragu untuk berdiri dan berjalan untuk membuka pintu. Sungguh kejutan yang tidak disangka melihat Jovanca berdiri di sana. "K-kamu?" tanya Inara mengerutkan kening dan tidak ragu memperlihatkan wajah keheranannya di depan Jovanka sendiri.
"Halo, apa aku ke sini terlalu pagi?" Jovanka tersenyum lebar, lalu menyerahkan bingkisan ditangannya pada Inara dan menyelonong masuk tanpa dipersilakan. "Di mana Ravin? Dia tidak keluar, kan?"
"Hey, tapi, mau apa kamu ke sini?" Inara berjalan belakangnya menyusul nya dan dia tetap memegang bingkisan yang di bawah Jovanka sebelumnya. " bawa bingkisanmu dan keluar--"
"Halo, Nara." Tanpa disangka tiba-tiba Elvan berada di belakangnya berseru memanggilnya sambil menahan pintu apartemen yang hampir tertutup.
"Kalian berdua mau ngapain ke sini?!" Sontak Inara memandang mereka berdua dengan heran dan curiga.
"Eh, Oh ..Mbak Jo juga di sini," ujarnya seolah baru saja melihat Jovanka dan tak ragu untuk berjalan masuk.
"Kalian mau ngapain ke sini?" tanya Inara kesekian kali. Dia menatap mereka dengan pandangan tak suka. "Lebih baik kalian pergi sana."
"Kamu ngusir kami?"
"Iya," jawab Inara tanpa ragu sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
Elvan mendekat, berbisik ditelinga Inara."Kenapa tidak? Kamu takut kita tidak baik-baik saja,ya?"
Mendengar hal tak jelas seperti itu tentu saja Inara berusaha untuk mundur menjauh. "Apa maksudnya, sih? Jangan berbisik ditelingaku sembarangan, Van."
"Awas hati-hati!" Elvan tidak peduli dengan seruan tidak suka Inara sebaliknya, dia menarik tangan Inara yang hampir saja jatuh ke belakang.
Ravin keluar dari balik ruang gym-nya sambil menyugar rambutnya yang berkeringat dan melihat apa yang dilakukan adiknya dengan sengaja dia juga cukup terkejut melihat sosok Jovanka berdiri di sini. Sambil menghampiri kedua tamu yang tak diundang tersebut dia juga bertanya-tanya sebenarnya mau apa dua orang ini.
Inara melihat Ravin yang berjalan ke arah mereka dan segera melepaskan cekalan tangan Elvan dan setengah berlari menuju Ravin. "Baru saja aku hampir jatuh," ujarnya takut jika suaminya akan salah paham.
Ravin mengangguk dan mengusap keringat Inara di wajahnya dengan handuk di tangannya. "Iya, Aku lihat! Kamu gapapa, kan? Kamu juga gak lupakan ngucapin makasih sama Elvan, kan. Dia udah nolong kamu,loh?"
"Oh,ya, aku lupa," jawab Inara sok polos. Lalu, berbalik menghadap Elvan kembali. "Makasih, ya, Van."
"Sama-sama," jawabnya setengah hati tetapi, masih pura-pura tersenyum.
"Kalian ke sini bersamaan?" tanya Ravin menunjuk dengan dagunya Elvan dan Jovanka.
"Ngga/ Iya," jawab Elvan dan Jovanka bersamaan tetapi, mendengar jawaban keduanya yang tidak singkron mereka saling menoleh. "Iya/ Ngga," jawaban mereka masih tak sama.
Akhirnya, Elvan menarik napas lalu mengaku. "Yah, aku membawanya ke sini," ujarnya jujur tetapi, tak tampak rasa bersalah malah dengan santai berjalan lebih ke dalam sambil melepas jaketnya. "Ayo, Mbak Jo duduklah sini! Katanya mau ketemu Mas Ravin, tuh, orangnya.
Ravin melirik malas adiknya, yang seenaknya tetapi tidak protes dengan kelakuannya. Lalu, balik menoleh pada Jovanka yang masih berdiri sekolah patung dengan wajah tirus yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan kelesuan di matanya meski, sudah menggunakan make up.
"Duduklah, kenapa hanya berdiri saja." Ravin dengan ramah mempersilahkan Jovanka duduk meski, disampingnya istrinya, Inara tiba-tiba berubah menjadi cemberut tetapi, baiknya dia tidak mengatakan apapun meski, Sebenarnya dia tidak senang dengan keputusan Ravin.
"Makasih, Vin," balas Inara dan berdiri didepan lavine sambil menyorongkan bingkisannya yang berupa kue. "Lihat ini kue kesukaanmu aku membuatnya sendiri. Kuharap kamu masih menyukainya."
"Terima kasih," Dik jawab parafin tidak menolak bingkisan Jovanka tetapi, dia langsung memberikan hal tersebut pada Inara."Bukalah Ah Ayo suguhkan pada tamu kita. "
Sambil menghela napas Inara menerima bingkisan tersebut meski, sebenarnya hatinya menolak dan dan dan merasa dongkol tetapi, melihat mata Ravin dia tidak berani membantah dan berbalik ke dapur membuka kue yang terdiri dari dua toples kue kering juga satu bolu Surabaya. Inara melirik sebal ke arah ruang tamu melihat tajam dua orang tamu tak diundang, yang menyebalkan baginya.
Melihat lagi pada kue-kue tersebut Inara hanya bisa menghela napas. 'Cewe itu masih ingat sama kesukaan Mas Ravin lalu, mau apa sebenarnya? Kuharap dia gak bermimpi, buat bisa balik lagi sama Mas Ravin.'
"Kalian kenapa gak ngomong dulu kalau mau kemari?"
"Oh, Lebih baik aku bantuin Nara saja di pantry." Elvan tiba-tiba berdiri pura-pura tidak mendengar apa yang ditanyakan Ravin.
Davin mendengus melihat tingkahnya tetapi tidak berkomentar, lalu kemudian hanya menatap Jovanka di seolah. "Kamu sudah lebih-baik sekarang?"
"Yah, sekarang lebih baik."
"Syukurlah,"sahut Ravin lagi. Dia tidak tahu harus berkomentar apalagi.
Jovanka melirik ke pantry, melihat Inara sibuk berdua dengan Elvan. Lalu, kembali menatap Ravin dan ingin mengatakan sesuatu namun, sayang mulutnya tidak mampu mengucapkan apapun hanya bibirnya yang bergetar membuka dan menutup. Tidak hanya itu matanya pun tidak tahan untuk berkaca-kaca seolah ingin mengungkapkan rasa sakit yang selama ini dialami.
Ravin juga tidak bisa memahami semua hal dengan mudah begitu saja, apalagi hanya dengan tatapan menyedihkan Jovanka. Tidak perlu berkata-kata lagi dia hanya perlu bersimpati atas penyakit yang dideritanya tidak lebih. Bukankah itu yang diinginkan wanita itu yang pergi hanya karena tidak ingin dikasihani. jadi, dia tidak akan terpengaruh dan hanya memalingkan wajah untuk melihat Inara dan Elvan yang sedang berjalan ke arah mereka.
Ravin tidak merasa cemburu melihat Elvan bersama Inara, karena dia yakin hubungan keduanya telah berakhir lagipula dia sangat percaya pada Inara. Soal adiknya, tidak perlu terlalu waspada dia bisa mengatasinya dengan mudah adiknya bukanlah apa-apa. Biar saja Ravin disebut terlalu percaya diri meskipun, dia hanya perlu berhati-hati dengan melihat dan memerhatikan.
Orang keras kepala seperti Elvan tidak bisa langsung dimusuhi atau dijauhi, adiknya hanya perlu dia pantau dari dekat. Ravin cukup mengenal sifat dan sikap adiknya yang tumbuh seperti itu.
Inara segera membawa nampan kuenya tidak ingin membiarkan Ravin dan Jovanka duduk berdua lebih lama. Begitu juga dia tidak ingin terus didekat Elvan yang terus menempelinya sampai, ingin berpura-pura membawa nampan minuman. Duduk di samping Ravin, Inara mengatur semuanya. Karena suaminya, Ravin tidak terlalu suka minuman dingin dan manis apalagi setelah berolahraga jadi, Inara hanya menyediakan botol air mineral begitu juga dengannya. Untuk yang lain dia menyediakan sirup. Tak lupa Inara juga meletakkan nampannya mendorong nampan kue hanya ke arah Jovanka dan Elvan. Sedangkan, untuknya dan Ravin dia sediakan cemilan buah.
"Kita baru aja berolahraga, makan buah paling bagus nih, aku udah siapin!" Inara mendorong piringnya ke tangan Ravin sengaja biar prianya tidak menyentuh kue-kue dari Jovanka. Inara juga jangan lupa menoleh pada dua tamunya. "Ayo, silakan diminum dan nikmatin kuenya."
Jovanka meremas tangannya melihat perlakuan Ravin pada Inara sangat dan terlalu membuatnya cemburu. Mereka saling menyuapi tidak peduli dengan kehadiran dia dan Elvan. Ternyata, bukan hanya Jovanka, wajah Elvan memerah memendam emosi.
"Vin, aku buat kue bolu ini dengan susah payah,loh? Kamu gak mau coba?"
Inara memelototi Ravin, dia tidak ingin membiarkannya untuk mencoba kue itu. Tetapi, Elvan mengganggu dengan ucapannya.
"Ini hanya kue, Mas. Kamu gak bisa sebegitu tidak menghargainnya," uajr Elvan mengambil kue bolu yang sudah dipotong -potong rapih oleh Inara. "Ahh, kalo diingat-ingat kita selalu berebut kue ini, kan?"
"Aku gak pernah merasa berebut,tuh. Kamu aja, Van yang gak pernah puas suka nyolong punya kakaknya."
"Kalau begitu cobalah, ini?!" Kali ini dengan berani Jovanka berdiri dan berpindah tempat sambil membawa piring kue dari meja. Duduk disisi lain Ravin dengan mengangkat piring kuenya sambil tersenyum manis.
Ravin sebenarnya tidak ingin mencari masalah dengan Inara yang sedang memelototi nya tajam tetapi, dia juga sungkan melihat Jovanka yang terlihat tulus terlebih ini hanya sepotong kue yang wangi membuatnya tergoda. Menelan ludah, tangan Ravin terangkat mengambil salah satu kuenya dengan gaya sedikit takut-takut. "Sayang, makanlah sepotong denganku," ujar Ravin melihat Inara selanjutnya.
"Aku gak mau!" Inara dengan keras menolak, mendorong kue ditangan Ravin yang sudah terpotong jatuh.
"Kenapa kamu buang kuenya?" Tiba-tiba Jovanka berdiri tidak terima gue hasil kerja kerasnya dibuang begitu saja. "Ambil dan makan kue itu?!" Tegasnya sambil menunjuk kue yang terjatuh.
Inara terkejut, alisnya terangkat dengan kata-kata terakhir jovanka yang terlihat terdengar berlebihan dan kurang ajar. Lagipula sebenarnya dia tidak sengaja. Tangannya baru saja menghalau tangan Ravin tidak seberapa keras. "Kenapa aku harus mau mendengarmu?"
"Kamu wanita tidak tahu diri."
"Siapa? Aku?" Inara ikut berdiri kali ini lalu berkaca pinggang. "Lebih baik kamu yang pergi, kita tidak menerima tamu tidak diundang sebelunnya. Elvan bawa dia!"
"Dasar wanita sombong! Vin, apa kamu gak membelaku. Ini keterlaluan wanita itu gak pantes buat jadi istri kamu."
Ravin memijat pangkal hidungnya, tiba-tiba kedua wanita di sampingnya nya malah bertengkar membuatnya pusing. "Jangan bertengkar karena hal sepele. Ayo, duduk!"
"Kenapa kamu pikir sepele?" Inara marah tidak terima. "Dia sudah tidak sopan dengan kata-katanya, Mas! Dia yang harus minta maaf."
"Kamu yang harus minta maaf. Bagaimana bisa kamu melempar kue hasil kerja kerasku."
"Apa kamu pikir aku mau, hah?"
Ravin tidak memerhatikan kedua wanita yang berteriak didepannya dan malah menatap tajam si biang keladinya Elvan yang kini malah duduk santai. Ingin dia lempar menggunakan sisa kue ditangannya tapi, jika berani dialah yang akan kena semprot Jovanka. Wanita ini selalu berhati- hati dengan makanan dan Ravin sepertinya benar-benar lengah tidak disangka Inara dan Jovanka sudah beradu fisik.
"Y-yah!"
"Hentikan, apa yang kalian lakukan?" Ravin segera berdiri melihat kedua wanita itu sudah saling jambak tapi, belum dia bisa pisahkan tubuhnya sudah dihempaskan mereka jatuh. "Yah, Elvan jangan hanya diam saja bantu pisahkan mereka!"
Mendengar teriakan kakaknya barulah Elvan bergerak, dia lebih senang meraih Inara dan terpaksa Jovanka berada di tangan Ravin.
"Kalian berhenti!" teriak Elvan bersuara akhirnya. "Nara, cukup!"
"Aah, lepaskan rambutku!"
"Kamu yang lepas!"
"Kalian berdua lepas dalam hitungan ketiga!? Tiga. Lepas!"
Akhirnya, karena suara Ravin yang tegas dan tajam Inara dan Jovanka saling tatap sebelum akhirnya berhenti dan melepas jambakan di rambut mereka. Inara segera ditarik beberapa langkah oleh Elvan dan Ravin menahan Jovanka.
"Dasar cewe gila!" teriak Inara belum puas apalagi dia melihat jika, Ravinlah yang menahan Jovanka disisinya tetapi, sebelum dia ingin mengeluarka kata-kata kasarnya lagi . Ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman di jari-jari tangannya dan ternyata ...itu rambut yang cukup banyak.
Begitu juga Jovanka yang tanpa sengaja melihat untaian rambutnya yang berada ditangan Inara membuat napas tiba-tiba sesak dan lebih banyak malu. Sampai akhirnya, tetesan darah keluar dari hidungnya hingga pandangan matanya yang segera berubah gelap.
"Jo, Jovanka!" teriak Ravin terkejut.