"Kamu tenang dan baik-baik saja di sana ya?" Ravin mencoba menenangkan Inara yang dia tinggal di apartemen. Saat itu, dia tidak bisa membiarkannya ikut agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi jadi, hanya dia dan Elvan yang pergi ke rumah sakit. Karena menurutnya keluarga Jovanka akan mengetahui insiden apa yang terjadi pada putri mereka. Yang bisa ah menambah keriuhan yang ada.
"Kapan Mas pulang?" tanya Inara
"Secepatnya, Sayang."
" A-apa dia ... akan baik-baik saja," tanya Inara lagi dan dia, yang dimaksud tentu saja Jovanka.
Ravin menoleh, melihat ke arah kursi tunggu yang ditempati kedua orangtua Jovanka juga masih ada Elvan di sana. Davin tidak akan membiarkan Hafan pergi begitu saja karena dialah yang sudah membawa Jovanka ke apartemen nya. "Belum, Sayang. Mereka masih melakukan perawatan di ruang ICU."
"Mas... " kelu bibir Inara untuk melanjutkan perkataannya.
Seolah tahu apa yang ingin dikatakan lagi oleh Inara, Ravin menyebutkannya. "Jangan takut, benar-benar tidak akan terjadi sesuatu. .."
"Tapi tadi aku... aku menjambaknya," gentar Inara menyebutkannya lagi.
Ravin menghela napas. "Tapi, dia juga tadi menjambakmu juga,kan? Sayang istirahatlah, tidur terlebih dulu lalu, jangan lupa untuk makan juga. Ah, ya Mas tadi sudah menghubungi Mommy, sudah sampai sana,kan? Dia menemanimu sampai Mas kembali."
Yap, Ravin tidak tega meninggalkan istrinya sendiri jadi, dia menghubungi ibunya untuk menyuruhnya menemani Inara. Setelah memberitahukan hal tersebut, dia mengakhiri teleponnya dan berjalan kembali kearah tempat duduk di mana kedua orangtua Jovanka dan Elvan berada.
Ravin melirik Elvan yang duduk sedikit jauh. Memelototinya kesal karena dia semua ini terjadi tetapi, seolah tahu kesalahannya Elvan hanya bisa memalingkan wajah dan tidak mengatakan apa-apa. Ravin sendiri akhirnya duduk disamping kedua orang tua Jovanka setidaknya mereka bisa lebih tenang dan berpikir dia akan bertanggung jawab jikalau, terjadi sesuatu dengan Jovanka meski, jauh dan dalam dia berharap wanita itu akan baik-baik saja.
Maria melirik Ravin yang duduk di sampingnya berjarak satu kursi. Jika, saja dulu Inara tidak melakukan tindakan bodoh dengan melarikan diri begitu saja tidak akan ada salahnya dia ditemani suami seperti Ravin. Ravin masih jadi pria yang baik dan setia juga sangat bertanggung jawab. Di saat sudah melihat Jovanka seperti ini saja, dia masih melindungi istrinya.
"Ada apa, Ma?" tanya Haris melihat istrinya menatap Intens pada Ravin disampingnya.
Kepala Maria menggeleng, meremas tangan suaminya. "Tidak papa Mama hanya terlalu khawatir dengan Jovanka padahal dia baru saja keluar dari rumah sakit."
Mendengar percakapan tersebut Ravin menoleh. "Om, Tante ...sepertinya sekali lagi aku harus minta maaf jika, saja tidak ada kejadian hari ini. Hal ini mungkin tidak akan terjadi tapi, juga saya tidak berharap Inara akan datang ke apartemen kami tanpa pemberitahuan terlebih dulu."
Jelas, bagaimana menyesalnya orang tua Jovanka sampai hal ini terjadi tetapi, mereka tidak bisa menyalahkan dia atau Inara sepenuhnya. Begitulah yang tersirat dalam kata-kata Ravin barusan dan Orangtua Jovanka pun sebenarnya mengerti sehingga, sulit untuk mengatakan ingin menuntut. Namun, bagi mereka yang mengeraskan hati tidak mau semudah itu mundur.
"Ravin, Jovanka hanya ingin menemuimu dia sudah bertahan sangat lama untuk tidak menemuimu lima tahun ini. Perjuangan yang tidak sedikit apalagi mengingat kondisinya..." Maria melihat tanggapan Ravin tetapi, anak muda itu tidak tampak ingin bicara membuatnya bingung seolah menunggu sesuatu. "Aku tidak akan menuntut istrimu."
"Aku tidak keberatan jika, Tante akan menuntut kami jika, memang harus." Ravin bukan orang yang mudah mencari belas kasihan orang lain jika, mereka memang mau melakukannya dia sama sekali tidak keberatan tetapi, jika mereka memilih diam itu juga lebih baik.
"Bukan seperti itu maksudnya." Maria dengan cepat-cepat menyela lagi, dia tidak ingin Ravin salah paham. "Tante, ingin kamu bisa jadi, teman baik Jovanka lagi ...meski, tidak mungkin seperti dulu setidaknya."
Ravin berpikir sesaat sepertinya tak ada salahnya jika, mereka bisa berteman kembali. 'Hanya sebatas teman,kan?' Yah, Ravin tidak berpikir terlalu jauh. Jadi, dia hanya mengangguk seolah itu tak masalah.
**
Di apartemen Inara sama sekali tidak bisa menutup mata dengan lama. Baru saja dia terbangun karena bermimpi buruk melihat Jovanka yang terkapar pingsan sambil berdarah-darah. Menghembuskan napasnya lega karena itu cuman mimpi. Sambil menghapus keringat dikeningnya yang tidak seberapa, Inara menyibak selimutnya dan pergi keluar kamar.
Di Living room, Inara melihat kedua ibunya tengah menonton televisi sambil mengobrol dan merasa sangat bersyukur mereka masih berada di sini.
"Mom, Mas Ravinnya belum pulang?" tanyanya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Belum, lebih baik kamu makan dulu."
"Iya, tadi Mama sudah buatkan kamu sup," lanjut Farah.
"Terimakasih, Mah." Meski begitu, Inara tidak bergerak ke pantry. Dia belum lagi merasa lapar dan sama sekali tidak nafsu makan. Dia hanya ingin segera melihat Ravin pulang sehingga, matanya hanya pada pintu masuk Apartement.
Deswita saling melirik dengan Farah melihat putri dan menantu mereka tampak menyedihkan. Sebelumnya, mereka cukup terkejut mendapat telepon dari Ravin dan mendengar kabar yang tidak terduga.
"Nara, kamu baik-baik saja,kan?" tanya Deswita mendekatinya dan memegang tangannya yang terasa masih dingin. Sedangkan, Farah ke pantry untuk membawa semangkuk sup untuk putrinya.
"Aku gak tahu, Mom. Rasanya masih sangat takut," ujar Inara apalagi saat ini dia kembali tangannya di mana tadi dia menjambak rambut wanita itu dan banyak rambut menempel disela-sela jarinya. Tubuh Inara menjadi bergetar, bulu kuduknya berdiri.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tiba-tiba Farah melihat keanehan putrinya. Diletakkannya nampan piring makan itu sembarang di meja, segera menyentuh wajah putrinya dan memerhatikannya dengan seksama.
"Aku baik-baik saja, Ma hanya... aku takut."
Farah segera memeluknya, "Tenang saja semua baik-baik. Lebih baik kita hubungi Ravin lagi untuk memastikan kabarnya."
Inara mengangguk setuju, setelah merasa tenang pikirannya pun bisa jernih dan mulai jadi tidak sabar kenapa suaminya belum juga pulang. Telepon berdering beberapa saat sampai tiba-tiba sambungan terputus. "Handphone-nya mati?!"
"Mungkin baterainya habis," sahut Deswita. "Tenang saja Ravin sebentar lagi pasti pulang."
"Iya, sekarang makan dulu saja." Lanjut Farah menarik nampan piring makan untuk Inara tetapi, tidak ada yang bisa dilakukan Inara hanya bisa memasukan beberapa sendok makan sebelum berakhir mual dan muntah-muntah.
Deswita tidak tahan dan mulai kesal entah itu Ravin dan juga Elvab tidak ada yang bisa dihubungi. Inara pun tidak untuk dibawa ke Dokter dan memilih untuk beristirahat kembali di kamarnya sambil menunggu Ravin pulang.
**
Ravin melihat ponselnya yang berkedip sesaat sebelum mati dan hanya bisa dimasukkannya lagi ke dalam saku. Menegakkan kepalanya kembali Ravin berhadapan dengan Jovanka yang sedang balik menatapnya.
"Kamu sudah ingin pulang?"
"Hm, aku harus pulang," jawab Ravin bangkit dari kursi dan meletakkan piring di nakas kecil tepat di depannya. Baru saja dia selesai menyuapi Jovanka. Sudah beberapa jam yang lalu wanita di depannya sudah sadar tetapi, menolak untuk ditinggalkannya
"Jangan pergi!" Pinta Jovanka sambil menarik ujung jari kelingkingnya yang berusaha ia raih ditengah tubuh lemahnya.
Sebelumnya Ravin sudah berusaha pergi setelah memastikan Jovanka sadar dan tidak ada masalah berat lainnya tetapi, kedua orangtua Jovanka memintanya lebih lama menemani putri mereka dan kali ini Jovanka juga yang menahannya. Dia sudah sangat lelah dan ingin istirahat. Apa Jovanka tidak bisa melihatnya??
"Iya, Nak Ravin. Temani Jovanka sedikit lebih lama...sudah sangat lama kalian tidak bertemu dan berbincang lagi," ujar Maria yang baru saja kembali bersama suaminya sambil membawa tas keperluan Jovanka. Rencananya Jovanka harus opname lagi selama beberapa hari lagi.
Menghela napas Ravin menarik jari tangannya. "Tante dan Om, kan sudah tiba dan bisa menemani Jovanka sendiri. Masih ada yang harus kuurus, hari ini aku cukup lelah lain kali aku ke sini lagi."
Ravin menolak dengan tegas, raut wajahnya pun benar-benar sangat jelek.. tadi pagi dia baru saja berolahraga bahkan, belum sarapan dan makan siang hanya karena harus menunggui Jovanka. Tidak sampai situ, Ravin cukup sabar menyuapi Jovanka.
Maria melihat Jovanka, yang memiliki raut wajah sedih. "Tapi, Vin kamu istiraha--"
"Ma, biarkan Ravin pulang," potong Haris menghentikan ucapan istrinya yang ingin menahan Ravin lagi tanpa, melihat tampang wajah anak muda itu yang sudah suram. "Terimakasih, Vin. Pulang saja dan istirahat. Hanya ... jika kamu punya waktu seseringlah menjenguk Jovanka."
"Baik, akan saya usahakan, Om."
"Pah?!" Maria menatap kesal suaminya dan bergerak menghampiri putrinya yang sedang terbaring setelah Ravin keluar dan menutup pintu. "Kenapa, sih , Papa izinin dia pulang? Lihat, Jovanka dia sedih lagi."
Haris menggeleng kecil lalu, mencoba memberi pengertian pada istrinya juga Jovanka, yang juga merengut kesal sambil melirik pintu ruang rawat tertutup di mana sebelumnya Ravin menghilang dari balik pintu. "Kalian tidak memerhartikan raut wajah Ravin yang sudah kusut itu. Kalo kalian menahannya bisa-bisa dia akan marah dan tidak akan pernah kembali ke sini lagi!?"
Mendengar sedikit teguran dari suami dan ayahnya keduanya akhirnya hanya bisa menghela napas dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
*
"Ternyata kamu masih di sini?!" Itu hanya pernyataan Ravin ketika melihat Elvan masih duduk diruang tunggu.
Kepala Elvan mendongak mendengar suara kakaknya Ravin sambil melipat tangannya di depan d**a dan tanpa menjawab pasti, Elvan hanya bergumam sebagai jawaban dan berdiri. Tetapi, Ravin menahan bahunya menatap matanya tajam.
"Apa kamu puas? Ini semua terjadi gara-gara kamu."
"Kenapa aku?" Elvan menyentakkan tangan Ravin dari bahunya dan melotot tajam tidak terima ucapan Ravin, yang seolah menyudutkannya.
Ravin mendengus dan tanpa basa-basi menamparnya menghasilkan bunyi gema diseluruh ruangan kosong bahkan, bagi Elvan sendiri hal itu membuatnya terhenyak dan bukan rasa sakit tamparannya tapi, luka harga dirinya.
"Mas Ravin baru aja nampar aku?"
"Ya, kamu emang pantas ditampar agar setidaknya kamu bisa sadar membawa seorang mantan ke dalam ruang izin mantan kekasihnya itu bisa sangat mengganggu. Jangan bermain-main ! Kapan kamu dewasa."
Elvan menggeretakkan giginya menahan kesal dan ammarah. Sakit tapi, rasa malunya yang lebih besar bagaimana bisa dirinya ditampar diusia ini. "Awas menyingkir!" ucapnya kesal dan bisa menggiringnya ke kepolisian.