Gorden berkibar-kibar, angin bertiup cukup kencang tetapi Inara tidak berniat untuk menutup kaca jendelanya. Ya biarkan begitu saja ja sambil menatap jauh ke keluar jendela dimana langit mulai menjadi mendung tidak lagi biru ataupun hangat karena matahari yang ada malah terasa dingin sedingin apartemennya saat ini.
Sudah beberapa hari ini ini untuk menenangkan diri Inara memilih beristirahat tidak pergi ke butik dan hanya berkeliling sekitar apartemen dan juga supermarket. Ravin pun, sepertinya tidak mengatakan apapun tentangnya saat ini. Hanya dia cukup dengan menenangkannya tiap kali jika hal itu terjadi bukan hanya karena pertengkaran mereka tetapi juga kondisi Jovanka sendiri.
Inara memahami hal itu. Dia juga sudah tidak takut Tetapi sedang mengintropeksi dirinya sendiri. Masih sangat merasa bersalah, terutama ketika Ravin sendiri menasehatinya sepulang dari rumah sakit. Inara yang merasa tertohok atas hal tersebut dan membuatnya mengurung diri saat ini.
"Kecemburuan tanpa alasan itu hanya akan jadi boomerang bagi hubungan kita," ujar ravin sambil berbaring miring menatap Inara. "kamu boleh cemburu tapi, jangan sampai cemburu buta. Belajarlah dari hari ini kamu harus percaya ya, dengan suamimu ini! Aku tidak akan berselingkuh dengan wanita lain apalagi Jovanka, dia Dia itu tidak perlu kamu cemburui, dia hanya masa lalu Mas, sekarang kamu malah harusnya bersimpati dengan dengan penyakit yang sedang yang dideritanya."
Saat itu Inara tidak membalas perkataan Ravin tetapi, bukan berarti dia tidak memiliki pikiran sendiri tentang sebuah perselingkuhan meskipun, Ravin kali ini mengatakan tidak bukan berarti tidak mungkin sebagai wanita selalu lebih memiliki tetapi rasa khawatir. Memang jika melihat Jovanka yang sakit haruslah dia diberi simpati tetapi, jika sikapnya yang jelas ingin menarik perhatian Raffi maka Inara tetap tidak akan bersikap baik. Teguhnya dalam hati.
Ting tong.
Inara masih asyik dengan lamunannya nya ketika tiba-tiba bel apartemennya berbunyi entah siapa yang datang Padahal dia sangat malas untuk bergerak atau lebih tepatnya menerima tamu tetapi bel pintu masih lah terus berbunyi membuatnya mau tak mau untuk membukanya.Tetapi, sebelumnya Inara melihat tamunya dari intercom untuk memastikan jika, bukan Elvan yang datang. Mengingat pria itu juga Inara ingin sekali menamparnya karena Elvan lah yang membawa Jovanka terlebih dulu dan entah apa maksudnya.
"Nara," panggil Nadira mulai Tak sabar dia tidak lagi memencet bel melainkan langsung mengetuk pintunya.
Senyum Inara terukir manis ketika Nadira lah, sahabatnya yang datang. Segera dia berlari ke arah pintu untuk membukanya dan berpelukan sebelum mempersilahkannya untuk masuk. Dia cukup bahagia melihat kehadiran sahabatnya, Nadira. Yang baru pertama kali datang ke apartemennya dan membuatnya sangat antusias.
"Dira!"
Nadira tersenyum senang melihat Inara baik-baik saja lalu memeluknya dan gandengan tangan sampai duduk di sofa seolah mereka sudah lama tidak bertemu padahal baru dua hari saja mereka tidak bertemu.
"Bagaimana sekarang, apa lebih baik?" tanya Nadira tanpa berbasa-basi. Dia sudah mendengar apa yang terjadi beberapa hari lalu, Sebelumnya dia tidak percaya sahabatnya bisa berbuat seperti itu karena cemburu seolah bukan Inara yang dia kenal dan pandai mengendalikan diri. Tetapi, akhirnya dia juga mengerti mungkin ini membuktikan jika, Inara memang benar-benar sudah mencintai Ravin, suaminya hingga dia bisa cemburu pada wanita lain.
"Sekarang sudah Gapapa."
"Baguslah, gue takut Lu beneran jadi trauma. "
"Nggaklah, sebelumnya hanya ngeri aja lihat orang yang baru saja aku lawan tiba-tiba jatuh terusb tergeletak sambil bersimbah darah."
"Darah dari hidung maksudnya?!" ledek Nadira sambil terkekeh tertawa. Sebelumnya dia juga sudah mendengar cerita dari Nadira sendiri juga ditambah dengan dari Elvan. Pria yang akhir-akhir ini sering mengganggunya.
"Kamu nggak tahu, yang paling mengerikan ada helain rambut sangat banyak dan itu mengerikan."
Dira menarik napas, mengetuk kepala Inara. "Tentu saja rambutnya rontok Bukannya dia penderita penyakit kanker mungkin itulah efek sampingnya Apalagi ditambah dengan perawatan seperti kemoterapi yang katanya bisa membuat bukan hanya rambut rontok tapi, juga kulit menjadi kering."
Mendengar hal itu rasa simpati Inara bertambah apalagi, teringat kata Ravin yang menjelaskan tentang kondisi Jovanka yang sebenarnya. Bukankah dia sempat mendengar apa yang dikatakan dokter-dokter tersebut jadi tidak aneh lagi jika memang Jovanka memiliki sakit parah dan mungkin tidak akan bertahan dalam waktu lama lagi.
Setelah memeriksa dan memastikan keadaan Inara, Nadira pun pulang dengan hati tenang dan bisa mengabari Elfan, yang sebelumnya memintanya untuk datang dan melihat keadaan Inara. Pria itu juga begitu canggung untuk menceritakan apa yang terjadi setelah didesak olehnya karena jika tidak, dia akan menolak untuk terus membantunya. 'Cowo bodoh! Dia memang pantas dihukum. Jahat sekali memanfaatkan wanita sakit.'
"Bagaimana kabar Inara?" Tiba-tiba Elvan datang menghadang dari balik pilar, dengan pertanyaan tersebut membuat nadira terkejut sampai ingin memukulnya.
"Inara baik-baik saja. Jangan buat masalah dengan menemuinya lagi untuk saat ini," ujar Nadira sambil menjauh pergi penuh perasaan jengkel meskipun, begitu dirinya cukup membantu Elvan untuk saat ini.
Elvan yang tertinggal di belakang menatap cukup lega meski, masih bertampang sedih setelah apa yang terjadi. Semua kekacauan kini, menjadi ulahnya lagi meskipun demikian kebencian yang paling besar adalah pada Ravin.
**
Hari ini Ravin terlambat pulang lebih lama dari biasanya. Saat memasuki apartemen semua lampu sudah mati, tadinya berjalan perlahan mencoba untuk tidak mengganggu Inara yang mungkin sudah tertidur di kamar mengejutkan ternyata istrinya itu malah tertidur di sofa di ruang tamu.
Melihatnya meringkuk kedinginan, Ravin menghela napas tiba-tiba terenyuh sedih sedikit kecewa pada dirinya sendiri, baru kali ini dia pulang terlalu larut karena kesibukannya yang tak bisa diatur. Mencoba melangkah perlahan dan mendekat tanpa menimbulkan suara gaduh lalu, Ma berjongkok cepat disamping Inara sambil mengusap surai rambut kekasihnya yang lembut dengan sedikit berbisik, "Sayang, kenapa malah tidur di sini? Apa kamu nggak kedinginan? " tanyanya dalam keheningan.
Inara masih terlelap dalam mimpinya, tidak terganggu sama sekali. Akhirnya dengan sikap Ravin mengangkat tubuh Inara membawanya kembali ke dalam kamar mereka membaringkannya di atas ranjang tetapi, saat dia hendak melepasnya Inara menarik leher Ravin sampai terguling di atas ranjang.
"Jadi kamu belum tidur?"
"Aku sudah tidur tapi, terbangun saat Mas ndak menggendongku," jawab Inara sambil tersenyum puas dan tak melepaskan tatapannya dari matanya.
"Maafin Mas, ya, Sayang kamu sampai menunggu lama. Lain kali kamu tidak perlu menunggu Mas apalagi harus sampai tertidur di sofa, Ok?"
"Ok," sahut Inara.
"Kalau begitu lepasin dulu pelukannya. Mas, masih perlu mandi dulu dan berganti pakaian. Sekarang kamu Tidur lagi saja."
Inara enggan melepasnya tetapi, akhirnya dilepaskannya juga dan ikut bangun untuk mempersiapkan kan baju piyama yang akan digunakan Ravin setelah dia mandi. Inara juga tidak keberatan untuk menunggunya sambil membuka-buka kembali aplikasi dari gawainya. Sesekali senyumnya mengembang melihat pintu kamar mandi tertutup di mana sang Pujaan berada. Tidak ada yang spesial tetapi, rasanya senang saja suaminya sudah pulang setelah sibuk bekerja seharian.
Lima belas menit kemudian Ravin sudah berbaring di samping Inara dan saling berhadapan dengan suasana remang- remang di mana hanya lampu tidur saja yang menyala . Ada banyak pertanyaan yang ingin Inara tanyakan soal kegiatannya yang kali ini seringkali memakan waktu banyak dan menyita waktu kebersamaan mereka tetapi, sayang mulutnya masih terkatup rapat enggan, sekadar membuka mulutnya saja.
Ravin melihat kediam-an Inara yang berbeda. Ditariknya tenguk istri cantiknya tersebut sebelum ia kecup dan cium bibir merahnya yang manis menggoda. Rasa bersalah menyelimuti hati Ravin setelah menghabiskan waktunya hanya untuk b******u.
"Ada apa dengan tatapan, Mas itu?" tanya Inara riskan.
"Tidak ada. Hanya tiap-tiap hari melihat kamu makin cantik dan berisi, yah?" Gemas Ravin tidak kuasa menjawil pipi Inara dan dengan cemas meremasnya dalam pelukannya ssndiri.
Inara hanya terkekeh senang dengan pujian suamian dan malah semakin melesakkan kepalanya dalam pelukannya yang hangat. "Mas, kenapa pulang terlambat sekali?" Akhirnya Inara memberanikan diri bertanya. Sebenarnya, dia tidak ingin seperti wanita lain yang terlalu ikut campur dengan pekerjaan suaminya.
Ravin mengelus rambutnya, memeluknya erat. "Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan juga ... " Ravin terlebih dulu menatap mata Inara. Sempat ragu tetapi, dia tidak ingin hal ini menjadi masalah nantinya jika, dia harus pergi lagi. "Aku pergi ke rumah sakit lagi, Sayang."
Tangan Inara jadi, tegang. "Lagi? Buat apa Mas ke rumah sakit. Jangan-jangan Mas pergi buat jenguk Jovanka lagi?"
"Iya,Sayang," jawabnya jujur dengan rasa tak nyaman karena sedetik dia selesai mengatakan hal tersebut. Inara mendorong d**a sedikit menjauh, matanya melotot merah menyala.
"Untuk apa lagi, Mas datang ke sana?" sedang Inara pikir Jovanka tak perlu lagi dijenguk jika, kabar yang terakhir kali didengar mengatakan dia baik-baik saja. "Kenapa dengannya? Apa terjadi kecelakaan lagi?" Kata-katanya berubah menjadi sangat serius lagi.
"Tidak, Sayang. Aku hanya menjenguknya sebagai teman sungguh."
Pikiran Inara belum bisa mencerna perkataan Ravin yang barusaan. Jadi, dipastikannyalah kembali pertanyaan tersebut. "Apa maksudnya sebagai teman? Kenapa Mas harus repot-repot menjenguknya? Kalo memang dia memang masih sakit karena insiden yang lalu,biar aku saja yang datang sambil meminta maaf padanya," ujarnya dengan tatapan mata penuh keteguhan. Inara tidak harus takut jika, memang harus meminta maaf.
Ravin tidak tahu harus berkata apalagi. "Nara, apa Mas tidak boleh sering mengunjunginya sebagai teman?"
"Sering?" Inara mengerutkan kening mendengar hal itu. "Kenapa harus sering-sering?"
Ravin mengangguk. "Jovanka sudah tidak memiliki banyak teman lagi dan ...mungkin, tidak banyak waktu lagi--"
Inara menutup mulut Ravin, tidak ingin mendengar prediksi kematian seseorang. dia juga akhirnya menjadi Simpati kembali tidak ada teman di akhir hidup rasanya pasti sangat menyedihkan. "Aku nggak bisa melarang Mas, larang ini atau boleh itu tapi, untuk kali ini aku cuman ingin mengingatkan jika Mas dan Jovanka memang benar-benar hanyalah sebatas teman."
"Terima kasih, Sayang," ucap Ravin sambil mengecup kening Inara, mengerti dengan apa yang dimaksud istrinya dan sungguh jauh sangat bersyukur Inara bisa mengerti hal ini.