Rasa sakit

1854 Kata
Inara melirik kursi kosong di depannya. Saat ini dia sendirian sedikit kesepian karena Ravin sudah terlebih dulu pergi ke kantor dalam beberapa hari ini keduanya tidak sempat untuk sarapan bersama padahal sebelumnya Ravin akan menyempatkan diri sesibuk apapun agar setidaknya bisa menghabiskan waktu bersama agar hubungan mereka bisa terjalin lebih baik dan lebih baik. Sayang, sepertinya Ravin sulit menepati kata-katanya lagi. Meskipun, akhirnya hanya bisa kecewa. Inara tidak bisa menjadi marah tidak peduli bagaimana pun Ravin,kan bekerja dan bukan bermain apalagi berselingkuh. Kesibukan Ravin saat ini ini juga merupakan hasil dari dorongannya. Tidak lagi memiliki nafsu makan akhirnya Inara pun menyelesaikannya dan memilih untuk berangkat kerja. Dari balik pintu, Inara hampir saja menjerit ketakutan ketika tiba-tiba saja sosok Elvan berdiri di depannya. "Elvan!" jerit Inara setengah kesal, menepuk-nepuk d**a kirinya di mana debaran jantung berdetak sangat keras. "Maaf, Nara. Apa kamu sungguh terkejut?" "Apa aku terlihat baik-baik saja?" tanya balik Inara sambil melotot tajam dan tidak menunjukkan keramahan apapun pada Elvan. "Sekarang pergi!? Jangan membuatku marah lagi." "Aku ngga maksud bikin kamu marah. Malah sengaja datang kemari cuman buat nemuin kamu." "Buat apa nemuin aku? Pergi! Apa kamu gak malu udah bikin anak orang berantem lalu, sampe masuk rumah sakit." "Jangan seperti itu," ujar Elvan merasa sangat sedih. Bukan hanya suaranya yang dibuat lirih tetapi, juga raut wajahnya yang tampak menyedihkan. "Aku juga, kan, gak tahu bakal terjadi hal-hal seperti itu." Dalam hati Inara mencoba bertahan untuk tidak terpengaruh dengan tampang menyedihkan Elvan atau juga kata-katanya. "Kenapa gak seperti itu?" "Aku cuman mau bertemu kamu." Kening Inara berkerut, sedikit jijik dengan kata-kata Elvan yang sekarang seolah tengah merayunya. Entah sejak dia mulai mempertanyakan sikap pria di depannya yang tampak sangat berubah. Inara harus membuat dirinya lebih berhati-hati karena mungkin saja mulut manisnya bisa jadi ranjau yang menghancurkan hubungannya dengan Ravin. Sebelumnya dia dan Ravin beruntung tidak terjadi pertengkaran antara mereka tetapi, bagaimana selanjutnya. "Buat apa kamu mau ketemu aku?" Inara menghentikan langkahnya, dia sudah cukup lelah dengan masalah sebelumnya yang dibawa Elvan sekarang sangat tak nyaman ketika dia datang lagi dan lagi. Tidak menunggu Elvan menjawab pertanyaanya . Inara berbicara lagi. "Van, berhenti mengejarku jangan pernah mengikutiku lagi. Apa tidak cukup semua, kita sudah berakhir." "Aku tahu," sahut Elvan acuh tak acuh siapa peduli dengan tanggapan Inara yang saat ini sedang bermuram durja. "Terus kenapa kamu datang lagi tiba-tiba?!" Elvan menyodorkan segelas minuman kesukaan Inara, yang masih sangat dihafalnya. Duduk berdua seperti ini dengan santai menikmati lalu lalang jalanan dibatasi jendela besar, setelah berhasil memaksa Inara membuatnya bersedia duduk berdua saling berhadapan. Hal seperti ini sepertinya bisa dihitung oleh jari- jari tangan setelah wanita ini menjadi Nyonya Ravindra Malik, tidak disangka Inara benar-benar membatasi hubungan dengannya. "Aku belum sempat meminta maaf karena sudah membawa Jovanka saat itu. Hanya tidak menyangka kamu bakalan sangat cemburu dan marah sampai terjadi hal seperti itu terjadi." "Aku juga tidak menyangka bisa semarah itu," ujar Inara kali ini dengan senyuman masam. "Kamu tersenyum? Apa yang kamu pikirin?" "Terus ngapain juga kamu ikut-ikutan tersenyum?" tanya Inara sebal sambil menyeruput minumannya. "Hari itu aku bener-bener konyol. Bagaimana bisa semarah itu hanya karena sepotong kue." "Itu wajar, berarti kamu memang sudah mencintai Mas Ravin. Dan sebenarnya, aku cuma ingin melihat perasaan Mas Ravin. Aku masih gak rela dan takut kamu gak bahagia jika, ternyata Mas Ravin masih menyembunyikan perasaannya pada Jovanka. Tetapi sepertinya itu hanya kebodohanku saja. Karena sepertinya kalian memang sudah saling mencintai." Inara sedikit malu mendengarnya tetapi, juga tidak menampik jika itu memang benar. Semua orang bisa melihat jika mereka berdua bisa saling mencintai dengan tulus setelah hanya menikah karena bujukan orangtua mereka dan sepertinya mertuanya, Deswita-lah yang paling berjasa baginya membuatnya harus berterimakasih. Punggung Inara sudah tak terlihat lagi tetapi, tatapan Elvan masih berada jauh di sana dengan bola mata berkaca-kaca dan tak bisa menahan diri yang dalam satu kedipan air mata akan meluncur jatuh. Ini mengenai perasaannya yang tak bisa diuraikan begitu saja tak harus tertawa atau menangis sakit atau tidak Elvan hanya tahu dia sudah kehilangan kekasihnya. *** Pekerjaan Ravin selesai pada waktunya. Biasanya setelah ini, Ravin akan menjemput Inara untuk pulang bersama atau makan malam di luar pokoknya menghabiskan waktu berdua tetapi, beberapa waktu lalu Ravin malah mendapat sebuah telepon l dari ibunya Jovanka memintanya untuk datang dan menemanigsementara mereka akan pergi. Awalnya Ravin ingin menolak karena sudah beberapa hari ini dia tidak menghabiskan waktunya bersama Inara, sedikit rindu pada istri cantiknya tetapi saat tanpa sempat menolak ibunda Jovanka memintanya dengan suara memelas, merasa tak enak akhirnya Ravin hanya bisa menyutujui melupakan dulu harapannya untuk bersama si Tercinta. "Pak Bos, sudah akan pergi?" tanya Rudi dibalik pintu karena baru saja dia buka dan melihat pemandangan Bos besarnya sedang mengenakan jas-nya. Biasanya meski, sudah waktunya pulang Bos-nya tidak akan langsung pulang sebelum dia memberikan laporan akhirnya. "Aku harus pergi ke suatu tempat dulu," ujarnya sambil meraih tas dan kunci mobilnya. Rudi mengangguk dan mempersilahkannya keluar tanpa bertanya-tanya lagi. Ravin kembali berbalik dan menoleh. Keningnya berkerut, berpikir apa dia harus menitip pesan jika sewaktu-waktu menanyakan keberadaannya. Lalu, kemudian Ravin berubah pikiran bukannya Inara tahu apa yang dilakukannya. "Tidak jadi. Aku pergi!" "Baik, Pak Bos. Hati-hati di jalan." Sayang, Ravin tidak tahu kurang dari setengah jam dia pergi. Inara datang mencarinya di kantor, untuk bisa pulang bersama dan tidak ada salahnya jika istri yang menjemput suaminya pulang. Pikirannya pun sudah terbayang apa yang ingin dilakukan seperti sekalian berbelanja kebutuhan pokok mereka di rumah lalu makan malam diluar bersama. Tetapi sebelum dia memasuki lobby dia sudah bertemu dengan Rudi, asisten pribadi suaminya, yang langsung menyapanya. "Selamat sore, Nyonya," sapanya yang membuat sumringah Inara karena dipanggil dengan sebutan nyonya. "Sore juga Pak Rudi, sudah mau pulang ya?" "Iya, tapi, kok Anda ke sini. Bukannya pak Ravin sudah jemput ya? Padahal sudah pergi pulang dari setengah jam yang lalu." Inara sedikit tertegun tetapi segera kembali mengendalikan diri. Dia tidak mau seperti ini dijadikan bahan gosip yang, nantinya akan beredar luas dan merusak reputasi hubungan mereka. Meskipun, begitu Inara tetap bertanya-tanya ke mana Ravin pergi yang tanpa sempat menghubunginyanya bahkan, sampai seharian ini. Jadi, setelah seperti ini Inara hanya bisa berpura-pura. "Dia sudah pulang?" tanya Inara berpura-pura terkejut sambil merogoh smartphonenya di dalam tas. Lalu, beberapa saat melihat notifikasi pesan atau telepon memastikan jika, Ravin memang tidak menghubunginya hari ini. "Ah, padahal aku sengaja datang ke sini lebih cepat ternyata, masih terlambat. Makasih ya, pak Rudi." "Ngga papa kok, memang hari ini Pak Ravin pergi lebih awal keliatan sedikit capek atau mungkin, dia pergi ke mana dulu buat beli ...sesuatu buat Ibu Inara," ujar Rudi menebak-nebak karena tidak biasanya melihat Pak Ravin pulang tanpa sang Istri. Inara sedikit merona malu tetapi, tidak sampai menyentuh hatinya. Dia hanya sedikit curiga. Setelah, mengucapkan perpisahan Inara kembali lagi ke dalam mobil. Inara memukul pinggiran setir dengan tangannya sedikit marah lalu, memakai seatbelt sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong. Inara tidak ingat Ravin, bicara akan datang menjemputnya atau tidak tetapi, jelas Ravin tidak menemuinya atau pergi ke tempatnya seperti biasanya. Hari ini sama sekali suaminya itu tidak meninggalkan pesan sedikitpun membuatnya sedikit curiga. Tanpa berpikir dua kali Inara segera menghubungi Ravin dengan smartphone-nya dan, selama menunggu teleponnya diangkat pikiran Inara masih tidak tenang dan sebagai hasilnya sambungan teleponnya sama sekali tidak dijawab. Kesal Inara memutar kunci mobil dan melaju pergi kembali ke apartemennya, moodnya hancur sudah. Dia tidak ingin melakukan apapun dan pulang. "Awas saja, kalau Mas Ravin tidak ada di apartement. Aku pasti bakal marah," ujarnya setengah kesal dan benar-benar suaminya ada di apartemen dan tengah memberinya sedikit kejutan seperti sudah mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua. Namun, sayang sepertinya itu hanya harapan Inara belaka karena Ravin sebenarnya berada di rumah sakit dan tengah disibukkan dengan Jovanka yang menahan sakit. Sedangkan Ravin benar-benar tidak tahu jika, Inara terus menghubunginya karena samrtphone nya berada dalam keadaan hening dan dia simpan di dalsm tas kerjanya. Dan, sesuatu yang paling penting ialah Ravin lupa untuk memberi kabar karena pekerjaan kantornya sangat sibuk bahkan, saat makan siang pun dia tak sempat karena harus menemui klien dan saat ini dia malah disibukkan dengan Jovanka yang tengah mengeluh sakit membuatnya takut dan was-was. Baru saja Dokter dan para perawat baru keluar setelah memeriksa kondisi Jovanka yang tidak bisa dibilang baik atau buruk terlebih, dokter hanya bisa memberinya obat penenang. Rasa sakit pasien hanya bisa pasien lewati sendiri dan hal lainnya hanya bisa dipantau. "Vin, sakit," ucapnya lirih dengan suara serak yang sangat kering. "Kamu kuat, Jo," balas Ravin yang meremas tangan Jovanka. Dia tidak menyangka jika, rasa sakit Jovanka akan lebih mengkhaeatirkan seperti ini. Dilihatnya wajah Jovanka yang memucat, mata cekung yang menghitam dan dan bibir pucat serta kering terus berucap kata sakit seolah itu begitu sakit bahkan, Ravin tak kuasa akhirnya meneteskan air mata. Jovanka membuka matanya, saat merasakan rasa dingin menyentuh tangannya dan melihat Ravin tengah menundukkan kepala. "V-vin," panggilnya. Ravin mendongak hanya untuk melihat senyum tipis Jovanka. Tangan kurus kering tersebut menyentuh wajahnya, memghapus air matanya yang jatuh. "Jangan nangis ...rasanya a-aku makin sakit," ujarnya lalu menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya. "Aku gak mungkin nangis, Jo. Ini hanya air biasa ...aku gak bakalan nangis buat kamu kedua kalinya," balas Ravin dengan suara tertekan dan menahan perasaan simpatinya melihat Jovanka yang sudah berubah jauh dari yang dia kenal dulu. "Maafin aku, Vin. Maaf ...!" Jovanka menatap Ravin dengan sepenuh hati. Dulu, dia sangat mementingkan dirinya sendiri. Tak ingin orang lain melihat kelemahannya termasuk pada Ravin, dia tidak ingin terlalu bergantung pada pria ini memilih pergi untuk bisa hidup tanpa belas kasih. Namun, kini dirinya sedang terbaring lemah tanpa daya dengan rasa sakit yang didera, yang akan menimbulkan rasa simpati berlebihan sampai bisa ditangisi oleh Ravin. "Vin, Ravin aku gak mau kamu lihat aku kayak begini." Tidak peduli apa yang dikatakan Jovanka, Ravin tidak beranjak sedikit pun dengan sabar dia menepuk lembut punggung tangan Jovanka yang tidak terkena infus dan tengah mencengkram tangan Ravin, memegangnya kuat sudah seperti sedotan kehidupannya. "Kamu sudah terlalu lelah, Jo. Istirahatlah! Aku akan tetap di sini sampai kamu tertidur." Tarikan napas Jovanka terasa begitu berat, keringat dingin yang terus bercucuran membuat Ravin yang melihatnya tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya. Jovanka yang merasakan jika, Ravin akan berbalik pergi menahan tangannya. "J-jangan pergi," ujarnya lemah. "Aku akan panggil Dokter lagi." "Tetaplah di sini. Aku masih bisa menahannya." Lanjut Jovanka kali ini tersenyum lemah. Ravin tidak tahu berapa lama waktu yang dihabiskannya duduk disamping Jovanka hingga dia bisa tertidur lelap tanpa merasakan sakit. Sungguh menyedihkan jika, meliahnya langsung dengan kepala mata sendiri. Satu tahun setelah perpisahan mereka Ravin mengetahui tentang penyakit yang dideritanya tetapi, tak pernah ada simpati besar karena hatinya penuh dengan kecewa. Wanita di depannya memilih pergi daripada berada disampingnya untuk melewati masa-masa seperti ini. "Seharusnya kamu memintaku lebih cepat untuk berada di sampingmu bukan, di saat aku juga sudah memiliki orang yang kukasihi. Aku tak akan bisa melewati batas, menaruh perhatianku sepenuhnya padamu, Jo. Aku harus tetap kembali pulang menemui kekasih hatiku. Sekarang kamu juga sudah sangat lelah. Aku pergi!" Sesaat setelah pintu kamar rawat tertutup kelopak mata Jovanka kembali terbuka dengan penuh tatapan menyedihkan melihat pria yang dicintai pergi. "Aku tahu sudah sangat terlambat tapi, Ravindra Malik aku masih sangat mencintaimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN