Menjadi penggangguran kelas atas sepertinya tidak dirasa sulit lagi oleh Elvan meski, terkadang bosan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tentu saja semua itu diucapkannya dalam hati dan hanya bisa meratap dan menahan segala emosi dalam d**a jika, apa yang dimilikinya dulu kini sudah hilang. Jika, seperti itu dia harus mengingat-ingat lagi kesalahannya dalam mengambil keputusan. Jika, saja dia tidak gegabah untuk pergi melarikan diri, tidak mungkin dirinya seperti sekarang. Berjalan-jalan memasuki Mall sambil menenteng kantong makanan dan minuman.
Elvan memang sengaja datang untuk bisa menjalin hubungan baik lagi dengan Inara dan juga Nadira. Kedua wanita yang sudah membuat hatinya seperti roller- coaster. Cinta yang membuatnya melambung tinggi lalu, tak lama berlangsung malah menghempaskanya turun jatuh ke dasar tanpa berniat menariknya lagi ke atas. Mengingat kisah cintanya yang seperti ini, Elvan hanya bisa meratap saja dalam hati. Berharap akan ada keajaiban dan memberinya kesempatan.
Sayang, apa itu kesempatan? Apalagi dengan kata keajaiban? Ini bukan dunia khayalan yang bisa diatur-atur sesuka hati. Setelah bagaimana Inara lepas dari tangannya dan jatuh kepelukan Ravin. Apa dia masih bisa tahan jika, sekali lagi wanita yang masih memiliki simpul dihatinya harus lari lagi kepelukan pria lain. Elvan bukan semut yang bisa diinjak-injak begitu saja.
"Nadira," panggilnya dengan tatapan menghunus juga langkah kaki yang tegap berjalan ke arah dua sejoli itu yang sedang bercengkerama ramah.
Nadira dan Bagas langsung menoleh ketika mendengar panggilan tersebut. Kedua wajah dua orang ini menjadi cemberut tidak suka, terutama Nadira yang langsung mendesah ketika melihat orang yang memanggilnya adalah Elvan. 'Mau apa lagi Elvan ke sini?' tanyanya dalam hati penuh kewaspadaan.
"Gas, lebih baik kamu pergi sekarang aja, ya? Nanti, jalanan makin macet. Kamu masih harus kerja,kan?"
Bagas menoleh, raut wajahnya jelas menunjukkan keengganan untuk pergi apalagi melihat kedatangan pria lain yang pernah mengganggu mereka. "Aku masih punya waktu sedikit tidak masalah. Pria itu dia, kan?"
Nadira ingin membuat Bagas menghindar tetapi, langkah kaki Elvan cepat dan sudah berdiri di depan mereka berdua. Nadira berdiri yang diikuti Bagas membuat, mereka bisa setara dalam saling pandang. Tanpa menunggu Elvan yang berbicara Nadira berbalik lagi pada Bagas. "Gas, udah selesai,kan? Jangan telat masuk kerja sana."
Bagas ingin menolak tetapi, melihat Nadira yang teguh. Dia tidak bisa membantah dan akhirnya mengangguk, mengambil jas-nya di bangku lalu, melirik Elvan dengan sinis tanpa mengucapkan apapun. "Nanti sore aku jemput, ya?! Tunggu jangan pulang duluan."
"Heh, apa kamu mau jemput Nadira dengan motormu itu? Gak bisa!"
Nadira menarik Elvan mundur, "Dia gak ngomong sama kamu! Kamu diem," ujarnya dengan tatapan mata tajam. Kemudian berbalik lagi pada Bagas, yang tangannya sudah mengepal erat. "Bagas, cepat sana pergi! Nanti sore kita pulang bareng, ok?!"
Bagas terlihat menarik napasnya, melepas emosinya karena ucapan Elvan, yang menghinanya karena hanya memiliki sepeda motor. Tetapi, melihat wajah Nadira dia masih bisa tersenyum. "Ok, aku pergi dulu,ya!? Selamat bekerja lagi, ya," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk mengusap rambut Nadira tetapi, hal itu tidak pernah terjadi karena ada tangan lain yang menghalanginya.
"Apa yang mau kamu lakukan,hah?" Elvan langsung menghempaskan tangan Bagas dari samping.
Kesal melihat kelakuan dan tingkah Elvan, yang mengganggu hubungannya dengan Bagas. Nadira dengan sekuat tenaga menginjak kakinya dengan menggunakan hak sepatunya. "Yang harus bertanya itu aku. Apa yang kamu lakukan, hah?"
Wajah Elvan dengan cepat berubah merah, giginya gemeretak menahan sakit. "Nad, kakiku sakit," ucapnya pilu.
Nadira mengangkat kakinya, puas. Lalu menoleh lagi pada Bagas, yang masih belum beranjak pergi. "Kamu masih mau di sini? Mau kuinjak juga."
"Ngga, ngga," sanggah Bagas cepat. "Ok,aku pergi, ya, sampai nanti." Tergesa-gesa akhirnya Bagas berbalik pergi dengan tawa puas melihat kaki Elvan yang diinjak Nadira.
Kepalan tangan Evan terangkat melihat tawa Bagas sambil berlalu pergi, dia ingin sekali mengejarnya sekaligus menghajarnya tetapi, kakinya benar-benar sakit sampai lututnya menekuk lemas dan membuatnya merunduk menyentuh hanya untuk menyentuh kakinya yang masih berbalut sepatu tetapi, jelas terasa meresap sakit ke dalam. "Nad, ini sakit banget," keluh Elvan bahkan matanya sudah berkaca-kaca merah.
"Salah sendiri harusnya jangan sok ikut campur." Kesal Nadira tetapi, masih menarik lengan Elvan untuk berdiri lalu membiarkannya duduk di tempat Bagas tadi duduk dan dia menunduk menarik sepatunya untuk melihat seberapa banyak dia terluka dan ternyata hanya ada bekas memerah saja. "Untungnya, aku tidak pakai hak yang satu inci. Begini saja kakimu sudah memar."
"Bagaimana bisa beruntung? Lihat itu!" Tunjuk Elvan pada punggung kakinya yang merah.
Plak! Tanpa perasaan Nadira menggeplak punggung kaki Elvan yang terluka. Bersikap tak acuh dan duduk kembali disamping Elvan tanpa melakukan apa-apa lagi. "Itu hanya luka kecil jangan cengeng. Kamu sendiri karena berbuat onar."
"Apa? Siapa yang berbuat onar? Jelas-jelas laki-laki itu mau kurang ajar sama kamu? Dan, kamu mau biarin dia gitu aja?
"Ih, kurang ajar gimana paling dia mau menyentuh kepalaku, sekadar mengusap rambut aja seperti biasa tidak lebih," tukas Nadira sambil melipat tangannya di depan d**a sedikit cemberut dan kesal. "Tapi, kalo dia memangnya begitu. Apa urusannya denganmu?"
"Urusanku?" Elvan tertegun. Hatinya sedikit panas. Yah, apa urusannya? Dia kini sudah menolak Nadira dan cuman berharap tentang Inara yang akan kembali pada pelukannya tetapi, akhirnya dia tidak peduli dan ingin marah saja pada Bagas, yang berbuat seenaknya pada Nadira. "Tetap saja kamu tidak pantas melakukan hal-hal seperti itu kamu dan dia,kan bukan apa-apa? Kalian belum jadian kan?"
Mata Nadira menyipit melirik sinis pada Elvan. "Mungkin sekarang belum tapi, nanti sore bisa saja. "
"Jangan ngomong sembarangan," tukas Elvan tentu saja tak rela. "Pikirin lagi?! Kamu mau sama pria yang kayak gitu?"
"Memangnya dia kayak gimana?!" salak Nadira kali ini galak dan lebih kesal dari sebelumnya terlihat dari napasnya yang naik-turun sehingga tanpa mendengar sanggahan apapun lagi dari Elvan, Nadira memilih berlalu pergi.
Meninggalkan Elvan terduduk diam di sana, yang sudah seperti tertegun dan hanya melihat punggung Nadira memasuki toko butiknya kembali. Dia mengusak rambutnya kacau tidak tahu kenapa dia bisa berbuat seperti ini. "Berengsek, sebenernya kenapa aku ini?!" Tidak bisa dipungkiri, hatinya masih tidak rela melihat Nadira pergi dengan pria lain padahal, jelas sejak awal mereka tidak pernah memiliki hubungan apapun.
Meskipun penuh dengan perasaan kesal dan menyesal Elvan akhirnya tetap berjalan masuk kedalam butik. Mencari kedua wanita, yang pernah begitu dekat dihati. Tidak lupa dengan tas jingjingan minuman dan makanannya untuk dibagikan pada karyawan di sana. Sudah lama dia tidak pernah melakukan hal ini lagi jadi tidak masalah sedikit menyenangkan orang lain. Juga sepertinya, para karyawan sebut tidak tampak canggung dengan kehadiran Elvan meski, masih terkejut karena jelas pria itu bukanlah lagi kekasih sang Owner.
Mengetuk pintu kantor yang sudah terbuka Elvan hendak berjalan masuk seperti yang biasa dia lakukan dulu tetapi, tidak sampai kakinya melangkah sebuah dorongan membuatnya mundur beberapa langkah. Nadira si Pelaku benar-benar menariknya menjauh.
"Jangan masuk!"
"Kenapa? Aku mau masuk!" Kukuh Elvan seperti biasa sedikit keras kepala.
Nadira melirik ke dalam lagi lalu, menutup pintunya. "Dia sedang punya masalah jadi, jangan buat masalah tambah runyam."
Elvan mendengus keras tetapi, tidak kukuh untuk masuk dan malah berjalan mengikuti Nadira ke ruang fitting pribadi yang biasanya untuk para pelanggan pribadi mereka. "Oh, sepertinya beberapa hari tidak bertemu kamu sudah melakukan perubahan. Apa yang terjadi?"
"Perubahan apa?" Tanya Nadira yang menarik bungkus roti yang di bawa Elvan. "Aku tidak merasakannya? Apa aku terlihat seperti Wonder Women?"
"Heh, lucu sekali," cibir Elvan dengan lelucon garing Nadira. Tetapi sebaliknya Nadira malah tertawa melihat raut wajah jelek dari pria didepannya. "Jadi, ada apa dengan Inara?" tanyanya lebih penasaran tentang kabar ini.
Nadira mendesah, mengangkat bahunya tidak ingin membicarakan hal tersebut dengan Elvan. Salah-salah malah makin memperkeruh suasana di mana Elvan bisa mengambil kesempatan ditengah kesempitan yang tercipta. "Jangan sok ikut campur lagi. Itu bukan urusanmu."
"Apa ada hubungannya dengan Mas Ravin."
Nadira tidak menjawab dan hanya meliriknya dengan sudut matanya seolah berkata 'Menyebalkan ....'
Hal itu juga yang sebenarnya dirasakan Inara. Dia menatap tajam pria yang berada dalam gawai-nya sekarang Inara sedang melakukan video call dengan suaminya yang dalam seminggu ini sangat sibuk bahkan sampai tidak memiliki waktu untuknya.
"Mas, kenapa sekarang aku merasa kamu sangat menyebalkan?"
Ravin hanya tersenyum mendengarnya, jauh di dalam kantornya dia memang benar-benar bahkan, saat ini. Ketika harus melakukan video call saja tatapan matanya hanya banyak fokus ke atas kertasnya dan hanya sesekali melirik istrinya yang sedang marah karena baru saja membatalkan rencana makan siang bersama padahal beberapa hari memang keduanya tidak lagi bisa makan bersama termasuk, itu saat sarapan dan makan malam.
Ravin tahu dia bersalah karena sulit sekali membagi waktu antara pekerjaan, Inara juga memerhatika Jovanka yang masih harus di rumah sakit padahal, baru saja dia akhirnya bisa pulang ke rumah dan tidak sampai satu hari dia harus jatuh pingsan dan dibawa kembali ke ruang ICU.
"Sepertinya, Mas gak peduli lagi sama aku."
Kali ini Ravin menutup berkasnya dan langsung menatap Inara. Berharap bisa langsung terbang ke sana dan memeluk istri cantiknya padahal, jarak mereka tak terlalu jauh tetapi entah kenapa menjadi sulit bertemu. "Siapa yang ngomong Mas gak peduli sama kamu, hm? Mas, sayang sama kamu jadi, jangan bicara sembarangan lagi."
"Kalo gitu, kenapa kita nggak bisa makan siang bareng? Harusnya, Mas bisa luangin waktu buat aku." Sekarang Inara sedang merajuk. Matanya merah berkaca-kaca, pikiran dan hatinya sekarang sedang sensitif, mudah sekali untuk terharu lalu, menangis.
"Maaf, Sayang. Mas berjanji sore nanti mas akan pulang lebih cepat dan kita makan malam bersama seutuhnya.
Meskipun demikian Inara tidak termakan bujuk rayunya lagi. Akhirn-akhir ini Ravin seringkali menginkari Janjinya, membuatnya tidak habis pikir.
Padahal tidak ada yang perlu terburu-buru untuk tetapi, hatinya sangat rindu pada suaminya yang beberapa waktu ini jarang ditemui dengan alasan kesibukannya makin besar. Di saat malam hari dia sudah tertidur barulah Ravin datang dan pagi hari Terkadang untuk sarapan bersama pun tidak karena dia terburu-buru pergi tidak ada waktu lagi untuk mereka bercengkerama seperti biasa.
Wajah murung Inara tidak bisa membuat Ravin terbang dan memeluknya saat ini. Jadi, dia hanya bisa membujuk dan menggoda istrinya kesayangannya. "Sayang, jangan cemberut .... "
"Pak Bos,"
"Dengar, Rudi sudah memanggilku. Sekarang waktunya aku harus pergi sekarang. I love you, Beb."
Lagi. Ravin menghalangi sambungan telepon milik mereka. Sekarang, layar sudah kembali hitam. Inara menunduk sedih di atas meja, tidak menyenangkan jika tidak ada Ravin yang kemarin dulu. Kali ini rasanya dia tidak tahan untuk tidak menangis air matanya barderai turun deras begitu saja.
Elvan dan Nadira, yang awalnya ingin mengajak Inara makan siang harus dikejutkan dengan suara tangis dari balik pintu dan segera membukannya hanya untuk dikejutkan dengan pemandangan Inara yang berderai air mata tampak begitu menyedihkan.
Keduanya benar-benar terkejut.
"Nara, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Nadira langsung berlari ke samping Inara dan memeluknya.
"Siapa yang berani membuatmu manangis?!" Kali ini Elvan yang tepat berdiri di depan meja kerja Inara penuh amarah.
Inara mendongak melihat kedua orang sahabatnya menjadi samar dan berkabut. Kepalanya tiba-tiba berdenyut sedikit nyeri dan berat pundaknya akhirnya, saat dia ingin berkata sesuatu, kesadarannya sudah jatuh ke dasar.
"Nara!" Kompak Elvan dan Nadira khawatir.