Pergi saja jika berani

1777 Kata
"Nara, kamu sudah sadar?" Inara mengerenyit sedikit bingung meski, suara-suara itu matanya masih sulit terbuka karena rasa pusing yang menekan kepala. Kemudian, tak lama penciumannya membaui sesuatu yang tajam membuat kelopak matanya terbuka. "Ukh, aku kenapa?" Semua orang yang di samping Inara menarik napas lega. Nadira yang paling dekat, segera memcoba membantunya untuk bangun dan duduk. "Baru saja kamu pingsan membuat semua yang di sini khawatir. Gimana perasaannya?" "Aku enggak ingat apa-apa," lirih Inara sambil lirik semua orang dan tersenyum tipis. "Ayo, pergi ke rumah sakit dulu," ujar Elvan tiba-tiba sambil berjongkok sedikit di bawah Inara yang berada di atas sofa. "Kamu harus diperiksa." "Tidak perlu," Tolak Inara, yang malah mengingatkan sesuatu. "Apa kalian menghubungi Mas Ravin?" Semua orang diam, saling menatap termasuk Elvan yang langsung memasang raut wajah dingin. Akhirnya takdir Allah yang berbicara. "Baru saja kamu pingsan belum lama jadi, kami belum sempat untuk menghubungi Mas Rafian." Inara menarik napas lega, "Baguslah, Mas Ravin sangat sibuk sekarang, kasian kalo harus ke sini." "Kasian, apa'an dia kan, suami kamu." Elvan berdiri mengeluarkan Smartphone-nya meski, dia sedang marah dan cemburu tetap saja dia harus menghubungi kakaknya itu dan mengetahui responnya. "Aku bakal hubungi Mas Ravin, suruh dia jemput dia kemari." "Jangan!" Inara hendak menolak dengan tangan terulur mencegah Elvan menelepon tetapi, segera pria itu membalikkan badan dengan smartphone yang sudah terpasang ditelingannya sedang menunggu panggilan terjawab. "Mas," panggilnya tanpa sapaan 'Halo.' Benar saja kurang dari setengah jam kemudian Ravin datang dengan raut wajah khawatirnya meski, awalnya menolak untuk tidak memberitahu Ravin tetapi, ketika pria itu datang Inara tahu hatinya masih sangat bahagia. Ravin langsung membawanya beristirahat di apartemen setelah Inara benar-benar menolak untuk pergi ke rumah sakit. "Sayang, kamu beneran gak mau ke rumah sakit? Kalo ada apa-apa sama kamu gimana? Kita pergi saja, Ok?! Di sana juga kamu bisa sekalian jenguk Jovanka. Aku udah bicara sama dia katanya dia mau minta maaf..." Inilah yang membuat Inara malas dan hampir memutar bola matanya sampai lepas karena yang berada di mulut Ravin akhir-akhir ini hanya nama wanita itu, Jovanka. Siapa istri yang tidak akan marah dan kesal jika, suaminya seperti ini meskipun, Ravin tidak pernah sekalipun melewatkan kata-kata cinta untuknya tetapi, rasanya tak cukup perhatiannya kini seringkali terbagi-bagi. Ravin melirik Inara, yang tidak menjawab pertanyaannya sama sekali dan malah diam, menatap keluar jendela. 'Sepertinya aku salah lagi?' ujarnya dalam hati menyesal sudah menyebutkan nama wanita lain padahal bukan begitu maksudnya. Dia juga ingin Inara bisa dekat dengan Jovanka, sebagai teman tentunya tetapi, pikirannya sepertinya terlalu naif. Padahal, saat Ravin meminta izinnya untuk tetap berteman baik dengan Jovanka, dia pikir Inara akan mencoba untuk berteman juga dengannya ."Sayang?" "Hm," balas Inara hanya dengan gumaman. Tetapi, Ravin masih memanggilnya berulang kali sampai membuat Inara kesal lalu, menoleh. "Apaaa--" Kecupan kejutan, Ravin baru saja menciumnya tepat di bibir lalu, segera kembali berkonsentrasi pada setir dengan senyum lebar dengan tangan yang tidak bisa menganggur, mengelus bibir Inara yang baru diciumnya. "Sayang, jangan sakit apalagi sambil marah- marah gitu." "Siapa,sih,yang marah," elak Inara dengan pipi merona."Aku gak marah, kok. Kenapa juga, aku harus marah." Ravin hanya tertawa mendengarnya sambil merentangkan tangannya memeriksan kening Inara memastikannya tidak sakit. "Untunglah tidak demam." Kembali ke apartemen Ravin memaksa Inara untuk beristirahat dan tidur dengan nyaman di kamar. Karena Ini masih waktu makan siang jadi, dia mau persiapkan makan siang yang terlambat untuknya dan Inara. Juga melupakan sejenak urusan di kantornya dan teman pasiennya yang terus memanggilnya di smartphone yang diabaikan Ravin karena kesibukkannya memasak. Kurang dari satu jam kemudian Ravin sudah membawa nampan yang berisi bubur dan beberapa lauk, sayur dan buah ke kamar. Inara masih tertidur, ravin meletakkan nampaknya di meja samping kasurnya. Kemudian memperhatikan istrinya yang sedang tertidur dibelai dan diusapnya rasanya tidak menyangka dia bisa mencintai wanita lain lagi setelah Jovanka. "Sayang, bangunlah." Inara bergumam bangun membuka matanya sedikit demi sedikit dan menguap lebar dia masih sangat mengantuk tetapi, melihat Ravin berada di depannya ia menjadi bahagia dan tersenyum puas. "Aku bangun, Mas." Hah, Ravin tidak tahan melihat wajah istrinya baru bangun tidur sangat menggemaskan membuatnya tidak tahan untuk tidak menciumnya dan berguling-guling di atas kasur bahkan, melupakan jika istrinya itu tengah sakit. "Rasanya Mas kangen banget sama kamu." "Eum, itu karena Mas sekarang terlalu sibuk," keluh Inara sambil sedikit mendorong bahu Ravin yang terus saja menciumnya diantara cerukkan lehernya. "M-mas." "Sebentar, Sayang! Mas terlanjur kangen sama wangi tubuh kamu," ujarnya jujur dan tanpa perlu menahan hawa nafsunya meski, awalnya Inara enggan tetapi dibawah pengatuh suaminya yang terkadang bisa sangat m***m, dirinya tidak bisa menolak. Di bawah kepuasan seperti ini Ravin tidak bisa tidak mengatakan jika baterai hidupnya terisi kembali tetapi, karena dia tidak bisa menahan lelah dan mengantuk tidak peduli belum membersihkan diri dia terlelap tidur. Sebaliknya Inara, harus berkacak pinggang melihat lawan mainnya tadi malah tertidur lelap. "M-mas," panggil Inara yang baru saja membereskan kekacauan mereka. Dia ingin menggoyangkan tubuh Ravin menyuruhnya bangun untuk membersihkan diri tetapi melihatnya seperti ini Inara mengurungkan niatnya. Ia membiarkan ravin untuk tertidur lebih nyenyak sebentar saja. "Huh,oke, hanya sebentar ya,Mas. Nanti aku bangunin lagi kanu." Putus Inara. Kemudian saat Inara berbalik, dia baru saja melihat nampan piring di atas meja nakas dengan makanan penuh dan lengkap. Inara menoleh pada suaminya gemas, setengah kesal. "Lihat semua jadi dingin, bukannya ngasih aku makan malah aku yang jadi dimakan." Akhirnya, Inara pergi lagi ke pantry untuk menghangatkan bubur dan lauknya, sekarang dia memang sangat lapar setelah melakukan olahraga Intens di siang hari. Duduk di atas meja makan sendiri, terasa masih sangat kesepian meski, tahu suaminya ada di dsla kamar. Berpikir seperti itu Inara merasa harus segera memiliki anak memikirkannya membuat dia tersenyum senyum membayangkan ada dua ravine di rumah ini. "Bahagianya jika, ada anak mungkin tidak skan terlalu sepi." Sampai suara getaran smartphone terdengar Lamunan Inara jatuh terberai dan melihat sekeliling. "Ini seperti bunyi hp Mas Ravin. Ditaruh di mana hp-nya?" tanya Nara sambil menoleh kesana kemari dan melihat tumpukan jas dan tasnya di atas sofa. Jadi, Inara segera mengeceknya takut-takut panggilan itu datang dari orang penting. Setelah melihat id si Penelepon. Inara tidak bisa bertahan dengan perasaan cemas dan kesal. Yah, ini orang penting tetapi, harusnya tidak sepenting dirinya. Mereka hanya sekadar teman sekarang tetapi, Jovanka terlihat tidak tahu diri dengan terus menyita waktu Ravin darinya jadi, segera Inara mematikannya tidak akan membiarkan wanita itu mengganggu waktu mereka berdua lagi. Di atas ranjang rumah sakit Jovanka menggeram kesal untuk kesian kalinya hari ini tidak bisa menghubungi Ravin mana sekarang tidak bisa lagi dihubungi, yang berarti Ravin sudah pasti mematikan smartphonenya. Kesal karena itu Jovanka melempar smartphone-nya sendiri tidak peduli itu akan hancur. "Jo, apa yang terjadi?" tanya Maria sangat terkejut mendengar suara benturan dan melihat smartphone yang sudah hancur di lantai. Dia mendesah dan segera membersihkan kekacauan tersebut. "Kamu kenapa?" "Ravin gak mau angkat telepon aku lagi, Ma," lirih Jovanka tanpa mau melihat wajah ibunya. "Kamu tahu jam segini Ravin masih bekerja, pasti sangat sibuk. Jangan terlalu mengganggunya." "Tapi Ravin tadi bilang dia mau ke sini." "Iya, dia pasti ke sini tapi, tidak sekarang." "Ngga, Mah," sanggah Jovanka, yang sekarang berani menoleh dengan tatapan tajam melihat Maria seolah musuhnya. "Tadi Ravin bilang akan ke sini menemaniku makan siang karena saat sore nanti dia tidak bisa datang tapi, sekarang .... bahkan, Ravin tidak menjawab teleponku." "Banyak hal yang harus diurusnya. Jangan seperti ini terus, juga jangan sampai Ravin terbebani. Mama jadi sedikit malu." Rasanya tidak tertahankan, marah, kecewa dan benci menjadi satu. Emosi seperti itu segera naik ke ubun- ubunya melepas emosi tersebut Jovanka hanya bisa meraung kesal sampai tak peduli jika, dia akan memicu kembali penyakitnya membuatnya terbatuk keras mengeluarkan batuk darah dan tak lama dari itu Jovanka segera kolaps terbaring di atas ranjangnya. Sekali lagi Maria harus berkeringat dingin ketika melihat putrinya jatuh pingsan entah, sudah berapa banyak tiap kali itu terjadi sungguh, hatinya menjadi keram seolah hampir mati rasa.  Takut jika, putri tercintanya tidak pernah bisa membuka matanya lagi. Bagaimana bisa dia hidup jika, putrinya sendiri tidak ada. "Ravin, aku harus menghubunginya. Jovanka, pasti akan segera baik-baik saja jika, Ravin ada di sisinya." Ravin yang tidak tahu, jika duo ibu dan anak itu terus menghubunginya sampai akhirnya setelah makan malam. Dia teringat dengan smartphonenya dan saat dinyalakan tidak salah lagi puluhan miss call dana pesan memenuhi layar. Sebelum Ravin memutuskan untuk menghubungi kembali Jovanka, tiba-tiba saja sambungan teleponnya segera berbunyi menampilkan Id 'milik Ibunya Jovanka dengan Ibunya. "Baiklah, Tante. Aku ke sana sekarang. Tante tenang saja ...berhenti khawatir percayakan semuanya pada dokter semua akan baik-baik saja." Setelah buat mendengarkan Rafian yang membesarkan hatinyanya. Maria menutup sambungan teleponnya sambil tidak lupa Mengingatkan untuk menyuruhnya datang. Dengan seperti itu Ravin pun berjanji tetapi, yang tidak disadarinya Inara sudah berdiri tepat di belakangnya dengan tangan terlipat. "Kamu mau pergi ke mana?" Ravin sedikit gugup karena melihat tatapan Inara yang tidak biasa. Dengan lembut dia meraih tangan Inara hendak dibawanya untuk duduk tetapi, ditolak Inara dengan cara menghempaskan tangannya penuh emosi. Tidak sampai sana Ravin bisa melihat jika, matanya mulai memerah jelas akan menangis. "Sayang, duduk dulu. Aku akan menjelaskannya ...." "Aku gak mau dengar!" teriak Inara marah dan berbalik menuju kamar hanya untuk membanting pintu sampai tertutup. Ravin terkejut bukan main tiba-tiba saja Inara jadi, begitu marah dan dia bingung apa yang harus dilakukan untuk membujuknya lagi sedangkan, saat ini ... Jovanka juga sedikit penting. Dilihatnya kembali smartphonenya yang tergeletak di sofa lalu melihat pintu kamar yang tertutup. Menghela napas sambil menyugarkan rambutnya karena frustrasi, dia berlari ke arah pintu kamar hanya untuk disadari pintu itu terkunci dari dalam. "Sayang, buka pintunya," pinta Ravin sambil sesekali diketuknya pintu tersebut. "Nara, aku udah pernah bilangkan sama kamu. Aku udah gak punya perasaan apapun sama Jovanka semua yang kulakukan saat ini ... sungguh, hanya karena rasa kemanusian aja. Jangan marah, aku sudah sering ajak kamu buat ketemu dia. Dia sakit dan mungkin sewaktu- waktu dia bisa saja meninggal." Di dalam kamar Inara menutup telinganya dengan bantal tidak mau mendengar semua alasan Ravin. Dia tahu Ravin tidak lagi Mencintai wanita itu tetapi, tentu saja semua perhatiannya yang diberikan wanita lain, tentu saja membuat dirinya cemburu. Gila saja jika, dia tidak marah. Apa mereka pikir hatinya terbuat dari emas atau sayap para malaikat yang begitu sabar. "Sayang," panggil Ravin lagi. "Pergi aja, Mas! Pergi! Terserah Mas mau pergi ke mana?! Tapi, jangan harap aku masih di sini saat kamu pulang!" teriak Inara melepas bebannya. Mendengar ancama Inara tentu saja Ravin kewalahan, apa dia masih bisa berani pergi. "Aku janji, Sayang gak akan pergi tapi, buka pintunya." "Nggak! Tidurlah, diluar sana." Ravin menghela napas, mendengar ucapan Inara. Yang bisa dia lakukan hanya berbalik ke ruang tengah lagi dan meringkuk sendiri sambil mengetik pesan pada Marià. Benar-benar tidak berani untuk mencoba memancing kebencian Inara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN