Awalnya Ravin benar-benar tidak ingin pergi tetapi, ketika mendapatkan pesan kembali dari Maria yang mengatakan jika Jovanka sedang berada dalam rawatan intensif dan mungkin saja akan terjadi koma pada pasien. Hatinya menjadi resah salah-salah dia menyesal jika tidak pergi sekarang. "Bagaimana ini?" Tanyanya bingung pada diri sendiri sambil lihat pintu kamar, yang ditutup Inara.
Ravin melihat jam dinding, masih tidak terlalu malam. Berjalan ke pintu kamar Raffi mencoba mengetuk pintu memastikan jika, ingin ada memang sudah tertidur. Tidak ada suara atau pun balasan ketika dia memanggilnya dengan suara pelan. Entah harus sedih atau senang saat ini karena, Inara sepertinya sudah benar-benar tertidur. Menarik napas berat, Ravin terpaksa memutuskan langkahnya meski, agar dia tidak dibuat menyesal oleh pilihannya.
Meskipun begitu dia juga takut dengan kecemburuan Inara, dan berjanji dalam hati jika dia tidak akan berlama-lama dan hanya memastikan keadaan Jovanka saja lalu, segera pulang kembali sebelum Inara sadar jika, dia pergi nanti. Sebelum benar-benar pergi Ravin berkali-kali memastikan Inara tidak tiba-tiba keluar kamar, berkali-kali kepalangan berbalik sedikit takut dan gugup.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit karena jalanan yang sedikit lenggang di malam hari. Seolah sudah terbiasa Ravin segera menuju ruang perawatan di mana Jovanka sedang dirawat. Di sana, dia melihat ibu Jovanka Maria dan Harris sedang duduk menunggu melihatnya kedua orang tua itu langsung berdiri dan tersenyum lesu melihatnya nya penuh syukur.
"Nak, terima kasih sudah datang. Sungguh merepotkan menyuruhmu datang kemari, "ujar Haris sambil menepuk bahu Ravin.
"Tidak masalah, Om. Lagipula ini untuk Jovanka? Tidak mungkin saya tidak datang jika dibutuhkan," balas Ravin dengan senyum menenangkan, lalu melirik Maria yang masih menunduk air mata. "Tante, Jovanka pasti masih bisa bertahan. Mari kita berdoa saja untuk kesembuhannya."
Maria melihat rafin tersenyum kecut tetapi tetap mengangguk berharap benar-benar Putri nya masih bisa bertahan meski kecil kemungkinannya tetapi sepertinya doa dari kemungkinan kecewa ini masih terpenuhi. Seorang dokter baru saja keluar dari ruang perawatan Jovanka dengan nafas lega membuktikan Jika putri mereka masih bisa diselamatkan.
"Dokter!" Panggil Maria seolah Tengah menyambutnya dan berjalan mendekat diikuti oleh Ravin dan Haris.
"Sekarang sudah baik-baik saja tapi, kalian tidak bisa menemuinya sekarang. Tunggulah sampai besok," ucap sang Dokter.
"Terimakasih, Dok. Terimakasih," balas Maria penuh haru dan syukur, sampai air matanya pun tak bisa dibendung. Sungguh dia takut jika putrinya tadi itu benar-benar akan pergi darinya.
"Sekarang Ibu bisa istirahat lebih dulu kesehatan keluarga pasien juga sangat penting. Di sini, biarkan perawat yang menjaga pasien." Nasehat sang dokter kemudian dia juga berlalu pergi setelah menyelesaikan tugasnya.
Bukan hanya Maria dan Haris yang lega tetapi juga Ravin. Namun, sayang saat ini sepertinya dia benar tak bisa melihat Jovanka jadi di, tidak ada keperluan lain lagi yang bisa dia lakukan selain pulang dan dan berharap Inara benar-benar tidak mengetahui kepergiannya ini membuatnya sedikit Tak sabar untuk segera sampai di apartemennya.
Melirik jam tangannya, sudah saatnya dia pergi dan berpamitan."Om, Tante karena saat ini saya tidak bisa langsung menemui Jovanka sepertinya saya harus pulang terlebih dulu tapi, jika Om dan Tante merasa sangat kelelahan butuh tumpangan untuk pulang. Saya tidak keberatan untuk mengantarkan kalian terlebih dulu."
"Nak Ravin tidak perlu repot-repot tapi, terima kasih sudah bersedia datang kemari, kami sangat menghargainya," ucap Haris.
Maria mengusap air matanya berjalan ke arah Ravin dan menggenggam tangannya. "Vin, boleh Tante minta sesuatu sama kamu?"
Ragu. Hal itulah yang pertama yang dirasakan ravin ketika mendengar pertanyaan Maria tetapi, dia tidak bisa berburuk sangka jadi Ravin mau tak mau hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. "Yah, Memangnya apa yang Tante minta jika itu sesuai kesanggupan saya, tentu saja tidak ada keberatan."
Maria menarik rafin untuk duduk di bangku yang tersedia terlebih dahulu. Hari sedikit tidak mengerti tetapi dia mengikuti langkah Maria dengan duduk disampingnya. Tangan Ravin masih digenggam Maria, sebenarnya Maria pun tampak ragu untuk berbicara Tetapi dia teringat kembali dengan putrinya Jovanka yang sedang terbaring sakit jadi dia menguatkan dirinya membuang rasa malunya.
"Tan ...." Ravin tidak melanjutkan lagi perkataannya melainkan berusaha untuk melepaskan tangan yang digenggam lalu, tersenyum lembut. "Tante bisa bicara dengan tenang, silakan saja! Tidak apa-apa."
Maria mendongak, menatap mantan calon menantunya. Sungguh penyesalannya juga besar saat ini, tidak bisa menjadikan Ravin sebagai menantunya. "Vin, mungkin umur Inara tidak akan lama lagi entah sampai kapan dia bisa bertahan untuk itu Tante mohon bisakah kamu menemani hari-hari terakhir Jovanka?"
"Tentu saja, Tante. Bukankah hari-hari ini saya juga menemani, Jovanka? Tapi tentu saja tidak mungkin setiap waktu saya bisa menemaninya."
"I-iya," sahut Maria masih dengan pandangan ragu dan gugup tetapi, berkat tangan sang suami yang jatuh di pundaknya Maria menguatkan tekadnya. "Mungkin ini keterlaluan tapi bisakah kamu lebih memprioritaskan Jovanka dibandingkan yang lain."
"Maksudnya?" tanya Ravin cukup terkejut dengan pernyataan Maria tersebut. Bagaimana dia bisa lebih memprioritaskan Jovanka sedangkan tentu saja istrinya sebagai yang utama juga pekerjaannya adalah hal penting lainnya. "Maaf tapi prioritas seperti apa yang yang harus saya lakukan? Dan, dari hal apa saya harus memprioritaskan Jovanka?"
Pikiran Maria sudah ingin menyebut hal-hal tersebut dengan jujur dan gamblang tetapi, jika Ravin tidak menerima pernyataannya. Bukan hanya dirinya akan dibenci tetapi, juga Jovanka yang lebih mungkin akan ditinggalkan di waktunya yang tak banyak tersisa ."Bisakah jika, Tante bilang untuk ...prioritaskanlah Jovanka dari hal apapun dan siapapun."
"Itu gak mungkin," jawab lugas ravin pada Maria. "Aku sudah memiliki istri yang sudah menjadi tanggungjawabku dan dialah yang harus--"
"Tante tahu itu t-tapi ...hidup Jovanka tidak akan hidup lama lagi," ucapnya dengan penuh rasa kesakitan tidak bisa terbayang baginya harus kehilangan putrinya nanti.
Ravin tidak bisa menjawabnya dan meski, memang benar hidup Jovanka tidak lama lagi memang haruskah seperti itu. Beberapa minggu ini saja, dia meluangkan waktu untuk menemani Jovanka, Inara sudah sangat marah dan protes apalagi jika, sekarang dia harus melebih-lebihkan waktu untuk Jovanka. Setelah cukup lama berpikir Ravin akhirnya membuka suaranya lagi, "Tante, sepertinya saya dia tahu bagaimana cara memprioritaskan Jovanka dibanding yang lain tetapi, saya akan mencoba meluangkan waktu lebih lama untuk bisa menemani Jovanka dan menghiburnya."
Mendengarnya Maria merasa cukup puas, dia tidak bisa menuntut banyak bagaimanapun Ravin memanglah orang luar, sebatas mantan calon menantunya yang masih sangat menghormatinya sebagai orang tua. Begitu juga pada Jovanka, Ravin hanya bertindak sebagai teman karena dengan jelas dia membatasi dan memberikan cara bagaimana seorang pria dan wanita bisa berteman. Tidak pernah berlebihan untuk menghibur Jovanka hanya memastikannya untuk makan dan minum obat untuk soal berbincang dia melakukannya dengan sekadarnya.
**
Ravin pulang cukup larut malam meskipun, dia sudah berusaha untuk tidak pulang larut. Sayang waktu memang berlalu sangat cepat sehingga tidak terasa sehingga, rafinha hanya bisa berdoa dan berharap jika Inara tidak terganggu sama sekali dan masih tertidur lelap di ranjang mereka. 'Harusnya tadi aku cepat-cepat pulang," keluh Ravin yang berjalan cepat dikoridor tidak ingin membuang waktu lagi untuk segera tiba di apartemennya.
Dengan jantung berdebar Ravin membuka pintu secara perlahan dan hati-hati. Saat memasuki apartemen suasana tampak masih seperti saat dia pergi jadi, Ravin berpikir Inara masih tidur yang membuatnya bernapas lega.
Sayang, baru saja tiga detik berlalu ketika dia berpikir seperti itu. Ravin harus dikejutkan dengan semua lampu di ruang apartemennya yang menyala tiba-tiba.
"Sudah pulang?" tanya Inara dengan sangat dingin.
Ravin mencoba memasang wajah tersenyum dan segera berlari menuju Inara yang duduk di sofa. Ravin ingin mencuri ciuman tetapi, segera Inara menghindar dan bahkan mendorong bahunya untuk menjauh, yang membuatnya malah terjengkak ke belakang. "Aww!" jerit Ravin
"Sayang, aku barus saja pulang dar--"
"Aku gak butuh alasan Mas Ravin, yang nyatanya memang pergi keluar. Aku sangat kecewa dan masih gak percaya kalo Mas Ravin tega- teganya lebih memilih untuk tetap datang meskipun, sudah kularang."
"Dia sakit, Sayang. Akuè juga tèidak mungkin tega untuk tidak datang ...." Ravin menghentikan kata-katanya karena Inara baru saja beranjak dari Sofa tanpa mau mendengar kata-kata Inara. Selanjtunya.
Ravin ingin mengejar Inara tetapi, langkah Inara lebih cepat dan membuatknya sekali lagi terhantam oleh pintu kamar yang setengah dibanting Inara. Tampangnya segera menyusut suram, bagaimana Inara melakukannya lagi padanya. "Nara, maafin aku, Sayang?! Sebelumnya, aku hanya sangat tidak bisa diam saja setelan."
Di dalam kamar indera berikut menyelimuti tubuhnya dengan selimut untuk menutupi telinganya untuk tidak mendengar kata-kata Ravin. Menara sebenarnya juga tidak ingin marah Tetapi, entah kenapa dia juga tidak bisa menahan emosinya apalagi tadi ketika dia ingin melihat tidak ada di sofa. Pikirannya sangat kacau saat ini bahkan, bermimpi untuk laporan berantakan ruangan kamar ini beruntungnya dia tidak mampu jadi, Ravin cukup bisa bernapas lega dengan hal itu terjadi.
Mencoba yang terbaik Ravin masih dengan rajin membujuk Inara sampai dia lelah dan berjalan ke sofa di mana kali ini dia bisa melihat selimut dan bantal yang sepertiny dipersiapka untuknya. Harusnya memang seperti itu tetapi, berbeda hati Ravin terenyuh dan berbuah penyesalan dihati sebaliknya.
"Inara pasti yang membawakannya untukku tadi, sebelum melihatku yang pergi," ujar Ravin seraya melepas jam tangannya dan bersiap berbaring di sofa mencoba membiasakan diri agar bisa nyaman. "Maafin, Mas ya, Sayang. Mas janji gak bakalan nyakitin perasaan kamu tetapi, saat ini seperti Mas nyakitin hati kamu," ucapnya lirih dan lelah.
Menatap atap langit kamarnya juga pintu yang lagi-lagi tertutup rapat Ravin mendesah sedih. Dia sungguh takut memikirkan bagaimana jika, Apa yang dilakukannya pada Jovanka dengan hanya sekadar menjenguknya dan tak lebih tetapi, malah menimbulkan masalah dia dan Inara di masa depan. Apa hal itu layak untuk dilakukan dan tidak mengorbankan hubungannya bersama Inara. "Aku harap tidak. Ini hanya masalah kemanuasiaan. Yah, seharusnya tidak akan menjadi masalah lebih besar," ujar Ravin berbicara sendiri dengan sebuah desahan panjang sambil menutup matanya untuk tidur dan memasrahkan kelanjutan perang dingin bersama Inars di esok hari.