Tuk!
Rasa dingin menyentuh kening Inara yang sedang melamun, diliriknya itu hanya segelas minuman dingin tepat depan matanya menghalangi siapa si pemberi. Diambilnya gelas dingin itu tanpa menyebutkan apa-apa dan sepertinya dia juga sudah bisa menebak, Elvan.
"Bagaimana? Aku membelinya di tempat kesukaanmu," ujarnya sambil duduk di depannya.
"Hm, enak," jawabnya seadanya seolah tidak terganggu dia pun melanjutkan gambar sketsa pakaiannya.
Elvan sudah ingin membuka mulutnya lagi, ingin berbicara lagi tetapi, tampak Inara enggan untuk menanggapinya. Akhirnya, dia hanya bisa mendesah dan tidak mengatakan apa-apa meski, tidak juga beranjak pergi. Melihatnya seperti ini saja sudah senang. Yah, mau bagaimana lagi sekarang Inara bukan miliknya. Mengingat hal itu langsung saja Elvan merasa patah hati lagi.
"Aackh!" Jerit elephant nyeri merasa telinganya ditarik dengan cukup keras. "Sakit, Dir-Dira. Lepasin gak?!"
Nadira mendengus keras lalu, melepas jewerannya. "Kamu ngapain ke sini, sih?" tanyanya penuh dengan nada risih melihat Elvan dan Elvan lagi dalam beberapa hari ini. Pria ini jadi, seringkali datang tanpa alasan yang jelas dan seringkali lebih mengganggu meski, dia hanya diam saja.
"Memangnya kenapa aku gak boleh ke sini?" balas Elvan dengan pertanyaan lain sambil mengusap kupingnya yang memerah.
Bola mata Nadira bermutar malas menghadapi pertanyaan yang tidak berbobot pikirnya. "Sadar sendiri lah masa aku harus jujur banget sama kamu."
Elvan terdiam tetapi tangannya terulur menyentuh rambut Nadira dan mengusapnya lembut. "Coba aja kamu jujur apa salahnya jujur sama aku? "
Tangan Nadira menepuk dadanya menahan kesabaran dari tingkah dan ucapan Elvan yang selalu membalikan segala ucapannya. Jika, sudah seperti ini terkadang Nadira tidak mengerti apa mau Elvan ini meski, sangat jelas diam-diam sebenarnya Elvan mencari kesempatan untuk dekat kembali dengan Inara. Dan, sebenarnya Nadira juga tidak keberatan jika, memang itu terjadi Tetapi bagaimana dengan Inara sendiri dan juga ravin suaminya jika benar adanya Bukankah itu hanya merusak kebahagiaan mereka saja.
"Ya, sudah terserah kamu aja, Van." Malas Nadira akhirnya menyerah berbicara dengan Elvan. Dan, baru saja disadarinya ada seseorang yang sedari tadi belum bisa berbicara apapun. "Nara, ada apa?" tanya Nadira yang bisa melihat jika, ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya.
Indra menghentikan pekerjaannya lalu dengan sudut matanya dia hanya melirik Nadira dan dan Elvan lalu, menggeleng tidak mengatakan apa-apa. Yang kini bersarang dalam pikirannya adalah tentang Ravin, juga Jovanka yang tampaknya mulai mengusik rumah tangganya. Dalam hatinya Inara sangat resah tetapi, dia tidak bisa meluapkan perasaannya karena berkali-kali terngiang ucapan nabi yang mengatakan jika pria itu hanya mencintainya dan sikapnya pada Jovanka hanyalah sebatas teman yang bersimpati tidak lebih dan itu juga berdasar pada rasa kemanusiaan.
'Sayang, Aku tidak akan pernah menikahimu jika, aku memang masih mencintai Jovanka kan, kejar saja dia bertahun-tahun yang lalu dan kenapa harus sekarang?' ucap Ravin seraya menangkup wajah Inara dengan kedua tangannya tak, lupa dikecup juga bibirnya. 'Apa sekarang dia lebih baik darimu tidak kan? Inara kamulah yang sekarang menjadi istriku masa depanku ada bersamamu. Jovanka hanyalah masa lalu dan perhatianku hanya sementara, entah kapan dan berapa banyak waktu lagi yang dia miliki di dunia ini.'
Mendengar semua pernyataan itu Inara hanya bisa terdiam dan membenarkan kata-kata Ravin saat itu, sungguh jika dipikirkan lagi tetap saja hal ini ini membuatnya sedikit menyesal dan kesal. Bagaimana pun akhirnya dia malah harus bersaing mencari perhatian suaminya sendiri dengan wanita lain yang lemah secara fisik dan menjadikannya alasan yang kuat membuatnya juga jadi, sulit untuk menyentuhnya.
'Dasar, sialan memang!' Geram Nadira dalam hati dan tanpa disadarinya dia sudah mengepalkan tangan sangat kuat membuat dua orang lain di depan menjadi terkejut karena perubahan suasana hati Inara yang begitu cepat.
"Nar-Nara? Kamu baik-baik saja kan?" Nadira segera menyentuh tangan Inara yang terkepal erat di atas meja. Tidak begitu mengerti apa yang memicu suasana hati sahabatnya ."Tenanglah! Tarik napasmu pelan-pelan lalu hembuskan.
Inara segera mengikuti intruksi Nadira dan pikirannya bisa sedikit lebih tenang. "Terimakasih, Nadira. Sekarang rasanya sudah lebih baik."
Tiba-tiba saja Elvan tidak ingin kalah langkah dengan Nadira. Dia menggenggam kedua tangan gadis itu. "Jika ada kekhawatiran kalian juga bisa berbicara denganku. Aku selalu ada untuk kalian."
Bulu kuduk Inara dan Nadira tiba-tiba saja berdiri mereka segera melepaskan diri dari genggaman tangan Elvan. Bahkan, Nadira sudah melemparkan pukulan ke bahunya dengan pandangan jijik. "Jangan menyentuh tangan perempuan sembarangan apalagi, menyentuh tanganku."
Elvan tampak tak terima mengelus bahunya yang dipukul Nadira Meskipun tidak terlalu keras tetapi, masih itu terasa sakit. "Memangnya kenapa?"
"Jangan hanya bertanya kenapa? Atau aku akan memukulmu. Berpikirlah sendiri siapa kamu?"
"Kamu, cuman berani memukul dan menampar . Apa itu yang dilakukan seorang wanita? Apa kamu masih gak ingin punya kekasih? Mana ada cowo yang mau sama cewe yang kerjaannya kayak algojo."
Rasanya telinga Nadira jadi sangat gatal, belum lagi masih yang tiba-tiba memuncak. "Yah, tenang aja aku juga nggak butuh cowok lemah, kok apalagi cowo plin-plan yang bisanya nangis dipojokan terus beraninya ninggalin calon istrinya di pelaminan," sindir Nadira tanpa belas kasih.
"A-aku ...." Kapan tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena terlalu kesal tangannya terkepal menatap Nadira dengan tajam bagai bilah pisau yang tajam. Namun, sesaat yang lain dia teringat pria yang dibawa Nadira sebelumnya dan ingin menyodok titik sakitnya. "Dan, kamu Nad jangan pikir ada cowo suka sama kamu, yang cuman bawa motor itu bisa bener-bener jadi cowo yang baik juga."
Brakk-
Telapak tangan Nadira menyentuh keras meja kayu, dengan tatapan penuh kemarahan dia menunjuk Elvan dengan jarinya sendiri. Penuh kesal dan marah, Nadira berkacak pinggang memprotàá kasar, "Kenapa kamu bawa-bawà materi, pads segala."
Inara sedikit menatap aneh pada dua orang di depannya, yang sedang bertengkar. Tidak seperti biasanya, biasanya mereka akan tampak sangat harmonis tidak pernah ada pertengkaran dan malah biasanya tampak segan hanya saling menghormati di antara teman Lalu, kenapa rasanya sekarang tiba-tiba berubah. "Kenapa pertengkarannya jadi, seserius ini?"
Elvan dan Nadira yang hendak kembali saling berbalas tiba-tiba, menjadi malu dan berwajah merah kemudian saling memalingkan wajah. Inara hanya bisa menghela napas melihat tingkah keduanya yang seperti ini Inara teringat pertengkarannya sendiri dengan Ravin. Apa mereka jadi sejelek ini ketika bertengkar.
"Nara, hey, kamu melamun?"
"Akh, ya, kenapa aku jadi melamun lagi?"
Nadira menjadi menghela napas melihat Inara yang lebih suka melamun tetapi, saat tanpa sengaja tatapannya berpaling dan melihat Elvan keduanya saling memalingkan wajah. Tidak ada dendam, Hanya mereka tidak menjadi tak nyaman untuk saling memahami.
Sebelumnya, tak pernah mereka dalam situasi seperti ini. Keduanya adalah teman ya, sebatas teman yang tidak pernah mencoba untuk mencampuri urusan masing-masing tetapi, Berapa waktu itu hubungan keduanya tampak lebih berbenturan dibanding masa lalu.
Hal inilah yang membuat Elvan menjadi jauh peduli pada Nadira orang yang pernah dibuatnya jatuh cinta dan jatuh dalam kebimbangan sampai menghancurkan pernikahannya sendiri. Dan Nadira wanita yang sebelumnya selalu tampak tak acuh pada sekitar ternyata seorang pemikir keras, yang kokoh tak goyah diterpa angin. Meski sudah jelas Elvan jatuh cinta padanya tetapi Nadira berani menolak hanya berpikir dia adalah sahabat kekasihnya.
Di sore hari. Nadira yang sudah siap-siap untuk pulang dibuat terkejut ketika Inara yang biasanya selalu sama bersemangatnya ketika datang dan pulang kerja, terutama ketika dia sudah menikah sekarang tampak lesu tidak bersemangat. Membuatnya curiga jika memang indah memiliki masalah dengan suaminya a.ka Ravin.
Sebagai sahabat sebenarnya Nadira tidak ingin selalu menjadi orang yang ikut campur dalam urusan Inara, terlebih dengan urusan rumah tangga itu sudah jauh dari jangkauannya tetapi, melihatnya yang murung dan sering melamun. Nadira menjadi ikut tidak bahagia karenanya.
"Inara, kamu baik-baik aja, kan?"
Inara mendongkak tersenyum dan sedikit mengganggu. "Baik-baik aja, kok. Memangnya ada apa?"
"Mas Ravin jemput kamu,kan? Kamu kan belum sehat bener?" tanya Nadira lebih karena penasaran. Tetapi, melihat dari diamnya Inara yang tidak menjawab membuat Nadira membuka mulutnya lagi untuk berurusan dengan suami sahabatnya. "Huh, awalnya aja Mas Ravin itu perhatian banget, ya, kenapa ke sini-sini dia malah jarang sekali ngurusin kamu, Nara."
Inara menoleh, menatap Nadira cukup lama kemudian mebdesah. "Mas Ravin masih sangat baik dan perhatian ,kok, hanya saja banyak hal yang membuat perhatiannya terpecah belah gak cuman ngurusin aku aja jadinya."
"Jadi, lagi-lagi karena kurang perhatian--"
"Nad..., udah ya ,jangan ngomongin lagi itu ya," sela Inara benar-benar lesu dan tidak punya semangat untuk membicaraka perihal suaminya.
Nadira segera memberi isyarat mengunci mulutnya dan tidak mengatakan apapun lagi sampai mereka berada diluar pintu butik dan melihat dua pria tinggi itu saling berhadapan. Elvan dan Bagas entah sejak kapan berada di sana. Bahkan, ini untuk Elvan yang sebelum makan siang tadi kemari.
"Kalian berdua sedang apa di sini?"
"Aku mau jemput kamu, Nad."
"Heh, kamu pikir Nadira mau terus diboncengin terus? Bisa-bisa dia gosong atau malah sakit karena panas dan hujan naik motor kamu terus," sahut Elvan pedas. "Nadira, Inara ...ayo, pulang aku akan mengantar kalian sampai di rumah dengan selamat."
Nadira menggeleng, dia berjalan ke sisi Bagas jelas mereka punya janji. Untuk Inara kali ini dia tidak punya keluhan pada Elvan si adik iparnya hanya saja dia juga bawa mobil jadi tidak perlu untuk diantar pulang tetapi, melihat wajah Elvan yang berubah muring mendengar penolakan Nadira. Inara jadi berpikir lagi, terlalu kasian bagi pria tampan sepertinya yang terus ditolak. Lagipula, Elvan sudah pernah menyebutkan dirinya sebagai adik iparnya seharusnya tidak perlu ada gosip lain yang bisa menimbulkan masalah.
"Ayo, Van pergi. tapi, Dira--"
"Aku mau bareng Bagas." putus Nadira tanpa sedikitpun melirik Elvan.
'Apa dirinya terlalu serakah?' terang Elvan dalam hatinya, yang berengseknya seperti itu. Karena dia gak bisa melihat entah itu Inara ataupun Nadira bersama pria lain, hatinya masih bercabang dua dan jelas tak ada lagi yang mau sama dia karena ini.