"Kenapa gak mau makan?" Baru saja Ravin tiba dan mendengar kabar jika, Jovanka tidak mau makan padahal, jelas tubuhnya sudah sangat kuyu dan pucat dengan beanie menutupi rambutnya yang sudah rontok dan berjatuhan di mana-mana, bola mata hitam yang membuat cekungan besar di matanya, bibirnya yang dulu merah dan mengkilat kini, jauh berbeda itu sangat kering dan pecah belah. Sudah sangat seperti itu tetapi, Jovanka masih ingin menyiksa diri tidak tahu apa yang diinginkannya.
Bibir Jovanka tanpa sadar tersenyum melihat pada Ravin yang baru saja masuk. Ravin melepas jas dan tas kantornya menyimpannya di atas sofa. Lalu, berjalan kearahnya sambil menggulung tangan kemejanya. "Jangan hanya tersenyum tapi, cobalah makan."
Maria yang berada di samping ranjang ikut menghela napas. "Dengar itu, cobalah makan meski sedikit saja."
"Mah," lirih Jovanka dengan tatapan tidak berdaya.
"Kalau begitu coba biar saya saja yang menyuapinya, Tan." Ravin menawarkan diri. Tanpa keberatan Maria memberikan piring makan Jovanka padanya.
"Makasih, ya, Vin. Maaf, terus ngerepotin kamu." Lalu, Maria menoleh pada Jovanka. "Sekarang, Ravin sudah ada di sini jangan manja lagi nurut."
Kemudian, Ravin menggantikan tempat duduk Maria. "Nah, ayo, sekarang makan!"
"Aku bener-bener gak mau makan, Vin."
"Sedikit saja, ini tidak akan berat kunyah pelan-pelan saja kalau memang ingin muntah. Muntahkan saja."
Jovanka tetap menggeleng, menolak dan menutup mulutnya. Rasanya semua makanan dimulutnya terasa pahit sudah seperti obat. "Boleh aku makan buat stroberi saja," ujar Jovanka teringat buah asam manis itu yang mungkin bisa meredakan rasa masam di mulutnya.
Ravin maupun Maria tidak lagi menolak jika, memang Jovanka maunya hanya makan buah dan benar saja Jovanka bisa memakan beberapa butir buah stroberi tetapi, tetap tak mau menikmati makan malamnya membuat Maria tidak tahan padahal sebentar lagi waktunya minum obat. Karena Ravin tidak tahan juga, dia ikut membujuknya dengan sedikit memaksa.
"Apa aku tidak perlu ke sini lagi, ya? Percuma juga rasanya, teman yang kurawat hanya tidak ingin sembuh harusnya aku tidak perlu repot-repot kemari, kan?"
Rona wajah Jovanka segera berubah buruk, menarik tangan Ravin yang sudah akan beranjak bangun. "Oke, aku akan mencoba makan. Jangan pergi!"
Inara membuka mulutnya dan mengunyah makanannya dengan penuh perhatian sambil pandangannya yang tak lepas dari Ravin terlebih dulu. Jauh dalam hatinya sebuah penyesalan menggunung membengkak karena tidak bisa memiliki pria didepannya seutuhnya. Sungguh jika bisa dia tidak ingin membuatnya pergi tetapi dulu dialah yang membuat lelaki ini pergi jika saja tidak mungkin semua akan lebih baik dalam hidupnya tanpa penyesalan.
"Kenapa? Ada apa diwajahku?"
"Gak ada apa-apa. Cuman kamunya yang ganteng banget ..bikin aku terus terpesona sampai rasanya gak rela buat berpaling."
"Hm, gak nyangka ternyata bisa gombal juga," sahut Ravin datar. "Tapi, sayangnya kamu harus segera berpaling. Akunya udah ada yang punya."
Mendengar jawaban Ravin yang seperti itu senyuman Jovanka luntur sudah meski, jauh di dalam hatinya dirinya sadar tidak mungkin lagi bisa memiliki Ravin dengan kehadirannya di sini sudah seharusnya membuatnya cukup bahagia. "Bagaimana kabar Inara? Apa tidak masalah suaminya malah berada di sini?"
"Tentu saja dia marah besar tapi, aku selalu memberi pengertian padanya jika yang kunjungaku ini hanya karena kita adalah teman lama," Jawab Ravin dengan senyum yang tenang.
Jawaban Ravin yang seperti itu malam terasa seperti menonjok ulu hatinya, sungguh sakit membuatnya tidak bisa menelan makanannya. Beruntungnya Maria sudah meninggalkan mereka hanya berdua jika, dirasa bukan hanya dirinya yang akan terluka ibunya mungkin menjadi lebih khawatir.
Setelah beberapa waktu berlalu tidak ada banyak yang mereka bicarakan, Ravin juga sudah seringkali melirik jam tangannya seolah sudah tak sabar ingin pergi. Jovanka pun tidak punya alasan untuk menahannya lebih lama.
"Kamu sudah ingin pulang?"
"Yah, ini sudah cukup malam. Kamu juga sudah harus pergi istirahat," ucap Ravin sambil beranjak bangun.
"Tapi, Vin. Kamu baru saja sebentar di sini." Tiba-tiba dari ujung sofa Maria berujar, "Kamu juga belum makan malam. Papa Jovanka sebentar lagi datang, dia bawa makan malam untuk kita."
"Terima kasih Tante tapi sepertinya tidak perlu saya bisa makan malam di rumah," sahut Ravin sudah menenteng tas serta jas-nya.
Tidak ada yang bisa menahannya, Ravin pulang dengan sedikit tergesa. Berharap Inara tidak lebih marah dari sebelumnya, hanya karena dia datang sedikit terlambat meski, dia sudah meminta izin dan Inara mengizinkan tetap saja dia masih khawatir jika, perasaannya tidak benar-benar jujur.
Memikirkannya lagi sebenarnya Ravin sangat menyesal, bagaimana bisa dia bisa tega meminta hal itu pada istrinya.
Untuk membuat perasaan Inara lebih baik, Ravin berinisiatif membeli sebuah cake kesukaan Inara meski, tidak ada perayaan yang harus dirayakan tak lupa dia juga membeli bunga. Melihatnya sudah berada di kursi sampingnya senyum puas terukir di bibir Ravin. "Waktunya pulang, semoga istri cantikku bisa tersenyum bahagia lagi."
Tidak bisa dipungkiri sejak, dia memberikan sedikit waktunya untuk Jovanka senyum indah Inara tidak lagi terpancar tulus membuatnya berkali-kali khawatir jika, tidakannya memang salah tetapi, lagi-lagi Ravin selalu teringat sosok Jovanka yang lemah dan tidak lagi memiliki waktu yang panjang. Mendesah sedih dan merasa serba-salah Ravin semakin menarik kecepatan mobilnya untuk segera sampai ke apartemen tetapi, apa yang dilihatnya ketika sampai di lobi utama adalah pemandangan yang tidak menyenangkan.
"Aku anter kamu sampai ke atas, ya?"
Inara menoleh, menatap Elvan dengan wajah datarnya. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lebih baik kamu pulang sekarang."
Elvan yang memang sudah keluar dari mobil berlari sedikitmemutar untuk sampai di tempat Inara. "Aku tahu Mas Ravin masih belum pulang dan kamu sendirian ... janji! Aku gak bakal ngapa-ngapain cuman nemenin kamu sampai Mas Ravin pulang."
Inara memutar bola matanya malas dan berjalan melewati Elvan. "Pergi sana, cepat pulang dan hati-hati di jalan," ucap Inara tanpa menoleh tetapi, Elvan tetap tidak senang dan malah menahan tangan Inara sampai berbalik agar berhadapan dengannya. "Aku khawatir sama kamu, Inara."
"Lepas, Elvan!" Tiba-tiba saja Ravin sudah berdiri di antara mereka dan dengan kuat menghempaskan tangan Elvan lalu menatapnya dengan tajam. "Pulang sana! Makasih udah anter istri Mas tapi, lain kali jangan sambil pegangan tangan."
Elvan hanya bisa menggeretakkan giginya kesal dan berbalik pergi penuh emosi tetapi, langkahnya terhenti begitu saja dan kembali berbalik. "Mas Ravin! Kalau kamu berani menyakiti Inara, aku tidak akan membiarkannya dan kupastikan merebutnya kembali."
"Jangan bicara omong kosong. Cepat pergi pulang!" Perintah Ravin penuh tatapan tegas dan tidak main-main.
Hal itu hanya membuat Elvan semakin marah saja tetapi, dia tidak berani membalas lagi dan berjalan ke arah mobilnya. Tidak bisa meluapkan marahnya pada orang yang bersangkutan amarahnya hanya bisa dengan memukul cap mobil sebelum berlalu masuk mobil dan menginjak pedal gas pergi dari sana.
Ravin menggelengkan kepala melihat sikap arogan Elvan cukup pasrah saja karena dia anak bungsu di keluarga sedikit terlalu memanjakannya. Kini, Ravin berbalik hanya untuk melihat Inara yang juga tengah menatapnya.
"Malam, Sayang," sapanya dengan lembut dan ingin menciumnya tetapi, Inara menghindarinya dan malah berbalik pergi membuat Ravin mendesah tetapi, tetap mengejar langkahnya.
"Sayang, jangan tak acuhkan aku dong?!"
Inara hanya meliriknya tetapi, tidak mengatakan apa-apa saat pinggangnya ditarik mendekat dan mereka berjalan pergi bersama. Sudut mata Inara tidak bisa tidak melihat wajah tampan suaminya yang terus tersenyum juga, pandangannya tak luput dari bunga dan kotak kue yang dijinjing Ravin. 'Buat siapa dia beli bunga? Bukan buat si Jovanka itu, kan? Kalo iya buat apa dia bawa ke sini?'
Inara tidak sadar jika, penampilannya yang menatap bunga dan wajah Ravin tengah diperhatikan oleh objeknya sendiri. Gatal, Ravin menarik tengkuk Inara dan menciumnya tidak peduli mereka sedang di mana.
"Mas!" teriak Inara setelah ciumannya dilepas dan panik melihat ke sana kemari. Khawatir jika, ada yang melihat mereka di koridor.
"Maaf, habis barusan kamu bikin Mas gemas. Jadinya, kan gak tahan."
Inara mendengus mendengar alasan Ravin segera memalingkan muka dan hendak memimpin jalan di depan sebelum lagi-lagi dijegal. Pinggangnya lagi-lagi ditarik kali ini malah langsung masuk dalam pelukan. "M-mas," keluh Inara yang terjerat pelukan Ravin.
"Hm," sahut Ravin hanya dengan gumaman dan dia dengan senang hati memeluk erat Inara dengan sesekali terus meciumi puncuk kepalanya dan keningnya. "Gak ada orang di sini! Belum lagi kita suami istri siapa yang bisa protes."
"Ya, tapi tetep harus lihat-lihat tempat. Nantinya kita dikira jadi psangan mesum."
"Tadi, Mas bilang kita kan sudah jadi suami istri gak ada yang akan protes."
"Siapa bilang ?!" Mata Inara berkilat menunjukkan protes besar. "Kalau di depan umum. Mau itu udah jadi suami istri atau apalagi pasangan biasa tetep aja m***m, otak kotor. Udah, ah, sana lepas. Inara lagi sebel sama Mas, kan?"
Mendengar semua keluhan Inara terlebih kata-kata terakhirnya Ravin merasakan hatinya baru saja dicubit. Ditatapnya Inara yang berusaha melepaskan diri tetapi, Ravin tidak berniat melakukannya malah makin dieratkan pelukannya. "Jangan sebel terus, Mas nanti gak bisa peluk-peluk dan cium-cium kamu donk, belum lagi gak bisa bobo bareng."
Bibir Inara mencibir mendengar alasan Ravin meski, sebenarnya dalam hatinya sesuatu tengah berbunga tidak menyangkanya. "Ya, udah cepet lepas!"
"Ini!" Ravin menyeahkan bunga dan cake nya. "Buat istri Mas tercinta."
Kilat mata Inara bersinar, tidak ragu mengambilnya dan ingin mengucapkan terima kasih tetapi, entah kenapa matanya tiba-tiba menyipit. "Mas, Ravin cuman kirim kue dan bunga cuman sama aku doang,kan? Gak sampai 'teman spesial' itu juga kamu kirimin?"
Ravin tertegun dengan nada hati-hati sekaligus tanda-tanda kecemburuan yang diberikan Inara. Tetapi, jika dipikirkan lagi secara baik, seharusnya itu tidak masalah dan wajar. Akhirnya, dengan santai Ravin menjawab, "Cuman bua kamu, Sayang. Mas gak pernah ngasih hal kayak gini buat Jovanka. Dia hanya teman, bukan kekasih apalagi istri Mas yang sangat cemburuan ini."
Inara mendengus. "Tapi, tetap saja Mas sangat setia dengan terus mengunjunginya. Bukankah itu yang bisa disebut setengah perhatian."
Ravin memilih menutup mulutnya saja jika, sudah seperti itu apapun yang akan dijawab, Inara akan lebih banyak menyangkalnya meski, betul-betul hatinya hanya untuk sang Istri. "Sayang, yah kok malah ninggalin aku?!"
Baru saja Ravin yang masih terbenam dalam lamunannya tidak sadar jika, Inara pergi meninggalkannya terlebih dulu bersama cake dan bunganya. "Sayang, aku juga cemburu, loh, kamu datang dianter sama mantan kamu."
Inara menoleh, menatap tajam. "Yah, tapi dia juga adik kandung kamu, Mas," sahutnya yang kemudian menutup pintu rumah meninggalkan Ravin sendirian di koridor.