Setelah pergi dari apartemen Ravin, Elvan membawa dirinya ke sebuah club untuk sekadar melepas stress. Tidak ingin pulang lebih awal ke rumah yang hanya menambah beban pikiran karena akan terjadi debat kusir dengan ibu atau ayahnya tetapi yang paling sering tentu saja dengan ibunya yang usil menyuruhnya untuk segera move on dan menerima keadaan semua ini.
Sebenarnya Elvan bukan orang yang dungu yang tidak bisa menerima kenyataan tetapi, apa harus semudah itu dia menerimanya begitu saja.
"Udah berhenti! Lo udah mabuk." Seorang teman Elvan memperingatinya. Diki sudah melihat wajah memerah Elvan dengan tubuh bergoyang jelas sudah mabuk berat.
"Heum, g-gak mabuk kok," sahutnya menggeleng kuat.
Diki dan dua orang teman lainnya Reno dan Jefry yang malah menertawakan tingkah Elvan . "Ayo, bawa dia balik!" ajak Reno yang berdiri terlebih dulu. Namun sepertinya Elvan ingin mempersulit teman-temannya dia sangat sulit diatur dan tetap mempertahankan posisinya serta gelas minumannya bahkan, dia juga mslah berlari ke lantai dansa sebelum diseret paksa oleh ketiga temannya yang juga sebenarnya setengah mabuk.
Wajah Deswita dan Adibrata saat ini menjadi merah padam, karena menahan amarah melihat kelakuan Elvan yang tak bisa diatur mulai mabuk-mabukan. Keduanya cukup sakit kepala melihat tingkahnya yang dalam ketidaksadaran. Bahkan, Adibrata yang melihat ketiga teman Evan lainnya tidak bisa membiarkan mereka pulang dan menyetir dalam keadaan.
Segera Adibrata menyuruh sopirnya untuk mengantar mereka masing-masing pulang ke rumah dalam keadaan selamat dan tidak membiarkan mereka lagi untuk mengemudi beruntung kali ini empat pemuda itu baik-baik saja, tidak bisa dibayangkan jika terjadi sesuatu mengemudi dalam keadaan mabuk.
"Lihat pasti sangat depresi cuman bisa mabuk-mabukan," keluh Adibrata melihat Putra bungsunya pulang dalam keadaan mabuk. "Kalau Daddy jadi Elvan sekarang. Daddy gak bakal cuman diem dan mabuk-mabukan sebaliknya, Daddy bakalan balas dendam dengan memperlihatkan kemampuan yang sebenarnya biar orang orang menyesal tapi , hah ...Dasar anak zaman sekarang. Mentalnya tempe. "
Deswita melirik suaminya dengan pandangan jijik lalu mencibirnya. "Jangan bohong! Mami tahu apa yang bakal dilakuin paling nangis di pojokan gak mau keluar selama setahun."
Adibrata tidak menyanggahnya kalau tidak, hal itu akan panjang jadi, dia lebih baik membawa Elvan masuk kamarnya dan kembali beristirahat, lihat saja ini sudah sangat larut malam. Namun, sayang sepertinya Elvan yang terbaring begitu saja di sofa tidak tahu untuk diam dan beristirahat.
Matanya yang sudah merah mulai terbuka dan mulai berhalusinasi dengan melihat dua orang didepannya sebagai sosok yang dilihatnya sebelum mabuk yaitu Ravin dan Inara. Pertama-tama senyumnya adalah yang paling lebarnya. "Inara, Sayang. Aku kangen kamu, Sayang."
Elvan yang terhuyung bangun, ingin memeluk Deswita yang dalam benaknya tergambar sosok Inara. Tetapi Adibrata tidak membiarkannya. Dia menarik dan menendang Elvan hingga tersungkur jatuh di karpet yang akhirnya membuatnya kembali tertidur. Kedua orang tua itu menghela napas bersyukur jika, perilaku Elvan tidak sangat buruk dengan memgacaukan semua dan hanya langsung tertidur sehingga mereka mudah untuk membawanya kembali ke kamar.
Di pagi hari Elvan bangun dengan keadaan sakit kepala dan pusing, bibirnya hanya bisa meringis karenanya. Ayah dan ibunya tampak tidak mempedulikannya ketika Evan turun dari kamarnya dan meminta sarapan yang hanya dipatuhi oleh asisten rumah tangganya.
"Mom?"
"Apa?" Sahut Deswita ketika menjadi terakhir orang yang terakhir duduk di meja makan setelah suaminya pergi bekerja.
"Maaf ya, Elvan yang dalam keadaan mabuk," ucapnya dengan senyum malu-malu.
Deswita hanya menjawab dengan gumamnya saja tetapi kemudian matanya Intens menatap Elvan, putra bungsunya yang biasanya selalu tampak luar biasa. "Mommy, cariin kamu pendamping, ya, yang tidak kalah dengan semua mantanmu?"
Mendengarnya, Elvan malah langsung marah tidak peduli apa yang sedang dilakukannya saat ini. "Jangan mengatakan hal yang omong kosong,Mom. Aku gak akan pernah mau dijodoh-jodohin apalagi harus menikah dengan mendengarkan apa mau keinginan Mommi atau Daddy nantinya."
"Hidup kakakmu kamu aja bahagia setelah mendengarkan apa kata Mommy," terang Deswita bangga.
Sebaliknya, Elvan mencibirnya."kalau gitu Mommy harus tanya sama anak menantu kesayangan Mommy apa benar-benar dia bahagia atau malah sedang menderita."
Khawatir Deswita langsung melakukan panghilan dengan memastikan kabar tentang keduannya. Awalnya Inara tidak ingin berbagi cerita apapun tetapi lambat laut karena desakan Deswita, dia meluapkan keluhannya tentang masalah yang dibuat Ravin. Merasa tidak berdaya dan malu pada menantunya Deswita berjanji akan membantunya.
"Mas Ravin sudah minta izin tentang hal ini. Dia bilang semua yang dilakukannya adalah karena kemanusiaan. Tidak lebih jadi, Inara hanya bisa nunggu Mas Ravin perhatianlagi kayak dulu."
Deswita tidak percaya anaknya Ravin tega melakukan hal ini dan membuat Inara sedih dan kecewa. Lagipula, siapa yang mendengarnya tidak membenarkan jika, hal tindak perselingkuhan. Pria yang berani memilih wanita lain selain istrinya tentu saja berselingkuh. Jadi, dengan perasaan membeludak emosi Deswita menghubungi Ravin dan mempertanyakan semua hal ini.
"Ravin kamu tega banget sama Inara. di mana pikiran kamu dan Mommy ,gak nyangka kalau Jovanka ternyata wanita tidak tahu diri. Harusnya Jika dia sakit dia memang tidak boleh merepotkan orang lain Bukankah dulu dia lari demi hal seperti itu?!"
Tidak disangka dia pun langsung dibuat terkejut dengan mendengar pernyataan Ravin.
"Mommy itu semua itu adalah cerita masa lalu. Mommy, jangan salah paham aku sangat mencintai Inara. Apa yang kulakukan saat ini hanya ingin menemaninya sebagai teman baik, tidak lebih."
"Tapi, apa tidak akan jadi berlebihan jika, kamu mengunjunginya setiap hari Memangnya kamu tidak sibuk? Memangnya kamu tidak mengurusi Inara? Atau kamu sudah bisa membelah diri membagi waktu untuk 2 orang lainnya dan pekerjaan kamu?"
Ravin sedikit kaku mendengar bentakkan Ibunya. Menghela napas disadari atau tidak dia juga semakin lelah dan akhirnya sadar sebagai teman tidak seharusnya perlu setiap hari untuk datang berkunjung cukup hanya untuk beberapa kali dalam seminghi jika sempat.
"Iya, Mom.. sepertinya aku juga menjadi sedikit lelah setelah dengan pekerjaan rumah tangga bertemu Jovanka lalu pulang keadaan larut. Terima kasih nasehatnya, Mom. Akan kupikirkan baik-baik."
Deswita tidak percaya Ravin akan menurut semudah itu jadi, daripada bergantung pada usaha Ravin sendiri agar tidak menghancurkan rumah tangganya sendiri. Deswita bergerak menjelajah dan mencari rumah sakit di mana Jovanka berada melihat keluarga itu lagi.
Maria sangat terkejut melihat kedatangan Deswita yag berdiri di depan pintu kamar perawatan Jovanka dengan dagu terangkat sedikit sombong. Menatap Maria dan Jovanka bergantian lalu, berjalan masuk menyapa dengan lembut.
Mau bagaimana pun sikap lembut Deswita dia cukup tahu bagaimana waniya di depannya akan bertindak. Maria menjafi sangat gugup dan tidak tahu harus mengatakan apa sebelum sadar dan mengguncang dirinya sendiri dan menyerah pada keadaan. Meskipun kecil Maria bisa menebak apa tujuan Deswita.
"Mom...?" Panggil Jovanka dengan mulut bergetar melihat Deswita mantan calon mertuanya. Dalam hati masihkah dia bisa meanggilnya seperti itu?
"Ternyata kamu benar sakit jadi, seperti ini kamu," ucap Deswita memasuki ruangan kamar Jovanca menatap duo ibu dan anak. "Kalian jangan mengganggu Ravin lagi sebaiknya meski menyedihkan kalian masih mampu berdiri tanpa bantuannya,kan?"
Jovanka termanggu sedangkan Maria menahan emosi dengan hanya bisa membalas mantan calon besannya sebaik mungkin. "Deswita, aku tidak pernah meminta apapun pada Ravin yanh berlebihan h-hanya sedikit waktunya yang bisa disisihkan untuk Jovanka setiap hari."
"Itulah yang terlalu berlebihan pikirkan istrinya, pikirkan pekerjaannya juga kesehatannya. Maria Apa kamu ingin membuat anakku sakit seperti ini? Ravin hanya terlalu baik tidak bisa menolak permintaanmu sebagai seorang Ibu. kamu tahu bagaimana lembut hatinya." Deswita mendesah dengan mulut berbusa karena terlalu banyak bicara. "Sadarlah, apa Ravin punya tanggung jawab pada Jovanka sampai dia harus mengorbankan waktunya atau mungkin pernikahannya?"
Jujur tentu saja Maria terkejut dengan pernyataan itu. Dan segera disangkal olehnya. "Deswita, tentu saja ...tidak mungkin aku melukai Ravin dengan mengharapkan hal buruk terjadi pada pernikahannya. "
"Kalau begitu jangan berbuat hal konyol dengan terus memaksa Ravin untuk datang dan menemani Jovanka hiduplah seperti dulu... bersembunyilah dari Ravin," ucapnya Seraya menatap Jovanka. "Bukankah kamu dulu senang sekali untuk bersembunyi darinya dan menyembunyikan penyakitmu nya untuk membuatnya bahagia."
"Mom..."Bibir Jovanka menjadi kelu tidak mampu menjawab dan hanya menatapnya. "Aku rindu mommy." Dan tiba-tiba Jovanka.. dengan penuh lelehan air mata, tidak peduli apa yang baru saja dikatakan Deswita.
Deswita Maharani pun tak luputmenghela napas sedih ketika melihat bagaimana diri Jovanka diranjang pesakitan. Tapi dia juga bukan badan Amal, yang semudah itu memberi maaf setelah sangat dikecewakan.
"Deswita, lebih baik duduklah dulu dan kita bicarakan lagi."
Sebenarnya bagi Deswita tidak ada kata-kata lain yang ingin diucapkan selain memperingatkan mereka agar tahu diri tetapi, sepertinya tidak cukup dia hanya dengan hanya begini. Mereka adalah kenalan lama dan hampir menjadi keluarga. Dengan memastikan memang mereka berada di rumah sakit dan Jovanka berada diranjang pesakitan untuk menjalani perawatan kanker itu adalah sesuatu.
Demi masa lalu ini Deswita alhornya bersedia Duduk di sofa yang tersedia bersisian dengan Maria yang berdiri pindah.
Jovanka tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa duduk di atas ranjang, tak lepas memandangi Deswita sambil meremas kedua jari-jari tangannya dan menunduk sedih sesekali melihat secara diam-diam.
"Mommy jadi semakin cantik meski, sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Jovanka denga senyum tulus.
"Terima kasih atas pujiannya tapi, aku semakin tua Jo." Deswita tidak terpengaruh dengan rayuan kecil seperti itu. Dia tidak akan mudah goyah dengan tatapan meyedihkannya karena ini menyangkut kelangsungan rumah tangga Ravin dan Inara.
Maria menjadi sedikit gugup tidak peduli apa yang dipikirkan Deswita saat ini. Dia tidak bisa menemukan solusi. Semua dipikirkannya sendiri dan tidak cocok berbagi beban pikiran bersama Jovanka. Menarik napas dalam-dalam haruskah dia menarik simpatik Deswita untuk Jovanka? kasihan sekali putrinya yang harus hidup menyendiri apalagi ditengah rasa sakitnya.
"Ravin adalah anak baik selalu jujur dan memenuhi janjinya." Puji Maria di depan Deswita. semua kesalahan di masa lalu memang akibat putri yang terlalu bodoh dan ceroboh.
"Meskipun begitu Jangan memanfaatkannya karena kejujurannya apa dia pernah berhutang budi pada kalian? Tidak bukan jadi, jangan pernah mengganggunya lagi."
Tiba-tiba saja Deswita berkata sangat tegas. Mendengarnya bukan hanya Maria tetapi, juga Jovanka mulai menangis begitu sedih dengan tanda datangnya rasa sakit dari kepalanya tidak bisa lagi ditahan sehingga dalam sekejap saja dokter dan perawat berkumpul membuat Deswita sendiri begitu terkejut.
Tidak bisa menahan diri dari rasa takut Deswita segera ingin berlalu pergi tetapi tangan Maria menahan nya di luar kamar perawatan Jovanka. Akhirnya hal itu membuatnya pasrah dan duduk menemani Maria yang menangis melihat pintu kamar tertutup di mana Jovanka berada.
"Hidup Jovanka tidak akan lama lagi. Entah sampai kapan dia bisa bertahan Mungkin esok atau mungkin juga hari ini dan detik ini, " tutur Maria dengan sangat lirih dan sedih. "Akulah yang sudah meminta hal yang tidak mungkin dan sangat egois serta tidak tahu diri pada Ravin. Semata-mata untuk kebahagiaan kecil Jovanca di akhir hidupnya."
"Tetapi tidak dengan mengabaikan perasaan menantuku, Maria," keluh Deswita dengan helaan napas. "kita sama-sama wanita megetahui perasaan tak bahagia jika, pasangan kita berbagi perhatian denga wania lain."
"Aku tidak ....," ucapnya lebih sedih tak mampu berkata-kata lagi dan dengan pandangan tidak berdaya dia hanya mulai menangis. Menangisi semua hal.
Tangan Deswita menepuk punggung Maria yang menyedihkan. Dirinya merasa cukup mengenal kepribadian calon besannya ini. sama-sama Menghadap dan berpikir untuk rumah tangga kedua anak-anaknya.