Tekad Jovanka

1620 Kata
"Tidak ada masalah pasien hanya pingsan sesaat. Tidak dalam kondisi kritis seperti sebelumnya, jadi kalian juga sudah bisa masuk dan melihatnya sekarang." "Terimakasih, Dok!" Maria menghela napas, jatuh lagi dalam pelukan suaminya. "Tidak perlu sungkan itu sudah menjadi tugas saya." "Lalu, bagaimana dengan jadwal kepulangan Jovanka. Apa dia masih harus dirawat lebih lama?" "Tidak perlu. Tidak masalah jika, memang ingin pulang meskipun, akan lebih baik dia di sini di bawah pengawasan kami." Kata-kata Dokter tersebut akhirnya menjatuhkan beban pundak disetiap orang terutama Deswita, yang datang dalam kondisi yang kurang menguntungkan salah-salah dia disangka penyebabnya. Untuk Maria dan Harris, mereka sudah setengah berlari untuk masuk melihat Jovanka setelah mereka mendapatkan izin dari sang Dokter. Sedangkan Deswita yang enggan kembali masuk kamar rawat tersebut juga, menahan Ravin yang ingin mengikuti kedua orang tua itu. "Mau ngapain kamu masuk?" tanya Deswita sinis penuh ketidaksukaan. "Ayo, sekarang pulang!" "Loh, kenapa gak masuk dulu aja. Kita bisa lihat dulu kondisi Jovanka bagaimana?" Usul Ravin yang langsung ditolak Deswita. "Tidak perlu. Kita sudah mendengarnya jika, dia baik-baik saja. Itu cukup. Ayo, pulang." Ravin mengangguk tidak menolak keinginan ibunya. Sebelumnya Ravin tiba di rumah sakit beberapa waktu lalu. Dia datang karena mendapat kabar jika Deswita pergi ke rumah sakit di mana Jovanka berada. "Untuk apa Mommy, ke rumah sakit?" tanya Ravin setelah mereka berada di dalam mobil. "Aku kira Mommy, gak perlu ngelakuin hal ini. Kukira cukup Mommy cuman ngomong sama aku. Aku juga bakal nurut, kok." "Jangan bohong! Kamu selalu punya pikiran sendiri dan Mommy juga yakin, kalo kamu tahu jika, bukan hanya Inara yang tidak senang kamu dekat sama mantan apapun alasannya tapi, kamu tetap sama jalan pikiranmu, kan?" Ravin diam dan mengakuinya. 'Bodoh, Goblog! Aku memang nyari penyakit sendiri.' Puas mencaci maki diri sendiri dengan sudut matanya dia melirik sang Ibu. "Mommy, bicara apa saja sama Jovanka sampi dia pingsan?" "Apa? Memangnya kamu pikir Mommy bakal ngomong apa, hah? Dia-nya aja yang sekarang lemah. Baru lihat Mommy, aja dia udah nangis belum lagi mau ngomong banyak dia udah keburu pingsan," ujar Deswita bersamaan dengan helaan napasnya yang berat. "Wajar dong, Mih. Dia kan memang lagi sakit otomatis tubuhnya melemah tetapi, bukan lemah." "Bela aja, terus! Awas, ya, kamu kayak gini di depan Inara." "Gak dong, Mih. Aku juga gak maksud buat belain dia," ujar Ravin jadi, sedikit takut. Ibunya kalo sudah marah sangat menakutkan dan sepertinya gak boleh memprovokasi Inara juga. Ravin yakin bukan cuman Ibunya atau istrinya tetapi, tiap wanita dimuka bumi jika, marah adalah akhir dari si Pria. "Mommy penasaran," kata Deswita kali ini lebih serius sampai, dia menoleh dan menatap Ravin dari sisi wajahnya yang dari sisi manapun terlihat tampan. kamu benar kan enggak cinta lagi sama Jovanka?" Ravin membuat wajah terkejut tidak menyangka ibunya kan menanyakan hal ini tetapi, dia juga tidak keberatan untuk menjawab dengan jujur. "Sungguh, Mih. Aku gak pernah naruh hati lagi sama Jovanka. Berpikir juga ngga dan aku hanya bersimpati padanya sebatas teman yang dulu pernah dekat denganku." Deswita merasa lega ternyata putranya ini masih punya otak dan pikiran jernih untuk tidak bermain api. "Mommy, seneng dengernya tapi, tetap aja yang harus lebih kamu pikirin dan perhatiin itu Inara, istri kamu bukan wanita lain." Ravin harus setuju juga dengan ibunya kali ini. Memang tidak seharusnya dia memikirkan wanita lain dibanding istrinya Inara Jika seperti ini dia jadi merindukan wanita itu tadi dia belum sempat menyatakan hal apa pun setelah mendengar jika Deswita ibunya berlari ke rumah sakit. Di Toko Butik. Inara sedang memegang kepalanya pusing sekaligus khawatir memikirkan jika Ibu mertuanya dan Ravin, yang berada di rumah sakit akan bertengkar sana. Apa yang harus dia katakan? Meskipun, dia sedikit bahagia juga dan berharap banyak jika, Deswita bisa berhasil membuka pikiran Ravin. "Inara," panggil Nadira yang sedang menatapnya dengan tatapan menyedihkan. " Ada apa dengan? " tanya Kinara bingung melihat wajah Nadira yang mengkhawatirkan. Mendengar pertanyaan yang sebaliknya Nadira mengerutkan kening, menghela napas berat lalu, mendekati sahabatnya. " kenapa kamu nggak bilang kalau kamu diperlakukan buruk olehnya. Gimana kamu bisa tahan selama ini diperlakukan tidak adil. Aku nggak nyangka jika, Mas Ravin bisa-bisanya tega ngeduain kamu." "Kamu salah sangka Mas Ravin, dia nggak pernah duain aku. Dia juga nggak seperti yang kamu pikirin." Bela Inara dengan senyum yang tulus melihat SMS simpati yang tulus dari Nadira, "kamu harus dengerin aku dulu--" "Tentu aja kamu bakal bela dia terus karena kamu lagi jatuh cinta sama dia," sela Nadira yang tidak percaya dengan kata-kata yang akan diucapkan Inara selanjutnya. "Nad, dengerin aku!" Rasa penyesalan serta kekesalan memenuhi hati Nadira jika mengingat pernikahan Inara harus berakhir dengan hal menyedihkan seperti ini. Jika saja saat itu itu kapan bisa berpikir jernih dan tidak sampai hati malah mengungkapkan perasaannya pada dirinya di malam itu itu, mungkin saat ini keduanya akan hidup bahagia. Tetapi, sekarang lihat keduanya tidak mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan. "Nara, apa kamu gak pernah berpikir buat kembali lagi pada Elvan? Dia masih mengharapkan kamu dan Kukira dia adalah pria yang paling sempurna buat kamu." Lagi-lagi seperti ini, Nadira masih belum sepenuhnya bisa menerima keadaannya yang memiliki suami yang bukan Elvan. Inara hanya bisa menduga jika Nadira penuh perasaan bersalah karena perbuatan Elvan yang mengaku cinta padanya di malam pernikahan mereka tetapi bagaimana bisa dirinya menyalakan Nadira setelah dia berusaha menolak pria itu dan jujur padanya. Inara sangat mengenal Nadira. Dia selalu care dan bahkan, seringkali mengalah padanya karena rasa terimakasihnya yang sudah seperti hutang budi padanya dan keluarganya karena perbuatan masa lalu yang sederhana dengan memberinya beasiswa atau sebenarnya sudah sepenuhnya untuk membiayainya. Tangan dampingin ada merangkul bahu Nadira. "Jangan karena masa lalu kamu selalu mengalah. Udah cukup kamu selalu menekan diri aku juga tidak pernah meminta kamu untuk membalas Budi jadi pikirkanlah baik-baik kebahagiaan kamu minta itu sama Elvan, Bagas atau pria yang lain Aku bakal dukung kamu. "Bagaimana bisa aku sama Elvan, jangan bicara sembarangan," sahut Nadira setengah kesal menyebutkan nama Elvan. Padahal sebelumnya dia menyebutkan ya terlebih dahulu tetapi, kemudian ingatannya pergi dimana pria itu mengganggu kencannya bersama Bagas sungguh menyesatkan. "Dia nggak pernah cocok sama aku, berbeda kalau dia sama kamu, Dira. Kalian pernah saling mencintai dan juga bahagia Bukankah itu bisa dijadikan jaminan buat masa depan selanjutnya pikirkanlah." "Apa yang perlu dipikirkan? Tidak ada masa depan untuk kami karena masa depan ku sudah ditentukan dengan mas Ravin dan cuma dia yang bisa jadi suami aku di masa sekarang depan." Nadira setengah tidak percaya mendengar jawaban menara yang seperti yang sangat tugas dia bisa merasakan Inara benar-benar mencintai Ravin tetapi, bagaimana bisa pria yang terlihat baik dan mencintai Inara juga malah menduakannya, tidak habis pikir olehnya. "Dia bukan suami yang baik, Inara. Bagaimana bisa dia lebih mengkhawatirkan wanita lain dibanding istrinya." Kukuh Nadira tidak terima. "Bukankah masalah ini juga yang sudah buat kamu suram belakangan ini." "Hm," gumam Inara mengiyakan dan mengangguk. Nadira tampak bersemangat lagi dan ingin mengatakan sesuatu tetapi ditahan oleh Inara. "Meskipun begitu Mas Ravin nggak pernah mengabaikanku dia selalu memperhatikanku dan bahkan saat berkunjung ke rumah sakit ia dengan hati-hati membicarakannya denganku." "Membicarakannya denganmu? Apa dia sudah sedikit gila ingin menemui wanita selingkuhannya tetapi meminta izin istri sah-nya." "Gak ada yang seperti itu," sangkal Inara. "Mas Ravin masih tetep cinta dan Sayang sama aku. Tulus nggak pernah berubah sama sekali sejak kami punya komitmen pernikahan. "Tetapi bagaimana dengan mantannya?Apalagi dengan penyakitnya yang mungkin untuk menarik simpati suamimu itu." Inara juga memikirkan hal itu juga dengan hati-hati tetapi, yakin jika Ravin tidak akan menipunya atau berselingkuh tetapi, tidak dengan Jovanka yang jelas-jelas memang masih mengharapkan Mas Ravin seperti terakhir kali. 'Jovanka, Jovanka. Wanita yang membuatku berhati-hati saat ini." ** Seperti Inara yang sedang memikirkan Jovanca, wanita yang baru sadar dari tengah menggeram sedih dan kesal mengingat keberadaan Ravin dan Ibunya, Deswita. Melihat keadaan sekitar yang kosong coba nikah hendak berteriak memanggil kedua orang tuanya tetapi sebelum itu terjadi Ibunèya datang dari balik pintu kamar. "Mama dari mana?" "Dari luar membeti makan," sahut Maria yang masih gerak sibuk dengan makan malamnya bersama sang Suami. "Apa kamu ingin sesuatu?" "Apa Ravin belum juga datang?" tanyanya setelah menggeleng, menolak tawaran Maria dan bertanya soal Ravin yang bisa seharian ini belum ia lihat wajah tampannya. "Jangan terus memikirkannya? Lebih baik kamu meningkatkan kesehatanmu," tukas Maria sambil berjalan ke arahnya . "Apa ini soal kedatangan Mom--..." Inara menggeleng mengaku salah lalu. "Ini soal Tante Deswita,kan? Dia yang pasti sudah melarang Ravin untuk datang kemari. Mah, Aku ingin menghubungi Ravin, bisakah?" "Tungulah sampai beberapa hari sampai suasana suram ini mereda," usul Maria yang juga penuh helaan napas, yang tampak panjang. Dalam penataan kamar ia ingin sekali menolak Semua usaha Jovanka tapi, itu tidak mungkin untuk terus mengganggu pria yang sudah menikah sepertinya. "Tante Deswita sangat berubah banyak," ujar Jovanka mengingat-ingat pertemua mereka sebelumnya. Inara membenci perasaan terasing seketika. Teringat dulu hanya tatapan mata hangat yang bisa diingatnya. "Aku pasti bukan menantu yang cocok untuk mereka." "Jangan pikirkan hal lain pikirkanlah kesehatanmu itu yang utama." "Aku sudah akan mati apalagi yang perlu dipikirkan," ucapnya dingin mengingat tentang penyakitnya yang semakin memburuk. Sedih tentu saja, apa lagi yang bisa dilakukan pesakitan sepertinya kecuali mencoba bertahan. Maria menangkup wajah Jovanka, menciumnya dengan penuh kasih sayang. " Berhenti berpikir macam-macam. Kamu lebih baik saat ini. jadi, Ayo,bersiap! Kamu sudah bisa pulang saat ini." Mendengarnya Jovanka sangat bahagia dan bersemangat kembali, dia akan berusaha menemui Ravin dan menarik perhatiannya kembali setelah keluar dari sini. Waktunya yang tidak banyak haruslah, dia manfaatkan sebaik mungkin tidak boleh dirinya tampil terlalu lemah lagi. Dengan tekad yang kuat, haruslah mengeraskan hati dan meningkatkan rasa suka atau bahkan mungkin hanya tinggal simpati Ravin. Jovanka ingin merasakan dicintai lagi dan membuat hari-hari terakhirnya bahagia dan memuaskan. Sungguh penyesalan yang rasanya tak pernah berujung. bagaimana dia pernah meninggalkan kekasih sebaik dia dan malah berpikir untuk hanya ...meninggal dengan kesendirian dan kesepian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN