Ravin sebenarnya tidak pernah ingin memperbesar masalah yang sudah tahu jika, ujungnya hanya akan menimbulkan masalah tak ada habisnya tetapi, siapa Nadira. Yah, dia sahabat Inara istrinya tetapi, siapa wanita itu baginya? Itu hanya sekadar kenalan yang tidak seharusnya ikut campur dengan urusan rumah tangganya bahkan, untuk memberikan pendapatnya saja seharusnya tidak perlu. Hal itu seperti merusak otoritasnya sebagai suami yang tidak berbudi karena hal ini membuatnya marah dan tegas tidak berbicara dengan Inara.
Kedua kelopak bibir Inara berkali-kali terbuka dan tertutup, jelas tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi, hasilnya adalah kegagalan dan hanya desahannya kecilnya yang terdengar. Untuk pertama kalinya dia sangat takut dengan Ravin, dia tidak pernah tahu jika, marahnya pria itu sangat menyeramkan dan ini semua bukan karena Nadira tetapi, juga dirinya. Bagaimana dia bisa membiarkan sahabatnya memarahi Ravin dihadapan pegawainya. Sakit hatinya juga membuat matanya kembali memerah ingin menangis.
Saat ini kaki Inara, masih berdiri dibelakang Ravin yang sedang menonton televisi. Bibirnya bergetar membuka dan menutup ingin mengatakan sesuatu atau, sebenarnya hatinya berharap bisa sekadar memanggilnya tetapi, usaha itu ternyata sulit. Inara tidak bisa dan akhirnya hanya bisa pasrah dan memutar kakinya untuk kembali ke kamarnya. Menarik selimut lalu, berbaring tidur dengan mata tetap memandangi pintu kamar yang, entah bisa kapan terbuka menampilkan sosok Ravin yang tersenyum dan meremas tidur di sampingnya sambil memeluknya.
Di depan ruang televisi, Ravin bukan tidak melihat atau merasakan Inara yang berdiri di belakangnya tetapi, dia memang sedang tak mengacuhkannya. Hatinya masih marah dengan perlakuan sahabat Inara yang, menurutnya tidak sopan dan hal ini juga untuk memperingati Inara agar tidak mudah menceritakan masalah rumah tangga sendiri pada orang lain meski, itu pada sahabatmu sendiri.
“Mulut-mulut wanita itu begitu murah hah…, aku harus lebih baik lagi mendidik istriku agar tidak seperti sahabatnya. Kurang ajar sekali bisa-bisanya berteriak dan menyindirku,” ungkap Ravin masih sangat kesal dengan masalah di sore hari ketika, dia menjemput Inara, yang malah disambut tatapan kebencian dan omong kosong yang tidak berguna. Puas menatap tajam pintu kamarnya Ravin memalingkan wajah seolah tak peduli dan melanjutkan menonton.
Di pagi hari hari, ketika bangun. Inara benar-benar merasa sangat kedinginan di hati. Ravin tidak berada di sampingnya. Lalu, di mana dia tertidur? Inara segera bangun dan menyingkap selimutnya. Setengah berlari keluar dan dia benar-benar terlambat. Dia bisa melihat ada selimut dan bantal di sofa di ruang televise juga di pantry dia bisa melihat sudah ada sarapan tetapi, tidak ada sosok suaminya. Bertindak lesu, Inara hanya bisa duduk di meja makan dan melihat sarapan di depannya dengan tidak berdaya.
“Ah, sialan! Aku malah terlambat bangun,” erang Inara menjambak rambut kusutnya di pagi hari. Setelah melihat jam, dia hanya bisa terburu-buru mandi dan merias diri untuk segera pergi ke toko butiknya dan hanya bisa berharap nanti waktu makan siang dia bisa mengajak Ravin untuk makan bersama. Tetapi, sebelum itu sepertinya dia harus mengatasi urusannya terlebih dulu dengan Nadira.
Wajah Inara sudah masam ketika memasuki toko butiknya. Para pegawainya tidak ada yang berani menyapanya seantusias biasanya jadi, mereka hanya sekadar tersenyum dan menyapa selamat pagi saja tanpa mendapatkan tanggapan. Beberapa dari mereka juga masih senang bergosip tentang hal terjadi kemarin sore.
“Apa dua Bos kita akan berperang? Sebaiknya kita mendukung siapa?” tanya Tika si Tukang kompor.
Berbeda dengan harapann Tika yang, bisa mendapat jawaban. Hasil yang langsung didapat adalah pukulan di tengkuknya oleh kedua temannya yang dikenal paling judes dan paling pendiem, Merry dan Siti. “Jangan sok ikut campur. Mending diem aja daripada dipecat,” nasihat Merry.
“Tapi, Siti. Kamu ngapain ikut-ikutan mukul aku juga, hah? Aku tahu si Merry ini mantan algojo tapi k-kamu?”
Siti sedikit menarik senyumnya dan berbicara sangat tenang. “Refleks, Tik.”
Tika memutar bola matanya pada teman-temannya ini tetapi, tidak mengatakan apa-apalagi dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Di dalam ruangan pribadinya Inara berdiri melipat kedua tangannya di depan d**a dan berhadapan dengan Nadira, yang berkali-kali memalingkan wajahnya setelah berusaha menatap balik Inara yang diam seperti patung es. Dia juga tidak sepenuhnya berani untuk bicara. Mereka, kan tidak bisa hanya diam-diaman bagaimana urusan komunikasi tentang pekerjaan mereka.
“Inara ….”
“Sebenernya apa yang kamu pikirin sih, Dir. Saat kamu seenaknya bicara begitu sama Mas Ravin?” tanya Inara yang kini sudah menurunkan pertahanannya dan memperlihatkan wajah frustrasi.
“Maafkan aku, aku hanya merasa sangat marah untukmu,” cicit Nadira yang juga merasa tidak berdaya karena sudah bersikap imflusif dan memulai perang dengan Ravin. Nadira juga ingin memukul kepalanya karena sudah membuat onar, yang keterlaluan dan seharusnya tidak perlu. Tetapi, hari kemarin entah kenapa dia merasa kesal karena suami sahabatnya datang dengan senyuman dan seolah tidak punya masalah. Sebenarnya apa saja yang dia katakana kemarin? Nadira mencoba mengingat-ingatnya sayang itu tidak sempurna, karena yang paling melekat adalah tatapan dingin Ravin yang membuatnya akhirnya bungkam.
“Kamu tahu, Dira? Mas Ravin masih tidak berbicara padaku sampai pagi ini. bahkan, aku tak sempat melihatnya,” ujar Inara ingin sedikit membagikan emosiny pada Nadira.
“Aku keterlaluan banget, yah?”
“Yah, kebangetan, Dira. Aku, kan udah jelasin panjang lebar sama kamu.” Lanjut Inara sambil menekan keningnya.
“Nara, Maafin aku.”
Inara menggeleng. “Bukan sama aku tapi, Mas Ravin.”
“Aku takut harus berhadapan sama dia lagi. Nara.” Jujur Nadira jika, ingat kejadian kemarin sebenarnya dia juga merinding akhirnya. Mengusap bulu-bulu halus di tengkuknya ketika, dia mendapat tatapan dingin yang terasa menusuk tiap sel ditubuhnya, telinganya pun tak luput dari rasa terngiang-ngiang akibat suara berat dingin milik Ravin, yang saat itu bahkan langsung menyentil hatinya.
‘Apa harus aku ingetin sesuatu sama kamu? Kamu hanyalah orang yang Inara anggap sahabat tapi, kamu bukan siapa-siapa buatku. Juga, tak pantas bagi orang luar yang bisa mendikte atau bicara soal hubunganku dan Inara jadi … diamlah! Tutup mulutmu.’
Bola mata Nadira melotot tajam, emosinya dengan cepat naik kembali tetapi, dia tidak bisa membalas pria dihadapannya. Bibirnya bergetar ingin melontarkan kata-katanya yang tajam seperti tadi tetapi, hal itu tidak pernah lagi bisa keluar semua tertahan diujung lidahnya yang pahit. ‘Pria berengsek! Kamu gak pantes buat Inara. Pria yang menyedihkan hanya karena belum selesai dengan masa lalunya,lebih baik kalian bercerai,’ ucap Nadira yang berada di ujung lidahnya tanpa bisa membuka suaranya.
Rasanya Nadira merasa gila setelah mendengar kata-kata tajam dari Ravin bahkan, sampai terbawa mimpi dan terasa terus menempel di telinganya. Nadira kembali melirik Inara dan merasa lebih prihatin padanya, gara-gara mulutnya yang tidak bisa dikontrol sahabatnya yang ingin dia bela sebelumnya pasti juga mendapat getahnya.
“Aku gak pernah tahu jika, Mas Ravin marah dia akan lebih menakutkan dari siapapun,” tutur Inara menjatuhkan dirinya di kursi tepat di depan meja Nadira. “Apa yang harus aku lakuin sekarang, Dira?”
Bibir Nadira menjadi kering, segera ia meraih gelas minumnya sampai dalam keadaan tandas. Baru kemudian menoleh lagi pada Inara dengan kepala sedikit tertunduk malu.“Seperti kata kamu. Suami kamu cuman lagi marah sama aku jadi, mungkin aku hanya perlu buat minta maaf sama dia.”
Kening Inara merengut seolah tengah memikirkan sesuatu juga, dengan sudut pandanganya yang menyipit menatap Nadira. “Kamu mau minta maaf sama Mas Ravin?”
“Mau tapi, aku takut! Gimana kalau kita pergi bareng aja?”
Inara memutar bola matanya tetapi, dia juga segera mengangguk. Dia memang sudah berniat untuk pergi ke perusahaan Ravin dan mengajaknya makan siang bersama. “Tapi, kamu nanti, yah. Biar aku bujuk dan luluhin hatinya baru kamu minta maaf.” Tidak ada kata laini untuk menyanggah. Nadira harus setuju dengan hal ini. ng kedua kalinya
Di siang hari ketika waktu hampir menunjukan waktunya makan siang sekali lagi Inara menghubungi Rudi, asisten Ravin untuk memastikan jika, tidak aka nada jadwal Ravin di siang hari ini. Mendengar jawaban positif ya? Inara segera bersiap termasuk men-touch up kembali make-up di wajahnya padahal sebelumnya dia terkadang sedikit tidak peduli dengan hal-hal seperti itunya. Dirinya merasa cukup hanya dengan kembali menebalkan bibirnya hanya dengan lipstick atau lipbalm sekarang bahkan itu untuk alis juga bedaknya.
“Inara, kamu udah siap mau pergi?” tanya Nadira yang baru saja memasuki ntakkan.” ruang kantor mereka dan harus mendesah sedih melihat begitu berantakkannya ruang kerjanya.
“Hm,” gumamnya tidak ingin terganggu pada saat sedang merias diri.
Nadira melewati tumpukkan kain-kan bekas yang bertebaran di mana-mana. Ini kerjaan Inara tiap kali. Cukup perlu untuk mendapatkan contoh kain yang cocok untuk desainnya. Inara melirik jam tangannya dan menemukan waktunya akan lebih lama lagi jadi, dia semakin tergesa pergi.
“Nadira, aku pergi sekarang, ya?” ucap Inara ketika hendak berlalu pergi sudah siap sambil pergi tetapi, Nadira menahannya dan berpura-pura meraihkna baju Nadira yang kini sudah cukup kering.
Di atas ruangan gedung bertingkat, Ravin yang sedang disibukkan dengan berkas-berkas mendongak ketika mendengar ketukan di pintu sebelumnya. Dari seorang resepsionis di lantai pertama Ravin mendengar jika, ada seorang wanita yang ingin bertemu. Tidak disangka itu adalah Jovanka.
Ravin ingin menyuruhnya untuk pergi tetapi, suara Jovanka keluar dari telepon intercom membuatnya menjadi sungkan untuk menolaknya. Sekarang ketukan di pintu terdengar lagi. “Masuk!”
Jovanka sudah berdiri di sana tanpa ragu dan melangkah masuk sambil mengangkat tinggi-tinggi kotak makan siang. “Selamat siang, Pak Bos,” panggilnya penuh dengan nada riang kontras berbeda dengan wajah pucatnya yang meski sudah ditutupi make-up masih saja bisa terlihat. Di sampingnya Rudi sang Asisten tampak terlalu kaku membiarkan Jovanka untuk masuk.
Ravin menatap heran tetapi, tidak mengatakan apa-apa. Kemudiam mau tak mau, Ravin berdiri dari singgasananya dan berjalan menghampiri. Rudi yang melihatnya seperti sedang memakan biji landak tampak sangat pait lanjut memerihntahkannya “Kamu masih sakit, bukan? Lebih baik di rumah saja.”
Raut wajah Jovanka langsung berubah muram. “Aku sangat bosan di rumah saja, Vin. Aku juga sudah tidak bisa bepergian jauh ketika mengatakan kebosanan jadi… aku mutusin buat dateng ke sini setelah beberapa lamanya kamu yang sering berkunjung ke rumah sakit,” ucapnya panjang lebar dan meyakinkan.
Rudi-lah yang berkeringat dingin tidak menyangka bakal ada wanita lain yang datang sebelum istri sang Bos. Beberapakali ini dia sedang berusaha menghubungi Inara memastikannya apa istri Bos benar-benar datang atau tidak. “Bisa-bisa terjadi perang ke sebelas kalo sampai ketemu. Aishh…” pukulnya pada kepalanya yang bodoh. Pelan-pelan dia juga mengintip dari pintu. Bos-nya masih sangat sopan tempat duduk mereka hanya saling berhadapan tidak bersisian berharap sang nyonya rumah cemburu melihat ini.
“Rudi, ada apa?” tanyanya sedikit aneh dalam melihat asistennya yang seperti tampak repot.
“Tidak, Pak tapi …,” ucapnya jauh dari kata berani dan gagah karena samar Ravin melihat wajah tidak berdayannya. Saat itu Rudi yang hendak bicara menegakkan badannya bersiap membuka mulut harus gagal ketika sudut matanya bisa melihat jika Nyonya besarnya tengah berjalan mendekati ruangan sang Bos. “N-nyonya besar.” Akhirnya dia bisa mengatakan hal itu.
“O-oh, Pak Rud,” panggil Inara dengan tangan terangkat dan dia hampir menepuk jidatnya ketika ingat akan memberi kejutan pada Ravin yang sedang bekerja sangat keras tetapi, ada yang aneh. Ketika diperhatikannya secara intens senyum ramahnya Rudi terlalu dipaksakan dan kenapa matanya seringkali melirik ke dalam ruangan yang bercelah. “Ada apa?” intuisinya sebagai perempuan segera bicara dan membuat langkahnya semakin cepat.
“Oh, Nyonya Besar. Anda tidak bisa melihat i—ni!”
Inara segera melewati Rudi dan mendorong pintu kantor Ravin hanya untuk menemukan jika, ada wanita lain di kantor suaminya dan wajah itu tidak asing. “Jovanka?!”