Antara Percaya dan Jujur

2048 Kata
Awalnya Inara akan berbalik pergi dengan amarah dan air mata membuat sebuah cerita drama seperti banyak di film-film tetapi, kakinya malah tidak mau mengikuti keinginannya untuk berbalik meski otaknya dengan sangat keras menyuruhnya pergi dari sana, sayangnya mungkin karena terpaku oleh tatapan yang diberikan Ravin tidak dingin, tidak hangat juga. mereka hanya saling bertatapan dan menunggu hanya sampai bibir Ravin terbuka. “Kenapa masih berdiri di sana, masuk sini!?” Mendengar suara yang ringan itu ada lagi tak disangka sudut bibir Inara tertarik membentuk senyum tipis dan cengkeraman tangannya di engsel pintu melonggar kakinya dengan santai berjalan maju giliran Jovanka yang tengah duduk menjadi pucat dan penuh gumpalan emosi dihatinya namun, melihat kembali pada tangan tubuhnya yang lemah. Jovanka mengeraskan hatinya dan berpenampilan baik penuh senyum ke arah Inara. “Lama tidak berjumpa,” sapa Jovanka pertama kali. “Hm,” gumam Inara sebagai jawaban dan duduk di samping Ravin. Dia melihat Ravin masih memasang wajah dingin tetapi, tidak lagi menolak tatapannya membuatnya lega yang berarti Ravin tidak marah lagi. “Mas Ravin sudah makan? Ini sudah waktunya makan siang kit—“ “Aku sudah membawa bekal makanan,” potong Jovanka dengan menarik rantang makannya. Inara baru saja meliriknya dan dia menjadi sangat kesal hanya dengan tahu seorang wanita lain membawa makan siang untuk suaminya. “Kamu sakit tapi, masih berpikir untuk memasak. Apa itu tidak terlalu bagus?” “Ini hanya sekadar memasak, tidak cukup melelahkan lagipula aku dibantu Ibuku. Karena aku sudah sering merepotkan Ravin jadi, aku dengan sengaja datang dan memasak makanan kesukaaanya tapi, aku tidak berpikir kamu bakal ada juga jadi, aku hanya mengambil dua porsi untuk kami berdua.“ Dalam hatinya, Inara sama sekali tidak tertarik dengan makanan itu. siapa juga yang mau dan begitu juga, dia tidka mau membiarkan Ravin makan masakan wanita di depannya. Tidak sama sekali.“Mas, ayo, makan diluar! Sudah lama, kan kita tidak pergi keluar.” Ravin tidak segera mengangguk tetapi, melihat ke atas meja kerjanya begitu banyak yang harus dia kerjakan dan melihat jam tangannya lalu, tarikan tangan Inara. Dia juga mendengar jika, makanan yang di bawa Jovanka hanya berbentuk dua porsi tidak mungkin dia menyuruh Inara hanya menontonnya makan atau sebaliknya Jovanka. “Kamu simpan saja makan siangnya. Kita makan siang di luar?” Tarikan ditangan Ravin lepas begitu saja, saat aawal kalimat senyum lebar mengembang di bibir Inara tetapi, mendengar pernyataan kalimat yang kedua Inara hanya bisa menekuk wajahnya. “Kenapa dia juga harus ikut?” Ravin menarik tangan Inara, menggenggamnya. “Dia sudah berada di sini yang berarti dia seorang tamu. Apa sangat sopan meninggalkannya sendiri saat kita makan siang? Atau, kamu mau kalian makan makanan siang yang dibawa Jovanka dan aku yang menonton.” Ada senyum mengejek dibibir Ravin saat ini. Inara tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat tampilan suaminya saat ini. Melihat lagi tampilan Jovanka saat ini, tidak peduli dia sedang sakit atau tidak dia benar-benar tidak setuju untuk membawa wanita itu makan bersama mereka tetapi, Inara harus memikirkannya lagi. Bisa-bisa jika, dia kukuh hanya akan membuat Ravin kesal dan maraha lalu, mengabaikannya lagi. “Hm,” jawab Inara dengan mengangguk lalu menatap Ravin dengan senyuman lebar juga menariknya dalam gandengan. Jovanka melihat punggung kedua orang di depannya yang berjalan di depannya sebelumnya, dia bahkan belum menjawab mau melakukan apa tetapi, Ravin sudah mengambil keputusan yang cukup sopan untuknya. Matanya sedikit memerah, melihat rantang makanan di tangannya cukup sedih padahal dia sudah berusaha tetapi, menjadi sia-sia saja usahanya. Memang tidak seharusnya dia mengganggu pria yang sudah beristri tetapi, apa tidak bisa juga baginya ditemani orang dikasihi di hari-hari hidupnya. Di sinilah mereka akhirnya duduk bersama dengan makanan hangat yang sudah dipesan. Ravin benar-benar lapar matanya berbinar melihat semua hidangan sengaja dia memasan makanan berkuah santan, sudah cukup lama tidak disantapnya berbeda dengannya kedua wanita di sampingnya tampaknya tengah mengerenyitkan dahi mereka. Seolah baru saja melihat hal aneh dalam piring. “Mas, barusan kamu pesen apa aja?” tanya Inara meski, sudah tahu karena semua jawaban ada di depan matanya. Ada sup Iga, gulai kikil, cumi asam manis juga beberapa tumis sayuran. “Kenapa? Semua ini enak. Ayo, di makan,” ujar Ravin malas terlalu banyak berkomentar dia hanya langsung mengambil apa yang dia suka tetapi, meskipun begitu dia masih telaten melihat piring Inara yang masih belum berisi lauk pauk apapun. “Coba ini, sup Iga-nya enak .aaa!” Inara sedikit malu ketika, tiba-tiba Ravin hendak menyuapinya tetapi, sendok makan penuh nasi dan daging itu sudah di depan bibirnya dia tidak bisa menolak bahkan, sebelum membuka mulut Inara sempat melirik Jovanka yang diam-diam memerhatikan mereka. “Hm, e- unk. Nak!” “Kenapa?” tanya Ravin sambil mengusap-usap punggung Inara yang tiba-tiba saja terlihat seperti tersedak. “Apa masih panas?” Inara mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya bukan seperti itu, baru saja dia mual tetapi, beruntung tidak jadi. Inara mengusap perutnya yang kurang nyaman berpikir itu hanya masuk angin biasa. Akhirnya tidak ada yang luar biasa dan Inara bisa makan beberapa suap nasi lagi sebelum kenyang dan memilih makan dessert-nya. Di sisi lain. Jovanka tidak bisa makan makanan berminyak lagi meski ingin. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan tubuh lemahnya. Dengan semua makanan berat dan enak ini, makanan kukus Jovanka tentu saja harus kalah untungnya Ravin belum sempat melihat makanan apa yang dia bawa. Itu hanya makanan kukusan seperti dimsun lalu, sayur bening. Siapa bilang dia membawa makanan kesukaan Ravin, nyatanya itu makanan untuknya. “Kalian para wanita kenapa makan sangat sedikit?” Ravin melihat piring Inara dan Jovanka kurang dari piring makannya saja. “Apa kalian tidak mau makan lebih banyak, Sayang, kamu harus makan. Mau aku suapi?” Inara menolak tetapi, juga sangat bahagia Ravin sepertinya tidak lagi marah dan dia baru saja memanggilnya ‘sayang’. Apalagi, semua ini ditunjukkan di depan Jovanka, yang seakan menegaskan peringkat hatinya memang yang pertama. Di bawah Ravin juga tidak luput menawarkan hal lain pada Jovanka. Tentu saja dia yang selalu jadi yang utama. “Tidak perlu. Aku benar-benar sudah kenyang dan Mas, makannya banyak sekali,” ujar Inara dengan tawa renyahnya melihat semua piring lauk makan dihabiskan suaminya dengan santai. Setelah menghabiskan waktu seperempat jam untuk mencerna makanan dan tidak ada perbincangan yang berarti. Jovanka tidak banyak bicara dari awal sampai akhir tetapi, matanya yang sudah kuyu juga tampak memerah seolah menahan tangis. Ravin tidak bisa lebih peduli lagi dan tidak pernah bertanya dari awal sampai akhir, semua yang dia lakukan beberapa hari yang lalu sungguh hanya sekadar simpati seorang teman. Dia tidak pernah ingin menempati ruang perasaan untuk mereka sudah ada Inara cukup baginya. “Aku minta maaf. Aku tidak mengantarmu,” ujar Ravin ketika sudah membukakan pintu taxi. “Ada pekerjaan yang tidak bisa kulewatkan lagi. Lain kali kita bertemu, aku juga akan mengajak teman yang lain. Mereka ingin menemuimu juga. Itupun kalau kamu tidak keberatan.” Jovanka mengangguk, dia tahu. Bukan hanya dia tidak bergantung pada Ravin tetapi, dekat dengannya lagi berarti orang-orang yang pernah dikenalnya dulu juga akan tahu kondisinya. Dulu dia selalu menjadi, wanita cantik dan sehat penuh stamina mengetahui penyakitnya yang akan melemahkannya dan akan membuat orang lain mengasihaninya. Jovanka sangat membencinya jika hal itu dipikirkan. “Hm, lain kali …bicarakan lagi saja.” “Kamu masih tidak suka? Baiklah, jangan dipikirkan dahulukan saja kenyamananmu. Ok! Sekarang hati-hati di jalan dan sampai jumpa.” Ravin menutup pintu taxi lalu, segera mobil itu melaju. “Masih terus dilihat? Belum puas? Padahal mobilnya udah gak keliatan,” sindir lembut Inara di sisi Ravin. Dia gemas setengah kesal melihat Ravin masih memandangi Jovanka yang sudah tak terlihat seolah menyesal tidak bisa mengantarnya sendiri. Tangan Ravin menarik pinggang Inara membawanya berjalan kea rah mobil mereka yang masih terparkir, membuka pintu lalu mengatakan sesuatu, “Aku sudah menunjukannya bagaimana kamulah yang paling utama tapi, rasanya masih kurang. Tidak masalah jika kamu cemburu tetapi, jangan bicara banyak hal omong kosong dengan teman-temanmu lain kali.” Kemudian pintu tertutup dan Ravin setengah memutar kembali ke kursi pengemudi. Inara merasa tertampar ternyata, Ravin masih menyimpan amarahnya soal kejadian kemarin. Dia tidak tahan terus meliriknya lagi dan lagi. “Mas, aku minta maaf soal yang kemarin. Aku tahu Nadira cukup keterlaluan tapi, dia—“ “Cuman membela kamu? Kasihan sama kamu?” potong Ravin. “Mas.” Inara sedikit takut, sepertinya dia akan salah bicara lagi jika, semua ini dilanjutkan apalagi dia berani membela Nadira di depan Mas Ravin. “Nadira salah, sekarang dia tahu kesalahannya dan ingin minta maaf sama, Mas.” Ravin berbalik menoleh pada Inara. “Mas gak peduli sama hal itu, yang Mas peduliin itu kamu.” Mata Ravin tajam menatap Inara. “Kamu tahu seberapa banyak waktu yang aku berikan sama Jovanka tapi, Mas gak pernah mengabaikanmu. Bukan nya kamu tahu menjenguknya bukan cuman karena dia membutuhkan Mas tapi, juga rasa tanggungjawab Mas karena kamu pernah membuatnya jatuh pingsan.” Tiba-tiba wajah muram Inara muncul. Dia tidak mau mendengar hal itu karena terdengar dia adalah wanita jahat. Jelas-jelas Ravin suaminya, siapa yang mau berbagi meski itu hanya rasa simpati. “Kalau sudah seperti ini, lalu harus berapa lama Mas, ngasih rasa simpati Mas itu sama dia. Apa harus nunggu sampai dia meninggal? Apa itu enggak keterlaluan. Rasa simpati sama aja ngasih dia harapan buat bisa balik lagi sama Mas. Buktinya … dia datang ke kantor, Mas cuman buat makan siang bersama. Kalau aku ngga dateng kalian pasti bakal berdua dan tersebar lagi banyak gossip yang mengiyakan, jika, Mas emang selingkuh. Belum lagi tatapan para karyawan, Mas yang suka bergosip.” Ravin menelan salivanya, tiba-tiba mulutnya kering membayangkan begitu banyak kata yang ternyata bisa keluar dari bibir ranum Inara. Dia pikir istrinya adalah pemalu dan sedikit bicata tetapi, ternyata dia salah istrinya … tetaplah saja seorang wanita yang katanya punya banyak mulut untuk dibicarakan. “Mas gak punya niatan selingkuh dan apa-apaan nungguin dia sampai meninggal.” Inara memutar bola matanya malas. “Mas cuman bisa menyangkal tapi, gak pernah sekalipun berpikir buat menghindar dari hal gossip seperti itu.” “Apa kamu gak percaya sama, Mas? Dan lebih suka dengerin perkataan orang lain? Gossip- itu bisa jadi gossip belaka, kecuali kamu ke makan, tuh, gossip dan jadi boomerang bagi diri sendiri.” “Kita cuman bisa muter-mutet soal ini! Apa aku kurang tegas dan bicara jujur sama, Mas. Oke, aku tegasin. Aku gak suka Mas deket sama mantan Mas itu. apalagi jelas banyak mata melihat, Mas pikir aku ini apa? Gak mikirin harga diriku juga dikira, aku kurang baik sampai suami sendiri berselingkuh dengan wanita sakit. Bukankah itu cuman terdengar menghina aku aja? Mas bisa bela aku soal ini?” Inara terengah-engah karena begitu banyak bicara tetapi, juga sangat lega. Ravin kalah, dia tidak ingin bertengkar lagi. Pikiran tiap orang berbeda meski, itu suami dan istri, yang bahkan satu rumah, satu ranjang dan berbagi kehidupan di sana pikiran dan emosi keduanya belum tentu bisa seiring dan seirama, yang bisa dilakukan hanyalah menyeimbangkannya. Berhenti berbicara dari sana, Ravin mulai menyertarter mobilnya dan pergi ke jalanan mereka perlu kembali ke tempat kerja masing-masing. Dan, selama itu keduanya tidak lagi berbicara. Berhenti di depan pintu Mall. Ravin menarik tangan Inara terlebih dulu sebelum dia membuka pintu. “Jangan bertengkar lagi, Ok?! Mas, juga cape kalau harus diemin kamu terus.” Inara sebenarnya tidak ingin menyerah, dia masih ingin marah tetapi, di bawah tatapan mata jernih suaminya. Dia akhirnya menyerah, mengangguk dengan senyum simpul. “Aku juga gak mau terus marah sama, Mas. Aku gak cape tapi, lebih ketakut. Mas terlalu galak jika, sedang marah.” Ravin tertawa, tengah membenarkan lalu sebelum membiarkan Inara pergi keluar ditariknya tengkuk Inara dan dilumatnya bibir sang Istri tidak peduli mereka tengah di mana lagipula tak akan ada yang melihat karena tebus pandang milik mobilnya yang terbaik. Puas dengan ciuman mereka, Inara buru-buru pergi keluar dengan wajah memerah dan bibir yang basah. “Memangnya apa urusanmu? Jangan sok ikut campur. Kamu bukan siapa-siapa?!” Nadira benar-benar menekan suaranya dengan tatapan tajam pada pria dihadapannya. Satu telunjuknya pun menekan dadanya. Tangan Nadira ditahan, ikut tersulut amarah. “Aku mengatakannya karena kasihan dan peduli sama kamu… kita bukan orang yang baru saja kenal.” Masih banyak hal yang dikatakan kedua orang di dalam. Inara yang berada dibalik pintu kantornya tampak dibuat bingung apa yang sedang mereka pertengkarkan. Memilih mundur dan tak ingin campur biar saja keduanya menyelesaikan masalahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN