Bertengkar

1680 Kata
Suasana hati Elvan sudah sangat buruk tadi pagi, rasa bosan dan jenuh dengan rutinitas yang tidak menentu jadi penyebab tertentu yang gak bisa diabaikan. Meski, Daddy sudah menyuruhnya untuk kembali bekerja tetapi, tentu bukan lagi di perusahaan semula yang sudah dipegang Ravin yaitu, dia dibawah otoriter ayahnya di perusahaan utama keluarga tentu saja dia enggan tetapi bekerja di bawah perintah orang lain dia pun lebih enggan. Jadilah, pekerjaan Elvan saat ini adalah pengangguran tak jelas. Dan, seolah tak ada tempat tongkrongan lain karena rata-rata teman-temannya adalah pebisnis yang sibuk di siang hari. Tempat yang paling memungkinkan menghilangkan bosan adalah mall di mana butik Inara dan Nadira berada. Di sana mungkin saja mendapat inspirasi untuk memulai bisnisnya kembali atau sebenarnya ini hanya alasan belakanya saja agar bisa menemui mereka. Entahlah meski, benci pada keduanya yang tidak pernah dimilikinya tetapi, selalu ada rindu terutama pada Inara penyesalan terbesarnya. “Selamat siang Pak Elvan,” sapa Siti pegawai di sana dengan senyum yang coba ia tarik lebih menawan kali saja mendapat notice dari pengeran ‘GaMove’ di depannya ini. Tidak apa-apa usaha, kan lagipula Bos-nya sudah pisah dengannya dan yang paling penting gak ada si Tika, yang juga ganjen dan suka caper sama ini pria jomblo satu ini beruntungnya, dia sedang sibuk melayani pelanggan. Siti melirik ke sudut ruangan di mana pintu tertutup penuh senyum kepuasaan. “Siang juga, apa dua bos kamu udah pulang dari makan siang?” “Ouh, itu … Mbak Inara belum balik lagi tapi, Mbak Nadira sama pacarnya kayaknya ada di ruang kerjanya.” Kening Elvan berkerut bahkan, telinganya mulai memanas mendengar kata ‘pacar’ Nadira dari mulut gadis ini. Kakinya tentu saja langsung bekerja atas perinah otaknya untuk segera diruang kerja Nadira. Dengan pintu tertutup seperti ini dan berduan saja di dalam sana, tentu saja hati Elvan panas. Biar saja dibilang orang paling egois juga setengah gila karena selalu merasa cemburu pada orang yang bukan kekasihnya. ‘Apa bagusnya pria itu dibanding dirinya, cowok sialan! Nadira juga dia, wanita itu kukira benar menolakku sebelumnya karena Inara tetapi, sepertinya karena pria ini. apa dia pria bernama Bagas kemarin lalu.’ Ternyata, tidak salah. Elvan yang tanpa ragu membuka pintu, merawa beruntung awalnya karena tidak dikunci tetapi, seketika sesuatu hal langsung membuatnya emosi. Apa yang dia lihat kini adalah posisi Nadira dan seorang pria lain, yang tampak tidak ada jarak di antara keduanya. Geram hatinya mengumpat pada Nadira yang tidak menggunakan akalnya untuk menilai seorang pria. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya dalam dan dingin. Nadira menoleh dan cukup terkejut melihat Elvan lagi-lagi ada di sini. “Yang harus bertanya itu aku. Kamu sedang apa di sini dan membuka pintu seenaknya, ini bukan ruang sembarangan yang bisa dimasuki orang seenaknya?” Dengan cepat Nadira menanggapi kehadiran Elvan dengan tekanan kuat. “Orang seenaknya? Lalu, gimana sama dia.” Tunjuk Elvan dengan dagunya. “dia lebih dari sembarangan dan kamu berani memasukan dia ke sini?!” Bagas yang ditunjuk berdiri, menatap Elvan dengan pandangan kesal. Sejak awal bertemu dengan pria ini, nyatanya tidak pernah ada hal baik darinya. “Aku ke sini tentu saja karena undangan Nadira dan tidak masalah selain kamu yang datang tanpa diundang.” Kesal. Ravin berjalan cepat kearah Bagas ingin menarik kerah bajunya tetapi, baru saja dia melakukan hal itu Nadira menarik lengannya dan menepisnya dengan mata melotot tajam setengah mendorong d**a Elvan untuk mundur. “Kamu apa-apaan datang-datang ngajak berantem?” “Siapa yang ngajak berantem? Dia yang mulai.” “Kamu yang mulai, Van. Jangan nyalahin orang lain,” ujar Nadira tidak kalah tegas. “Dan, mau apa ke sini?” “Memangnya aku perlu alasan untuk datang ke sini? Apa aku pernah ke sini dengan alasan yang jelas?” Nadira memutar bola matanya malas tetapi, tidak menanggapinya lagi dan malah menoleh pada Bagas. “Gas, lebih baik kamu pergi dari sini. Tidak peduli apa orang itu tidak akan mengalah dan hanya membuat susah saja.” “Apa kamu bilang?” Elvan yang dibelakang Nadira dan mendengar hal itu tidak terima dan tangannya tanpa sadar mencengkeram bahu Nadira kuat. “Aaakh!” Nadira merintih cukup nyeri. Bagas yang juga melihatnya tentu saja tidak terima, langsung menarik tangan Elvan lalu, memberikan bogem mentahnya tepat di rahang tanpa ampun. “Kurang ajar!” Tentu saja Elvan pun tidak tinggal diam. Kepalan tangannya tidak kurang untuk membuat wajah orang lain bisa babak belur. Dari awal Nadira melihat jika, Bagas mengayunkan pukulannya, dia sudah sangat histeris belum lagi saat ini di mana dua pria itu berguling-guling dengan saling menekan lalu, mengayunkan pukulannya terus berulang kali. Tidak ada yang mau mengalah. Sesuai dugaan tentu saja, keributan ini pasti segera terdengar oleh karyawan-karyawannya yang lain. Mereka semua datang untuk melihat kemudian Nadira berteriak panik pada karyawannya untuk dipanggilkan petugas keamanan. Mereka di sini hampir semua perempuan yang dikhawatirkan tidak akan bisa melerai dua orang pria besar, yang ada mungkin akan terluka. Nadira pun tidak ingin menjadi korbannya. Melihat, orang lain masih focus kurang merespon perintah Nadira Tika yang berdiri terluar akhirnya, berlari keluar mencari keamanan Mall untuk memisahkan perkelahian dua orang di dalam sebelum terjadi hal yang lebih menakutkan seperti pembunuhan. Setelah keamanan datang dalam waktu kurang dari lima menit dua pria itu terpisah dengan wajah penuh luka membuat Nadira seketika sakit kepala. Apalagi pada Elvan, dia tidak mau peduli pada pria itu dan hendak membawa Bagas keluar untuk perawatan tetapi, ditahan Elvan tidak tahu malu. “Mau pergi ke mana tetap di sini?” Nadira tentu saja ingin menolak tetapi, tangannya yang dipegang Elvan sangat kuat sampai keduanya bertatapan. Nadira tidak bisa melawannya dan akhirnya menyerah. “Bagas, aku bakalan nyusul kamu! Pak Muh, tolong jaga teman saya dulu, yah sebentar lagi aku mau bawa dia ke rumah sakit.” Kali ini Bagas tidak bisa terus ikut keras kepala dan dengan baik mengikuti langkah dua petugas keamanan. Belum lagi, Nadira jelas mengatakan akan mengantarnya ke rumah sakit jadi, tidak perlu takut baginya jika akan ditelantarkan Bagas cukup percaya pada Nadira. “Sekarang lepas tanganku sakit!” bentak Nadira. Lalu, menoleh melihat beberapa karyawannya belum pergi. “Kalian pergi keluar!” Mendnegar suara bentakakan keras itu, orang-orang yang tertinggal di sana segera terbang keluar secepat kilat khawatir akan dibelah oleh tatapan sadis si Bos. Sekarang mereka sudah berdua dengan pintu yang tidak tertutup rapat karena saat itu, orang yang terakhir pergi hanya menutup pintunya asal sebelum berlari takut dengan tatapan Nadira. Selama beberapa waktu hanya keheningan yang menyelimuti mereka, tidak ada yang mau mulai berbicara bahkan, kali ini Nadira menolak untuk menatap Elvan tetapi, sayangnya semakin lama mereka diam semakin lama juga dia bisa keluar. ‘Kasian, Bagas lagi nungguin aku.’ Memikirkan hal itu, Nadira akhirnya membuka mulutnya dan akan mulai bicara saat menoleh tetapi, cukup tekejut ketika yang dilihat Elvan tengah meringis sudut bibirnya robek dan jelas tengah berdarah. “Cepat pergilah ke rumah sakit.” Mata Elvan terangkat, “Kalau begitu, ayo!” “Kenapa harus pergi sama aku?” Heran Nadira dengan ajakan Elvan. Elvan menegakkan punggungnya dan menatap Nadira dengan tenang. “Apa kamu pikir aku bisa pergi ke rumah sakit sendiri? Lagipula ini juga ulah temen cowo kamu itu,” ujarnya sambil menggeretakkan gigi. “Siapa yang kamu salahin?” “Pria yang digiring sama keamanan itu. Siapa namanya? Hah, tapi buat apa juga saya tanyain,” ujar Elvan menyebalkan. Kaki Nadira menghentak lantai kesal dengan perilaku Elvan. “Aku pergi! Terserah kamu mau bagaimana?” Lagi, Elvan menarik lengan atasnya menahannya. “Kita belum selesai dan kamu sudah mau pergi.” “Terus kamu mau apa?” tantang Nadira sambil menghempaskan tangan Elvan untuk kesekian kalinya. “Jangan mau berhubungan dengan pria tadi. Dia gak cocok buat kamu.” Nadira memutar bola matanya disertai desisan yang mencibir mendengar pernyataan Elvan. “Lalu siapa menurutmu pantas untukku? Apa itu kamu? Bukan, kan? Jangan mengurusi kehidupanku apalagi soal cowo-cwo yang deket sama aku." Elvan mengabaikan perkataan Nadira barusan 3dan langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan. “Orang itu gak sebaik yang kamu kira, aku lihat bersama wanita lain dan apa-apaan dia yang cuman numpang hidup sama kamu.” “Kamu jangan sembarangan bicara, Van. Lama-lama aku bisa jadi muak.” “Kamu gak percaya? Aku bisa kasih buktinya.” “Elvan,” panggil Nadira dingin. “Aku gak peduli apa yang kamu katakan karena aku bisa mencari tahu sendiri dan cukup sampai sini saja kamu ikut campur, kamu urus saja urusanmu sendiri.” “Apa kamu gak denger apa yang baru aja aku omongin?” “Aku denger dan aku gak peduli!” teriak Nadira marah, yang tampak turut menyulut kemarahan Elvan. Jauh dari pintu dan mulai mendekati ruangan mereka terlihat Inara berjalan tetapi, Nadira dan Ravin belum juga berhenti berdebat. Tepat di depan pintu Inara berhenti melangkah mendengar keributan diruangannya, tidak ingin terlibat banyak akhirnya dia melangkah mundur dan berbalik menghadapi karyawannya duduk di meja kasir dan mulai bertanya. Mendengar semua pernyataan karyawannya Inara menghela napas, tidak habis pikir dengan perbuatan Elvan. “Beruntung sekali, loh, tadi, Mbak. Gak banyak pengunjung dan misahin mereka juga gak ada keributan berlebihan.” Yah, Inara juga lega. Keributan tersebut tidak berlangsung panjang dan membuat masalah menjadi besar dan bahan gossip disekitar meski, nantinya pasti ada. “Jadi, di mana pacarnya Nadira sekarang?” “Tadi, dibawa ke ruang keamanan kayaknya buat diobatin.” “Apa parah banget lukanya?” “Yah, lumayanlah, Mbak. Muka habis ditonjok gimana,” terang Hani Si kasir. Tiba-tiba Hani berdeham, dengan mata sedikit gelisah. “Mbak Inara boleh saya tanya sedikit?” “Hm, apa?” “I-itu Pak Elvan itu seringkali kemari j-jadi, apa sekarang dia beneran pacaran sama Mbak Nadira?” ‘Apa yang terjadi? Kenapa rasanya baru pertama kali aku mendengarnya. Apa benar-benar dibelakangku mereka jadian? Sejak kapan?’ tanya Inara dalam benaknya, selama yang dia tahu malah sebenarnya Elvan itu yang mengikutinya jelasnya masih seringkali merayunya untuk kembali bersama tetapi, dia juga seringkali bersama Nadira dan Elvan mungkin lebih banyak bersama. Inara berkunjung dan melihat seorang pria sedang mengaduh dan meminta orang yang menmbantunya pelan-pelan. Tidak terlihat banyak kesabaran tersisa sang penolong tetapi, juga tidak ada suara protes.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN