“Aku baru melihatmu pertama kali tapi, sudah sering mendengar nama kamu dari Nadira. Senang berjumpa denganmu.”
“Senang juga berjumpa denganmu. Kamu Inara, kan? Aku Bagas.”
Inara tersenyum dan menyambut sambutan tangan Bagas. Sebelumnya Inara yang melihat Bagas berada diruang keamanan dan melihat Nadira yang belum juga keluar mengambil inisiatif untuk mengajak Bagas keluar dan membawanya ke sebuah café yang tidak jauh dari butiknya untuk mencoba berkenalan dengan kekasih sahabatnya. Itu yang dia dengar, karena dari mulut Nadira sendiri. Dia tidak pernah menyebutkan sudah memiliki kekasih tetapi, dia hanya mengatakan jika sedang dekat dengan seorang pria.
“Kamu gak apa-apa? Sepertinya luka di wajahmu lumayan sekali,”
Bagas meringis, menyentuh wajahnya yang bengap dan sepertinya mulai membiru. “Ini sepertinya bukan lumayan lagi,” ujarnya sedikit getir. “Pria itu mantannya Nadira ya? Tapi, Nadira bilang mereka hanya teman tapi, kalau seorang teman kenapa dia seolah sangat cemburu, yah?” tanyanya kali menatap Inara yang seolah meminta jawaban atas persoalan peliknya.
Butuh waktu untuk bisa merespon pertanyaan Bagas karena Inara sendiri terlanjur terkejut sendiri dengan apa yang dipikirkan pria di depannya. Inara meletakkan gelas minumannya dan tidak sedikit mengeluh pada Elvan, yang sudah membuat masalah dengan pria yang sedang mendekati Nadira. “Yang aku tahu Elvan tidak pernah jadi pacar Nadira. so tidak mungkin Elvan itu mantannya.”
Dalam benaknya Inara tentu saja yakin jika, tidak mungkin Nadira berselingkuh selama dia masih bersama Elvan meski, katanya dulu di masa lalu Nadira pernah diam-diam menyukainya.
“Jadi, dia benaran bukan mantan pacar Nadira, yah?” Bagas tampak lega membuat Inara tersenyum karena melihat tampangnya yang innocent seolah dia benar-benar menyukai Nadira. “tapi, pria itu begitu posesif membahayakan sekali, gak tahu sebenarnya apa maunya? Apa dia sebenarnya suka, yah, sama Nadira? Sepertinya sainganku sangat berat.”
“Bicaramu sangat banyak, yah, padahal sedang terluka.” Kekeh Inara dan merasa sangat puas jika, ada orang baik mencintai sahabatnya dengan tulus. Sebelumnya Nadira selalu banyak berpikir ketika mendekati seseorang dan dia selalu berada ditahap PDKT dengan para pria tanpa pernah menjalin hubungan akhirnya.
Bagas sepertinya malu dan segera mengambil minumnya menyembunyikan rasa malunya dengan memalingkan wajahnya ke tempat lain dan tanpa sengaja terlihat butik Nadira belum juga wanita itu keluar dari tokonya. “Apa Nadira masih ditahan sama cowok itu, yah?”
Mata Inara mengikuti arah pandang Bagas. “Aku lihat tadi mereka sedang bertengkar… dan itu untuk pertama kalinya keduanya beradu mulut. Dulu, Elvan pria yang baik dan perhatian sebagai sahabat tentunya.”
“Sebenarnya, aku gak percaya kalau mereka itu hanya sebatas teman. Pria bernama Elvan itu tampaknya sedang mengejar Nadira dan Nadira ….” Bagas tidak berani mengatakan apa yang sedang dipikirkannya.
Inara tidak ingin pembicaraan ini terus berlanjut dengan hanya ada berputar antara Nadira dan Elvan, bukan hubungan kedua orang itu yang ingin dia dengar. “Kamu harus menanyakannya sendiri karena, sudah kukatakan diantara mereka tidak ada hubungan apapun kecuali persahabatan. Sebaliknya, lebih baik kamu pergi ke rumah sakit terlebih dulu dan rawatlah luka-luka itu.”
“Aku pengen ketemu Nadira dulu,” sahut Bagas seolah tidak rela meninggalkan tempatnya dan matanya pun yang seringkali berubah-ubah mencuri lirik mata pada Nadira, seolah masih saja menunggu.
Perlahan Inara, melepas bebanya sebagai sahabat. Dia akan turut berbahagia jika, sahabatnya bahagia dan menemukan pelabuhanan hatinya. Inara hanya terlalu khawatir jadi dia mendekati Bagas sebelum diperkenankan Nadira. “Tapi, kamu harus diobati. Luka-lukanya bisa jadi infeksi.”
“Ouw, benarkah?”
Saat Inara membujuk Bagas untuk segera diobati ke rumah sakit atau klinik Nadira keluar dengan wajah yang merah padam dan pernapasan yang berat karena menahan emosi di hati. Di sisi lain Elvan sudah keluar begitu saja tidak mengatakan apa-apa lagi tetapi, ketahuilah dia juga memiliki emosi yang tinggi.
“Itu Nadira.” Tunjuk Inara dengan jarinya, yang langsung mengambil perhatian Bagas yang langsung menoleh dan melambai pada Nadira. Senyumnya semakin ditarik panjang dan lega bisa melihat wanita yang disukainya baik-baik saja. “Aku akan ke sana?”ujarnya sambil bangun.
“Tidak perlu, jangan memak—sa.” Tapi, Bagas sudah bangun dan berlari kea rah Nadira. Inara kemudia hanya bisa menarik napas, bisa melihat panas asmara yang sedang melejit membawa bertemu sasarannya. Tidak peduli lagi sekitar, Inara pun berdiri dan pergi ke toko butiknya.
Nadira baru saja berhenti berdebat dengan Elvan. Pria itu dengan segala kekeraskepalaannya dan egoisnya sampai-sampai mengatakan hal buruk tentang Bagas, yang tidak mungkin dia bisa percaya apalagi saat ini ketika dia melihat wajah tampan dan polosnya harus hancur penuh luka. “Kamu ngga papa? Wajah kamu ….”
“Aku gak papa, udah sempet diobati tadi,” ucapnya sambil memegang tangan Nadira. “kamu juga baik-baik aja, kan? Gimana urusanmu sama cowo itu? dia bakal berhenti buat ngga ganggu kamu, kan?” Helaan napas Bagas ketara sekal memendam sesuatu yah, tentu saja dendam tidak mungkin tidak pada pria yang sudah berjalan jauh.
“Hm, gapapa. Soal yang lainnya, sedang aku usahaain,” jawab Nadira dengan wajah ditekuk ke bawah dan tanpa sengaja melihat kedua tangannya sudah digenggam, mendongak dia melihat tatapan matanya yang kini berbeda. ‘Apa ini pengaruh ucapan Elvan? Tiadak mungkin juga, kan dia berbohong’ untuk apa?’
Nadira tidak tahu nilai akan dirinya sendiri, selalu berpikir dengan rendah hati di mana dia terlalu terbiasa melihat sahabat-sahabat terdekatnya tampak lebih mampu dan luar biasa di sampingnya. Tidak jarang dia hanya di manfaatkan untuk hal-hal sepelurnya tetapi, jiwanya yang sederhana.
“Hey, kalian jangan berdiri di tengah jalan seperti ini.” Inara membantu mengingatkan, menepuk keduanya untuk sadar dan masuk lagi ke dalam.
“Nara,” panggil Nadira dengan perasaan lega.
“Aku tidak percaya dengan Elvan, gimana dia bisa ngomong kayak gitu?” keluh Nadira pada Inara setelah hanya tinggal mereka berdua. Meskipun, dalam hati dia menjadi waspada karena takut sekali jika, pria itu cuman membodohinya.
“Aku juga gak bakal percaya, kalau kamu ngga ngomong,” sahut Inara yang langsung meredam kehebohan Nadira dan menekuk wajahnya berkali-kali lipat. ‘Aku harus cari tahu sendiri apa yang dikatakan Elvan itu benar atau tidak.'
Inara menepuk lengan Nadira membuyarkannya dari lamunan. “Jangan melamun. Ayo, pulang!”
Keduanya akhirnya bergerak bersama-sama, disisi lain Bagas sedang membanting-banting helm motornya sampai pecah tidak peduli di mana ada orang lain akan mendengarnya sebaliknya, sikapnya kali ini menjadi bahan tertawaan para sahabatnya yang sedang mengelilinginya. Bagas sedang berada di basecam teman genknya.
“Udah, Bro. udah hancur, tuh, helm, mau lo gimanain juga tuh udah ancur.”
Bagas langsung berhenti dan menarik napasnya hati-hati. “Kalian harus bantuin gue balas dendam. Cowo sialan! Itu perlu dikasih pelajaran.”
Semua kawanan Bagas itu pun mengangguk tanpa protes sedikit pun mereka terdiri dari lebih dari sepuluh orang. Tempat yang mereka jadikan markas punadalah sebuah gudang bekas yang tidak terpakai. Orang –orang ini beragam, semua ada pencuri, perampok juga seperti Bagas yang selalu menyamar pekerjaannya di sebuah perusahaan sebagai montir pengganti itu hanya alasan belaka untuk mendapatkan korban-korban yang lebih berisi dibanding orang-orang disekitar mereka yang rata-rata kalangan sederhana ke bawah.
Pertemuan Bagas dan Nadira pun awalnya dari sebuah kejadian pencurian yang dilakukan rekan genknya. Melihat potensi lebih besar dibandingkan dompet kecil yang nilainya tidak seberapa, dia berpura-pura membantu Nadira dan tentu saja itu semua juga karena wajah serta penampilan Nadira yang menunjang keberadaanya yang luar biasa. Gadis muda, cantik, mandiri punya pekerjaan dan mobil mewah juga itu cukup untuk buat mereka menguras hartanya dan lebih mujur bagi Bagas, yang tertarik secara fisik dengan Nadira. Dia menginginkan tubuhnya tetapi, sayang itu lebih sulit daripada membuatnya mengeluarkan uang untuk meneraktirnya.
“Terus cewe itu gimana? Apa lo gak mau bagi sama kita-kita?”
“Awas saja, kalian berani, nyentuh dia dikit aja.” Ancam Bagas dengan tatapan tajam pada semua teman-temannya. “Sedikit aja, kalian gak boleh ganggu dia. Dia cewe gue dan cuman milik gue.”
Mendengar pernyataan tersebut, semua orang diam-diam mengambil hati dan menulisnya. Bagas orang yang paling emosinya rendah tetapi, sekali emosi dia bisa menghancurkan apa saja di depan matanya.