Niat Balas Dendam

1523 Kata
Bagi Nadira sebenarnya dekat dengan namanya pria, bukan jadi yang pertama kalinya. Tidak bisa dihitung berapa banyak kalinya dia melewati proses pendekatan untuk menjalin hubungan seperti ini. Lelah? Tidak juga. jujur saja, dirinya bukan orang yang mudah bisa jatuh hati makanya, melalui pendekatan dan perkenalan sifat dan sikap merupakan andalannya yang utama untuk meningkatkan hubungan berlanjut ke hal yang lebih intim seperti, pacaran. Tetapi, karena inilah Nadira punya banyak masalah karena para yang mendekatinya mulai merasa jenuh dengan pendekatan yang panjang dan tidak semua punya kesabaran toh, mau bagaimana lagi perasaan Nadira tidak semudah seperti menganggukkan kepala. Namun, mungkin Bagas adalah pria yang berbeda. Bagas masih sangat setia dalam masa perkenalan mereka yang sudah hampir tiga bulan. Tidak hanya itu, dia tampak jadi, orang yang sabar bahkan, setelah dia bertemu Elvan dan tampak direndahkan. Meskipun begitu Nadira saat ini tidak percaya diri setelah apa yang dilakukan Elvan, apa Bagas tidak akan dendam dan marah meskipun di wajahnya dari awal sampai akhir ketika bersama dengannya tidak menampilkan raut kebencian tetapi, malah menimbulkan rasa bersalah di hatinya dan ini semua tentu saja salah Elvan. “Berhenti melamun!” tegur Inara sambil mengguncang bahu Nadira. “Sorry, aku masih merasa stress.” “Soal yang kemarin? Kamu udah hubungin si Bagasnya, udah bawa dia ke rumah sakit, kan? Pas kamu anter dia balik.” Nadira mendesah, menggeleng tidak berdaya. “Dia nolak. Gak mau banget dan terpaksa aku cuman bawa dia pulang ke kontrakannya dengan beberapa obat yang kubeli di apotik.” “Kenapa dia gak mau padahal wajahnya lumayan bengap, kan?” “Iya, makannya tapi, tadi pagi dia nelpon katanya lumayan baik meski, masih gak bisa masuk kerja.” Inara langsung menoyor kening Nadira. “Bodoh, jangan dipiara masa ada gapapa tapi, gak bisa masuk kerja. Lebih baik kamu tengok sana tapi, nanti udah pulang kerja.” Nadira nyengir, ngangguk setuju. “Itu juga yang gue pikirin.” “Hm, terus urusannya sama Elvan gimana?” “Ngapain, aku ngurusin dia,” keluh Nadira memalingkan wajahnya. Dia tidak mengerti bagaimana bisa Elvan bersikap keras seperti kemarin sejak kapan pria itu jadi, suka ikut campur urusannya. ‘Apa itu pengaruh karena dia masih suka sama aku, yah?’ Nadira bertanya-tanya dalam hati tetapi, membayangkan lagi sikapnya, dia menggeleng semua itu tidak bisa diterima Nadira. Cinta yang pernah diucapkan Elvan itu hanya pengaruh sesaat dari suasana mereka sebelumnya, yang sesungguhnya hati Elvan memang milik Inara. “Kenapa?” tanya Inara kali ini karena melihat Nadira menggeleng kuat dalam lamunan. “Jangan bohong, cepat bicara!?” “Sepertinya Elvan dendam banget sama aku, gara-gara dia gak dapet kamu lagi jadi, dia lampiasin sama aku.” “Apa salah kamu, sampai dia lampiasin masalah aku sama dia ke kamu.” Kesal Inara mendengarnya, sudah jelas semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri. Kemudian, Inara menoleh dan menatap Nadira lekat-lekat. “Nadira,” panggilnya serius. “Apa?” sahut Nadira dengan wajah yang sudah berubah kusut tetapi, sesaat dia menoleh dan menata wajah Inara. Raut Nadira berganti menjadi sebuah rasa kejutan. “Ada apa? Matamu menyeramkan, Inara.” Inara tidak memedulikan pernyataan terakhir Nadira, dia langsung bertanya pada tujuannya. “Kamu benar-benar gak pernah menjalin hubungan dengan Elvan, kan? Kamu harus jujur, aku tidak akan marah atau membencimu karena itu terjadi di masa lalu juga.” Kening Nadira berkerut sangat tebal, tidak percaya sahabat baiknya mempertanyakan hal seperti ini. “Nara, kamu gak percaya sama aku?” tanyanya penuh dengan rasa kecewa. “Aku bukannya gak percaya t-tapi, apa yang dilakukan Elvan sama kamu tampak terlalu berlebihan bagiku. Jika, memang kalian hanya sebatas teman.” Tangan Nadira meraih tangan Inara, lalu bicara dengan sungguh-sungguh. “Aku gak pernah khianatin kamu, Nara. Kamu teman yang paling berharga buat aku terserah orang lain mau bicara apa tapi, bagiku kepercayaan kamu yang paling penting. Kalau kamu udah gak percaya, aku bisa apa?” Melihat wajah Nadira yang jadi ditekuk soal pertanyaanya, Inara juga tidak bisa tidak percaya. Jika, seharusnya tidak perlu mempertanyakannya lagi dan hanya percaya pada Nadira. “Maaf, aku bodoh sampai harus bertanya lagi. Kita, kan sahabat sampai mati.” *** “Kalian udah ketemu itu orang?” Bagas bertanya pada teman-teman genk-nya sambil membawa-bawa tongkat besi yang ia pukul-pukulkan pada besi lainnya yang membuat kebisingan yang gaduh. “Gak semudah itu, Gas. Kita cuman bisa lihat dari jauh, dia anak orang kaya banget perumahan elit, yang gak bisa sembarangan orang bisa masuk.” Kesal. Mendengar berita seperti itu, tanpa ada kesabaran Bagas melempar tongkatnya berdiri mendengus melirik teman-temannya lalu, berlalu pergi. Lebih baik dia menemui Nadira tetapi, wanita itu kan tahu dia sakit jadi, lebih baik mereka tidak usah bertemu dulu dan dia bisa memikirkan untuk balas dendam pada pria sialan yang sudah mencari gara-gara dengannya. Namun, pikirannya hanya bertahan sesaat karena tiba-tiba saja smarthphone nya berdering di saku saat dilihat itu dari Nadira. Baru saja dipikirkan, wanita ini sudah menghubunginya membuatnya tidak tahan melebarkan senyumnya dan menekan tombol menjawab dengan penuh semangat. “Halo?!” “Halo, Bagas.” “Iya, ini aku,” sahutnya sumringah. “Tentu saja, aku tahu…hm, aku kirim paket makas siang untuk kamu. Aku takut kamu tidak bisa ke mana-mana dan tidak bisa makan. L-lalu, nanti sore aku akan berkunjung, boleh aku menengokmu, kan?” Ditelepon Nadira dengan santai berbicara tidak tahu jika, Bagas malah sedang berbunga-bunga puas dengan pengaturan tersebut. “Nadira, harusnya kamu tidak perlu repot-repot. Aku bisa melakukannya sendiri. “ “Jangan menolak! Ini hanya makan siang, kamu harus makan, minum obat lalu usahakanlah tidur lagi. Istirahatkan tubuh kamu. Pokoknya, sore ini aku kan menjengukmu,” Mendengarnya tentu saja, Bagas semakin senang sampai berjingkrak-jingkrak. Kemudian, mereka mengakhiri teleponnya dan segera berlari pulang ke kost- kostannya menunggu paket makannya datang. Di sore hari Nadira benar-benar datang dengan membawa segala macam buah tangan. Di depan pintu, Bagas berdiri menyambutnya. “Kenapa, kamu membawa segala macam seperti ini?” protesnya ketika Nadira tepat di depan mukanya tetapi, tangannya pun refleks mengambil hal-hal di tangan Nadira sendiri. “Aku tidak bawa segala macam juga,” balas Nadira sambil tertawa dan masuk ke dalam kost-kostan, yang merupakan kamar sepetak dengan isi di dalam tidak terlalu mewah terdiri dari ranjang, lemari dan dapur satu lagi, ada wangi yang masih tercium sepertinya baru saja dibersihkan. “Di sini cukup hangat berbeda, pas waktu aku ngkost dulu.” Nadira, jadi teringat masa-masa perjuangannya kembali saat masih menjadi seorang mahasiswa miskin, yang terus berjuang untuk meraih mimpinya tidak disadarinya dan itu hanya beberapa tahun lalu, dia tidak menginjakkan kaki ke tempat bernama kost-an lagi. “Duduklah di ranjang, jangan di atas lantai.” “Tidak apa-apa aku di sini saja,” sahut Nadira dengan santai dan mulai dududuk di atas karpet yang digelar. “Kamu yang harus berbaring di sana.” “Tidak perlu, aku baik-baik saja,” elak Bagas dan membawa kakinya ke bagian dapur yang masih bisa dilihat dengan mata telanjang. “Mau minum apa?” tanyanya sambil membuka kulkas. “Apa saja, air putih juga tidak apa-apa tapi, Bagas …” “Apa?” tanya Bagas sambil berbalik dan melihat Nadira lagi karena perkataanya tidak lagi terdengar. Saat dilihat Nadira tengah menatapnya lekat-lekat, Bagas menyentuh wajahnya yang lebam-lebam dengan sengaja sedikit meringis agar lebih banyak diberi perhatian Nadira. “Lihatkan, kamu belum baik-baik aja. Cepat berbaring, biar aku yang ambil sendiri kalau mau minum,” ujar Nadira sambil berdiri tegak lalu berjalan kearah Bagas mengambil alih gelas ditangannya lalu, menarik pria itu kea rah ranjangnya dan mendorongnya untuk berbaring. “Aku bakal urus-urusanku sendiri. Kamu udah minum obat lagi? Salepnya juga dipakai, kan?” Bagas tersenyum bodoh, seperti bukan seorang preman sebelumnya. Dia menatap Nadira penuh cinta dan tidak berhenti mengekornya dengan bola matanya yang bergulir mengikuti gerakan Nadira yang tampak seperti rumanya sendiri dari mengambil minum lalu, mencari kantong obat yang disimpan Bagas di atas lemari. Memeriksanya sebentar dan melihat jika, obat-obatan itu tampak berkurang yang berarti Bagas memang minum obat. “Sudah lihatkan, aku minum obat, loh!” “Iya, iya. Aku cuman takut kamu lupa saja,” ucap Nadira sambil duduk di tepi ranjang, menatap Bagas dan memerhatikannya secara seksama. ‘Tidak terlalu parah, hanya beberapa hari lagi wajahnya bakal lebih baik.’ pikir Nadira dalam hati. "Hey, kenapa melamun." Usik Bagas dengan tangan yang melayang di depan wajah Nadira, melihat matanya yang terus menatapnya tetapi, dengan pikiran yang sepertinya tidak ada di sini membuat Bagas malu juga tidak sabaran dibuatnya. Nadira tersenyum simpul, "Maaf, aku lihat luka kamu sampe segitunya, "ucapnya jujur. "Hm, juga aku benar-benar ingin minta maaf rasanya gak cukup buat minta maaf karena kamu udah luka banyak kayak gini." "Dari kemarin kamu udah minta maaf terus-menerus. Aku gak ada masalah sama kamu tapi, buat cowo itu. Tentu saja beda lagi." Bagas benar-benar tinggal diam dan bakal balas dendam dan hanya tinggal tunggu waktunya. Bulu kuduk Nadira berdiri begitu saja setelah bertatapan dengan mata Bagas yang berkilat tajam dan itu cukup membuat Nadira speechless. 'Aku gak tahu jika, Bagas memiliki aura kayak gini?! lumayan serem juga dan semoga dia gak punya niat balas dendam sama siapapun.' Sejenak Nadira memikirkan tentang Elvan. Bukan hanya takut jadi, pelampiasan dendan Bagas tetapi, juga bagaimana luka-lukanya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN