Klik!
Ravin memasuki mobilnya, akhirnya dia bisa pulang lebih awal dan makan malam bersama Inara. Itulah yang awalnya dia bayangkan ketika sampai di apartemen di mana istrinya tengah menyambutnya dengan makanan panas hangat, mandi air hangat lanjut, yang paling penting adalah ranjangnya yang hangat sambil memadu kasih. Namun, sayang. Ravin yang baru saja berbelok untuk keluar parkir harus dicegat seseorang, beruntung baginya tidak sampai terjadi kecelakaan.
Tubuh Ravin terbanting ke depan setir. Dadanyalah yang kena, cukup sakit digosoknya pelan sambil menajamkan penglihatan sebenarnya siapa yang berani mengganggu jalannya, “Apa orang itu sudah ingin mati,” runtuknya sambil berjalan keluar, yang akhirnya membuatnya terkejut dua kali. “Jovanka, itu kamu? Apa yang kamu lakukan, hah, sampai berani menghalangi mobilku?” tanyanya dengan nada marah tetapi, Ravin juga tidak tinggal diam melihat seorang wanita tergeletak jatuh maka, ditolonglah dia sampai berdiri.
“Ravin,” panggil Jovanka setelah dia akhirnya sadar dan refleks langsung menjatuhkan pelukan pada Ravin. “Baru saja aku takut,” ungkapnya sambil menitikkan air mata.
“Jo, Jo, lepas!” Ravin benar-benar ingin melepaskan pelukan Jovanka yang tiba-tiba jika, saja dirinya lebih sigap. Dia bisa mengelak dari tingkah laku mantannya ini. Mata Ravin melirik ke sana kemari, khawatir jika akan ada pegawainya yang melihat kemudian menyebarkan gossip.
Akhirnya, karena tubuh lemah Jovanka. Ravin bisa menarik lepas tangan Jovanka dan memberikan jarak pada diri mereka berdua. Mata Jovanka masih sangat merah, meski tidak sampai menangis kencang. Air matanya memang keluar padahal yang lebih kaget adalah dirinya kenapa, yang menangis Jovanka. “Jangan menangis, biar aku lihat. Apa ada yang terluka?”
Jovanka menggeleng, sepertinya tidak ada yang terluka. Sebelumnya dia hanya terlalu terkejut mobil itu hampir menabraknya. Sungguh teledor, dia yang tidak bijaksana setengah berlari menghadang mobil. “Maaf, maafin aku, Vin. Baru aja aku hampir bikin kamu celaka.”
Ravin mendesah, dia memeriksa baik-baik tubuh Jovanka. Memastikan memang tak ada luka setelah, itu barulah dia menjawab pernyataan maaf Jovanka. “Daripada bilang ‘bikin aku celaka.’ yang sebenarnya itu, kamu yang bikin diri sendiri celaka dan tentu saja aku yang dapet kesialan. Bisa-bisa aku disangka bunuh orang,” ungkap Ravin Jujur.
Jovanka gelagapan, tidak menyangka Ravin benar-benar marah kali ini. Segera saja, dia membuat tubuhnya lemas, sempoyongan dan sengaja jatuh dalam dekapan Ravin lagi. Terasa Ravin tidak ingin menahannya dan setengah mendorong bahunya tetapi, Jovanka segera bersuara. “Tubuhku lemah, Vin. Aku harus pergi ke dokter sekarang. Jangan mendorongku!”
“Tapi, kamu berat Jo. Minggirlah atau oranglain akan melihat kita nanti.” Ravin berusaha sabar akhirnya, Jovanka bersedia menggerakkan tubuhnya memberikan jarak.
“Ada apa? Kenapa kamu sampai ada di sini?”
Mendengar pertanyaan seperti itu Jovanka menelan salivanya gugup, menatap mata Ravin meminta pengertian. Tetapi, siapa dia. “Sudahlah, jika tidak dijawab. Aku harus pulang terlebih dulu.”
“J-jangan, jangan pergi!” Jovanka segera meraih lengan Ravin. Kemudian, melihatnya akan mudah lepas dari cekalannya. Jovanka berlari, kemudian duduk di dalam mobil. “Aku akan di sini saja.”
“Jo, keluar! Untuk apa kamu di sana?” Ravin segera mendekat, hendak mengusirnya tetapi, setelah berkali-kali membujuk dan tidak juga berhasil dia menyerah. Ravin bisa melihat, Jovanka ternyata masih menggunakan piyama rumah sakit yang kemungkinanannya dia kabur dari sana dan seolah membenarkan tebakannya. Jovanka membuka mulut dan menceritakan keinginannya.
Ravin mengusap wajahnya, tidak habis pikir dengan yang dilakukannya. Akhirnya terpaksa Ravin tidak bisa mengarah ke apartemen dan bertemu Inara. Melainkan membawa Jovanka kembali ke rumah sakit, menyerahkan pasiennya yang kabur. “Dokter, Jovanka ada di sini!” Ravin langsung menemui mereka dokter dan orang tua Jovanka di kamar rawatnya.
Jovanka yang tidak mau bergerak, tetap berada di sisi Ravin. “Maaf, aku kabur tapi, aku ngga akan melakukan kemoterapi kalau Ravin gak di sampingku. Vin, aku bakal ngelakuin kemo lagi tapi, asal kamu disisi aku.”
Jantung Ravin lagi-lagi hampir copot, baru saja dia menarik Jovanka dan menyerahkannya pada pihak rumah sakit dan orang tua Jovanka sendiri. “Jangan main-main, Jo, aku lelah! Aku gak bisa bantu kamu.”
“Ravin, aku mohon.” Lagi, Jovanka menarik tangannya setengah menahannya. “Aku cuman pengen ditemani kamu.”
“Aku gak bisa, Jo. Lihat, sudah ada orangtua mu dan dokter-dokter di sini. Kehadiranku gak diperlukan.”
Bola mata Jovanka, berkaca-kaca semua kesedihannya berkumpul di sana sebuah permohonan yang besar mungkin, saja dia masih harus bersedia demi rasa kemanusiaan tetapi, hari ini hal itu tidak ada. Inaranya masih di apartemen, menunggunya pulang.
“Ravin, please! Temenin aku, jadi kekuatan bagiku.”
“Jo, itu gak mungkin,” balas Ravin melepaskan cengkeramannya. “Maaf, Om, Tante. Beberapa waktu yang lalu Jovanka jatuh di depan mobil saya beruntung tidak terjadi kecelakaan.”
“Nak, R-ravin …hari ini Jovanka akan melakukan kemoterapi lagi. Tidak bisakah kamu menemaninya?” tanya itu datang dari Maria yang berwajah datar tetapi, tatapannya melekat pada Jovanka yang masih merengek getir menahan lengan baju Ravin.
“Maaf, Om dan Tante. Saya gak bisa. Saya masih memiliki urusan lain,” jawab Ravin sedikit tegas, dia juga beralih pada Jovanka. “Jo, aku selalu berdoa buat kamu. Lakukanlah yang terbaik dan masih ada lain kali untuk kita bertemu.”
Bukannya luluh tetapi, Jovanka makin tertekan dan langsung memeluk Ravin. “Aku tidak tahu. Apa aku bisa bertahan buat kemo, Vin. Itu sangat menyakitikan karena itu aku pengen kamu tinggal buat nemanin aku. Jadilah, kekuatan aku.”
“Jo.”
“Aku mohon, Vin. Aku butuh kamu,” ucap Jovanka hampir saja tersedak tangisnya sendiri. juga makin erat dia memeluk Ravin. “Please, aku butuh orang lain selain, kedua orangtua aku. Aku butuh kamu Ravindra Malik, orang yang aku cintai dan tiap malam aku rindukan.”
“Tapi, aku sungguh gak bisa!” Tolak Ravin, yang akhirnya menyerah ditengah jalan setelah bagaimana bukan hanya Jovanka yang memohon, tante Maria pun malah ikut mendukung putrinya. Harapannya tinggal satu, “Om, tolong! Kasih mereka pengertian.” Namun, sayang. Itu tak digubris juga. sepanjang sore dan malam itu akhirnya Ravin masih harus berada di rumah sakit melihat Jovanka kesakitan dari balik kaca.
Hari sudah gelap ketika Ravin kembali ke apartemennya. Dia berusaha sepelan mungkin ketika masuk agar tidak mengganggu tidurnya Inara di dalam kamar. Kebiasaannya yang beberapa minggu lalu sudah dia ubah kembali terulang dua hari ini, kemarin dia harus lembur dan kali inilah yang sedikit jadi masalah. Membuatnya tidak enak hati pada Inara karena mungkin dia harus berbohong jika, ditanya apa alasannya dia kembali larut malam lagi.
Lelah tentu saja sudah menumpuk, Ravin ingin sekali langsung berbaring masuk kamar dan berselimut tebal tetapi, dia tidak berani memasuki kamar. Hari-hari Inara cepat sekali sensitive jika, terganggu bukan hanya karena dia terlambat yang nantinya menjadi masalah tetapi, hal lainnya. Jam setengah satu malam, ketika Ravin mendongak dan melihat waktunya. ‘Ini lebih dari jam malam kemarin. Menghela akhirnya menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Sore tadi, baru saja dia berniat pulang seseorang berdiri di depan mobil. Antara terkejut dan tidak, Ravin hanya bisa pasrah saat Jovanka membuka pintu dan duduk di sampingnya. Jika bukan kata ‘Maaf.’ yang pertama kali diucapkannya, Ravin yakin dia tidak akan pernah bersedia berbicara lagi. Apa yang diinginkan Jovanka, memang terdengar sepele tetapi, di depan istrinya tentu saja bukan hal mudah lagi ada perasaan yang perlu dijaganya. Dia tidak seberengsek itu untuk bisa membagi perhatian.
Cintanya pada Jovanka, benar-benar sudah kadarluarsa. Berlalu sudah bertahun-tahun lalu. ‘Jika bukan karena aku masih menghormati Tante Maria dan Om Hari. Aku sudah tidak bisa peduli lagi pada Jovanka. Bukan hanya Inara tapi, bisa-bisa ikut mengamuk kalo aku harus melakukan hal seperti tadi.’ Gusar Ravin, mengerang kesal sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Sore tadi. Merupakan jadwal Jovanka melakukan kemoterapi tetapi, dia tidak mau melakukannya tanpa didampingi olehnya. Awalnya hanya Jovanka tetapi, saat dia tidak tergerak tante Maria, yang mungkin tidak tega melihat bagaimana putrinya memohon akhirnya menyerah dan melakukan hal tak masuk akal juga. Dengan sama memintanya untuk bisa menemani Jovanka.
“Tante tahu, Ibumu bakal membenciku tetapi, demi putrinya Tante juga tidak bisa apa-apa. Ravin, Tante mohon, bantu Jovanka temani dia. Dia membutuhkan seseorang sepertimu.”
Ravin bukan tidak kasihan, yang berarti bukan tidak punya hati tetapi, bagaimana akhirnya? Mau sampai kapan, dia harus berada di sisi Jovanka sampai dia meninggal? Atau sampai harus menunggu rumah tangganya hancur jika, dia diam-diam terus berada di sisi wanita lain. Apa istrinya, Inara akan baik-baik saja.
“Mas Ravin,” panggilan itu terdengar sedikit parau khas orang bangun tidur.
Menoleh kearah kamar tidur Ravin melihat Inara sedang berdiri di depan pintu sambil mengusak matanya. “Apa kamu terbangun, Sayang?” Buru-buru Ravin datang menghampiri.
“Kamu baru pulang?”
“Maaf, yah, aku pulang sangat terlambat.”
Inara menggeleng, melihat wajah kusut Ravin dia tidak tega memarahinya. “Kamu udah makan? Mau mandi dulu atau langsung istirahat?”
Ravin mengendus pakaiannya, dia baru saja datang dari rumah sakit yang mungkin saja tidak baik jika, langsung tidur meski, tubuhnya benar-benar lelah. “Mas udah makan tapi, kayaknya harus mandi dulu. Biar enak tidurnya.”
“Ok,” Inara langsung berbalik. Sebenarnya baru saja ingin memeluk suaminya tetapi, entah kenapa wangi tubuh suaminya sedikit membuatnya mual. Diurungkannya niatnya, lebih baik biarkan suaminya mandi terlebih dulu sebelum nanti dia peluk. Inara menyiapkan air hangat, juga teh hangat agar tubuh suaminya yang lelah memiliki sedikit energy. Setelah selesai Inara kembali berbaring lagi, menunggu sambil menatap pintu kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, kurang dari sepuluh menit Ravin sudah selesai mandi dan hanya tinggal mengeringkan rambut lalu, segera berbaring tidur. Inara tampaknya kembali tertidur, Ravin menggaruk rambutnya ingin menyalakan hairdryer tetapi, takut mengganggunya. Dia akan pusing jika, rambutnya tidak kering tetapi, saat dia hanya bisa pasrah sebuah tiupan lembut menyapu tengkuknya. “Aakhh!”
Inara terbahak, melihat Ravin yang berteriak karena terkejut. “Ha ha, Mas Ravin kaget banget, yah? Duh, aduh Sayangku, cepet kemari aku keringin rambutnya,” ujar Inara masih tertawa tetapi, dia tidak peduli dengan ketakutan suaminya barusan.
“Kamu, jangan bikin aku kaget, yah? Aku keselan loh, orangnya.”
“Bukannya penakut, yah?” kekeh Inara ditengah mengeringkan rambut Ravin. “Gak nyangka, ternyata Mas Ravin penakut juga.”
“Enak aja!” Ravin menjawil hidung Inara. “Sudah cukup, udah kering, kok. Mas udah ngantuk. Kita tidur!”
Inara tidak menolak dan segera keduanya berbaring. Mala mini Inara tidak terlalu nyenyak lagi untuk tertidur, dirasanya selalu tak nyaman dibagian perut dan berpikir mungkin dia akan segera datang bulan. “Mas, usap-usap perutku! Rasanya gak nyaman sekali.”
Ravin benar-benar sudah hampir jatuh kea lam mimpi, dia hanya bisa berguman ketika mendengar suara Inara hingga hitungan detik tak ada pergerakan. Inara mengguncang lengan Ravin sebelum suara dengkuran keras terdengar. Inara menghela napas, Ravin benar-benar tertidur padahal saat ini, dia sangat butuh perhatian seperti usapan kecil yang dia minta setelah seharian mereka tidak bertemu. Entahlah, beberapa hari ini dia sangat ingin dimanja Ravin tetapi, tidak pernah kesampaian karena kesibukkan mereka.
“Duh, rasa-rasanya perutku sedikit membuncit. Makanku terlalu banyak akhir-akhir ini, jangan sampai aku disangka hamil nanti.” Memikirkan hal tersebut, Inara tiba-tiba termenung, bagaimana jika dia hamil? Selama ini dirinya dan Ravin tidak pernah membicarakan hal itu kecuali saat-saat awal pernikahan.
Keduanya tidak pernah benar-benar menunda juga tidak ada pencegahan. Berpikir kapanpun titipan itu datang, mereka berdua akan berusaha merawat dan menjaganya. Inara tersenyum mengingat janji suaminya tapi, sepertinya dia belum hamil nyatanya beberapa hari ini malah tanda-tanda haid yang muncul. Sakit pingganglah, nyeri otot kakilah. “Gapapa, sih, jika belum pun tetapi, Ya Tuhan semoga disegerakann, yah?!” pinta Inara dalam doa sambil menoleh lalu, kemudian berbalik meringkuk dalam pelukan Ravin. “Aku ingin segera melihat Ravin junior.”
**
Di ruang rumah sakit. Maria dan Haris merasa cukup kelelahan, kali ini kemoterapi yang dilakukan Jovanka terasa lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Yang membuat Maria dan Haris begitu sakit hati dan tidak tega melihat wajah putri mereka, makin pucat dan lebih pucat lagi. Jovanka terus saja, berkeringat dingin, matanya tertutup berjam-jam sudah.
“Ma, Mama istirahat dulu,” ujar Haris baru saja terbangun dan menghampiri sang istri yang masih terjaga di samping ranjang putri mereka. “Biar Papa yang jaga Jovanka di sini!”
“Pa, Papa saja yang istirahat! Besok Papa masih harus kerja, kan? Mama gapapa. Mama masih kuat.”
Haris mengusap lengan sang istri yang dan melihat Jovanka dengan mata sedih. Mereka kira setelah tahun-tahun itu berlalu, tidak akan pernah lagi masa berulang namun, sayang. Mereka masih harus melihat hal ini terjadi lagi. Sungguh sakit merasa sangat tidak berdaya ketika, ternyata penyakit itu malah kambuh lagi. Menyiksa batin dan raga mereka terutama itu Jovanka.
“Pa, apa kali ini Jovanka akan lebih baik? Apa dia akan terlepas dari penyakitnya ini?” tanya Maria yang sebenarnya antara tahu dan tidak, bagaimana akhir dari putrinya. “Kemoterapi ini sangat menyakitkan baginya, Mama tidak tega,” ucapnya semakin lirih.
“Semoga ini akan menjadi yang terakhir,” jawab Haris yang juga tanpa keyakinan.” Jovanka harus bisa bertahan lagi. Dia tidak bisa kalah dengan penyakit ini, masa depannya masih terlalu panjang. Banyak hal yang masih ingin dia raih termasuk cinta, dia tidak bisa tertinggal dengan kesepian seperti ini.” Tiba-tiba suara Haris menjadi berat. Dia mengingat apa yang terjadi hari ini.
Seperti yang dipikirkan Haris, itu juga yang dipikirkan Maria. Awalnya dulu Jovanka melarikan diri, karena merasa tidak sanggup menerima berita jika, penyakit berbahaya itu menyerang tubuhnya. Jovanka yang dulu terbiasa hidup sehat, penuh percaya diri dan selalu unggul di manapun. Terutama pernikahan dengan Ravin, yang juga merupakan masa depannya namun sayang semua sudah menjadi masa lalu dan kumpulan debu.
“Ravin sudah tidak mencintai Jovanka, Pah,” ujar Maria tidak berdaya dan turut sakit hati berkali-kali lipat. Bagaimana diakhir hidupnya tidak mendapatkan cinta, tidak ada seorang kekasih yang mungkin saja menjadi penyemangat hidupnya lebih baik dibandingkan mereka sebagai orang tua. Mungkin awalnya memang salah putri mereka, yang malah kabur dan pergi tetapi, tidakkah akan datang lagi pria lainnya tetapi, sampai saat itu Jovanka tidak pernah menemukan orang lain. “Kalau saja Ravin belum juga menikah.”
“Mah, itu semua takdir. Tidak ada yang tahu.”
“Mama tahu, Pah. Mama juga harus menyalahkan Jovanka yang keras kepala memilih hidup sendiri padahal, jika saja dia tidak terlambat datang dan bisa mengambil hati Ravin lagi, dia tidak akan ditinggalkan seperti ini dengan sangat menyedihkan,” keluh Maria dengan mata memerah. Sakit hatinya masih berdarah-darah ketika mengingat bagaimana Jovanka mengemis perhatian Ravin hanya untuk tinggal bersamanya.
Kali ini bukan hanya Maria tetapi, juga Haris yang mengepalkan tangannya tidak sabar. Bagaimana bisa di saat itu dia membiarkan anak dan istrinya melakukan hal itu, memohon hanya agar Ravin untuk tinggal. Mengingatnya saja sangat menyakitkan, di mana harga dirinya sebagai seorang suami dan ayah, dia tidak bisa kedua wanita dalam keluarganya untuk menahan diri. Tatapan mata meminta tolong dari Ravin pun tak luput dari pandangannya namun, dia abaikan.
“Anak itu, Ravin. Dia menjadi sangat sombong dan angkuh, bagaimana bisa dia mengabaikan Jovanka seperti tadi,” tutur Maria yang tidak pernah dia dengar jawaban dari suaminya atau siapapun. Hanya bisa berpikiran sendiri dan menebak-nebak kenapa pria yang sudah beristri barang tentu menolak kehadiran wanita lain yang jelas mengganggu rumah tangganya. Lelucon langka yang jatuh di kepala Maria.