“Hari ini Mas harus cepet pulang, yah? Aku gak mau tahu. Pokoknya gak boleh ada lembur-lembur lagi.” Protes Inara sambil merapihkah dasi Ravin, dia tidak sering melakukan hal ini. bukan tidak romantic atau bahkan tidak peduli tentang kerapihan sang Suami tetapi, Ravin terlalu mandiri. Meski, kadang berlaga manja ingin ini itu dilakukan olehnya seperti kali ini padahal, sebenarnya apa yang dilakukan oleh dirinya terkadang lebih baik.
Ravin tidak langsung menjawab protesan Inara sebagai pria yang selalu menepati janjinya dia harus berpikir masak-masak. “Aku gak bisa janji, Sayang. Bisa saja sesuatu terjadi seperti tadi malam.”
Mendengar jawabannya Inara jadi kesal, dicengkeramnya kerah jas Ravin. “Kamu harus cepat pulang, kita akan makan malam dikeluargaku, awas jika tidak!” ancamnya dengan mata melotot.
Bulu kuduk Ravin meremang, agak takut dengan penampilan Inara yang tampak sangat serius kali ini. “Ok, ok! Akan Mas usahain.”
“Diusahain?”
Meneguk salivanya, sepertinya baru saja Ravin salah menjawab. “Kamu salah dengar i-itu Mas, bilang. Mas bakal pulang tepat waktu.”
“Bagus.” Inara puas dengan jawaban Ravin dan membuat senyum dibibirnya kembali lagi. Tak lupa dia juga merapihkan kembali jas suaminya, beruntung karena kainnya bagus meski, dicengkeram sesaat itu tak tampak terlihat kusut masih mulus dan rapih.
Melihat Inara tersenyum kembali Ravin juga tidak kalah bahagia. “Hanya Bagus? Bukannya aku juga tampan, yah?”
Inara mencebik, tidak mengakui suaminya tampan. “Masih banyak yang lebih tampan jadi, jangan sok narsis.”
“Ish, dasar! Cup.” Dikecupnya bibir Inara lalu, ditangkupnya wajahnya dengan kedua tangan Ravin. “Eh, kenapa pipimu jadi tambah tembem, yah? Gemes banget kayaknya kamu gendutan, yah?”
“Apa?” Inara menangkis tangan Ravin lalu, berjalan beberapa langkah untuk melihat bayangannya dicermin setinggi tubuhnya. Beberapakali, Inara bolak-balik dari depan ke belakang memerhatikan dengan seksama apa benar dia gendutan. “Mas, kayaknya beneran aku gendutan.”
Ravin hanya tertawa mendengarnya, berjalan ke arahnya lalu memeluknya dari belakang. “Gak papa dong meski, kamu gendutan aku tetep cinta, kok,” ujarnya penuh dengan nada bangga melihat istrinya dalam pantulan cermin tampak semakin cantik dari hari ke hari.
“Ah, Mas gombal banget. Males, aku. Pokoknya mulai hari ini aku bakal diet. Sudah lama juga, aku, tuh gak pernah olahraga sejak menikah. Lihat!” Inara menunjuk perutnya yang sedikit bundar meski, masih bisa dibilang rata. “Sepertinya, aku benar gendutan.”
“Ngga, kamu gak boleh diet-dietan biar aja sedikit endut,” ujar Ravin sambil membalik tubuh Inara lalu, memegangnya ke sana kemari. “Bagusan tubuh berisi, Mas-nya kan jadi, makin gemas kalau pegang-pegang.”
“Yah, kalo gitu Mas juga harus gendutan dong. Aku juga suka pria gendut, kayak beruang gitu,” balas Inara meledek karena dia juga tahu suaminya ini anti gendutan dan sangat memelihara kesehatan tubuhnya diam-diam.
Ravin menggeleng. “Aku entaran aja gendutnya. Kamu aja dulu, biar tambah semok dan aduhai body kamu.”
Kaki Inara menginjak tanah, dia marah dan setengah kesal meskipun apa yangn dikatakan Ravin terdengar baik tetapi, juga sangat menyinggung dirinya sebagai wanita. Seorang wanita itu, kan ingin punya tubuh ideal juga. “Pokoknya terserah aku, aku bakal diet lagi mulai hari ini!” Marahnya sambil keluar kamar.
Ravin menepuk jidatnya sepertinya, dia benar-benar salah padahal niatnya untuk membesarkan hati sang Istri. “Sayang, maafkan aku! Baiklah kamu bisa diet tapi, harus pergi ke dokter dan diet yang sehat. Jangan terlalu kurus kering sampai kamu tidak punya d**a dan b****g, yah? Aku masih suka kamu yang sekarang. Berisi dan aduuuh ….”
Pluk! Baru saja dari luar kamar Inara melempar bantal kursi tepat ke wajah tampan Ravin yang masih mengoceh. “Rasain, emang enak! Makanya jangan bicara omong kosong.”
“Hilang sudah wajah tampanku,” keluh Ravin sambil menngosok wajahnya tetapi, tidak berani mengatakan apapun lagi takut jika, bukan hanya bantal yang melayang lain kali.
**
“Pak Bos boleh saya tanya sesuatu?” tiba-tiba saja Rudi, yang berada setengah langkah di belakang Ravin bertanya dengan nada sedikit pelan dan meragukan.
“Ada apa?”
Rudi berhati-hati terlebih dulu melirik ke kiri dan kanan memastikan tidak ada yang mendengarnya selain mereka berdua. “Sebenarnya, kemarin bapak ke mana? Istri bapak, nelpon saya, loh?”
“Kamu jawab apa?” tanya balik Ravin sambil menoleh.
“Silakan masuk dulu, Pak!” Rudi membukakan pintu ruang kantornya. Tidak sadar mereka berjalan cepat kemari. Kemudian, keduanya masuk dan Rudi dengan sigap menutup rapat pintunya.
Ravin sudah duduk di kursi kebesarannya dengan wajah, tidak sabar. Rudi yang melihat hal itu segera menghampiri sang Bos dan segera bicara tanpa bertele-tele lagi. “Kemarin Nyonya Bos nelpon, nanyain Pak Ravin yang belum juga pulang. Untungnya saya, ini bijaksana. Saya gak bilang Pak Ravin pergi sama wanita yang tempo hari kemari.”
Ravin sedikit membulatkan matanya karena terkejut Rudi tahu kemarin dia pergi dengan siapa. “Kamu lihat saya?”
Rudi mengangguk sedikit mendesah, binary matanya jelas menunjukan kalau dia tengah kecewa. “Saya lihat Bapak pas masuk mobil dan ada orang di sampingnya. Saya cuman bisa nolongin Pak Ravin sekali ini, lain kali saya gak akan bisa. Saya bakal jujur sama istri Bapak kalau bertanya tentang kehadiran Pak Ravin.”
Tangan Ravin meremat sendi-sendi jarinya sedikit gugup dengan pernyataan tersebut. Dia tidak menyangka jika, ada orang lain yang melihat kejadian kemarin tetapi, beruntungnya itu seorang Rudi, Asistennya. “Yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikir berhati-hatilah nanti dalam berbicara tetapi, terimakasih kamu sudah bikin istri saya tenang.”
“Bu Inara gak curiga, ya, pak?”
Kening Ravin berkerut, dialah sekarang yang mulai curiga. “Memangnya kamu ngomong apa sama istri saya?”
“Saya ngomong Pak Ravin ke panti pijat eh..eh, becanda Pak,” ujar Rudi buru-buru melarat setelah melihat tatapan bosnya. “Saya cuman bilang lembur, kok?!”
Ravin menghela napas lega, alasannya juga sama. Dia lembur karena hari sebelumnya dia memang lembur di kantor, kemarin dia juga tidak bisa menelepon Rudi dan memperingatinya karena setelah selesai menelepon Inara ponselnya mendadak mati saat menyala lagi waktu sudah terlewat lama dan ini yang penting. Dia lupa. “Rudi, denger ya. Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu tahu. Kemarin Jovanka pingsan di depan mobil saya dan saya bawa ke rumah sakit. Saya nungguin dia jadi, terlambat pulang.”
“Ouh, gitu, ya,Pak! Padahal Ibu Inara itu sehat dan cantik, mandiri keliatan banget gak ada celah tapi, ternyata bapak masih aja kelihatan kurang. Malah suka orang yang lemah dan terlihat sakit-sakita. Kasihan banget Bu Inara, kalau dia istri saya gak bakal saya dua-in.”
Tuk!
Ravin melempar pulpennya lurus dan tepat mengenai kening Rudi, asistennya yang baru saja bicara sembarangan. “Heh, kamu barusan bilang apa? Siapa yang gak bakal di dua-in. lancang banget mikirin istri orang, mau saya pecat kamu?”
“Ampun, Bos!” Rudi mengangkat kedua tangannya lalu, menyatukannya. “Gak akan lagi-lagi mikirin hal gitu. Beneran!Sumpah,”
Puas mendengar janji dari bawahanya. Ravin semakin menegakkan tubuhnya tak lupa, mengembalikan pena-pena langka lain yang berterbangan tak beraturan. “Iya, pak! Saya mengerti.” Rudi mengangguk kuat, melihat dirinya tertutupi debu.
Meskipun tampang Rudi mengtakan, kurang bisa dipercaya dan tidak meyakinkan namun pada akhirnya dialah satu-satunya yang bisa diandalkan Ravin dengan beberapa situasi.
“Lalu apa lagi sekarang?” tanya Ravin dengan satu alis terangkat. “Cepat balik kerja!”
Rudi segera mengangguk dan pergi ke ruangannya. Ravin sendiri masih diam berpikir tentang dia yang masih terjebak pada masalah yang sama. Memang tidak seharusnya, ada kepedulian lagi antara dia dan Jovanka tetapi, sebenarnya kemanusiannya-lah yang bicara. Hidup Jovanka mungkin tidak lagi panjang dan kini dia sedang menghitung hari-harinya untuk dilewati.
Ditambah pengalamannya yang kemarin untuk menemaninya kemoterapi juga bukan hal, yang mudah. Meski, Ravin datang dengan perasaan marah karena dipaksa tetapi, setelah melihat apa yang dia alami. Tidak bisa tidak membuatnya luluh dan khawatir, semua terekam jelas bagaimana Jovanka merasakan sakit untuk mempertahankan kehidupannya. Hidupnya berharga, begitu juga kehidupanku dengan Inara sama berharganya.
“Apa Inara bakal memakluminya? Ini keadaan yang sulit tapi, apa dia juga tidak akan luluh dengan apa yang dia lihat.” Ravin masih berbicara sendiri dan menimang-nimang apa dia akan jujur atau sembunyi-sembunyi lagi. Meskipun akhirnya nanti pasti ketahuan juga lebih baik dia jujur diawal. “Lebih baik aku mencoba membawanya untuk membujuknya.” Putus Ravin. Mendesah pada pikiran beratnya, lantaran sebelumnya dia sudah berjanji untuk menengok Jovanka lagi hari ini.
Selama itu terdengar ketukan dari pintu, kepala Rudi menyembul lagi. “Permisi Pak! Saya mau anterin berkas baru yang perlu ditandatangani.”
“Hm,” gumam Ravin sambil memutar bola matanya malas.
Rudi dengan sigap meletakkannya di sisi meja terluar tempat berkas-berkas lalu, dia tidak langsung pergi tetapi, berdiri tegap seolah ingin melaporkan sesuatu hal. Tetapi, Ravin tidak langsung menyuruhnya bicara dia terlanjut membaca teks setelah menyelesakannya dan menandatanganinya baru dia mengangkat kepalanya lagi dan masih melihat Rudi berdiri di sana, yang berarti apa yang ingin disampaikan adalah hal penting, yang tidak terlalu darutat makanya dia dengan tenang menunggu untuk berbicara.
“Kamu, tahan juga, yah? Diam di sana tannpa bicara.”
Rudi tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang rapih merasa sangat enak dipuji sang Atasan. “Saya, orangnya sangat sabar Pak Bos.”
“Iya, lalu apa cepat katakan.” Ravin mulai tak sabaran.
“Begini, Pak. Saya dengar jika, salah satu klien artis kita, bakal batal tandatangan kalau bukan pak Elvan yang jadi penanggungjawabnya.”
“Kalau begitu bagus, gak perlu kontrak lagi sama dia. Batalin aja.”
“Tapi, kinerjanya bagus, pak.”
“Tidak peduli, masih banyak yang lain, sudah keluar!”
Rudi menggaruk rambutnya yang tidak gatal, sedikit bingung. “Terus, sepertinya baru saja saya dengar jika, dia sedang cari masalah dengan Bu Inara di butiknya.”
“Apa?” Ravin terkejut cari masalah seperti apa, hingga harus bawa-bawa istrinya. “Memangnya siapa wanita itu.”
“Soraya Dhew, ….”