“Siapa Soraya Dhew ini?” tanya Ravin sembari berjalan dan mengancingkan jasnya. Selama ingatanya dia belum pernah mendengar nama wanita ini. Artis macam mana yang berani mengacaukan pekerjaannya belum lagi, dia berani mendatangi Inara. Ravin menghela napas ternyata pengaruh Elvan dalam hidup istrinya belum sepenuhnya hilang.
“Dia seorang Top Model kelas atas, pekerjaannya biasanya sampai ke mancanegara bahkan dalam satu tahun ini dia malah aktive diluar negeri. Masih ada satu tahun kontaknya dengan perusahaan tetapi, baru-baru ini membatalkan karena tahu bukan Pak Elvan yang berdiri sebagai C.E.O. di sini.”
“Terus kenapa dia ngejar Inara, istri saya. Apa dia dulu mantannya Elvan?”
“Mana saya tahu, Pak! Kan, saya kerjanya barengan sama Pak Ravin.”
“Dasar, kamu …” Kesal Ravin yang ingin menendangnya dari belakang tetapi, tidak dia lakukan dan hanya mendengus saja. “Terus kamu dapat kabar dari mana kalau wanita itu datang ke butik istri saya dan cari masalah?”
Rudi merogoh saku celananya, mengelurakan smartphone-nya dan menyerahkannya pada Ravin, yang sudah terlebih dulu duduk di mobil. Tidak terasa mereka sudah berada di tempat parkir. Bugh! Rudi pun masuk ke mobil duduk di co-pilot. Di sampingnya yang menyupir adalah supir khusus kantor, yang biasanya jarang digunakan Ravin sendiri karena, dia masih nyaman untuk pulang pergi sendiri. Kembali pada Rudi dia menggunakan seatbelt-nya dan mulai menjelaskan rincian kejadian yang dia ketahui. “Sepertinya beberapa orang di tempat melakukan streaming dan seorang karyawan tidak sengaja melihatnya lalu, memberitahu saya.”
“Ternyata para karyawan masih sempat melakukan hal santai, huh?!” Dengus Ravin tidak senang lalu, fokusnya kembali pada smartphone Rudi yang sedang memutar video.
Di depan, Rudi berkeringat dingin merasa sedang memakan buah simalakama, menjadi sedikit serba salah. Diberitahu salah, tidak diberitahu salah. Mereka sudah lama tidak berani bersantai sejak dipimpin oleh Ravin, Video itu pun tidak sengaja dilihat saat mereka ingin mengkonfirmasi status artis bernama Soraya tersebut. ‘Hah, Bos muda ini terlihat santai tapi, ternyata sulit ditebak. Kadang bisa diajak gaul kadang susah juga. Beginilah rasanya jadi bawahan, gak ada yang bisa nyalahin Bosnya,’ bisik hati Rudi.
Ravin masih serius melihat isi video tetapi, yang terlihat hanya banyak kerumunan dan hanya selentingan terlihat sosok Inara karena yang lebih banyak tersorot hanyalah sosok wanita lain. “Ini tidak jelas, seharusnya kamu mencari video yang lebih baik,” ucap Ravin dan menyerahkan kembali smartphone Rudi, dia sendiri mengambil smartphne dan mencoba menghubungi Inara lagi tetapi, masih belum tersambung.
Sedari mengambil ponselnya Rudi tidak menjawab, takut jawabannya hanya akan menimbulkan masalah lagi tetapi, dengan rajin dia kembali mencari video-video yang kemungkinan lebih baik. Tetapi, belum dia mendapatkannya mobil sudah sampai di depan parkir Mall. Jelas saja, hal ini karena letak gedung mereka yang saling membelakangi jadi, hanya butuh waktu sebentar untuk mereka sampai.
“Pak Ravin, biar saya yang berlari ke sana terlebih dulu untuk melihat situasi Anda bisa tenang saja, tidak perlu berlari.” Setelah mengatakan hal itu Rudi benar-benar keluar dari pintu mobil, bersikap rajin untuk menunjukan pekerjaannya yang luar biasa. Namun, hal itu malah membuat bola mata Ravin berputar malas.
Ini pertama kalinya lagi Ravin masuk ke Mall terutama datang ke pintu butik Inara setelah dia mendapat celaan dari Nadira, dia tidak akan melupakan hal itu meski, tak dendam bukan berarti dia akan semudah itu bersikap ramah. Bahkan, kata maaf untuk wanita itu masih dia pikirkan. Apa pantas? Meski, dia perempuan. Tidak aka nada bedanya jika, dia mengusik harga dirinya apalagi berusaha ikut campur pada urusannya.
Rudi sudah berada di butik Inara tetapi, apa yang dia bayangkan masih ada keributan besar di sana ternyata tidak. Butik tampak berjalan normal meski, tak ada pelanggan yang masuk. Sekarang dia menjadi bingung, menggaruk rambutnya yang tidak gatal, berpikir bagaimana menjelaskannya pada bosnya. Padahal tugas kantor sedang menumpuk dan dia malah buat kegaduhan tidak penting.
“Selamat siang, Pak. Bisa kami bantu?” Tika menyapa calon pelanggannya yang berdiri seperti setengah linglung.
“Ngga ada tapi, apa Bu Inara baik-baik saja bos saya—“
“Sudah kamu pergi sana,” sela Ravin. Dari jauh sana dia sudah melihat jika, tidak ada yang terjadi di Butik Inara. Membuatnya yang berjalan ke mari harus menghela napas. Tidak ada sebenarnya dia bisa bertemu istrinya tetapi, pekerjaannya akan tertunda lagi dan semakin lama selesai. Ravin paling tidak bisa melihat pekerjaan semakin lama, semakin menumpuk.
Rudi tentu saja mundur, saat terlihat bosnya datang dan masuk begitu saja. bahkan, sapaan pegawai tidak digubrisnya dan malah langsung berjalan kearah kantor Inara tetapi, saat dirinya ke sana tidak ada sosok Inara malah orang yang tidak ingin dilihatnya. “Di mana istri saya?” tanyanya berbalik pada Siti, yang berdiri tidak jauh darinya jelas, mengabaikan sosok di dalam ruangan tersebut.
Siti yang ditanya, tertegun sesaat dan sangat gugup ditanya oleh suami bosnya, pria yang ternyata tidak kalah tampan dari Elvan pikirnya dan malah orang di depannya lebih berkharisma juga, dingin terpantul dari matanya. “Bu Inara tadi, keluar menemui seorang pelanggan.”
“Dari kapan?”
“Euhm, dari pagi tapi, mungkin dia akan segera kembali sebentar lagi. Anda mau menunggunya?”
“Tidak perlu,” sahut Ravin dan hendak pergi lagi dari sana. Dia akan buat perhitungan dengan asistennya itu, bodohnya lagi harusnya dia juga benar-benar memastikannya terlebih dulu tetapi, sayang memberinya kabar. Kalau saja teleponnya dijawab tidak perlu dia susah-susah kemari.
Di dalam Nadira yang melihat sosok Ravin langsung berdiri dengan tampang terkejut tetapi, saat dia memaling wajahnya dan bertanya pada orang lain alih-alih dirinya. Setelah mendengarkan jawaban Siti, dia melihat Ravin berjalan kembali, buru-buru dia setengah berteriak menunggunya.
“M-mas Ravin!”
Maunya Ravin terus berjalan saja dan mengindahkannya tetapi, jika dia tidak mengindahkannya. Bagaimana orang memandangnya, apa mereka tidak berpikir jika, dirinya disebut pria pendendam tapi, juga kenapa wanita seperti itu memanggilnya lagi. ‘Awas saja, berani bicara omong kosong lagi. Dia harus siap dia tendang tidak peduli jika dia memang sahabat istrinya.
“Mas Ravin,” panggil Nadira sekali lagi. Kali ini dia bergerak ke depan pria itu dengan kepala sedikit menunduk tidak berani lagi untuk mengangkat wajahnya setelah terakhir kali dia menyerang pria ini dengan kata-kata kasarnya dan tidak pantas sekali diucapkan. “Mas, sebelumnya … tolong maafin aku!”
Sebelumnya Inara pernah bilang padanya jika, suaminya adalah orang yang baik dan dia sudah menyampaikan maafnya. Tetapi Nadira tetap saja tidak yakin jika, sepenuhnya pria di depannya bisa memaafkannya dengan mudah. Lebih baik dirinya sendirilah yang langsung meminta maaf.
“Meminta maaf untuk apa?” balas Ravin dengan nada sedikit arogan. Dia ingin memberi pelajaran pada wanita di depannya.
Nadira mengepalkan tangannya, menguatkan tekadnya dan menatap Ravin dengan pandangan benar-benar ingin meminta maaf. “Mas, bisakah kita bicara berdua?”
“Apa kamu pikir saya punya waktu?” sahut Ravin sambil berjalan pergi. Dia juga melihat jam tangannya, gara-gara ini pekerjaannya harus diundur dia juga tidak bisa menemui Inara. ‘Ck, nanti aku harus bicara sama Inara. Gimana dia gak bisa dihubungi, ngapain aja, sih?’ keluh Ravin dalam hati.
Melihat kepergian Ravin, Nadira sedikit tertegun tidak percaya baru saja tak diacuhkan sehingga, refleks tanpa sadar dia menarik lengan sikut Ravin yang masih dalam jangkauannya. “Tunggu, Mas!”
Ravin berbalik, sambil menarik tangannya dengan kerutan kening seolah bertanya,‘Hey, siapa kamu? Berani menyentuhku.’ . “Ada apa?”
Nadira kali ini benar-benar takut, baru saja Ravin menatapnya sangat dingin. Dia tidak tahu jika, pria di depannya ini akan jadi sangat pendendam gara-gara kelakuannya yang tidak terkontrol saat itu, berbeda sekali dengan sikap ramahnya saat pertama kali bertemu dan tidak tahu harus bagaimana kali ini, dia berharap Inara akan segera datang dan bisa membantunya untuk bicara pada suaminya.
“Ada apa lagi?” tanya Ravin sekali lagi dengan raut wajah setengah kesal.
“Aku mau minta maaf soal apa yang terjadi tempo hari,” ujar Nadira setelah memastikan tidak ada yang bisa membantunya kecuali dirinya sendiri. Beberapa karyawan yang mengetahui apa yang terjadi sebelumnya dengan rendah hati menundukan kepalanya. Pada saat kejadian semua orang merasa ingin bertepuk tangan untuk Nadira, bagaimana dia bisa membela sahabatnya dan memarahi suaminya yang diduga berselingkuh. Wow, tapi sekarang mereka ragu bisa-bisa mereka juga akan kena getahnya. Mereka lupa jika, tetap saja suami Inara itu adalah Bos Besar Mall di mana mereka bekerja.
“Buang-buang waktu,” balasan itulah yang terdengar dari mulutnya saat permintaan maaf Nadira terucap. Tidak ingin mengatakan apapun lagi, dia berlalu pergi terlalu malas baginya untuk menghadapi seorang wanita yang temperamental dan yang terpenting. Siapa dia? Orang yang tidak masuk hitungan di matanya. Ravin bukan orang pendendam tetapi, juga bukan orang yang mudah luluh kecuali kehendak hatinya sendiri.
Kepalan tangan Nadira tiba-tiba lagi mengencang, tidak menyangka sikap Ravin kali ini padanya menjadi sangat dingin. ‘Sialan, pria ini gak mau maafin gue gitu? Kalo lo bukan lakinya Inara ….’ Geram hati Nadira tetapi, segera dia menghentikan ucapan kebenciannya. Ravin berhak kok, membencinya. Dia sudah keterlaluan juga memaki orang yang jelas tidak berhubungan dekat dengannya. Siapa dia, memangnya? Namun, tidak bisakah pria ini mengerti jika, Inara berharga buatnya dan ikut sakit hati.
“Mas Ravin, saya benar-benar minta maaf,” ucap Nadira sekali lagi sambil setengah berlari karena jalan Ravin yang sudah sedikit lebih jauh. “Saya tahu, saya sudah sangat tidak sopan. Mas Ravin mau, kan maafin saya. Apa yang saya lakukan untuk Inara.”
Ravin benar-benar tidak menggubrisnya. Dia sudah berada di sisi Rudi sang Asisten, yang ternyata berdiri menunggunya tak jauh dari toko butik. “Kamu udah bisa hubungin Inara? Lalu, si Soraya itu?”
Rudi tidak melakukan keduanya, tidak ada yang coba dia hubungi. Dan dia malah bertanya, “Apa bu Inaranya tidak ada, yah?”
Ravin menggeretakkan giginya. “Apa aku akan langsung keluar kalo dia ada?” tanyanya balik.
“Mas Ravin,”panggil Nadira dengan napas sedikit terengah.
“Jangan panggil saya, Mas. Memangnya saya ini siapanya kamu?” balas, Ravin sambil lalu. Inilah Ravin yang emosi dan tanpa pandang bulu apalagi jika, sudah membenci orang yang tidak ada hubungannya dengan dia. Ravin akan menjadi sadis dan tak ada ampun.
Mendengar kata-kata tajam Ravin, bola mata Nadira sudah berkaca-kaca, memerah sudah ingin menangis.
“Mas Ravin!” kali ini teriakan datang dari arah lain.
“Elvan,” panggil Nadira.