Kedua bersaudara berbicara

1503 Kata
“Ada apa ini?” tanya Elvan sedikit heran dengan posisi keduanya juga sampai raut wajah mereka yang tampak kurang baik. Terutama Nadira, dia menoleh padanya memerhatikannya tetapi, tidak sungguh peduli. “Di mana Inara?” Nadira pikir bukan hal itu yang akan pertama kali ditanyakan Elvan, tepat di depan wajahnya jadi, hanya balasan wajah datarlah yang bisa diberikan Nadira. “Ngapain kamu masih nanyain Inara?” Malah Ravinlah yang kali ini menyahutinya dengan sebuah pertanyaan ketidaksukaan. “Aku khawatir sama Inara, aku dengar Soraya cari masalah di sini.” “Jadi, beneran kamu kenal sama itu perempuan?” Elvan tidak mungkin, tidak mengakuinya saat dia juga sudah menyebut nama perempuan itu. Di bawah tatapan Ravin yang tajam, dia menyesal sudah datang ke sini dan menyebutkan nama perempuan itu belum lagi kali ini, terdengar decakan kuat dari sampingnya. “Kamu emang yah, Van. Selalu aja cari masalah,” ujar Nadira dengan tampang sangat kesal, dengan berani dia juga mendorongnya. “Enyah dari sini! Gara-gara cewe itu datang ke butik buat cari masalah, dia bikin pelanggan aku pada kabur. “Hey, aku gak tahu kalau dia bakal cari masalah sampai ke sini.” “Sialan! Gak mungkin dia tiba-tiba datang tanpa alasan dan bicara hal gak masuk akal cuman buat belain kamu. Kalau kamu sama mulut kamu itu gak ngomong sembarangan dan hampir aja Inara kena getahnya, untungnya dia lagi gak ada ditempat. ” ujar Nadira dengan tangan terkepal dan terangkat seolah ingin memukul wajah Elvan tetapi, tentu saja tidak dia lakukan. Nadira pun sempat melirik di mana Ravin berdiri. Bukankah barusan dia cukup menjelaskan pertanyaanya sebelumnya tentang Inara. “Apa yang terjadi? Sebenarnya apa saja yang dia katakan?” Meski, takut dengan kemarahan Nadira tetapi, rasa penasaran Elvan pun tidak sedikit lebih besar. Sebenarnya sudah cukup lama dia tidak pernah berhubungan lagi dengan Soraya meski, seringkali wanita itu memberinya pesan sejak kepergiannya ke luar negeri selama hampir satu tahun ini. Nadira menarik napas, ingin bicara banyak lagi. Tetapi, belum dia bisa mengatakan sesuatu Ravin sudah menarik lengan Elvan untuk mengikutinya. “Ikut aku!” Elvan sebenarnya tidak mau, dia malas menghadapi kakaknya. Jauh dilubuk hati terdalamnya masih ada perasaan tidak bisa menerima kenyataan jika, kekasihnya malah jadi istri sang kakak. Begitu benci dia pada kebenaran ini. Namun, dari itu semua apa yang dia bisa? Tidak ada. Benci hanya pada keadaan dan tidak akan ada sepenuhnya dia membenci kakaknya ini. Apalagi, setelah kejadian terakhir kali dipukulipun bencinya belum genap juga padanya. Elvan masih mencoba menghormatinya, seperti sebelumnya. “Jangan ditarik, aku ikut,” ujarnya masih dengan nada suara merengut. Ravin meliriknya lalu, melepaskannya tidak mengatakan apapun. Nadira ditinggalkan sendirian di antara lalu lalang para pengunjung Mall, mendesah kesal namun, tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya hanya bisa kembali ke butiknya. Dia sudah gagal untuk minta maaf dan tidak berani mengejar. Ravin dan Elvan memasuki mobil yang sama. Rudi sang Asisten sendiri membawa mobil Elvan mereka langsung pergi ke perusahaan. Melihat perusahaan yang dulu pernah dia kelola, Elvan merasa tambah sesak dan badmood. Dari sudut matanya dia melirik Ravin. “Mas, aku pengen balik lagi ke perusahaan ini,” ujarnya spontan. “Aku tidak melarang,” jawab Ravin sambil menoleh padanya. “Bagus, kalau begitu aku ingin posisiku semula.” “Bicaralah dengan tembok.” “Mas Ravin beneran gak mau ngembaliin posisiku lagi?” tanyanya kini sambil membalikkan setengah tubuhnya. Siap menantangnya. “Cepat keluar, bicara di kantor saja,” usul Ravin sambil keluar dari mobil. Elvan keluar dengan ekspresi dingin, jelas sangat kesal. Dia jadi tidak habis pikir sebelumnya kakaknya Ravin meninggalkan perusahaan ini padanya setelah putus cinta tetapi, setelah menemukan cinta dia malah kembali dan bertahan di sini. ‘Sialan! Kenapa juga aku harus kabur saat itu.’ Mengingat hal itu, rasanya ganjalan besar berkali-kali menghantam dadanya. “Pak Elvan!” saruan panggilan dan senyum cerah para karyawan menyapa sosol Elvan yang masuk di belakang Ravin. Tidak kalah seperti dulu saat masih menjadi atasan mereka, Elvan mengeluarkan postur terbaik serta penampilan wajah yang elegan dengan mata yang sedikit menyipit, alis yang terangkat juga senyum tipis dari bibirnya. Tidak ketinggalan tangan yang ia masukkan ke saku. Ravin melihat tingkah Elvan dari sudut matanya. Dirinya hanya mendesah dan menggeleng tidak peduli apa yang dilakukan adiknya itu. Mereka sudah berada di pintu kantor, Elvan terkejut kakaknya tidak menggunakan bekas ruang kantornya yang dulu. Di belakang mereka para karyawan sedang bergunjing memahami situasi saat melihat sosok mantan bos mereka datang kembali ke perusahaan setelah sekian lama. “Apa pak Elvan bakal balik jadi, Bos kita lagi?” “Hush! Jangan ngomong sembarangan masih ada Pak Ravin di sini.” “T-tapi, kan kali aja bener. Aku lebih senang kerja bareng Pak Elvan.” “Kalian gak pandai kunci mulut, yah? Kamu Mina. Kalau emang gak suka kerja di sini karena Bos-nya Pak Ravin mending berhenti sana.” Wanita bernama Mina kini berwajah merah sedikit malu, sekaligus marah karena merasa dipojokan. Mendengus keras tanpa bisa melawan lagi, dia kembali ke tempat duduknya. Di dalam ruangan kantor Ravin, dia sedang menyeduhkan kopi untuk dirinya dan adiknya. “Jadi, siapa Soraya itu? Mantan pacar kamu? Kenapa aku baru tahu?” Ravin mengambil pose berpikir dengan mengelus dagunya dan menatap Elvan, yang mana tengah memalingkan wajahnya seolah tidak mau mendengar. “Owh, jadi saat masih pacaran dengan Inara kamu selingkuh sama cewek bernama Soraya ini? “Aku gak selingkuh, Mas. Mas sok tahu banget, sih, main asal tebak aja. Itu bikin harga diri aku hancur tahu?!” elak Elvan tiba-tiba mendengar tebakan asal Ravin. “si Soraya itu cuman model kontrak perusahaan. Gak lebih meski, dia berkali-kali nyatain suka sama aku tapi, aku gak tertarik.” Ravin tidak mengatakan apa-apa lagi, kemudian berjalan ke meja kerjanya dan membawa sebuah map. “Baru-baru ini juga, model wanita itu ingin memutus kontrak yang tersisa karena bukan kamu lagi yang jadi pimpinan di sini.” “Mas Ravin mau putus kontrak sama dia? Dia memang wanita temperamental tapi, dalam pekerjaannya dia tidak hanya diam.” “Terserah saja. jika, dia sudah tidak mau lempakan saja,” sahut Ravin tidak peduli, meletakkan berkas itu begitu saja lalu duduk kembali. “Jangan sampai dia ketahuan gangguin Inara, aku bikin kontrak kerja rodi dia.” Mendengar kata Inara dari mulut Ravin, Elvan mendengus ikut kesal juga. “Aku juga gak bakal biarin Inara kenapa-napa?” “Kamu gak meski, ngurusin Inara. Dia udah jadi tanggung jawabku. Lebih baik kamu cari yang lainlah.” “Mas?!” Tampang Elvan sangan menjadi jelek karena ini. Ravin meletakkan cangkir minumnya, dia benar-benar tidak bisa berbasa-basi. “Kamu tahu sendiri Mas, jarang banget basa-basi. Lebih baik Mas langsung jujur saja, mau sampai kapan kamu hidup santai kayak gini? Kamu harus tentuin tujuan hidup kamu lagi.” “Aku tuh, frustrasi! Apa Mas gak ngerasain dalam waktu sebentar aja semua yang aku punya itu hilang.” “Bukan waktu sebentar jika, kamu pergi berbulan-bulan tanpa alasan yang jelas ninggalin tanggungjawab kamu sebagai pengantin juga sebagai pimpinan perusahaan,” ucap Ravin tanpa mengalihkan tatapannya. Baru kali ini mereka bisa bicara secara terbuka tanpa perlu baku hantam lagi. “Dan, kamu pengen semuanya tetap sama seperti sebelumnya? Dan, seperti seorang pahlawan kamu juga malah membawa Jovanka berpikir itu hal mulia?” Ravin menggelengkan kepalannya, membayangkannya tidak ada satupun yang membanggakan. Kembali Ravin menatap dan bicara serius pada Elvan. “Aku belum sama sekali mendengar alasan jelas kamu. Kenapa kamu pergi saat itu?” “Untuk apa aku menjawabnya, bukankah itu cuman di masa lalu.” “Kalau kamu pikir itu di masa lalu, kemudian jangan terpaku lagi dengan semua masa lalu kamu kalau begitu. Pilih pekerjaan atau posisi yang tersedia dan soal hubungan pribadi, kamu bukan seorang pengecut, kan? Kamu bisa mencari wanita lain dengan cukup mudah. Aku tidak khawatir soal itu tapi, soal pekerjaan kamu ….” Inialah yang menjadi kekhawairan orang tua Elvan, yang malah semakin kacau saja. terakhir kali dia pulang dalam keadaan babak belur. Elvan tahu orang tuanya berulang kali terlihat mengkhawatirkannya karena dia yang terlihat seperti berandal pulang larut malam dan bahkan, pulang dalam keadaan terluka tetapi, soal pekerjaan. Dia masih ingin mengejar posisinya yang dulu namun, tak akan mungkin bisa jika kakaknya masih ada. “Tentu saja, aku juga ingin kembali kerja seperti sebelumnya …yang berarti kakak harus mundur.” Plak! “Aku akan memukulku sungguhan jika, berani mengusik tempatku lagi! Pikirkan tempat lain tapi, jika kamu memasak aku cuman bisa nyediain jabatan khusus buat kamu.” Suara tepukan tangan itu, tepat di depan matanya seolah baru saja menepuk nyamuk. Kedua tangan Ravin menepuk keras sampai terngiang di dalam gendang telinganya. Menelan salivanya, Elvan sendiri mulai gugup. Dia tidak mungkin lagi sepanjang hidup menjadi pengangguran sampai kakaknya berhenti perusahaan Ini. Apalagi mendapatkan kembali Inara, itu juga ketidakmungkinan yang tidak ada. “Kamu cuman punya waktu dua minggu, segera tentukan. Di mana pun bekerja kamu akan mendapat pengalaman baru nantinya, jangan hanya terpaku dengan masa lalu yang tidak bisa diubah dan aku juga tidak mau mengubahnya. Aku tidak menyesal atau merasa bersalah sama kamu, Van. Inilah takdir Tuhan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN