“Takdir Tuhan?”
Rasanya Elvan ingin sekali menarik kembali perkataan tersebut. Siapa yang bisa menyangkal jika,semua hal dikaitkan dengan takdir Tuhan. Namun, dari itu semua bukankah Tuhan juga telah memberikan manusia akal untuk berpikir dan membuat pilihan. Jika, kakaknya itu mengerti jika, takdir Tuhan pun bisa diubah dan dirinya berpikir lebih baik. Bukankah seharusnya memilih untuk tidak menikahi Inara juga, mengambil alih perusahaan yang sudah ia pegang sebagai kehidupan keduanya.
Penat dan pengap sungguh menyiksa Elvan. Hanya karena sebuah kesalahan yang tidak seharusnya dia lakukan, dirinya kehilangan segalanya. Nasi sudah menjadi bubur, semua orang menyuruhnya merelakan apa yang sudah lepas. Tentu saja hal itu semakin membuat dia tertekan dan marah dan tanpa dia sadari minuman beralkohol menjadi jalan pintas sesaatnya.
“Kamu udah mabuk, pulang sana! Bram antar dia.”
“Aku malas aaahh,” Tak! Orang yang bernama Bram baru saja selesai menegak minumannya dan meletakkan gelas minumnya dengan sangat keras di meja. “Botol di depanku juga belum habis, aku tidak mau disuruh biarkan saja orang yang lain saja.”
Jadilah, Karena tidak ada yang bersedia mengirim Elvan pulang mereka menghubungi nomot terakhir dari ponselnya. Sayangnya, itu nomor Inara tetapi tak diangkatnya karena dia sudah tertidur lelap. Kesal tidak mendapat jawaban terus, mereka menghubungi daftar kedua. Kali ini Nadira yang mendapat kehormatan itu, padahal dia sedang mulai mencoba berkencan dengan Bagas.
“Ngapain sih, Elvan nelpon terus,” keluh Nadira keluar dari kamar mandi.
Tak jauh dari didepan Bagas sedang menunggunya, keduanya baru saja selesai menonton film dan akan segera pulang. Nadira masih menatap smartphone nya terlalu malas menerima telepon dari Elvan tetapi, juga masih khawatir jika ada yang penting. Dan, akhirnya kekhawatiranlah yang selalu menang.
“Halo, Ada apa ‘Van?” tanyanya, lalu tak lama yang terdengar bukanlah suara orang yang sangat dihafalnya yang terdengar.
“Ah, oke. Aku segera ke sana. Terima kasih!”
Wajah Nadira ditekuk kesal, kakinya mengejang seolah ingin menginjak-injak sesuatu sampai tidak sadar jika Bagas sudah di depannya. “Aish, awas saja dia …,” gerutunya sambil mengayunkan tubuhnya untuk segera terbang berlari. Orang yang di sampinya tentu saja terkejut, Bagas dikejutkan dengan mata ketidakpedulian Nadira meskipun, begitu melihatnya akan pergi. Dia segera menangkap tangannya.
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Akh, Bagas.” Nadira masih berwajah linglung lalu, dengan cepat tersadar. ‘Ish, ada apa sama aku ini! Bisa-bisanya kayak gini,’ runtuknya dalam hati.
“Dira, kamu kenapa?” tanya Bagas lagi, yang juga mula tak sabar.
“Maafin aku ‘Gas, tiba-tiba saja aku linglung dan gak sabaran,” ucapnya sambil menarik napas juga mencoba melepaskan cekalan Bagas dari lengannya. Ragu-ragu akhirnya, dia bicara juga tentang telepon yang diterimannya. “Aku mau coba jemput dia! Teman-temannya semuanya juga pada mabuk katanya sehingga tidak ada yang bisa mengantarnya.”
“Tapi, harusnya bukan kamu juga.” Marah Bagas, yang tidak bisa lagi menyembunyikan ketidaksukaanya. “Kamu tuh, cewek juga, kan? Apa, kamu bisa bawa orang mabuk ke mobil? Kamu yakin bisa keluar dan selamat dari tempat-tempat kayak gitu? Cobalah pikir dulu baik-baik,” dengus Bagas.
Nadira tidak tahu harus menjawab apa tetapi, semengerikan apa. Dia hanya menjempu Elvan dan untuk membawanya dia bisa meminta bantuan orang-orang di sana tidak mungkin tidak ada yang mau membantu. Dirinya juga bisa membayarnya kalau mau. “Bagas, aku gak punya waktu buat mikir—“
“Apa kamu gak lihat aku? Aku, kan bisa bantu kamu.”
Plak! Nadira langsung menepuk jidatnya cukup keras, sampai membuatnya meringis sendiri saking kerasnya. Merasa baru saja sadar, dia kan sedang tidak sendiri. “Kamu mau bantu aku, Gas? Ini juga buat Elvan, loh. Dia cowok nyebelin itu,” tutur Nadira jujur. Elvan memang selalu menyebalkan di depannya akhir-akhir ini tetapi, bukan berarti dia benar-benar hilang respect. Pria itu pernah jadi teman dekatnya, orang yang disukainya, yang mungkin memang tidak akan pernah menjadi masa depannya tetapi, tetaplah pria yang dirinya kenal tetapi, saat kembali menatap Bagas ada siluet khawatir dihatinya untuk orang di depannya.
“Aku tahu tapi, kalau bukan demi kamu. Apa kamu pikir aku mau?”
Kepala Nadira menggeleng tanpa sadar. “Aku juga sebenarnya tidak ingin terlalu dekat lagi dekatnya, tidak ingin melakukan apapun lagi untuknya tapi, dia masih temanku. Dia hanya pria depresi, yang baru saja kehilangan hal-hal yang berharga untuknya dan … aku rasa aku penyebabnya juga.”
“Kalau begitu, cepat kita pergi! Atau hari, makin terlalu larut dan bagaimana nanti kamu bisa pulang,” ucap Bagas. Kali ini dia menarik telapak tangan Nadira menuntunya keluar dari lobi bioskop dan pergi ke mobil Nadira yang terparkir.
Setengah jam berlalu. Akhirnya mereka sampai di club malam. Nadira sudah menghubungi teman Elvan dan memintanya untuk menunggunya di tempat parkir saja sebagai tempat bertemu. “Lihat! Sepertinya di sana.” Nadira menunjuk seseorang yang berdiri di lahan parkir di tengah-tengah mobil.
Bagas mengikuti arah Inara, matanya menyipit dan berkilat tajam. ‘Akhirnya si Sialan itu masuk sendiri ke kandang singa.’ Pikir Bagas dalam benaknya. Berapa lama dia dan kawan-kawannya belum bisa menangkapnya yang ternyata sulit.
“Kamu Nadira?” tanya Frans, yang berdiri menunggu hampir setengah membeku karena suhu dingin jalanan.
“Di mana Elvan?” tanya Nadira seraya mengangguk sebagai jawaban pria tadi. “Dia baik-baik saja, kan?”
“Entahlah harus dibilang baik atau tidak. Nyatanya dia masih mabuk,” ujar Frans lalu membuka mobil di sampingnya. Nadira mengikuti arah pandangannya dan melihat Elvan di sana dengan posisi setengah terlentang. Bukan hanya ada satu orang saja masih ada dua lainnya di belakang. “Mereka semua mabuk, aku tidak bisa mengantar mereka satu persatu.”
“Iya, pasti sangat merepotkan,” sahut Nadira melirik Frans lalu, berbalik ke belakang melihat Bagas. “Bisa membantunya untuk masukkan ke mobilku?”
Frans mengiyakan lalu, menarik tangan Elvan untuk ditarik keluar. Dari samping Nadira, Bagas akhirnya muncul dan keduanya membantunya masuk ke dalam mobil. Setelah mengucapkan terimakasih mereka akhirnya berpisah dari Frans dan melaju terlebih dulu.
Beberapakali Nadira menoleh ke belakang dan memerhatika Elvan yang tidak sadarkan diri. Dari mata samping, Bagas menatapnya tajam orang yang terpantul dari kaca spion belakang tanpa Nadira sadari. ‘Dasar sialan! Lihat saja kalau masih berani mengusik aku dan Nadira.’
“Nadira, hari makin malam. Dan, jalan ini lebih dekat ke ruamh kamu. Lebih baik aku antar kamu ke rumahmu dulu. Kamu perlu istirahat, kan. besok masih kerja,” jelas Bagas. “Setelah itu, aku antar pria itu dan nanti, balik ke rumah kamu buat anter mobilnya.”
Nadira sedikit berpikir, apa yang ditawarkan Bagas solusi yang baik. Dia memang sedikit lelah dan masih ada pekerjaan dikamarnya. “Gas, kamu bisa antar Elvan sendiri? Apa gak papa?”
“Memangnya kenapa kalau aku ngantar dia sendiri?”
“Gak papa, rasanya terlalu ngerepitin kamu padahal, kan tingkahnya gak baik sama kamu.”
Perasaan Bagas jadi, runyam. Nadira benar-benar masih begitu perhatian pada pria ini. Tidak terlihat mempertimbangkan untuk dirinya melainkan untuk pria mabuk di belakang. “Tidak masalah, hanya mengantarkannya saja, kan. Aku juga tahu alamatnya.”
Bibir Nadira tertarik lebar, tersenyum lega. “Terimakasih banyak, yah. Maaf buat repot kamu kayak gini.”
Bagas menepuk tangan Nadira yang berada di atas pahanya sendiri, menggenggamnya erat sambil tersenyum. “Aku lakuin ini semua buat kamu.”
Pipi Nadira sedikit merona, belum ada pria sebelumnya yang mengatakan hal seperti itu juga genggaman tangannya yang hangat rasanya berbunga-bunga juga hati Nadira. “Oh, ya, setelah mengantar Elvan. Kamu tidak perlu balik ke kost-anku. Kamu langsung pulang juga, biar besok pagi saja kamu antarnya kita bisa berangkat kerja bareng dari tempatku.”
Mendengar ide itu, Bagaspun tidak bisa tidak puas menyeringai dan mengangguk setuju. “Baiklah, kalau kamu percaya sama aku? Dan, gak takut mobilnya dibawa kabur.”
“Jadi, kamu cuman suka mobil aku aja, yah?”
Bagas tertawa kali ini sangat senang, melihat perubahan wajah Nadira. Mencubit pipinya gemas lalu, membawa tangannya mengelus paha Nadira lembut. “Tentu saja, nggak. Aku lebih suka kamu dibanding mobilnya. Mobilnya jika dinaiki cuman begini tapi, kalau aku naikin kamu katanya aku bisa naik ke langit ke tujuh.”
Kali ini bukan cuman pipinya yang merona bahkan, telinga Nadira sangat panas. “Bagas, apa yang kamu pikirin, hah? Gila, ternyata kamu m***m juga.”
“Aku cowok normal, Dira,” ujarnya masih tertawa.
Kurang dari satu jam mereka sampai di depan rumah Nadira, memastikan wanitanya masuk ke rumah dalam keadaan selamat terlebih dulu barulah, Bagas kembali menginjak gas mobil untuk melaju lagi.
“Sialan, dasar pria berengsek!”
Bagas menyeringai mendengar suara dari belakang mobil, dia bisa melihat jika Elvan sudah membuka matanya. “Oh, kamu bangun heh?”
“Siapa yang mau kamu naiki, hah?” Sebelumnya Elvan mendengar apa yang kedua orang di depannya bicarakan. Mendengar kata-kata m***m yang dilontarkan pria itu pada Nadira, wajahnya ikut memerah menahan kesal tetapi, dia belum berani membuka mata. Dia tidak ingin gagal lagi menghancurkan wajah Bagas yang berengsek.
“Hey, sialan! Nadira itu bakal jadi kekasihku, kamu siapa yang bisa mengaturnya. Lebih baik kamu diam di tempatmu dan melihat saja seperti tadi.”
Elvan menyerbu ke depan dia akan memukul Bagas tetapi, Bagas yang lebih sigap bisa menangkap tangannya meski, dia sendiri sedang sibuk menyetir dan satu kepalan tangannya jatuh di wajah Elvan. “Kalau kamu memang mau mati. Tunggulah sebentar sampai kita sampai di tempat tujuan, sialan! Kamu tidak lihat aku bawa mobil?”
Tubuh Elvan jatuh kembali ke jok belakang. Dia sedikit lebih pusing lagi dan perlu mencerna semuanya hingga, apa yang dikatakan si Bagas tidak di dengarnya jelas. Hanya dia benar-benar merasa marah tetapi, kekuatannya belum terkumpul semuanya. Melihat Elvan, akhirnya terdiam, tidak mengoceh dan bergerak. Bagas menyeringai puas.