Membuang Korban

1597 Kata
Dalam keadaan tidak sadar Elvan di lempar ke dalam sebuah gudang tua. Tempat itu hanya beberapa tempat sembaranga yang biasanya dijadikan Bagas dan teman-temannya sebagai tempat berkumpul. Gudang itu tempat kosong, yang sudah tidak digunakan beberapa tahun lamanya juga berada di daerah yang jauh dari penduduk sehingga, apapun yang terjadi malam di dalam gudang tidak ada orang diluar yang kurang dari seratus meter bisa mendengarnya. “Gas, dia baru lo pukul, heh? Belum sadar dia.” Bagas mendengus, “Dia mabok. Guyur tuh, orang sama air.” Teman Bagas yang paling dekat dengan Elvan mengambil ember besar yang sepertinya dipakai tandanan air hujan di tengah ruangan. Tanpa ragu mengguyurkannya ke kepala Elvan, yang terbaring di tengah kerumunan lima belas pemuda lainnya. Rasa dingin langsung menyerbu kepala Elvan, rasanya seperti jarum-jarum kecil menusuk kulit kepalanya, membuat tegang seluruh sendi hingga, sakit di kepala memaksanya untuk sadar dan perlahan membuka mata. ‘Di mana ini. akhh! Kepalaku sakit sekali, ini dingin.’ Batin Elvan. Bugh! Sebuah tendangan bersarang di perut Elvan, membuatnya berguling kesakitan dan refleks memegang tempat di mana terasa nyeri. Matanya kini terpaksa terbuka lebar tetapi, juga masih berbayang membuatnya terpejam merasakan nyeri. “Bangun!” Bagas menggoyangkan kakinya tepat di atas d**a Elvan. Di sisi lain, Elvan yang merasa dirinya diijak berusaha menyingkirkan kaki tersebut. Dia pun berusaha membuka matanya, dengan sorotan tajam berusaha untuk mengintimidasi pria kurang ajar yang berani bermain-main dengannya. “Sialan, kamu!?” Bagas tertawa puas, melihat akhirnya Elvan bisa menyadari kehadirannya. “Bagaimana rasanya berada dibawah kakiku?” Elvan melirik kaki yang masih menginjak dadanya lalu pada, Bagas yang tinggi menjulang di depan matanya. Berusaha mengumpulkan kekuatannya Elvan mendorong kaki Bagas hingga menjauh dari tubuhnya. “Enyahlah!” teriaknya sambil berusaha bangun dan terengah-engah. Bagas cukup terkejut, baru saja dia hampir terjengkang beruntung dia dengan cepat bisa menyeimbangkan kembali kakinya. “Masih punya kekuatan juga ternyata?!” Napas Elvan terengah, dari sudut matanya dia berkeliling dan memastikan sangat banyak orang berkerumun di sini. ‘Mati aku! Sialan, kenapa juga aku sampai jatuh ke tangan mereka.’ Bagas memerhatikan jika, Elvan tambah memucat setelah melihat sekeliling mereka, tenty saha ada kebanggaan bisa membuat anak singa sombong di depannya menciut tak bernyali dan tidak berani lagi memamerkan taringnya. Bagas berjalan kembali di depan Elvan, mengangkat satu kakinya menginjak bahu Elvan. “Aku tidak menyuruhmu berdiri, berbaring dan merangkaklah seperti kecoak. Orang sombong sepertimu pantas mendapatkan hal itu.” Tubuh Elvan benar-benar terlentang lagi setelah ditendang, sakit harga dirinya tidak lebih nyeri saat ini. “Apa kalian pikir, kalian bisa aman setelah melakukan hal ini padaku, hah? Lihat apa saja yang bisa aku—“ Bugh. Belum selesai bicara, sebuah bogem mentah menyerang ulu hatinya. Itu Bagas yang melakukannya. “Masih saja berani sombong padahal sudah seperti ini juga… apa kamu harus mencoba sekarat dulu sebelum sadar?” Sungguh, hal tak karuan yang diterima Elvan. Tubuhnya kini meringkuk seperti udang hanya untuk menahan sakit dari pukulan bahkan, napasnya pendek-pendek. Kedua matanya kali ini diperas untuk meneteskan air mata. ‘Oh, Mom! Ini sakit. Sialan Bagas, aku akan membalasnya! Kupastikan harus lebih sakit dari ini.’ “Hey, Tuan Muda sombong. Kenapa hanya diam, kamu tidak ingin membalas seperti sebelumnya? Bugh! Bugh!... biasanya dia bakal membalasku seperti ini.” Bagas mempertunjukan bagaimana Elvan memukulnya, “Kalian tahu, dia menatapku seperti apa? Dia pikir aku ini anjing yang suka menjilat dan hanya tahu menggong-gong sana sini.” Setelah mengatakan hal itu, Bagas menjambak rambut Elvan membuat kepalanya mendongak lalu mendaratkan pukulan di wajahnya. Lalu, diulangi olehnya sampai puas. “Kamu pikir aku ini, pria yang bakal menjilat Nadira, huh? Kamu lihat saja, apa yang bisa kulakukan tetapi, lebih baik tak usah ikut campur. Dasar, sialan! Pacar bukan, mantan bukan tapi, sombong. Kamu pikir Nadira itu milik kamu, huh?!” Bagas terengah puas, setelah memukuli Elvan begitu juga teman-temannya yang lain, mereka bersorak senang menyaksikan aksi Bagas. Tersenyum bangga, Elvan sudah meringkuk seperti bola dengan wajah hancur yang baru saja dia lakukan. “Jadi, apa yang kalian tunggu lagi, hajar dia! Tapi, ingat jangan sampai mati. Aku masih harus mengantarnya pulang.” “Berani kamu? Aku tidak akan tinggal diam,” ucap Elvan penuh geretakan gigi dan terbata-bata di antara sudut mulutnya yang berdarah-darah tetapi, siapa yang mau menggubrisnya. Sudut mulut Bagas kembali naik, kali ini hanya dengan sudut matanya dia memerintahkan teman-temannya untuk bergerak. Mendapat komando seperti itu, sekelompok kawanan itu tanpa ragu lagi mulai menyerang Elvan yang masih setengah terduduk dan berusaha berdiri tetapi, segera terjengkang kembali karena mendapat tendangan di punggungnya meskipun, begitu Elvan masih berusaha melindungi tubuh bagian vitalnya. Hampir setengah jam, dia disiksa dengan diinjak-injak bahkan, diludahi sampai suara Bagas kembali bergema di depannya. “Berhenti! Cukup untuk hari ini. repot jika, dia benar-benar mati.” “Yah, lihat saja! Sepertinya dia masih kuat kita bisa tambah setengah jam lagi,” sahut si Rambut pirang dengan tumbuh cungkring dan tindikan di mana-mana, kakinya masih bergerak menendang seolah belum puas. Bagas menggeleng dan hanya memutar bola matanya. “Jangan macam-macam, Ton. Lo mau tanggungjawab kalau dia mati, heh? Cepat bawa dia masuk mobil!” perintahnya yang langsung dituruti teman-temannya yang lain. Elvan benar-benar dalam kondisi babak belur dan sudah tidak sadarkan diri. Bagas dengan bijak tidak menggunakan mobil Nadira, dia tidak ingin ada jejak darah yang mungkin tercecer atau hal apapun yang bisa dijadikan bukti penganiayaan ini. Dan, yang pasti tentunya sama sekali tidak ingin membuat dirinya tercoreng di mana Nadira bisa kecewa berat padanya. Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk Bagas sampai di daerah kediaman Elvan. Dari sana, dia sangat berhati-hati memastikan tidak ada CCTV yang merekam mereka secara utuh. Tubuh Elvan dibuang begitu saja di depan pintu gerbang rumahnya dan agar orang di dalam tahu dengan baik hati Bagas juga menggedor pagar besi yang tinggi menjulang tersebut. Sekarang giliran Bagas yang harus memikirkan alasan apa yang dia buat ketika Nadira mengetahui kejadian ini dan sepertinya tidak butuh waktu lama ketika rasanya dirinya menemukan alasan yang tepat. “Ayo pergi! Udah selesaikan,” ucapnya memastikan jika, akhirnya ada seseorang yang membuka gerbang. Dia tidak ingin anak orang mati meskipun, semua orang berandalan tetapi mereka bukan pembunuh. Terutama Bagas, yang tampak lebih baik dari teman-temannya yang pengangguran. Pak Mus terhenyak dari tidur sesaatnya ketika mendengar sebuah gedoran pintu pagar yang sangat kencang. Dengan wajah linglung, dia juga melihat teman jaganya Dani, pemuda yang lebih muda tujuhbelas tahun darinya. Memandangnya sambil bertanya, “Ada apa, ya, Pak Mus?” “Kenapa tanya sama saya, cepet sana lihat ke gerbang!” perintahnya. Dengan rajin Dani beranjak bangun, menuju gerbang yang tidak seberapa jauh memastikan sekitar jika tidak ada yang akan masuk lalu membuka gerbang karena asal suara terdengar jelas dari arah luar bukan dalam dan yang mengejutkan adalah melihat seseorang tergeletak di sana. Dani segera berteriak memanggil Pak Mus, “Pak Mus! Pak Mus cepat kemari ada orang di sini,” ucapnya sambil berjalan menghampiri pria tergeletak tersebut. Pak Mus tergopoh-gopoh setengah berlari mendekati panggilan Dani dan melongok keluar. Dia melihat Dani masih belum berani melihat siapa pria yang sedang tertelungkup tersebut. “Kenapa diam saja, cepat lihat apa masih hidup? Siapa orang yang berani lempar orang ke sini coba?” “Sabar, Pak Mus. Saya juga takut,” ujar Dani yang kali karena sudah ada Pak Mus di sisinya dia berani membalik tubuh tersebut dan betapa kagetnya mereka berdua ketika menyadari siapa orang tersebut. “Den Elvan!” “Dani, Cepat periksa napasnya!? Terus, ayo segera bawa masuk! Ah, ini gawat. Gimana Den Elvan bisa kayak gini?!” Dani segera melakukan yang diperintahkan, mengulurkan jarinya tepat di bawah hidung Elvan juga memeriksa detak jantungnya. “Masih hidup pak Den Elvan, kayaknya cuman pingsan.” “Cuman pingsan, cuman pingsan… gak lihat wajah Den Elvan babak belur gitu,” sergah Pak Mus penuh nada khawatir juga ketakutan. “Ayo, cepat gendong dulu bawa ke dalam.” Segera keduanya membuat Dani menggendong Elvan di punggungnya diikuti Pak Mus menjaga di belakangnya takut-takut Elvas jatuh dari gendongannya. Malam itu, Rumah besar keluarga Malik menjadi terang berderang dipagi buta. Pekikkan terkejut juga terdengar dari Deswita yang hampir pingsan melihat kondisi putra bungsunya, Elvan. “Apa yang terjadi? Kenapa Elvan bisa begini?” “Kami tidak tahu, Nyonya. Baru saja ada seseorang melempar batu ke gerbang setelah kami periksa kami melihat Den Elvan tergeletak di sana dalam kondisi seperti ini.” Adibrata yang lebih bisa mengendalikan diri menahan Deswita dan menyuruh kedua penjaga rumahnya membawa Elvan masuk kamarnya terlebih dulu dan mereka mengikutinya dari belakang. “Bawa ke kamar dulu, baringkan anaknya dulu.” “Panggil Dokter Gino suruh dia segera ke sini, Dad,” ujar Deswita panic di tengah genggaman tangan Adibrata untuk menenangkannya. “Ok, ok, Mom. Tentu saja,” sahut Adibrata lalu, menoleh ke belakang melihat Bibi pembantunya entah siapa. “Bawakan ponselku di kamar?” Satu dari dua asisten rumah tangga pun segera berlari, berbalik membawakan apa yang diminta. Setelah tubuh Elvan dibaringkan, mereka semakin terkejut melihat luka-luka di tubuhnya. pekikkan takut dan juga marah menjadi satu. “El-van, kamu kenapa, Nak? Apa yang terjadi?” tanya Deswita sambil duduk di sampingnya dan gemetar tak karuan saat melihat cetakan-cetakan memar berada di tubuhnya. lalu, terisak keras tidak tega. “Buka pakaiannya, lihat seberapa parah lukanya!” perintah Adibrata tetapi, setelah di buka dirinya sungguh sangat menyesal. Bagian punggung dan perut membiru penuh tanda pukulan. “Hati-hati kalian,” ucapnya memerhatikan Dani dan Pak Mus yang melucuti pakaian Elvan. Tanggannya terkepal erat, menekan emosi yang ingin meledak. ‘Tidak bisa dibiarkan, tidak akan kulepaskan orang-orang ini yang berani melakukan ini pada putraku. Kalian harus tahu siapa itu keluarga Malik.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN