Masih ada jalan lain menuju Roma

1582 Kata
Pagi hari ini Inara tidak ingin melakukan apapun, kepalanya pening dengan badan yang tidak karuan meriang belum lagi tenggorokannya yang terasa kering, sungguh sakit itu tidak nyaman sekali. Dia juga sudah meminta Ravin menemaninya saja di apartemen tetapi, sebelum Ravin setuju Smartphone-nya berdering dan kabar yang mengejutkan terdengar.          Ravin melihat lagi Inara, dia tidak tega meninggalkannya jika, dia membawanya ke rumah setidaknya dia bisa istirahat juga di sana dan akan ada yang membantunya merawatnya tetapi, Inara sendiri enggan pergi. “Kenapa gak mau ikut, sih?”          “Aku mager, rasanya kepalaku pening tidak mau ke mana-mana?”          “Tapi kalau kamu gak pergi, gimana Mas bisa pergi?”          Inara terdiam, hanya memandang Ravin dan masih berpikir apa dia harus pergi padahal tubuhnya benar-benar enggan bergerak tetapi, mendengar sampai Ravin tidak bisa pergi juga itu bukan hal bagus. Kedua mertuanya pasti menunggu mereka. “Tapi, di sana aku paling cuman bisa ngerepotin aja, Mas.”          “Gak mungkin dong! Ayolah, pergi. Mas juga khawatir ninggalin kamu dalam keadaan sakit kayak gini.”          “Memangnya apa yang terjadi sama Elvan, Mas?” tanya Inara seraya berjuang untuk bangun. Dengan sigap Ravin membantu Inara bahkan, hampir digendongnya jika saja Inara menggeleng, menolak. “Gak usah digendong.”          “Ok, ok!” Ravin mengiyakan, “Mau aku papah?” tanyanya kali ini.          “Tidak usah, masih bisa, kok!” Yah, Inara sebenarnya masih bisa berjalan, bergerak ke sana kemari jika memaksakan diri sebelumnya dia hanya benar-benar malas karena suhu tubuhnya yang tidak menentu juga mood-nya yang buruk. “Jadi, kenapa Elvan, Mas?” tanya Inara lagi sambil berdiri di depan westafel mencuci wajahnya yang kusut dan letih.          “Elvan terluka, sepertinya habis dikeroyok.”          “Dikeroyok?”          Ravin mengangguk, mengiyakan. “Katanya seperti itu. Semalam seseorang melempar tubuhnya ke gerbang rumah dengan luka-luka sekujur tubuh.”          “Seserius itu? Tapi, kenapa baru ngasih kabar sekarang?”          “Mommy, bilang pas kejadian masih tengah malem dan mereka juga panic jadi, baru sempat ngasih kabar tadi.”          Kemudian, Inara sedikit memutar otaknya lalu teringat sesuatu. “Mas, coba cek hape aku, kok. Rasanya tadi aku liat ada notif nomer Elvan semalam.”          Rasanya Ravin ingin cemburu, bagaimana Elvan masih suka menghubungi Inara tetapi, jika dipikir lagi bukankah dia juga masih berhubungan dengan Jovanka. Apalagi mereka yang kini berstatus saudara ipar juga seharusnya hubungan mereka lebih baik. Jadi, tanpa pikiran berlebihan lagi Ravin segera mengambil smartphone Inara di meja sisi ranjang lalu segera memeriksanya dan memang tidak salah terdapat banyak notif telepon dari nomor Elvan.          “Bagaimana Mas?”          “Iya, dia neleponin kamu, Yang,” sahut Ravin menoleh dan membawa smartphone nya ke sisi Inara.          “Semalem itu aku minum obat dan tidur pulas banget sampai Mas pulang malem aja, aku gak tahu , loh,” ujar Inara tiba-tiba.          Ravin tersenyum sedikit merasa bersalah istrinya sakit dia malah tidak tahu. “Maaf, yah, Mas harus banyak lembur lagi,” ucapnya sambil mengusap rambut Inara dan mengecup keningnya. Padahal kemarin dia tidak sepenuhnya berada di kantor dan lembur melainkan, di rumah sakit menjenguk Jovanka.          “Gak papa, kok! Tapi, gak nyangka aja Mas ini kalau sudah kerja bisa jadi workaholic juga, yah? Padahal, sebelumnya bener-bener nolak sampai ngerengek gak mau kerja di kantor.”          Menjepit hidung Inara, Ravin juga tertawa. “Ya, Mas nolak ada alasannya ya, karena gak mau kayak gini. Kalo udah kerja itu berasa ada tanggungjawab besar yang harus Mas lakuin dan gak bisa gak dilaksanain. Kayak ke kamu juga,” ujar Ravin yang tiba-tiba menarik pinggang ramping Inara. “Membuat keputusan untuk menikah sama kamu berarti, aku harus bisa jatuh sayang sama kamu, menjaga sampai waktu yang tak terbatas.”          “Memang prinsip Mas itu harus gitu, yah?”          “Kalau gitu Mas harus gimana?”          “Yah, entahlah… tapi, aku pernah berpikir Mas gak akan benar-benar cinta sama aku. Apalagi, aku yang mantan dari adik kamu. Kalau pun Mas akhirnya sayang sama aku itu hanya sekadar kewajiban Mas sebagai suami.”          “Lalu, apa sekarang yang kamu pikirin sudah berubah?”          Inara mendongak, menatap wajah tampan suaminya. Memerhatikannya dengan serius lalu, jari-jari tangannya terulur menyentuh senti demi senti dari sudut keningnya, alisnya yang hitam pekat, bulu matanya yang panjang, mata bulat yang berair begitu bersih, hidung tulang yang tinggi, bibir merahnya yang ingin sekali dia kecup dan tanpa Inara sadari tubuhnya sudah condong ke depan. Bibirnya mengambil kecupan cepat tiba-tiba.          Senyuman puas menarik siluet bibir Ravin yang baru saja dikecup Inara. Tidak puas jika, hanya sebuah kecupan singkat tangan Ravin menarik tengkuk Inara untuk lebih dekat dengannya tetapi, belum bibirnya bisa menempel dan melumat daging merah mudanya sebuah tangan menghalangi bibirnya.          “Jangan ciuman dulu entar saja, aku kan lagi sakit. Gimana nanti kalau Mas tertular.”          Ravin menghela napas, memajukan bibirnya dengan pandangan tidak berdaya tetapi, akhirnya dia hanya bisa mencium tangan Inara. “Baiklah, jadi aku hanya bisa mencium bagian ini tapi, padahal barusan kamu baru saja mencium bibir Mas, apa itu gak keterlaluan.”          “Barusan aku cuman ngecup bibir Mas dan itu paling kurang satu detik beda, sama ciuman yang Mas minta mungkin bisa lebih dari lima menit.”          Ravin baru saja tertawa tidak bisa menyangkal dan puas tertawa. hal itu, dalam waktu singkat keduannya selesai bersiap. Idak disangka Inara yang awalnya sangat malas bergerak, tiba-tiba baik saja seolah tidak ada masalah sebelumnya meskipun begitu, Ravin sudah menggulung tubuh Inara dengan berbagai lapis pakaian barulah mereka bisa pergi.          “Mas, ini terlalu banyak! gimana aku bisa gerak coba?”          Ravin menggeleng. “Kamu masih bisa bergerak juga, sekarang diluar cuacanya sangat dingin nanti sakit lagi.”          “Tapi, aku, kan memang lagi sakit.”          “Iya, makanya tahan dulu aja nanti sampai rumah Mommy,” jawabnya tenang sambil terus mengemudi sedangkan, Inara harus memasang wajah jutek cukup tersiksa dengan pakaian yang sedang digunakannya.          “Ravin!” teriak Deswita sambil berlari menghampiri memeluk anak sulungnya dengan mata berkaca-kaca sedih dan seolah tengah mengeluh banyak.          Jika dipeluk begitu erat oleh Mommy-nya bagaimana Ravin bisa menolak, dengan penuh sayang dan pengertian dia menepuk punggung ibunya membiarkannya sedikit lebih tenang. “Mommy, baik-baik aja, kan? Tenanglah jangan menangis.”          “Huh, Mommy bukannya mau menangis,” ujarnya mengelak sambil menghapus air matanya lalu, menoleh ke samping. “ya, ampun Inara. Kamu kenapa sayang?”          “Mom, tolong Inara,” lirihnya lebih sedih.          Ravin tidak bisa berkata-kata melihat Elvan terbaring tidak berdaya dengan berbagai memar biru bersarang di tubuhnya. Dia menghela napas berkali-kali tanpa disadari membuat pelipis Elvan berkedut dan rasanya ingin melemparnya keluar.          “Mas, pergi saja, deh kalau masang tampang kayak gitu,” ucap Elvan terbata-bata tetapi, masih terdengar jelas.          “Memangnya aku harus pake tampang apa?” balas Ravin tidak mengerti, mengambil minum lalu duduk di sofa kamar. “Siapa yang lakuin hal itu ke kamu?” tanyanya tanpa basa basi.          Kepala Elvan berpaling seolah tidak ingin membahasnya. “Aku yang bakal balas dendam lihat aja nanti.”          “Ya, tetap saja aku harus tahu siapa yang lakuin hal ini sama kamu,” balas Ravin makin tegas.          Dalam hati Elvan tentu saja ingin sekali mengatakannya tetapi, matanya terpejam dan menggeleng tidak mau mengatakan apapun. Dia akan membalas hal itu sendiri. Inilah salah satu alasan memanggil Ravin, sebagai kakak mereka cukup dekat sebelum hal-hal besar terjadi. Elvan tidak mau mengatakan siapa membuat geram Adibrata. “Kalau kamu memang tidak mau mengatakanya, Mas gak bakal tanya lagi karena tahu kamu mau mengurusnya sendiri, kan?” Ravin berbicara dengan santai. Matanya tidak pada Elvan melainkan, pada pisau buah yang dia gunakan untuk mengupas apel. “Tapi, kalau kamu kesulitan harusnya kamu gak bakal diam aja, kan? Kamu harusnya mencari kakakmu ini.”          Elvan menatap Ravin, mengangguk yakin setalah berpikir hati-hati. Aku yakin bisa sendiri, kok! Aku akan berhati-hati lagi nantinya.”          “Bagus memang harusnya begitu. Ini makanlah, Mas sudah memotongnya cukup kecil-kecil. Itu masih mudah di makan, kan?”          Sudah lama sekali dia tidak mendapat perhatian sebesar ini dari orangtuanya juga Ravin. Hatinya benar-benar tersentuh, hidungnya tersedak rasanya dengan matanya memerah. “Makasih, Mas.”          “Hm,” gumam Ravin sambil mengelus rambut Elvan. “Kamu sudah sangat kuat sekarang tetapi, kamu bisa gak perlu sok kuat. Masih ada aku sama Daddy, bisa jadi sandaran buat kamu, ngerti? Jangan terpuruk lagi sama masa lalu… majulah!” gemas Ravin sebenarnya menyuruh adiknya segera move-on dari perasaannya ke Inara.          “Aku bakal coba tapi, gak janji juga. memangnya perasaan itu bisa diatur dengan mudah,” sahut Elvan yang tahu ke mana arah pembicaraan akhir sang kakak. “Apa Inara gak kemari?”          Ravin berpura-pura mendengus tidak suka saat pertanyaan terakhir dilontarkan Elvan. “Dia sedang istirahat, sakit. Mas gak bisa niinggalin dia di apartemen gitu aja tapi, juga khawatir sama kamu.”          “Oh, gak parah, kan? Sekarang dia di mana?”          Buru-buru Ravin menahan Ravin yang sepertinya akan beranjak, tidak mempan hanya dengan sentuhan saja matanya yang tajam dan berkilat jadi, senjata yang lumayan ampuh. “Dia gak parah. Hanya gejala flu dan tidur di Kamar Mas. Jadi, cukup. Pikirin aja kondiisi kamu sendiri aja.”          Elvan bisa melihat jika, Ravin tidak ingin dia dekat lagi dengan Inara yang memangnya sekarang dia bisa apa tetapi, jika ada kesempatan Elvan bersumpah gak bakal menyia-nyiakannya lagi. Selalu ada jalan lain menuju Roma, tidak mungkin kakaknya terus berada di sisi Inara dia hanya harus sabar sedikit dan mendapat celah lagi buat masuk. ‘Maaf, Mas buat yang satu ini…rasanya aku gak bisa Move on. Bagaiamanapun akhirnya jika masih sedikit perasaan dari masa lalu dia tidak akan terlalu tersesat.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN