Elvan masih kukuh dengan perasaannya, baginya Inara masihlah wanita yang paling sempurna dan berharga yang sangat ia sesalkan pernah dia tinggalkan demi perasaan sesaatnya. Bahkan sialnya perasaan sesaatnya itu, tidak pernah berbalas Nadira tidak pernah membalas cintanya. jika, saat ini ditangannya ada gelas mungkin saja. Dia akan membanting gelas itu sekarang sampai pecah berkeping-keping.
“Apa aku mengganggu?”
“Inara,” panggil Elvan dengan sumringah.
Kali ini Inara balas tersenyum sambil bertanya, “Bagaimana kabarmu? Apa lebih baik?”
“Masuklah! Baru kujawab,” balas Elvan bahkan, sedikit tidak tahu malu dia sudah mengulurkan tangannya berharap tangannya bisa diraih.
Inara berjalan masuk dan melihat kondisi Elvan, yang masih terbaring juga menggunakan cairan infus. “Kenapa gak dirumah sakit aja, sih?”
“Katanya kamu juga sakit, yah? Ya udah, yuu… kalau sama kamu aku mau di rumah sakit sekalian juga kita satu ruangan,ya?”
Inara memutar bola matanya bosan tidak menanggapinya. “Sebenarnya apa yang terjadi, sampai kamu kayak gini? Kamu buat masalah sama siapa?”
Pandangan Elvan yang semula focus menatap wajah Inara, tiba-tiba beralih menatap langin di luar jendela saja setelah mendengar pertanyaan yang sudah berkali-kali orang tanyakan siapa yang sudah menghajarnya. Tetapi, bagaimana dia bisa mengatakannya jika, si b******n licik itu mengancamnya. “Aku gak buat masalah sama siapapun tapi, orang-orang itu yang cari masalah sama aku.”
Tarikan napas Inara terdengar jelas diruangan sedikit sepi itu, “Ya, sudah. Kembalilah istirahat nanti, aku balik lagi,” ucapnya seraya beranjak.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku tidak ke mana-mana, mungkin hanya ke bawah mencari Mommy.”
“Apa tidak lebih baik kamu di sini saja,” ucapnya dengan tampang memelas ingin diperhatikan. “Aku kesepian, berbaring sendirian sangat membosankan.”
“Jangan buat keributan yang gak penting.” Setelah mengatakan itu Inara segera pergi keluar. Meninggalkan Elvan yang langsung bermuka masam tetapi, siapa yang peduli lagi padanya. Inara berjalan santai dari koridor sampai anak tangga, suasana tampak sepi. Hari menunjukan siang sepertinya semua orang sedang beristirahat di kamarnya tetapi, pas dibawah tangga dia bertemu Bibi Mirah.
“Loh, Non-nya udah bangun. Baru aja Bibi mau bawa makan siang.”
“Makasih, Bi. Tapi, bisa dibawa ke meja makan, aja. Aku mau makan di sana saja,” ujar Inara kembali berjalan diiringi sang Bibi di belakang punggungnya. “Mommy udah pada makan siang, ya, Bi?”
“Udah, Non. Nyonya besar sedang tidur siang. Tadi, Bibi sempet ke atas ngecek Non tapi, Non-nya masih tidur jadi, makanannya di bawa balik.”
“Oh,” balas Inara yang hanya ber Oh-ria. Yah, memang sejak pagi tubuhnya tidak nyaman jadi, Ravin langsung menyuruhnya berbaring dan beristirahat di kamar setelah minum obat hingga, tidak disangka dia tidur sampai siang begini. Inara segera duduk di depan meja makan seorang diri setelah bibi pelayan menyiapkan semua piring hidangannya.
Semenjak menikah dengan Ravin sepertinya Inara masih bisa menghitung berapa kali dia berkunjung ke rumah ini. Di awal pernikahan kedua mertuanya yang lebih sering berkunjung setelah dirinya dan Ravin bekerja itu menjadi langka apalagi akan sangat tidak menyenangkan baginya karena Elvan juga tinggal di sini. Meskipun, akhirnya pria itu akhirnya tetap saja mencari-carinya ke butiknya.
“Em, aku gak bisa makan lebih banyak lagi.” Inara menghentikan suapannya yang ke lima, perutnya terasa penuh akhir-akhir ini meski, mulutnya masam ingin makan sesuatu tetapi, tidak ada yang dia mau. Benar-benar tidak bisa makan lagi, Inara merapihkannya dan meminta beberapa potongan buah pada Bi Minah yang ternyata sudah sigap melihatnya selesai makan.
Bosan karena tidak bisa tidur siang lagi setelah sedari pagi tidur, Inara berniat pergi ke butik. Kasihan pada Nadira tetapi, baru saja dia hendak bersiap Ravin sudah lebih dulu menghubunginya dan melarangnya untuk pergi menjaga kesehatannya, setelah mendengar hal itu Inara tidak bisa lagi membantah. Lebih baik memang untuknya istirahat lalu, bisa bekerja lebih efektif dilain waktu. Lagipula, Ada Nadira di Butik yang sangat bisa diandalkannya.
Pagi tadi Nadira sudah meminta izin sakit dan terakhir kali Nadira meneleponya saat setelah dia bangun tidur, menanyakan kabarnya lagi dan akan datang kalau dirinya membutuhkan sesuatu, memang sahabat sejati. Tetapi, Inara menolak dia di rumah mertuanya sekarang belum lagi dia juga cerita tentang Elvan yang sedang terluka juga semalam.
Sedangkan, Nadira di Butik yang mendengar kabar kesehatan dua sahabatnya sedikit termenung. Dia bukan lagi khawatir pada Inara, yang katanya sudah mulai membaik. Melainkan kabar asing baginya tentang Elvan. Bagaimana, mungkin pria yang semalam dia jemput di club dalam keadaan mabuk dan masih baik-baik saja sekarang katanya terluka cukup parah. lalu, yang dikatakan Inara tadi jika, Elvan korban dari pengeroyokan karena tanda-tanda dari luka-lukanya. ‘Siapa yang ngelakuin hal itu sama dia?’
“Ngga mungkin, kan? Dia terluka seperti apa bikin gue …eh, balik lagi kebiasaan. Aku penasaran semalam diperhatikan gak ada luka sama sekali. Dia dapat luka darimana sampai butuh rehat katanya? Aaah… lama-lama gue gila, ngomong sendiri … tuh, kan balik lagi kebiasan lo, guenya.”
Nadira segera keluar mencari orang, dia ingin pergi melihat Elvan sekalian juga Inara tetapi, belum sampai dia keluar. Seseorang membuatnya terkejut, tiba-tiba saja di depannya berdiri Bagas dengan sumringah dan mengulurkan sebatang cokelat padanya. “Untukku?”
“Tentu saja. Untukmu buat siapa lag memangnya?”
Pipi Nadira sedikit merona merah, senang dengan kejutan kecilnya. “Terimasih,” ujarnya sambil mengambilnya. Kemudian, ingatan lain masuk pikirannya. Nadira segera menarik Bagas untuk bertanya padanya untuk hal tersebut. Kali ini Nadira tidak berani lagi membawa pria ke dalam ruangan kerjanya setelah kejadian terakhir kali, lebih baik mereka berbicara di luar saja lagipula, tak nyaman baginya jika, yang lain masuk itu bukan ruangan hanya miliknya padahal, dia juga sudah menyuruh Bagas untuk tidak sering datang khawatir setelah kejadian itu makin tersebar gossip tidak menyenangkan. Tetapi, Bagas tampaknya tidak peduli.
“Ada apa, sih. Dira. Kayaknya serius banget?” tanya Bagas tidak nyaman ditarik langsung keluar dari toko Butik untuk mencari tempat umum yang nyaman untuk bicara itu terbaca dari pergerakan Nadira yang sama sekali belum bicara hanya terus bergerak ke sana kemari saja. “Dira, di sana bagaimana?”
Melihat tempat yang ditunjuk adalah coffe shop, Nadira mengangguk setuju dan masuk ke dalam mencari tempat yang lebih ke dalam dan disekat sedikit lebih privasi. Memesan kopi juga cake ringan untuk berdua. Duduk berhadapan dengan tangan yang ternyta sedang memegang sebatang coklat Nadira kembali mengendalikan dirinya.
“Ada apa?” Bagas langsung mengambil point. Dia senang sekali bisa masuk coffe shop di sini dan memesan apa yang dia mau gratis. Nadira yang pasti akan membayarnya. “kita sudah di sini apa yang mau dibicarakan?” lagi-lagi hanya basa basi dirinya karena Bagas bisa menebak soal apa yang dikatakan Nadira.
Sebelumnya Nadira tidak menggubrisya dan mengabaikannya, setelah mereka duduk dan diberi minum barulah dia membuka mulutnya. Sesuai tebakan Bagas jadi, dia tidak sedikitpun terkejut meski, akhirnya dia berusaha berekspresi secara alami yaitu, terkejut juga. “A-apa? Apa begitu parah?”
Kening Nadira berkerut, dia memerhatikan reaksi alami Bagas saat diberi kabar tentang keadaan Elvan. ‘Dia seolah tidak tahu? Tapi, apa dia berbohong ya?’
Melihat ketidakpercayaan Nadira, Bagas segera mengeluarkan jurus penjelasanya yang sudah dirinya persiapkan sebagai alibi. “J-jadi begini sebenernya,Nad ….”
Helaan napas terdengar dari bibir Nadira, tidak habis pikir apa Bagas saat ini jujur atau tidak, “Jadi, semalam benar kamu gak selesai nganter dia pulang?”
“I-iya, dia tiba-tiba ingin keluar dari mobil dan aku hanya bisa menurutinya. Setelahnya si Elvan muntah-muntah diluar lalu, aku hendak membawanya lagi naik mobil tapi dia menolak dan aku masih berusaha menariknya. Belum lama sampai dia melihat taksi mendorongku menjauh lalu, masuk mobil taxy.” Jelas Bagas menyedihkan dan berusaha meyakinkan Nadira.
Nadira tidak bisa tidak percaya apa yang dikatakan Bagas. Mungkin memang Elvan saja yang memang sedang sial. Mabuk tidak tahu aturan dan bertemu para preman dan habis perkara dihajar oleh mereka. Bagas sendiri dengan apik menyembunyikan keterlibatannya, dia tidak akan ketahuan jika bukan mulut Elvan sendiri yang bicara juga, perkara sebelumnya dia mengambil atau mencuri uang tunai dari dompet Elvan dan meninggalkan sisanya. Seolah dia memang dirampok preman.
“Apa kamu masih gak percaya sama aku?”
“A-aku bukannya gak percaya,” balas Nadira sedikit gugup, jujur saja tidak semudah itu, kan. Meski dirinya juga tidak bisa menuduh Bagas sembarangan jika, apa yang mungkin dikatakannya benar apalagi, Elvan sendiri katanya tidak menyebutkan pelaku yang sudah mengeroyoknya.
Bagas tidak menutupi wajah kecewanya tetapi, dalam hati menyeringai puas melihat Nadira yang tampak bingung dan tentu saja yakin jika Elvan tidak akan berani membuka mulutnya sekarang dia hanya perlu memastikan jika wanita di depannya memutuskan pikirannya dari pria itu. “Aku memang gak suka dengan dia tapi, bukan berarti aku penjahat yang bisa lakuin hal itu,” tutur Bagas penuh dusta.
“Ehm, Bagas tenang. Aku gak nuduh kamu.”
“Tapi, wajah kamu nunjukin semuanya … kamu ragu sama aku, kan? Yah, mungkin kamu pikir aku bisa nyewa preman buat mukulin si Elvan itu, kan? Aku gak punya duit buat hal seperti itu. Aku ini cowo miskin.”
“A-aku gak kayak ahh…” Nadira menjadi bingung sendiri. Apa yang mau dia katakan. “Lebih baik kamu diem dulu, Gas. Aku, tuh cuman lagi gak bisa mikir. Aku juga belum lihat keadaan Elvan kayak gimana? Karena tiba-tiba saja kamu sudah datang jadi, gak ada maksud lain aku langsung nanyain hal ini sama kamu.”
“Oh, kalau gitu aku yang udah salah sangka sama kamu,” ujar Bagas datar, yang malah semakin Nadira tak karuan.