Harapan Deswita

1623 Kata
Ravin baru saja menutup smartphonenya. Helaan napasnya terdengar begitu berat, dia baru saja berbicara dengan Inara, menanyakan keadaannya juga serta merta melarangnya kembali bekerja ketika wanita itu mengutarakan keinginannya pergi ke butiknya hanya karena merasa kondisinya membaik saat ini. Jadi, tentu saja dirinya tidak akan mengizinkannya hanya karena alasan seperti itu, Siapa yang tahu baka sakit lagi saat bekerja. Lebih baik memulihkannya dengan sempurna yaitu istirahat sebaik mungkin. "Pak Ravin, apa Anda akan pulang lagi lebih cepat?" tanya Rudi dengan wajah sedikit khawatir. Karena tadi pagi bosnya sedikit terlambat dan banyak schedule hari ini terpaksa diundur kembali setelah, selama beberapa hari ini juga Bos-nya pun terus memundurkan beberapa pekerjaan karena dia sering pulang lebih awal. Ravin melirik asistennya itu, sebenarnya sedang berpikir. Dia sadar sudah banyak menunda pekerjaan padahal, pekerjaan bertambah seiring waktu dan jika tidak diselesaikan tidak ada yang akan selesai. "Jangan khawatir, akan aku usahakan," balasnya tanpa janji pasti karena sebenarnya Ravin ingin pulang lebih kali ini untuk menemani Inara, istrinya lagi sakit dan dia terlalu sibuk dengan urusan orang lain. Ada rasa lega di hati Rudi mendengar ucapan Bos-nya yang akan berusaha bereskan semua pekerjaannya yang tertunda meski tidak yakin sepenuhnya dia berharap bosnya akan lebih memprioritaskan pekerjaannya jika tidak banyak hal yang akan tertunda. "Terimakasih, Pak Ravin. Jika, seharusnya menunda yang akan terlalu banyak hal yang tertinggal," balasnya kali ini dengan kejujuran. "Iya, aku juga jadi, kamu nggak usah cerewet lagi," ujarnya sambil melambaikan tangannya seolah menyuruhnya pergi. Rudi mengangguk penuh arti ditambah senyuman lega, dengan senang hati pergi membawa berkas-berkas yang sudah ditandatangani. "Baik, Pak Ravin. Saya bekerja dan pamit undur diri." Secepat Rudi pergi, secepat itu pula raut wajah Ravin berubah menjadi masam menatap pekerjaannya yang mulai menggunung, dia tidak bisa megabaikan mereka lagi. Benar-benar tidak ingin diganggu Ravin mematikan smartphone-nya dan menyuruh sekretarisnya untuk tidak mengganggunya jika, hal itu tidak berkaitan penting dengan pekerjaan. Sampai di sore hari di jam para pekerja selesai pekerjaan mereka, Ravin memilih bekerja lembur selama beberapa jam ke depan tetapi, berjanji pada diri sendiri tidak akan terlalu malam dan memastikan segera pulang untuk menemui Inara. Jadi, kali ini Ravin menyalakan smartphonenya dan apa yang dilihatnya begitu banyak panggilan tersemat atas nama Jovanka dan hanya beberapa apa atas Inara. Drttt! Dering smartphonenya berbunyi saat baru saja akan ditutupnya lagi. Tidak berpikir banyak Ravin segera menyentuh tombol jawab, "Halo." Terdengar suara desahan napas lega lalu dan segera setelahnya suara lirih dan menggebu menyebut namanya, "Ravin, akhirnya kamu menjawabnya. Sejak tadi aku kesulitan menghubungimu. Apa yang terjadi? Kenapa ponselmu bisa mati. Aku sangat khawatir sesuatu terjadi? Kamu baik-baik saja, kan?" "Tenanglah, kenapa pertanyaanmu banyak sekali?" Ravin tidak menyembunyikan suara lesu dan desahan malasnya. "Aku yang sibuk, Jo. Banyak pekerjaan yang diselesaikan." "Aah, maafin aku, Vin. Pasti berat buat kamu, yah?" Ravin sedikit tersesat, tak acuh dibuatnya dengan ujarannya yang tak terdengar seperti prihatin malah sebaliknya, asal suata yang parau dan lemah lebih terdengar mencari simpati. "Kamu mau aku ke sana sekarang?" tanya Ravin. Cukup hening beberapa saat lalu terdengar kembali suara Jovanka dari sana yang menjawab, "Nggak usah, Vin. H-hari ini. Aku hanya ingin mengabarimu hal ini." "Hah, syukurlah." "I-iya, hari ini aku sudah bisa makan dalam beberapa suap. Aku juga dibawa jalan-jalan berkeliling taman rumah sakit, menyenangkan sekali tapi, lebih menyenangkan jika ada kamu." "Aku nggak mungkin bisa sering bersama kamu, sangat bagus hari ini kamu bisa menikmati semua waktu yang kamu punya dengan lebih baik. Jangan hanya bergantung pada waktu bersamaku, karena belum tentu aku ada buat kamu." Setetes air mata jatuh ditepian sudut mata Jovanka, suara keringnya kian berubah menjadi parau. "Euhm," jawabnya mengiyakan pernyataan Ravin. "K-kamu istirahat yang baik, ya. Maaf, jika aku masih ingin selalu ketemu sama kamu." "Tidak masalah, Aku senang jika dibutuhkan tapi, tolong! Jangan bergantung lagi padaku kini semua berbeda. Lain hari aku pasti akan menjengukmu lagi tapi, seperti yang kamu inginkan, hari ini aku memang tidak bisa datang karena Inara pun butuh perhatianku," ucap Ravin Jujur. "Euhm!" Jovanka menganggukan kepala berkali-kali meski, tak mungkin Ravin bisa melihatnya. "Ya, sudah beristirahatlah. Aku juga mau menyelesaikan pekerjaanku. Selamat ... eh,malam hampir tiba." "Hm, hampir malam. Jangan lupa makan malam ya, Vin." "Terimakasih sudah mengingatkan. Rasanya perutku menjadi lapar. Ya, sudah sampai jumpa, Jo, bye." Tapi menutup teleponnya yang pertama kali dia bisa pulang lebih awal. Kali ini Ravin bisa berkerja lebih semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya lalu, pulang merawat istri cantiknya. "Yosh, abaikan yang lain. Satu berkas terakhir hari ini." Di sisi lain, Inara harus kebingungan setelah tadi siang smartphone-nya tidak bisa lagi dihubungi. Kesal bercampur khawatir jadi, satu. Baru saja dia akan hubungi lagi sebelum sebuah pesan lain masuk. 'Hanya satu berkas lagi, aku akan segera menjemputmu.' Senyum berkembang kembali di bibir Inara setelah membaca sebait pesan tersebut. "Akhirnya kamu bisa tersenyum lagi, Siapa yang memberimu pesan? Mas Ravin?" tanya Elvan. Mereka berada di kamarnya baru saja Inara membantunya membawakan makan malamnya. "Ya, sebentar lagi dia akan menjemputku, Mas Ravin hanya perlu menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Elvan, ternyata Mas Ravin workaholics juga, ya, padahal sebelumnya Dia terlihat malas dan enggan untuk bekerja di balik meja," curhat Inara mendongak menatap Elvan, yang juga sedang menatap kearahnya. "Hm, Mas Ravin memang seperti itu. Jika, dia sedang beriatirahat sepenuhnya ya, istirahat. Tidak ada yang mau dikerjakannya begitu juga saat bekerja dan belajar dia akan fokus pada satu yang dilakukannya." Inara mengangguk setuju lalu, menoleh pada input yang masih belum megangkat sendok makan. "Kenapa belum juga makan?" Elvan mendesah, mengintip bola balik Inara dan piring makannya. "Kamu bisa bantu aku? Tubuhku masih bergetar tidak kuat memegang sendok makan," ujarnya sedikit berbohong. Awalnya Inara enggan tetapi melihat lagi luka-luka pada kondisi Elvan yang memang sedang sakit akhirnya dia mengangguk setuju. "Ok, hanya menyuapimu tidak masalah. Atau aku harus panggil Mommy, atau Bibi buat menyuapimu." "Aku tidak butuh mereka cukup sama kamu aja." Inara memutar bola matanya dan mendengus jijik tetapi tidak ragu mengambil piring makan Elvan dan duduk disampingnya untuk mulai menyuapinya. "Kamu harus cari pacar yang lebih baik dari aku. Jangan hanya yang terlihat cantik tapi juga, baik hati dan pengertian. Satu lagi gak manja kayak kamu atau ...kalian yang repot sendiri." "Memangnya, Mas Ravin nggak manja kaya aku setahuku, Mas Ravin lebih manja dan lebih suka merengek dibanding aku dulu." "Oh, ya?" Inara mengingat-ingat memang terkadang sifat Ravin juga manja memang tetapi, saat sepertinya malah menyenangkan dirasa sehingga tanpa dirinya ketahui senyumnya mengembang lebih dalam. Elvan yang melihat perubahan wajah Inara dan tahu siapa yang ada dalam pikirannya, seakan memecah perasaan di dalam hatinya. "Inara, kamu masih menyuapiku, kan? Aaa... ?" "Ey, yah. Maaf," ucapnya sambil kembali mengambil sendok makan nasi serta lauknya dan menyuapi Elvan kembali sampai suara dehaman dan tatapan menyipit seolah mempertanyakan mereka. "Mommy, jangan lihat aku kayak gitu?!" Kesal Elvan melihat Deswita di depan pintu kamarnya. "Mom, aku gak ngapa-ngapain cuman bantuin Elvan makan aja,kok." Kali ini Inara yang sedikit gugup takut, dikiranya mereka tengah selingkuh padahal sebelumnya Deswita sendiri menyuruhnya mengantarkan makan untuk putra bungsunya ini. Deswita tertawa mendengar kegugupan mereka berdua. Niatnya juga baik, dia ingin sepasang mantan ini benar-benar menyelesaikan perasaannya sehingga kehidupan mereka akan berlanjut lebih baik daripada memghalangi mereka untuk bertemu lebih baik mengakrabkan mereka sebagai saudara ipar. "Mommy hanya bercanda. Kalian jangan gugup gitu atau Mommy malah akan curiga." Elvan mencebik keras denga luka bibir yang harus membuatnya mengerutkan kening karena nyeri. "Becanda, Mommy gak lucu. Kalau beneran nanti, Mommy juga yang marah." Inara sendiri mengelus dadanya lega mengetahui mertuanya tidak berpikir macam-macam. Namun, baru saja lega Elvan tiba-tiba mengatakan hal yang tak mungkin. "Kamu juga jangan bicara sembarangan. Nggak bakalan ada apa-apa lagi sama kita kedepannya karena sekarang kita hanya akan menjadi saudara ipar. " Jleb! Sebuah panah baru saja menusuk perasaan Elvan tetapi,tidak ada raut wajah yang tersisa karena dengan luka di tubuhnya saja dirinya sudah lebih mendapat luka yang banyak. Tawa Deswita makin terdengarnya setelah mendengar pernyataan Inara. Dia sebagai orang yang sudah menjodohkan Inara dan Ravin bisa sangat lega tidak ada yang tak bisa dikatakan lagi mereka sudah saling mencintai dan alfan sepertinya mulai bisa menerima semuanya dengan baik. mereka akan jadi keluarga yang bahagia. "Inara, Sayang. Ayo, makan malam dulu. Elvan gak manja dia bisa menjaga dirinya sendiri." "Mom, tanganku masih terluka. Kalau Inara tidak boleh menyuapiku lalu Mommy yang harus melakukannya." "Ya, ampun manja banget, sih, bungsunya Mommy, " ujar Deswita kali ini, mengambil alih piring makan yang ditangan Inara dan tanpa ragu menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Inara mundur, duduk di sofa melihat hal gemas seperti itu. Berpikir jika dia sudah punya anak nanti, dia ingin dekat dengan anak-anaknya meski sudah dewasa. Setelah menyelesaikan makan malam elephant deswita segera mengajak inara untuk makan malam sendiri apalagi dia mendengar jika menantunya ini sebelumnya tengah sakit. "Sebelumnya,kamu sakit apa, Sayang? Kamu sudah periksakan diri kamu ke dokter,kan?" "Ngga kenapa-napa, kok, Mom. Gak sampai perlu ke dokter juga. Aku cuman masuk angin biasa terlalu lelah, lihat sekarang setelah istirahat aku sudah baik-baik saja," ujarnya senang. Deswita tiba-tiba berhenti di ujung tangga dan menoleh ke atas memerhatikan Inara atau menantunya ini dari ujung kaki hingga kepala tanpa terlewat terutama pada bagian perutnya. Dalam hatinya dia sudah menginginkan seorang cucu dan selalu bertanya tanya kapan Ravin serta Inara bisa mewujudkanya. Inara melihat pandangan mata sang Mertua. Refleks Inara menyentuh perutnya yang kini sedikit buncit dan malu jika diperhatikan seperti itu. "Mom, apa ada yang salah?" "Ngga ada. Malah kamu tambah cantik." "Sebenarnya, Mommy yang paling pintar merawat diri masih saja cantik sampai sekarang." Tidak bisa dipungkiri Deswita pun senang ketika sudah dipuji di usianya yang sudah hampir setengah abad ini. "Mommy, seneng denger kamu muji penampilan Mom," ujarnya menggadeng Inara ke ruang makan di mana suami tercinta sedang menunggu. "Tapi, ada yang lebih bikin Mommy bahagia lagi . Saat nanti kalian, kamu dan Ravin ngasih kabar buat ngasih cucu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN