Memikirkan kembali tentang apa yang dikatakan mertuanya untuk mendapatkan cucu, Inara merasa hal itu tidak buruk pernikahannya dan Ravin masih berjalan dengan baik dan mungkin beberapa bulan tidak akan terasa menjadi genap setahun mereka menikah. Namun, dia dan Ravin belum pernah serius membahas soal ini. Awalnya mereka tidak saling mencintai dan perlu beradaptasi dengan perubahan ini, bagusnya tidak banyak drama cinta yang membuat mereka saling menerima kehadiran diri masing-masing dalam kehidupan rumah tangga ini.
Inara akan berbicara dengan Ravin secara serius soal ini. Dia juga harus mendengar apa yang diinginkan suaminya, apa dia sudah siap menjadi seorang ayah atau belum? Apa dia antusias atau tidak? Bagaimana pikirannya, Inara ingin mengetahuinya dan mula tak sabar ingin bertemu dengannya tetapi, dia tidak bisa memaksanya untuk bertemu sekarang. Dia akan sabar menunggu nanti malam, ini bukan hal mendesak pula.
“Apa Ravin belum juga pulang?” Tiba-tiba saja Deswita datang dengan cangkir teh-nya dan langsung mengambil tempat duduk si sampingnya.
“Belum, Mommy kenapa belum tidur?”
“Ini baru jam berapa, Mommy belum mengantuk. Yang harusnya kamu perhatiin diri kamu sendiri. kenapa belum tidur dan istirahat, tadi pagi bukannya kamu masih sakit?”
“Sudah cukup baik, kok, Mom setelah banyak beristirahat dan makan yang baik aku tidak begitu lelah.”
“Tetap saja, jangan tidur terlalu larut nanti. Lalu, kapan Ravin pulang katanya? Kenapa jam segini belum datang, dia tidak sering seperti ini, kan saat di apartemen kalian?”
Menyesap minuman hangatnya yang pertama kali Inara lakukan, berpikir sebentar lalu, akhirnya hanya bisa berbicara jujur. “Tidak sering tetapi, sesekali saat dia memang harus lembur.”
“Ck, dasar anak itu!” Deswita berdecak kesal untuk Inara. “Inara, sesekali kamu harus protes padanya dan jangan biarkan dia terlalu sering lembur atau bukan hanya tidak baik untuk rumah tangga kalian tapi, buat kesehatannya juga.”
Inara mengangguk mengerti meskipun, dia juga tidak ingin terlalu mengekang suaminya dalam hal pekerjaan karena, terkadang pun dia akan sibuk dengan bisnisnya sendiri tetapi, bukan berarti keduanya tidak memiliki waktu untuk sengaja berdua dan memiliki hal-hal lain seperti makan malam romantic, berbelanja juga tentu urusan ranjang yang tidak akan terlewat. Kebutuhan biologis pria itu sudah seperti makanan jika, banyak wanita masih berpikir dan menahan diri berbeda dengan pria. Mereka harus tepat waktu untuk diberi makan begitulah nafsu besar kaumnya.
“Ravin tidak melakukan hal bodoh lagi, kan? Dengan mengunjungi Jovanka?” lagi, Deswita bertanya tiba-tiba dan kali ini Inara sedikit terpaku dengan tatapan yang mengarah pada mertuanya itu. “Apa? Kenapa diam?”
“Apa Mas Ravin bakal ngelakuin hal itu lagi?” jawabnya dengan pertanyaan yang meragukan juga.
“Awas saja kalau berani. Terkadang anak itu sangat bodoh hanya karena dorongan hati meski, sebenarnya dia sangat keras kepala. Kadang Mommy sendiri darimana dia mendapat sifat seperti itu.”
Inara tersenyum mendengar gerutuan Deswita, belum saja dulu dia selalu membanggakan putra sulungnya yang katanya bertanggungjawab, baik dan segalanya tetapi, sepertinya sekarang bukan lagi. “Tapi, kenapa Mas Ravin belum juga dateng, yah? Mommy, apa aku pulang sendiri aja, ya?”
Deswita menatap tidak setuju. “Gimana kamu bisa pulang sendiri, sih? Lagian apa salahnya kamu nginep di sini, seperti rumah orang lain saja. Bukannya kalian juga gak pernah menginap di sini sejak menikah. Sudah, sekarang istirahat sana.”
Yah, sebenarnya Inara mulai merasa mengantuk ingin berguling di dalam selimut tetapi, dia masih ingin menunggu Ravin sudah lebih dari satu jam lalu saat terakhir dia menelepon dan katanya masih butuh waktu menyelesaikan pekerjaanya. Sebenarnya Inara bertanya-tanya seberapa banyak pekerjaan suaminya sampai hampir tiap hari dia lembur jika, saja tiap libur weekend dia masih pergi kerja. Inara yakin, dia akan curiga dengan pria itu yang mungkin punya wanita simpanan.
Akhirnya dengan desakan Deswita, Inara kembali ke kamar Ravin dan memutuskan menginap di sana tidak peduli Ravin datang sekarang atau larut nanti. Berada di dalam kamar Ravin, Inara merasa masih begitu nyaman seperti kamarnya sendiri di rumah orang tuanya atau juga seperti kamar apartemen mereka. “Sepertinya bau Mas Ravin masih tertinggal di mana-mana di kamar ini.”
Mata Inara menjelajah sekitar, sebelumnya dia tidak terlalu memerhatikan tetapi, sekarang dia bisa melihat bagaimana kamar itu di isi prestasi Ravin di masa lalu. Banyak sekali piagam dan piala yang didapatkannya. “Mas Ravin gak pernah ngomong kalau dia pintar dalam banyak hal? Banyak juga pialanya.”
Tangannya menyentuh satu persatu piagam dan piala membacanya dari mana berasal. Kemudian, Inara beralih ke atas meja belajar. Tempat itu rapih dan bersih hanya ada buku-buku bekas perkuliahan dan beberapa figura Ravin saat naik ke puncak gunung. Foto dia dan Elvan saat masih kecil dan kedua orang tua mereka. Sampai dijajaran buku dia menemukan sebuah album. Inara kira itu album ketika Ravin kecil tetapi, setelah membuka lembaran pertama, hanya tarika napasnya yang sedikit sesak. Berpasang-pasang foto di sana milik Ravin dan Jovanka. “Dia masih menyimpan foto mereka ternyata?”
Mungkin perasaanya sedikit cemburu tetapi, dirinya sadar semua orang punya masa lalu apalagi, jika teringat bagaimana nasib Jovankan saat ini. Mungkin, dia masih harus sedikit bersimpati dengan keadaannya. Tidak bisa terbayangkan jika, yang datang dalam kehidupan rumah tangga dia dan Ravin adalah Jovanka yang sehat dan cantik. Apa Ravin tidak bisa tidak kembali padanya? Dengan begini saja, Inara masih dapat yakin jika, Ravin masih akan mencintainya dan mereka hanya masalalu seperti hubungan dia dan juga Elvan.
Tidak memerdulikan hal itu lagi, Inara menyimpannya kembali dan sekarang waktunya benar-benar untuk istirahat. Melihat pada jam di dinding sudah jam sepuluh malam tetapi, Ravin belum juga pulang. “Benar-benar kamu, Mas! Seperti kata Mommy, aku memang perlu bicara tentang jam pulang kerja kamu,” keluh Inara mendesah lelah di bawah gelungan selimut.
Ravin sendiri yang sedang ditunggu Inara sedang bermasalah dijalanan ketika waktunya pulang. Sebuah mobil entar arah dari mana baru saja menabrak bemper belakang mobilnya, membuat mobilnya terdorong ke depan dan alhasil kecelakan beruntun terjadi beruntung tidak ada korban jiwa karena kendaraan sedang berhenti, yang sebenarnya berada di lampu merah. Si penabrak adalah pria mabuk dan di sampingnya seorang wanita, yang menurut Ravin tidak asing namun, dia tidak mengenalnya.
Orang-orang disekitar yang melihat kejadian ini langsung menahan pria mabuk tersebut dan segera melapor ke polisi sedangkan, penumpang wanita di samping pria setengah mabuk itu terus berusaha untuk menutupi dirinya seolah takut jika, ada orang yang mengenalinya. Dengan tubuh bergetar karena dipaksa keluar dari mobil, beruntung karena dia masih seorang wanita banyak menahan diri tetapi tidak si Pelaku. Yang sudah akan dihajar jika, tidak karena pingsan duluan.
“Tunggu-tunggu, saya akan bertanggung jawab teman saya memang mabuk tetapi, dia benar-benar tidak sengaja.”
“Tentu saja, itu akan tidak disengaja. Apa kamu pikir ada orang yang akan menabrakan dirinya sendiri kecuali, kamu memang ingin mencelakai orang,” balas Wanita bertubuh tambun, yang sebenarnya mobilnya juga kena tabrak oleh mobil Ravin yang terdorong ke depan.
Kali ini semua orang melihat kearah Ravin di mana mobil-nyalah, yang paling bermasalah. Bagian belakang dan depannya jelas terlihat sangat penyok. Ravin sudah sangat lelah, dia tidak ingin mengurus hal ini. karena tidak ingin membuat khawatir Inara juga orangtuanya jadi, Ravin hanya bisa memanggil Rudi, asistennya untuk membereskan hal ini. dan, dia lebih baik pulang pakai taxi.
“Pak mobil Anda yang paling parah di sini. Akan kita apa, kan, mereka?”
“Kita sudah memanggil polisi, itu sudah pasti jadi tugas mereka. dan, untuk mobilku aku tidak khawatir karena bagaimanapun harus dipertanggungjawabkan,” ujar Ravin lebih tenang meski, dia sebenarnya dalam hati sangat-sangat kesal tetapi energy untuk marahnya pun sudah habis. Dia lelah dan memikirkan untuk segera pulang memeluk istrinya dan sudah tidak peduli apapun itu, dia akan pulang.
Ravin akan menghentikan sebuah taxi, ketika lengannya baru saja dipegang seseorang. Refleks dia menarik diri dan mulai bertanya, “Siapa kamu?”
“Biarkan aku ikut pergi denganmu atau mereka tidak akan melepaskanku.” Soraya baru saja menyelinap pergi, dia tidak peduli dengan Diego yang sedang pingsan dan menunggu kedatangan polisi dalam sekejap mata karena baru saja dia mendengar sirine mobil polisi.
“Kamu harus mengikuti mereka, lihat! Polisi akan tiba sebentar lagi. Kamu perlu menulis kesaksianmu.”
Setelah, mendengarnya Soraya malah semakin takut dan enggan pergi bersama polisi. “Tolong! Aku tidak bisa pergi bersama para polisi itu. atau karirku bakalan hancur.”
“Aku harus pulang? Kalau kamu berani pergi, pergilah sendiri jangan buat kacau.”
“Aku tidak berbuat kacau. Aku cuman minta bantuanmu.”
“Terserah, aku tidak peduli. Aku harus pulang sekarang,” balas Ravin dan menghentikan Taxi tepat waktu dan membuka pintu mobil hanya untuk didahului wanita yang baru saja dia pikir berdiri di sampingnya. “Apa yang kamu lakukan? Pergi keluar sana?”
“Tidak mau,” balasnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan pandangan tetap ke depan melihat tingkahnya. “Kamu harus keluar dari sana. Jangan buat masalah, atau polisi akan benar-benar mencoba menahan kamu dipenjara. Lebih baik kamu patuh. Cepat pergi!” Ravin menarik lengan Soraya dan meringis dengan wajah memerah.
“Kamu, tidak tahu apapun. aku bahkan, bisa mengganti mobilmu dengan yang lebih mewah hanya bantu aku. Hey! Sialan!” Semua kata-kata Soraya hanya dianggap angin lalu oleh Ravin yang tidak mengindahkannya dan langsung pergi tancap gas.
Orang-orang tidak ada yang banyak bergerak meski, tahu Soraya menyelinap pergi karena mereka yakin tidak ada yang akan membantunya polisi juga segera datang, yang tidak sedikit membawa personil termasuk wartawan yang dengan segera mengenalnya sebagai model papan atas. ‘Sialan! Jika pria itu tidak menarikku para wartawan sialan ini tidak akan mendapatkan berita tentangku.’