Pagi hari Ravin hanya sedang memeluk Inara dan enggan terbangun saking lelahnya. Inara sebaliknya sudah membuka matanya, juga tahu jika suaminya sudah bangun tetapi, hanya enggan kembali ke masa-masa awal pernikahan mereka sebelumnya suaminya akan mencoba berbagai alasan untuk tidak bangun lebih pagi. “Mas, aku tahu Mas sudah bangun? Mas beneran gak akan kerja, nih?”
“Hm,” gumamnya yang malah tambah mengeratkan pelukannya.
“Mas!” rengek Inara
“A-apa?” bisiknya dengan mata yang mengintip. Mulai gemas, Ravin juga mulai menciumi Inara di mana pun bibirnya bisa menyentuhnya entah itu rambut, pipi dan telinganya bahkan, bibir membuat Inara jadi jengah sendiri.
“Udah, Mas! Ayo, bangun nanti Mommy ke sini.”
“Memangnya kenapa, kalau Mommy ke sini? Lagian kita cuman lagi pelukan sama ciuman aja. Apa kamu pengen…” Ravin mengangkat alisnya tinggi-tinggi dengan sudut bibir yang bersmirk begitu menyebalkan di mata Inara.
“Cepat bangun! Kamu masih harus kerja,” ujar Inara menolak dan dengan sengaja menyingkirkannya ke samping saat dia berdiri bangun.
**
“Pagi Mom, pagi Dad!” Ravin menghampiri keduanya mencium pipi ibunya dan duduk di sampingnya. Lalu, melihat piring sarapan di depannya. Biasanya mereka tidak akan terlalu peduli untuk sarapan tetapi, karena ada Ravin mereka menyiapkan beberapa masakan karena tahu dia tidak akan cukup hanya dengan nasi goreng atau roti harus ada daging dan sayuran.
Ravin menyentuh perutnya, dia memang sangat lapar. “Aku sangat lapar! Makanannya harus enak.” Semalam dia hanya makan sedikit karena terlalu focus bekerja, makanan pesannnya jadi dingin dan tidak enak lagi di makan. Tiba di rumah terlalu larut dan sangat lelah hanya bisa mandi lalu tertidur. Jadi, pagi ini dengan sarapan hangat Ravin makan dengan lahap begitu juga, Inara yang tiba-tiba bersemangat makan setelah melihat Ravin ternyata, benar jika makan penuh orang nafsu makan pun bertambah.
Jika, di ruang tamu semua orang bersemangat maka, Elvan yang masih berada di kamarnya hanya bisa menekuk wajahnya karena tidak ada satu pun wanita yang dia cintai datang membantunya untuk sarapan kali ini.
Adibrata melihat putranya sesekali, beberapa waktu dia mendapat kabar yang mengejutkan. Dia ingin bertanya tetapi, melihat ada dua wanita di sampingnya dia sedikit khawatir terutama istrinya yang bisa histeris tiba-tiba saking terkejut. Dan, Ravin sendiri yang terlibat malah tampak santai-santai saja.
“Ravin,” panggil Adibrata ketika akhirnya mendapat kesempatan ketika kedua wanita itu pergi. “Apa yang terjadi sama kamu semalam?”
“Daddy, tahu dari mana?” tanya Ravin dengan santai. Adibrata menatapnya tanpa perlu menjawab, akhirnya Ravin juga menyerah dan menjawab dengan benar. “Mobilku ditabruk pria yang mabuk dari belakang saat berhenti di depan lampu merah dank arena terkejut aku juga menginjak gas hingga terdorong membuat kap mobilku menabrak mobil belakang orang lain.”
Adibrata segera menyerahkan tab-nya dan melihat ada beritanya di sana. “Kamu yakin gapapa? Sudah melakukan pemeriksaan?”
“Tidak dibutuhkan. Aku tidak terluka, Dad,” jawab Ravin sambil memeriksa berita yang ada dan tidak disangka, cukup besar menjadi highlaind karena ternyata ada seorang model terkenal yang terlibat. “Soraya? Jadi, wanita itu, dia?” Ketika Ravin mengingat-ingat wanita semalam.
“Tapi, harusnya kamu memeriksakan diri dulu dan bukannya langsung begitu saja pulang. Siapa yang mengurus mobilnya?”
“Asistenku, Rudi! Apa Mommy tahu?”
“Jika, Mommy tahu apa kamu pikir dia masih bisa santai? Juga, istrimu Inara kamu tidak memberitahunya juga.”
“Belum,” jawab Ravin yang mendapat helaan napasnya Adibrata.
“Seberapa parah kerusakannya?”
“Parah sekali depan dan belakang tetapi, Daddy tenang saja. Wanita ini bakal menggantinya.”
“Beruntung kamu tidak terluka, belum juga kecelakaan adikmu itu.”
“Daddy, sudah cari tahu siapa orangnya?” tanya Ravin yang juga penasaran.
“Adik nakalmu bahkan, tidak mengatakan siapa orangnya—“
“Aku yang bakal mengurusnya, Daddy gak harus ikut campur,” sela Elvan tiba-tiba masuk ruang makan. Dia masih ingin berpura-pura lemah di atas ranjang awalnya tetapi, akhirnya dia sudah sangat kebosanan dan memilih turun yang ternyata menemukan ayah dan kakaknya sedang membicarakannya.
“Memangnya apa yang bisa kamu urus? Pulihkan saja tubuhmu dan serahkan—“
“Ngga,” potong Elvan kali ini. Dia juga duduk dengan tangan terkepal di atas meja. “Aku bisa mengurus cecunguk itu, pokoknya Daddy gak perlu tahu siapa dan ikut campur.”
“Ya, sudah. Biarkan saja, Dad,” sahut Elvan ketika melihat ayahnya akan membuka mulutnya lagi dan itu pasti sanggahan lagi. “dia pria dewasa dan bisa melakukan semuanya sendiri.”
Beberapa waktu lamanya akhirnya mereka berbicara hal lain sampai Inara turun dari tangga. Dia sudah cantik dengan dress putihnya, hari ini dia tidak sepucat kemarin. Hari ini mereka akan kembali ke apartemen. menengok adiknya rasanya dicukupkan sekian.
“Kalian tidak akan menginap lagi di sini?”
“Ngga, Mom. Sayang apartemennya ditinggalin entar pada nangis,” jawab asal Ravin yang langsung dapat cubitan dari Deswita.
Akahirnya Ravin dan Inara pergi bukan langsung ke apartemen melainkan tentu saja ke tempat kerja. Sehari istirahat saja, Inara sudah cukup bosan tetapi, bersyukur sakitnya tidak berkepanjangan.
“Ravin, di mana mobil kamu?” tanya Deswita yang mengantar mereka juga mengantar suaminya untuk pergi juga.
“Ada di bengkel,” jawabnya lagipula jika berita sudah besar itu di media tidak mungkin Inara dan ibunya tidak akan tahu lebih baik dirinya sendiri yang jujur. “Semalam aku kecelakaan?”
“Apa?!” Inara dan Deswita berteriak setengah terkejut.
“Hanya mobilnya yang sangat parah.”
Deswita menarik diri Ravin memeriksanya secara cermat memastikan tidak ada yang terluka, di sampingnya Inara melakukan hal yang sama dan mulai berwajah gusar. “Kenapa Mas gak bilang, sih. Habis kecelakaan? Mas harusnya bilang, kalau terjadi sesuatu gimana?”
“Tapi memang tidak ada yang terluka karena benturannya gak keras.”
“Gimana gak keras, bukannya kamu bilang mobil kamu harus dibawa ke bengkel.”
“Ya, bener juga,sih, Mom bahkan mungkin gak bisa dipakai lagi saking ringsek depan belakang, tuh, mobil?”
“Ya, Tuhan! Ravin.” Bukan hanya Deswita yang sangat ini ingin memukul Ravin yang malah dengan tenang-tenang saja seolah kecelakaan itu terjadi bukan pada dirinya.
“Sudahlah, aku baik-baik aja. Sekarang kami perlu pergi jadi, Mom. Aku pergi sekarang, yah.” putus Ravin, dia juga menarik tangan Inara yang masih berwajah suram tidak percaya bahwa suaminya tadi malam mengalami kecelakaan. Mereka menggunakan mobil yang sering digunakan Deswita pergi.
“Jangan marah, aku tidak mengatakannya karena semalam kamu sudah tertidur, Sayang.” Ravin mencoba membujuk Inara, yang masih diam dengan wajah masam tidak mau bicara lagi padanya sejak mereka masuk mobil.
“Mas tahu, kan. Hal yang kayak gitu bukan hal sepele. Gimana kalau terjadi sesuatu yang lebih parah.”
“Tentu saja, kalau lebih parah bukan aku sendiri yang akan menghubungimu tapi, bisa jadi pihak polisi atau rumah sakit.”
“Mas!” gemas Inara bercampur kesal. Dia tidak ingin membayangkan sesuatu hal kayak gitu terjadi dan sampai harus mendapat telepon dari dua instalasi tersebut. “Jangan ngomong sembarangan. Aku gak suka, yah.”
Mendengar ketidaksukaan Inara tentang hal sensitive ini. Ravin betul-betul minta maaf dan tidak lagi mengatakan hal lain hanya mengangguk patuh. Mengiyakan semua hal yang dipinta istrinya, agar hatinya kembali dan aman.
Di kantor Ravin.
“Jadi, dia bos perusahaan ini? Sekaligus kakak kandung Elvan?” tanya Soraya meminta kepastian pada manager-nya saat ini. Semalam dia tidak ditahan hanya karena temannya mabuk dan dia berada dikursi penumpang, ditambah lagi tentu saja karena ada uang jaminan hingga, tidak sampai duapuluh empat saja dirinya sudah keluar dan hanya diminta keterangannya saja.
“Iya, dan lebih gila lagi. Gimana kamu terlibat tadi malam, mobil yang ditabrak adalah mobilnya juga.”
Soraya memasang wajah horror tak percaya, semalam sepertinya dalam keadaan setengah tersadar. Dia sudah melakukan hal bodoh belum lagi hari ini mereka di sini untuk melakukan tawar-menawar untuk memperpanjang kontrak model Mall-, yang sebelumnya ingin diputuskan oleh Soraya.
“Apa mereka bakal nerima kita kalau sudah seperti ini?”
Pertanyaan Soraya tentu saja mendapat delikan kesal dari managernya. “Kita harus. Dan setuju saja apapun syaratnya lalu, kamu gak bisa ngomong apapun hanya minta maaf dan bilang waktu itu kamu imfulsif saat mau putus kontrak.”
Soraya mengigit bibirnya cemas, “Tapi, saat itu aku tidak imfulsif. Aku memang ingin memutuskan kontrak. Yang jadi, pemimpin perusahaan jelas bukan Elvan lagi untuk apa aku melakukan ini.”
Jeanna sebagai manager Soraya langsung memutar bola matanya “Kalau begitu kamu harus dapatkan kontrak tinggi lainnya lagi. Jika, tidak mungkin kita akan masuk penjara karena pelanggaran kontrak. Atau kamu bersedia tanggung jawab? Aku akan dengan senang hati jika itu terjadi.”
“I-itu, apa itu dia, Jean?” tanya Soraya mengalihkan perhatian Jeanna. Tetapi, bukan Ravin sayangnya.
“Tentu saja, bukan. T-tapi yang itu…” Jeanna benar-benar berdiri dan berjalan menyusul pada sosok Ravin yang baru saja tiba dan sedang berjalan pasti menuju kantornya. “Kita harus mendekat, cepaat.”
“Hm, pagi,” jawab Elvan berdiri di depan lift dengan sudut mata yang terlukis jelas penuh keengganan. Datang dari belajar untuk memenuhi semua kewajiban yang tertera di kontrak.
“Pak Bos bisa saya bica—“
“Carilah bos lain,” ujar Ravin sambil melangkah masuk lift, yang tidak disangkanya Soraya mengikuti langkahnya hingga mereka terjebak berdua di dalam lift.