Kissing

1734 Kata
“Saya ingin bicara dengan Anda.”          Ravin hanya meliriknya, tidak menjawab membuat Soraya di sampingnya ketar-ketir tidak tahu harus mengatakan apalagi. Dengan penuh perasaan segan dan penasaran Soraya melirik pria di sampingnya, jika dirinya berpikir lagi Elvan adalah pria tampan penuh pesona tetapi, pria yang katanya adalah kakak kandung Elvan ini dia bukan hanya tampan tetapi menawan dan auranya yang bisa saja mengintimidasi orang lain.          Ting!          Lift baru saja terbuka, Ravin keluar yang juga segera diikuti Soraya yang masih tidak takut untuk membuntutinya. Tetapi, kali ini Ravin berbalik. “Pergi dari sini, ini bukan tempat yang tepat! Jika, ingin bicara buatlah janji sebelumnya.”          Soraya tertegun dan ditinggalkan sendiri di lorong. Ravin berjalan cepat kembali ke meja kerjanya dan tidak terganggu dengan hal yang barusan. Jeanna dan Rudi baru saja sampai dan masih melihat Soraya berdiri dengan bingung dan sebagai manager Soraya, Jeanna memarahinya di depan Rudi karena ketidaksopanannya.          “Apa kamu gak pernah belajar sopan santun, ya? Berapa umur kamu? Mau sampai kapan kamu kayak gini?” Kesal Jeanna.          “Mba Jeanna sendiri bilang aku harus bisa bicara dan minta maaf sama pria itu lalu, kenapa sekarang marah-marah?”          “Dasar gak punya otak!” tanpa sadar Jeanna menyebutkan hal ini. “Apa masih sopan kamu ngejar Bos di sini, hah?”          “Memangnya kita masih punya waktu buat janji dengannya? Memangnya yakin dia mau nerima—“          Jeanna mengankat tangannya dan menghentikan perkataan Soraya. “Kamu memang gak punya harapan, Soraya. Aku nyerah ngurusin artis keras kepala kayak kamu. Udah aja aku juga mau berhenti!” Setelah mengatakan hal itu Jeanna berlalu pergi tidak peduli lagi dengan artisnya.          “Mbak Jean!” teriak Soraya kesal dan berlari mengejar wanita yang tujuh tahun lebih tua darinya dan orang yang sudah tiga tahun bersamanya sejak dari awal. “Mbak Jeana, ngomong apa? Gimana kamu gak mau jadi managerku lagi?!”          Tidak jauh dari sana Rudi yang berjalan bersama Jeanna, hanya melihat mereka tanpa terlalu peduli karena awalanya Soraya yang memutuskan kontrak dan bersedia ganti rugi tidak akan ada pengulangan lagipula surat sudah ditandatangani Soraya sendiri dan Ravin sudah mengesahkan hanya menunggu pembayaran pelanggaran kontrak itulah, yang dia katakan pada Jeanna. Jadi, tentu saja manager itu marah.          “Bagaimana wanita itu ada di sini?” tanya Ravin ketika Rudi memasuki ruangan kantornya.          “Sudah pergi, Pak.”          “Iya, tapi gimana dia ada di sini?” tanyanya sekali lagi tanpa menatap Rudi dan focus pada berkas yang sedang dibacanya.          “Sepertinya untuk kontrak perusahaan sebelumnya tapi, managernya tidak tahu jika, artisnya sudah menandatangani pemutusan kontraknya dan bersiap ganti rugi.”          “Oh, apa dia semudah itu bebas setelah apa yang terjadi semalam?”          “Dia bebas setelah memberi kesaksian saja, mobil Anda juga sudah saya bereskan dan sedang ditangani asuransi. Pak Ravin apa akan menuntut mereka juga? Pemilik mobil yang lain sudah melakukannya, pria itu sangat berani sekali membawa mobil saat mabuk.”          “Dan apa yang dilakukan wanita itu di sana jika, sudah tahu teman prianya mabuk? Menyebalkan, tuntut keduanya.”          Rudi sedikit tidak percaya, dia mau menuntut wanita itu juga. “Anda serius? Polisi juga sebelumnya tidak yakin untuk menuntutnya karena Soraya cuman penumpang.          “Apa aku terlihat main-main lakukan saja? dan, soal ganti rugi pemutusan kontrak lakukan secepatnya.” Ravin memberikan tatapan tajam, menandakan dia harus dan segera membereskan semua perintahnya.          “Baik, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu,” ujar Rudi undur diri setelah bicara dengan Ravin.          Inara kembali ke butik dengan perasaan lebih segar dan ceria berbeda terbalik dengan Nadira, yang kali ini tengah tampil muram seolah tengah sakit tetapi, melihat Inara masuk dia langsung diserbu oleh pelukan Nadira.          “Inara, kamu udah baik-baik saja?”          “Aku baik! Dan, rasanya gak pernah sebaik ini,” jawab Inara setelah berhasill melepaskan diri. “Ada apa? Sepertinya ada sesuatu?”          Nadira mengangguk, “Kamu udah lihat Elvan gimna kabarnya sekarang?”          “Lumayan, dia sudah lebih baik.”          “Aku ingin melihatnya,” pinta Nadira dengan nada ragu. Sejak pertama mendengar jika, Elvan tengah sakit dan terluka ingin menjenguknya tetapi, dia tidak berani datang.              “Kalau begitu jenguk saja, gak perlu bicara sama aku lagi.”          “Bukan begitu, Nara. Tapi, aku gak berani datang ke rumahnya?”          “Kenapa?” heran Inara. “Kamu gak tahu alamatnya?”          “Aku tahu tapi, ….” Nadira tidak meneruskan perkataannya.          Kerutan di dahi Inara jadi, isyarat ketidakmengertiannya dengan keinginan Nadira ini. “Tapi, kenapa?”          Kemudian, akhirnya Nadira menceritakan tentang kejadian di malam hari itu di mana Elvan mendapat serangan. “Aku tidak yakin harus memepercayai siapa?”          Inara sendiri malah cukup terkejut mendengarnya. “Jadi di malam itu Elvan sama kamu dan Bagas? Apa kamu tahu siapa yang menyerangnya?”          “Bagas bilang dia tidak tahu tapi, aku juga tidak bisa asal tuduh. Aaakhh!” jerit Nadira frustrasi, sambil mejambak rambutnya kesal. Dia tidak mau asal menuduh tetapi, firasatnya tidak mengatakan hal itu. Bagas mungkin baik tetapi, tentu saja dia punya kebencian apalagi terhadap Elvan yang begitu sombong.          “Datang saja, kamu harus melakukannya!”          “Apa Elvan gak akan marah? Gimana sama keluarganya?”          Ah, ya, Inara baru teringat tidak sekalipun Nadira pernah ke rumah Elvan atau bertemu keluarga Elvan kecuali pas pertunangan dan pernikahan. Itupun Nadira tampak segan untuk bicara dan bergaul dengan mereka.          “Inara, apa tidak apa-apa aku pergi sendiri? kamu harus menemaniku?”          “Menemani bagaimana? Juga untuk apa, aku baru saja keluar dari sana? Kenapa kemarin kamu gak cerita banyak, kemungkinankan, kan, aku berdiri di sana membantumu bicara.”          “Kalau begitu temani aku,” rengek Nadira dengan mata berkelap-kelip seperti anak anjing yang meminta simpati.          “Tapi, gak bisa hari ini, Nad.”          “Kalau begitu kapan?”          “Entahlah, sebentar lagi juga dia sembuh,” ucap Inara sambil mendekat dan membisikkan sesuatu. “Ayah mertuaku sedang mencari orang-orang itu.”          “Benarkah?”          Inara mengangguk, mengiyakan. “Elvan tidak mau mengatakan siapa orang-orang itu jadi, ayah mertuaku yang sedang mencari mereka.”          Nadira bahkan, lebih terkejut mendengar Elvan tidak mengatakan apapun. “Kenapa Elvan tidak mengatak siapa mereka?”          “Aku juga tidak tahu,” sahut Inara sambil mengangkat bahu.          “Apa aku pergi sekarang saja, ya?” tanya Nadira lebih pada dirinya sendiri. jika, Elvan tidak mengatakan siapa orang yang sudah memukulinya berarti mungkin saja jika, memang bukan Bagas pelakunya dan dia akan lebih tenang berhubungan lebih baik lagi. “Baiklah, aku pergi sekarang.”          Dengan setengah kepercayaan diri Nadira pergi ke kediaman Malik, dan sungguh keberuntungan yang ada di rumah hanya Elvan. Ayahnya tentu saja bekerja dan ibunya yang sosialita itu sedang keluar. Rumah besar dan mewah, Nadira mau tak mau menjadi tersadar dia berteman dengan orang-orang kaya yang baik dan tidka membedakan status social seperti banyak terdengar selentingan jika, mereka harus berteman dengan orang-orang yang se-level. Lucu sekali padahal dia bukan apa-apa bahkan, dengan Inara sekalipun.           Nadira langsung dibawa ke kamar Elvan oleh asisten rumah tangga di sana. Elvan sendiri tampak sedang tertidur dengan wajah meringis seperti kesakitan. Membangunkanya sendiri jadi tidak tega.          “Sepertinya sedang tidur, lebih baik lain kali saja saya kemari lagi,” ujar Nadira hendak berbalik pergi tetapi, sebelum asisten itu menjawab suara gumaman Elvan terdengar.          “I-itu kamu, Nadira?” tanya Elvan sambil berbalik dan bangun terduduk.          Nadira pun akhirnya berjalan menghampiri, duduk di atas ranjang dan langsung memerhatikan luka di wajah pria itu. “Semua lukamu bisa hilang, kan?”          “Kamu berharap ini gak akan hilang?”          “Tentu saja, nggak. Bakal disayangkan, kan kalau wajah tampanmu hilang.”          Elvan mendengus,lalu menarik hidung Nadira gemas. “Jangan bicara sembarangan atau—”          “Atau apa?” sela Nadira sambil menghempaskan tangan usil Elvan dari hidungnya. “Lihat ini sangat merah! Aku bakal minta ganti rugi jika, hidungku terluka.”          Setelah bercanda beberapa saat Nadira mulai berbicara serius. “Apa kamu tahu aku yang menjemputmu di malam itu?”          Elvan tersenyum. “Rasanya sangat menyenangkan kamu sekarang bisa bicara lebih lembut dan gak asal lagi.”          Nadira menghela napas. “Aku cuman ganti gaya bahasa gaul lo dan gue jadi, aku kamu .juga apa dulu aku gak lembut? Sudahlah lupain soal ini. jadi, siapa yang udah buat kamu terluka kayak gini?”          “Kamu ingin tahu?”          “Iya, karena aku gak bisa bayangin kalo Bagas yang ngelakuin hal ini.”          Entah bagaimana perasaanya saat ini tetapi, Elvan merasa sesuatu terbakar. Karena penasaran dia ingin membuktikan sesuatu. “Aku gak peduli siapa yang udah bikin aku kayak gini tapi, kenapa kamu peduli sekali kalau hal ini perbuatan cowok itu atau bukan?”          “Tentu saja penting,” ucap Nadira sedikit ragu. Yah, bagaimana tidak penting jika Bagas mungkin akan jadi kekasihnya dan kalau dia bertindak kasar dan sering menggunakan kekerasan bukan tidak mungkin, suatu saat dia juga akan meyerang dirinya. Nadira tidak akan pernah bersedia bersama dengan pria seperti itu. “Kalau dia jadi priaku dia tidak boleh kasar.”          Mendengarnya Elvan benar-benar mulai tidak sabar ternyata wanita di depannya memikirkan orang lain dan malah dengan mudahnya menolaknya membuatnya pernah sangat hancur. Dorongan dari ini semua Elvan menarik tangan Nadira untuk mendekatinya hingga, kedua wajah mereka hanya tinggal beberapa senti dan tidak peduli apapun lagi dia menjatuhkan bibirnya di bibir Nadira.          Terkejut tentu saja. Nadira berusaha menarik wajahnya tetapi, Elvan sangat kurang ajar setelah menahan salah satu tangannya dia juga menahan satu tangannya yang lain dan tetap menahan ciumannya sampai dia sendiri yang melepaskan. Wajah Nadira memerah sempurna bukan hanya karena malu tetapi, juga emosi. “Aku ingin sekali menamparmu saat ini,” ucapnya marah tetapi, ditahannya. “Dasar berengsek!”          Tangannya yang terlepas segera mengusak bibirnya yang baru saja dicium dan segera berbalik pergi. Hanya setitik air mata saja jatuh dari sudut matanya, dia putus asa dengan perasaan Elvan tetapi, kenapa pria itu lagi-lagi mulai bermain-main lagi dengannya. Nadira keluar dengan rasa frustrasinya, ingin menghancurkan jalanan yang dilalui tetapi, dia tidak mampu seperti itulah cintanya untuk Elvan selama bertahun-tahun.          Di kamar Elvan sendiri mendesah, menutup matanya dengan satu tangannya. Apa yang baru saja dilakukannya semata-mata untuk mencari jawaban hatinya sendiri. dan ternyata dia masih gila. Dia memang masih tertarik pada Nadira dan terobsesi dengan kepemilikan Inara, wanita yang bertahun-tahun sudah jadi miliknya dan tak mampu dia biarkan begitu saja untuk dimiliki kakaknya. Sekarang itu juga yang dirasakannya pada Nadira.          “Nadira, Gak akan aku biarin kamu sama cowo itu. lihat saja!” janji Ravin dengan tangan terkepal serta tatapan mata yang kuat.                                                                                         
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN