Balas Dendam

1522 Kata
“Kamu sudah lama gak dateng, Vin.” “Aku sibuk, Jo,” jawab Ravin dengan senyum tenang, dia memang tidak bisa memaksakan diri untuk terus menemani Jovanka. Dia punya Inara dan perusahaan untuk diperhatikan juga, tidak ada yang mudah tubuhnya hanya satu dan tidak bisa dibagi-bagi sebegitu mudahnya. Jovanka tidak bisa mengatakan apapun, hanya memendam rasa kecewanya saja. Sudah lebih dari satu minggu Ravin tidak menjenguknya dan mengatakan selalu sibuk dengan segala urusannya, yang berarti entah dia di nomer berapa untuk menjadi perhatiannya. Tanpa sadar mata Jovanka mulai memerah, penyesalan yang belum juga sembuh di mana dia melepaskan tempat utama perhatian dan cinta Ravin. “Ravin,” panggilnya sambil menjatuhkan tangannya di atas punggung tangan pria yang masih sangat dicintainya saat ini. Lalu, memberinya senyum hangat dan tipis di atas bibir puncatnya. “Jo,” balas Ravin tanpa melepas senyumannya, menepuk punggung Jovanka lembut sebelum melepaskannya. “Apa akhir-akhir ini kamu lebih baik?” tanyanya yang tidak lagi menanyakan kabarnya yang mungkin tidak akan baik-baik saja. Hari ini Jovanka tidak lagi memakai pakaian rumah sakit, karena akhirnya rumah sendirilah yang terasa lebih baik. Meskipun, tentu saja tidak aka nada waktu untuk penundaan pemeriksaan.. "Rasanya aku jadi lebih ketika kamu disampingku?" "Jika saja dulu kamu pernah berpikir seperti itu," sahut Ravin. " tapi sekarang seharusnya tidak perlu ada lagi penyesalan. Aku masih di sini jadi, teman baikmu namun, hanya sebatas itu sehingga perhatianku pun tidak akan sepenuhnya padamu, Jo. Aku juga sudah memiliki kehidupan yang lain." Meski sangat sakit hati dan ingin menangis setelah mendengar kata-kata Ravin, karena hatinya yang masih berat. Namun, Jovanka akhirnya berusaha sangat keras untuk menahan diri dari tangisanya dan malah memberikan senyum terbaiknya. Yah, semua sudah berlalu tidak seharusnya dia ungkit-ungkit kembali masa lalunya yang penuh dengan kesalahan diri sendiri inilah. "Maaf, Vin. Tidak seharusnya aku bicarakan seperti itu lagi. Sungguh tidak tahu malu, padahal akulah yang sudah membuatmu terluka." "Jangan merasa bersalah lagi. Bukankah kepergianmu juga memiliki alasan yang bisa dibenarkan," balas Ravin. "Kamu pasti pernah merasa sangat membenciku,kan, Vin?" "Apa kamu masih ingin membicarakan masa lalu kita?" tanya Ravin yang kali cukup tegas dan tampak tidak ingin diganggu lagi oleh masa lalu yang sudah bertahun-tahun berada dibelakang dan tak lagi pantas dibahas. "Maaf." Jovanka segera meminta maaf, menghilangkan semua pikiran serakahnya untuk kembali memiliki Ravin. 'Apalagi yang bisa diharapkan.' Batinnya menghela tidak berdaya. Baik Ravin dan Jovanka akhirnya hanya berdiam diri dengan pikiran dan pandangan mata masing-masing. Jovanka setengah berbaring di tempat tidurnya dan Ravin duduk termanggu menatap dinding kosong dihadapannya. Jelas hanya seakan membunuh waktu, bukan lagi mengisinya. Dari sudut mata Jovanka, dia perhatikan jika hati dan pikiran Ravin tidak berada di sini bersamanya. Kehadirannya saat ini, tidak pernah terasa tulus seperti awal pertama seolah kedatangannya saat ini memang hanya memenuhi permintaanya saja. "Vin, apa cuaca diluar cerah? Rasanya sudah lama aku gak ke taman." Ravin beranjak dari tempat duduknya berdiri di depan jendela kamar dan persis melihat keluar. "Jo, diluar kurasa cukup dingin." Ravin memcoba membuka sedikit jendela dan angin sudah berhembus sedikit kencang. "Kamu merasakannya? Di luar memang dingin, belum lagi tidak terlihat cerah. Ini sudah malam dan akan datang hujan juga, Jo." Kalimat terakhir Ravin langsung menurunkan semangat Jovanka, dia masih bisa menghadapi dingin tetapi, hujan? Tubuhnya semakin rapuh saja. Jovanka menarik senyum tipisnya, "Kenapa juga aku memintanya padahal barang tentu tidak akan berguna lagi untuk dibawa bepergian," ucapnya sedih. Ravin mendekat, kini duduk di atas ranjangnya. Memberikan dukungan dengan menggenggam tangannya. "Bersemangatlah, berikan dirimu kenyaman--" Tidak peduli lagi dengan kata-kata apa yang Ravin katakan, Jovanka menerjangnya. Memenuhi dirinya sendiri dengan memeluk Ravin yang mulai dingin. "Aku butuh pelukan hangatmu, Vin." "Iya, Jo, tapi lepas dulu." "Ngga, Vin. Aku mohon jangan bersikap dingin, hidupku tidak akan lama lagi. Aku tahu, ini egois." "Aku harus jaga perasaan Inara." Ravin melepas pelukan itu sedikit paksa kali ini Jovanka pun menyusut melepas pelukannya dan keduanya berada dalam jarak dekat untuk saling bertatapan. "Jo, ada Inara yang akan kuprioritaskan tapi, bukan berarti kamu tidak kupedulikan." Bergetar hati Jovanka, inilah yang harus diterimanya tidak mungkin jadi lagi yang utama. "Terimakasih, Vin," ucapnya bukan lagi maaf tetapi, penyerahan diri. Kini bukan lagi pelukan yang diterima Ravin tetapi, Jovanka yang menyandarkan kepalanya di bahunya seperti sebuah tembok pertahanan terakhir. Melihatnya, Ravin tidak bisa tidak luluh. "Jo, bagaimana bisa kamu bisa serapuh ini sekarang," lirihnya yang menarik pelukan Ravin kali ini. Keduanya berpelukan diiringi tangis Jovanka. *** Dari balik pintu kamar yang tertutup Elvan berdiri di depan cermin memerhatikan wajahnya serta lukanya di tempat-tempat lain di tubuhnya yang mulai membaik. Tidak lagi ada memar yang kentara terlibat, semua yang tersisa hanyalah gambaran samar. Rasanya sudah lama Elvan menunggu hari ini. Dering smartphone terdengar, Elvan segera berbalik dari cermin panjangnya mengambilnya setelah membaca nama siapa yang tertera memanggilnya. "Halo." Sesaat Elvan mendengarkan dengan seksama, yang sangat cepat merubah raut wajahnya segera menjadi senyuman lebar dan kali ini lebih dari menyeringai. "Bagus-bagus. Ini sangat cepat daripada yang kuduga. Lalu, biarkan santapan terakhirnya kulihat. Jangan terlalu cepat bermain." Setelah sambungan telepon terputus, Elvan bersorak tidak bisa menutupi tawa bahagianya dan segera berlari turun keluar untuk makan malam. Kedua orangtuanya sudah ada di meja makan, menyambutnya segera. Tidak lama setelah makan malam selesai Adibrata, langsung memanggil Elvan masuk ke ruang kerjanya. "Kamu masih gak mau ngomong soal siapa yang ngeroyok kamu?" tanyanya tanpa basa basi. Elvan mendesah, ayahnya sudah lama mendesaknya meakipun, dia sudah bilang bakal mengurusnya sendiri. "Daddy, gak percaya sama aku?" "Entahlah tapi, Daddy harus tahu siapa mereka? Dan, urusan apa mereka sama kamu." "Daddy bikin aku terharu, deh," ujar Elvan sedikit jenaka kali ini. Meskipun, dalam hati dia sungguh terharu bahagia dengan perhatian ayahnya yang besar seperti ini. "Tapi, gak usah khawatir lagi soal itu. Aku sudah mengurusnya." Adibrata menghela napas, sedikit menyipitkan matanya seolah melihat apa yang dikatakan anaknya itu berhasil atau tidak. "Kamu gak butuh bantuan Daddy? Tetap saja kamu harus lebih berhati-hati jangan sampai buat masalah baru." "Tenang saja, aku akan hati-hati. Ini hanyalah para cecunguk kecil sebelumnya, aku kalah memang karena mabuk saja jadi, mereka bisa menyerangku seenaknya saja." Kesalnya saat mengingat hal itu. "Kalau kamu sudah yakin. Daddy cuman bisa lega buat kamu tapi, ingat jangan sampai membunuh orang," ucap Adibrata yang tersirat nasihat besar. "Kita gak bisa bertanggung jawab sama nyawa manusia." "Hm," gumam Elvan sambil mengangguk mengerti. Tentu saja nyawa manusia itu berharga tetapi, bukan berarti cecunguk-cecunguk sialan itu pantas diberi kehidupan jika, tidak pernah menyesal dengan perbuatan jahat mereka. "Kalau begitu aku bisa pergi sekarang, kan? Aku perlu melihat mereka." "Pergilah! Tapi, izin sama Mommy mu dulu. Jangan buat dia cemas." "Oke," balasnya sambil segera beranjak pergi tetapi, tepat sebelum membuka pintu Adibrta kembali menawarkan bantuannya. "Kamu beneran gak mau Daddy bantu?" "Ngga, Daddy. Sudah kubilang aku sudah menahan mereka sekarang dan waktunya mereka membayar perbuatan jahatnya. "Tenang, aku tidak akan membuat mereka mati. Hanya gigi balas gigi, mata balas mata . Mereka tidak seluar biasa itu sampai harus Daddy turun tangan juga... tenanglah!" Membuka pintu, mata Elvan yang masih ceria kini berubah tajam dan dingin. Dia akan menyelesaikan dendamnya hari ini sebelumnya tentu saja dia tidak bisa mengatakan siapa yang sudah mengeroyoknya pada sang Ayah bukan karena dianya yang tidak tahu siapa pelaku tetapi, lebih karena ancaman darinya. Jika, mengingat hal itu amarah Elvan benar-benar terasa di atas ubun-ubun kepala. Dalam waktu satu jam perjalana Elvan sudah berada di gusang di mana dia dulu disekap, dia membayar sejmulah banyak uang dari temannya untuk menyewa sekelompok ajudan mencari orang-orang Bagas. Melihat suasana di dalam kali ini dia tersenyum puas, berjalan dengan bangga. "Bos, Anda sudah datang." Seseorang yang dia sewa menghampirinya dengan senyum menjilat. Elvan segera mengiyakan dan berjalan beriringan lebih ke tengah di mana para cecunguk sialan itu duduk bersimpuh di tanah dengan keadaan setengah bertelanjang dan yang paling parah Bagas berada paling di depan dalam keadaan kondisi tersungkur. "Ini mereka semua?" tanya Elvan memastikan. "Tidak ada yang terlewat?" "Ngga, Bos. Sudah kami pastikan daftarnya," jawab Deri, pemimpin dari orang-orang yang disewanya. Lalu, dia juga mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Ini memory-nya sudah saya amankan." Elvan meraihnya, chip memory kecil yang sudah membuatnya bungkam beberapa hari ini. Dia melirik Bagas yang juga sedang melihatnya, dia menyeringai puas. Elvan tanpa ragu berjalan ke arahnya, berjongkok di sana lalu menjambak rambut kesal. Karena orang ini sudah berpikir jauh dengan memotretnya telanjang lalu, akan membuatnya diam dan takluk selamanya. Elvan harus mengacunginya jempol. "Kamu masih berani sekali mengeluarkan tatapan kayak gitu?!" "El-van, gue bunuh lo," ujar Bagas putus asa dan penuh kebencian. Tangannya terikat ke belakang sulit bergerak apalagi untuk bisa menghajar orang di depannya. "Jangan repot-repot bisa melakukannya pikirkan dirimu sendiri. Apa aku gak bakal bunuh kamu duluan setelah ini." Bagas terengah dan mulai mengeluarkan air matanya. "Jangan bunuh aku! Van, Elvan ...kita udah dihajar habis-habisan harusnya setimpal. Aku gak akan punya masalah lagi dan kita bisa menjauh." Kening Elvan berkedut. Tidak terpikir jika, Bagas yang miskin dan sombong akhirnya dengan mudahnya menyerah setelah ditakuti seperti itu. Sungguh lelucon jika, teringat terakhir kali di sini, dia bisa begitu sombong merasa diatas angin darinya. "Aku bisa maafin perbuatanmu mengerokku tapi, mengancam dengan potret telanjangku kamu harus punya kompensasi lebih besar." "Aku bakal ngejauhin Nadira."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN