“Meninggalkan Nadira? Siapa kamu bisa bicara kayak gitu?”
Bagas mendongkak dengan wajahnya yang tak karuan, tidak ada lagi wajah sombongnya yang sebelumnya bahkan, dia takut menatap benci wajah pria di depannya ini. “Kalo gitu apa yang kamu mau?”
“Tentu saja menyingkirkanmu tapi, harus Nadira sendiri yang membuatmu enyah,” jawab Elvan lalu melepas jambakkannya dan mengambil sapu tangan mengelapnya berulang kali seolah baru saja dia menyentuh sesuatu yang kotor.
Melihat hal itu Bagas batuk darah, amarahnya membengkak di d**a. Benar-benar merasa terhina bagaimana kehidupan miskinnya masih tertindas sampai saat ini dan ternyata tak bisa menang dari orang yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan. 'Harusnya kubunuh saja orang ini sebelumnya?' pikirnya jahat.
"Apa yang kamu lihat?" Elvan melirik Bagas yang masih menatapnya. "Kamu tidak berpikir aku akan diam saja hanya karena foto-foto di sini,kan?" ujarnya seraya mengangkat kartu chip memori ditangannya.
Kepala Bagas refleks menggeleng kecil, "Kamu sudah memilikinya, kami juga sudah dapat balasannya...." Bagas tidak melanjutkan kata-katanya, hanya mengepalkan tangannya merasa terlalu malu untuk meminta dibebaskan.
Elvan tahu apa yang dipikirkan Bagas hanya dari kata-katanya yang belum selesai. Dia juga tidak lupa melihat semua orang yang sedang berlutut di sana. Memastikan tidak ada yang kurang dari pukulan yang diterimanya dan seperti yang dilihat semua babak belur. "Ok, ayo, semua pergi dari sini! Tinggalkan mereka," ujar Elvan bersiap.
Kelompok teman-teman Bagas segera menghela napas lega, begitu juga Bagas yang luruh jatuh dengan tenang di atas lantai.
Elvan memang pergi, dia cukup puas dengan kerja orang-orang bayarannya yang bukan hanya mendapatkan apa yang dia inginkan juga, membuat orang-orang itu membayar apa yang sudah diperbuatnya tetapi, tentu saja dia berpikir itu masih tidak cukup. "Kalian sudah menghubungi polisi,kan?" tanyanya setelah membuka pintu mobil.
"Tenang saja, Tuan. Kami akan segera melakukannya setelah Anda pergi."
"Kalau begitu jangan sampai mereka kabur dan berikan bukti-bukti yang kuat juga untuk polisi menahan mereka."
"Kami akan laksanakan!"
Mendengar janji mereka Elvan tidak lagi khawatir dan segera berlalu pergi ditengah jalan dia berhenti untuk memastikan jika, chip memory itu memang benar adanya. Menghela napas dalam, Elvan mendapatkan semua foto gambar dirinya dan menghapus semuanya lalu, menghancurkan chip memory tersebut karena tidak ada hal yang penting lagi malah, membuatnya panas dingin karena cukup banyak foto-foto Nadira dan Bagas di sana meski, tidak ada yang bisa disebut sangat mesra dia tahu hubungan keduanya tampak serius.
"Aku gak bisa kayak gini terus, aku harus segera memilih atau aku tidak satu pun yang akan kudapatkan," ujar Elvan sambil memukul setir memikirkan perasaan cintanya yang masih terbelah dua antara Inara dan tentu saja Nadira.
Tidak ada hal lainnya, Elvan pun kembali melajukan mobilnya tidak mengarah ke jalan pulang. Dia pilih untuk mencari Nadira pertama kali meski, ini sudah cukup lama dia setengah tidak peduli. Berhenti tepat di depan rumahnya, yang ternyata dia bisa melihat hanya lampu bagian kamarnya-lah yang masih menyala dari luar punya keyakinan jika, Nadira masih belum tidur Elvan menghubunginya melalui pesan. Tidak lama pesan itu benar-benar dibalas membuat Elvan akhirnya menelepon. "Aku ada di depan rumah."
Dari dalam rumah Nadira membuka sedikit gorden kamarnya yang menghadap keluar, mengintip memastikan jika memang Elvan ada di sana. "Mau apa ke sini?" tanya dari balik telepon.
"Tentu saja bicara, Nadira."
"Aku gak mau bicara sama kamu."
"Tapi, kita butuh bicara atau aku bakalan tetep di sini sampai besok dan mengganggu kamu."
"Kamu memang berengsek!" Kesal Nadira lalu menutup gordenya lalu, mematikan ponselnya dan berpikir selama satu menit sampai menyalakan lampu ruang tamu dan membuka pintu luar.
Elvan tersenyum lebar, dia tahu Nadira meski, tampak terlihat kejam dan kasar ucapannya tetapi, orang yang mudah luluh juga sangat baik hati. Akhirnya, Elvan setengah berlari ke pintu di mana Nadira berdiri di sana. "Terimakasih," ucapnya sambil menerobos masuk.
"Hey, siapa yang suruh kamu masuk!" Nadira benar-benar tidak ingin dia masuk, pikirnya mereka cukup hanya berdiri di depan pintu lalu pergi tetapi, pria tidak tahu malu ini malah seenaknya saja. Sambil menutup pintu Nadira masih menggerutu lalu, berdiri di depan Elvan yang sudah dengan santai duduk. "Mau apa ke sini?"
"Tentu saja bicara sama kamu."
"Ada apa?" tanya Nadira kali ini dengan nada lebih lembut.
Elvan diam sesaat, memerhatikan sosok Nadira dengan seksama dan masih belum tahu bagaimana dia bisa jatuh cinta pada wanita di depannya padahal, awalnya perasaannya hanya biasa-biasa saja. Rambut yang sedikit berantakkan, mata kuyu yang penuh kantung mata tetapi, bola mata yang menatapnya adalah pacaran ketegasan. Tatapan terakhir yang dia ingat ketika, wanita itu menolak pernyataan cintanya apa kali ini juga dia akan seperti itu?!
"Elvan, kenapa cuman diam aja. Cepat ngomong mau apa?"
Tanpa persiapan tiba-tiba saja Elvan menarik lengan Nadira sampai membuatnya jatuh dipangkuannya dan memeluknya erat tidak peduli jika, saat ini Nadira berusaha membebaskan diri.
"Lepaskan aku, Van! Aakh, lepas!"
"Terserah saja, coba saja kamu lepaskan sendiri."
"Kamu bakal nyesel, Van," ujar Nadira sambil mencoba menyikut perut Elvan sayang, Elvan yang sudah curiga tidak membiarkannya. Tidak sampai sana Nadira masih belum selesai, dia gunakan kakinya untuk menginjak kaki Elvan, sayangnya bukannya berhasil malah telapak kakinya yang menjerit kesakitan. Dia lupa Elvan masih menggunakan sepatu. "Aakh, sialan!"
Dibelakang tubuh Nadira,yang sedang berada dipangkuannya. Elvan tertawa tertahan takut jika, terlalu lepas dia hanya akan membuat kemarahan wanita itu semakin meledak.
"Kamu masih berani ketawa?!"
"Maaf, maaf, ok! Jangan marah lagi."
"Apa? Jangan marah?! Kalau begitu cepat lepasin tangan kamu ini!" Kepala Nadira menoleh dengan tatapan tajam.
"Aku cuma pengen peluk kamu kayak gini. Apa gak boleh?"
"Tentu aja, ngga. Memangnya siapa kamu? Cepat lepasin!"
Elvan masih menolak begitu juga Nadira tetap memberontak tak nyaman dengan perlakuan pria ini meski, mereka adalah sahabat sekalipun.
"Nadira," panggil Elvan dengan kepala yang bersandar dipunggung Nadira.
Mendengar panggilan tersebut tiba-tiba saja bulu halusnya meremang dan seketika membuat dirinya pun terpaku. "Elvan, berhenti. Lepasin aku!"
"Cuman sebentar Nad, biarin aku mastiin perasaan aku ini."
Nadira menghela napas dengan sangat keras dan melemaskan dirinya dari ketegangan percuma saja berbicara dengan pria ini, dia hanya akan melakukan apa yang dia suka. Entah berapa lama mereka seperti ini, tidak ada suara lagi di antara keduanya lagi sampai Nadira tidak tahan lagi. "Cukup, Van. Sekarang lepasin aku."
Kali ini Elvan melepaskan Nadira dengan mudah. "Terimakasih," ucapnya kali ini sambil bangkit, berdiri begitu dekat dengan Nadira.
"Hm," gumam Nadira seraya mundur karena rasanya Elvan kembali mendekat. "Sekarang kamu pergi!"
"Ngga, sebelum aku bisa dapat jawaban pasti dari kamu, Nad."
Kerutan kening muncul di kening Nadira seolah menunjukkan keherananya yang lain. "Apa lagi yang kamu butuhin?"
"Kamu. Apa kamu bener-bener gak cinta lagi sama aku?"
Sekarang Nadira memutar bola matanya malas, tidak menyangka akan muncul kembali pertanyaan yang sudah basi dan ditinggalkannya bertahun-tahun lalu. Dia tidak terobsesi dengan meski, sebagai insan manusia tidak bisa disangkal ingin dicintai tetapi, kembali pada latar belakang keluarganya yang tidak pernah merasakan cinta rasanya itu bukan apa-apa saat ini karena akhirnya, dirinya yakin pasti akan ada cinta yang tulus datang menghampiri meskipun butuh waktu. "Apa aku harus cinta sama kamu? Elvan, itu semua hanya di masa lalu."
"Kalau begitu, sekarang bisakah kita mencoba untuk saling mencintai?"
"M-aksud kamu apa?"
"Ayo, kita mulai pacaran."
Nadira masih terkejut meski ini bukan pertama kalinya seorang Elvan mengatakan hal tersebut. "Apa kamu pikir kali ini aku akan setuju?"
"Kenapa tidak?" sahut Elvan sambil mencoba memegang tangan Nadira tetapi, tidak berhasil. Wanita itu berhasil menepisnya membuat kekecewaan di wajahnya. "Kamu mau menolakku lagi dan berpikir jika, orang yang bernama bagas itu lebih baik daripada aku?"
"Aku gak pernah bilang dia lebih baik dari kamu tapi, setidaknya aku merasakan dia memang mencintaiku."
"Kamu pikir aku tidak?"
"Iya, karena jelas selama ini saja kamu masih terobsesi dengan Inara dan buat apa kamu mengatakan hal macam itu sama aku."
"Karena aku pengen mencoba juga sama kamu dan seiring waktu aku bisa melupakan Inara dengan bantuan kamu."
Rasanya Nadira ingin mengetuk kepala pria itu. "Kamu cari wanita lain saja yang bisa dicoba-coba."
Giliran Elvan yang menahan emosi, kali kedua dia ditolak seolah dirinya memang tak pantas. "Apa kurangnya aku, sih, Nad?!"
"Kamu gak kekurangan. Aku ... aku yang kurang merasakan ketulusan kamu dan membuat diri aku sendiri gak pantas buat kamu."
"Aku masih coba--"
"Berani kamu ngomong lagi?" sela Nadira meremas jaket depan Elvan. "Aku bukan bahan percobaan kamu. Jadi, pergilah pulang! Aku mengusirmu."
Tetapi, bukan Elvan jika tidak keras kepala. Dirinya menarik tenguk dan pinggang Nadira, memegangnya dengan sangat erat untuk menghilangkan jarak di antara mereka dan tanpa ragu menjatuhkan ciuman yang dalam hingga, tidak peduli tangan Nadira terus memukuli dadanya hingga lelah.
Nadira berusaha melepaskan ciuman ini tetapi, sulit. Bibirnya tengah dilumat dengan sangat panas hingga, tanpa sadar suara yang dihasilkan keduanya semakin menambah gairah.
Akhirnya, Elvan puas dan mengakhiri ciuman mereka setelah melihat Nadira terengah dan memerah sempurna. "Gak ada lagi teman, yang sudah saling berciuman," ujarnya tanpa melepas pelukan Nadira.
Sebaliknya, Nadira tengah bernapas perlahan untuk menormalkan udara yang memasuki tubuhnya sembari bersandar pada d**a Elvan. "Berengsek," ucapnya lelah sambil meremas bagian kemeja yang bisa disobek Nadira.
"Terserah, yang penting kamu mau."
Dengan kekuatannya yang tidak seberapa, Nadira melangkah mundur lalu, mendorong tubuh Elvan ke belakang dan dirinya bebas. "Aku tetep gak akan bersedia kalo cuman buat pelampiasan kamu saja."