"Sejak awal aku gak pernah berpikir kamu bakal jadi pelampiasan, aku serius." Elvan dengan tatapan tegasnya.
"Kalau begitu, apa kamu masih cinta sama Inara?"
Untuk sesaat Elvan bingung harus menjawab apa, sesekali dia melirik jauh ke dalam mata Nadira. "Yah, terkadang aku masih memikirkannya. Kamu tahu bahkan, aku masih merasa tak rela dia bersanding sama Mas Ravin," akunya jujur.
Tentu saja jawaban Elvan tidak juga mendapat kelegaan di hati Nadira melainkan ganjalan lain dari hubungan mereka. Sejak dulu tidak pernah terbersit dia akan jadi, orang ketiga. "Maaf, Van tapi, hatiku masih gak ngizinin aku buat terima kamu."
"Kamu gak percaya sama aku?" Elvan tidak percaya Nadira masih menolaknya sampai saat ini. Apa yang dilakuinnya salah? Lalu, harus bagaimana dia bisa yakinin dirinya?.
"Bukan. Tapi, aku yang gak percaya diri buat jalan satu arah sama kamu."
"Nad, berapa banyak yang harus aku akui sama kamu biar kamu percaya."
"Lebih baik kita jadi, teman saja." Putus Nadira yakin, dia juga tidak ragu lagi untuk menatap Elvan. "Dan, jangan berani lagi masuk ke sini malam-malam. Apalagi ngambil kesempatan seperti tadi." Nadira berjalan ke arah pintu keluar dan membukanya. "Kamu bisa pergi sekarang dan sudah mendengar keputusanku."
Elvan tidak mau beranjak dia marah dan putus asa. Bagaimana mungkin Nadira masih tak mau menjadi kekasihnya setelah dia bersedia menurunkan egonya. Kepalanya menunduk, menekuk kedua kakinya berperan begitu menyedihkan.
"Elvan," panggil Nadira dengan sedikit ketidaksabaran.
"Kenapa aku gak lagi dicintai seperti ini. Padahal dulu, Inara sangat begitu mencintaiku. Kamu juga meski, dalam diam kamu begitu perhatian dan pengertian lalu kenapa? Padahal, malam terakhir di mana aku bakal menikah tapi, aku lari ke sini cuman buat kamu tapi, kamu tolak. Oke, meskipun membuatku frustrasi aku terima lalu, kenapa masih juga menolakku sampai saat ini, Nad?"
Nadira kembali menutup pintu keluar dan kali ini juga menguncinya, dia tidak peduli dengan ucapan-ucapan Elvan tentangnya. "Aku juga frustrasi kenapa kamu kayak gini terus. Cinta, cinta lama-lama aku muak sama yang namanya cinta," ujarnya berbalik ke kamar mengambil selimut dan bantal lalu melemparnya tepat ke arah Elvan."terserah kamu mau tinggal di sini atau pergi tapi, jangan ganggu aku lagi soal cinta kamu itu lagi."
Elvan terkejut, dia masih memperoses semua kata-kata Nadira dan apa yang baru saja dilakukannya dengan melempar semua ini kearahnya. "N-nad."
"Jangan bicara lagi! Aku tidur," ucapnya meninggalkan ruangan tersebut lalu menutup pintu kamar sampai terdengar suara kunci yang memutar.
"Apa aku menginap di sini, ya?" tanya Elvan pada dirinya sendiri dan entah kenapa dia merasa bodoh. "Nadira! Jadi, aku harus tidur di sofa begitu? Apa di sini gak bakalan banyak nyamuk gitu? Nad, aku bisa ke wc dulu,kan? Sepertinya aku gak tahan. Aku juga haus, Nad. Perlu minum."
"Berisik, Elvan! Terserah kamu atau lebih baik pulang saja sana!" teriak Nadira dari balik kamar.
Elvan tidak melakukan hal terakhir tetapi, dia melakukan apa yang dia inginkan. Ada alasan untuk tidak pulang karena sudah sangat larut. Dengan mempertaruhkan kenyamanan tidurnya Elvan berusaha tidur di sofa yang sempit dan kurang nyaman beruntungnya dia punya bantal dan selimut setelah beberapa lama akhirnya dia benar-benar jatuh tertidur.
Pagi datang terasa cepat dengan cuaca yang lebih dingin, masih terlihat rintik-rintik hujan di luar sepertinya tengah malam tadi hujan datang secara tiba-tiba yang tidak ada yang bisa memprediksi nya . Nadira lah yang pertama kali bangun dan sadar ternyata Elvan benar-benar menginap di rumahnya. Coba tak mengindahkannya, Nadira segera membenahi dirinya dari mencuci muka sampai mandi lalu sampai membuat sarapan.
Hidung Elvan mengendus sesuatu padahal matanya enggan sekali untuk terbuka tetapi suara dan bau itu benar-benar mengusiknya membuatnya mau tak mau terbangun dan menyadari kalau dia tidak berada di kamarnya dari tempatnya sekarang dia bisa melihat sosok Nadira yang sedang memasak. Melihatnya seperti ini terasa sesuatu menggelitik hatinya, dia segara berdiri berjalan menghampiri dan Entah kenapa ingin memeluk Nadira dari belakang, senyumnya pun sudah mengembang berharap keinginannya terlaksana tetapi sayang Nadira yang menyadari ada seseorang yang mengendap di belakangnya segera menoleh lalu mengacungkan pisau yang sedang digenggamnya.
"Awas saja kalau berani mendekat lagi," ancamnya karena entah apa dia merasa Elvan pasti melakukan sesuatu seperti yang sudah-sudah mereka jelas bukan pasangan hanya teman jadi seharusnya tidak pernah ada skinship berlebihan apalagi ciuman yang dilakukannya dua kali tanpa persetujuannya.
Telepon menggembungkan pipinya cukup kesal karena Nazira mengetahui gelagat buruknya. "Aku cuman mau mengucapkan selamat pagi."
"Apa? Lalu, kenapa gak kamu ucapin dari sana saja." Tunjuk Inara pada sofa.
Elvan mendengus. "Aku,kan ingin mengucapkannya sedikit lebih romantis mungkin saja kamu bisa luluh."
Nadira menarik nafasnya dalam-dalam, sungguh kesal dibuatnya. "Kita cuman teman buat apa lebih romantis," tukas Nadira dengan pelototannya. "Sekarang menyingkir dari sini atau kamu langdung pulang saja sana."
Kruyukkk...
Elvan menyentuh perutnya dengan sedikit merona di wajahnya. "Aku sudah lapar. Aku sarapan di sini saja," ucapnya tidak tahu malu tetapi, segera beranjak pergi ke arah kamar mandi.
Nadira mendemul kesal. Padahal dia sudah sangat berusaha tegas pada pria itu tetapi, sepertinya usahanya hanya terkena tumpukan kapas di diri Elvan. "Dia hanya tidak tahu malu dan kurang ajar. Mengabaikannya saja tidak cukup," ujarnya masih dengan desahan berat. Lalu, menatap pintu kamar mandinya yang tertutup. "Mungkin dia memang harus menemukan wanita lain."
Setelah keduanya selesai sarapan, Elvan mendesak Nadira untuk mengantarnya ke butik dan bahkan, berjanji untuk menjemputnya. "Kamu harus menungguku,yah? Aku jemput."
"Tidak perlu! Aku bisa jalan sendiri."
"Tapi, aku ingin melakukannya."
"Aku gak mau kamu yang melakukannya dan jangan menjemputku. Kamu,kan, tahu biasanya aku pulang dengan siapa? Jadi, tidak perlu repot-repot," ucap Nadira saat mereka sudah berada di depan lobi Mall.
Sudut mulut Elvan berkedut, kesal, marah tetapi juga ingin mencerca. "Siapa? Si Bagas, cowo berengsek itu?"
Nadira memutar bola matanya malas, meskipun telingannya panas karena Elvan seringkali meremehkan Bagas. "Lebih baik kamu juga berkaca diri, apa kamu juga bukan cowo berengsek yang bilang suka sini, suka sana. Dasar lebah pejantan," dengusnya sebal sambil membuka pintu mobil karena tepat saat itu mobil memang sudah berhenti.
"Nadira!"
"Jangan sok ng-gas. Aku gak budeg dan kamu, Van. Udah jangan main-main terus pikirkan masa depan saja masih banyak wanita yang menyambut kamu."
Tangan Elvan menarik, Nadira yang setengah berbalik untuk keluar dan kembali duduk menghadap ke depan. "Aku gak mau wanita lain. Itu hanya antara kamu atau Inara."
Mendengarnya entah kenapa telinga dan perasaan Nadira panas dan membuat tangannya gatal ingin sekali meremukkan sesuatu. Sudut matanya pun tidak bisa menunggu untuk refleks menatap kesal pada pria di sampingnya."Dasar pria berengsek," ucapnya dan mulai memukuli Elvan di tempat di mana dia bisa menggapainya.
Elvan tentu saja terkejut dan hanya bisa menjerit minta ampun bahkan, dia juga dijambak. Punggung dan lengannya berkali-kali menjadi samsak Nadira yang dia juga tidak mengerti kenapa wanita ini harus marah. Meskipun, begitu dia juga tidak berani membalasnya. "Nad-Nadira cukup, ampun! Aaw... sakit!"
Nadira akhirnya berhenti sambil terengah-engah menghadap ke depan memperbaiki penampilan dirinya dan sebelum keluar dia berbalik lagi pada Elvan, mengacungkan tangannya. "Awas saja kamu berani menemui aku dan Inara lagi, sebelum kamu bisa berhenti memikirkan hubungan apa yang ingin kamu jalin dengan kami."
"Apa?" Elvan tidak mengerti.
"Bodoh! Pikirkanlah sendiri. Sadarlah bahkan, kamu sekarang itu udah gak bisa dapetin Inara. Masih gak ngerti?"
"Siapa tahu?"
"Kamu memang menjijikan. Sudah aku berhentilah bicara denganku, jauhi aku!" Putus Nadira lalu, keluar dari mobil.