Bibir Nadira tidak bisa berhenti untuk menggerutu kesal. Dia tidak percaya betapa bodoh-nya dan bebalnya seorang Elvan Malik. Bagaimana bisa seorang pria berpendidikan seperti dirinya tidak bisa membaca situasi. “Tenang, tenanglah Nadira. Kamu baik-baik saja aakhh!” pekik Nadira dengan suara tertahan sambil memegang belakang lehernya, menahan rasa sakit dari kepala. Lalu, kembali melanjutkan langkah kakinya sampai ke butiknya.
Inara sudah berada di tempatnya, tengah mencocokkan pakaian yang akan dia pajang di depan etalase ketika melihat Nadira datang dengan wajah kusut dan tidak tanggung-tanggung menubruknya hanya untuk mendapat pelukan. “Kamu kenapa?” tanya Inara sambil menepuk-nepuk punggung Nadira. Di kiranya sahabatnya ini tengah memiliki masalah dan butuh sandaran.
“Ada apa, ini masih pagi dan wajahmu sudah ditekuk.”
“Aku kesal, Nara. Rasanya ingin kubanting dia itu.”
“Siapa yang kamu maksud?” tanya Inara sambil menariknya untuk berjalan masuk ke ruangan pribadi mereka berdua.
“Aku kesal karena ulah Elvan. Sejak semalam dia terus menerus menggangguku,” ucap Nadira yang malah dihadiahi senyuman oleh Inara. “Kenapa malah tersenyum? Inara, kamu gak denger, kalau aku kesal ya?”
Tawa Inara pecah. “M-maaf, maaf, hanya merasa senang saja ternyata kalian berdua berhubungan baik dibelakangku dan kuharap segera ada kabar baik.”
Nadira mendengus, menghela napasnya meletakkan tasnya di atas meja kemudian tatapannya menyapu semua pekerjaannya . “Kabar baik seperti apa? Jangan berpikir aku bakal sama dia.”
“Kenapa ngga?” kali ini Inara yang balik bertanya.
“Inara, kamu serius ingin aku sama dia?”
“Ya, kenapa ngga, sih? Bukannya Elvan bilang dia pernah bilang suka sama kamu. Dira, kalau dia serius sama kamu. Aku akan tulus sangat berbahagia, jangan pikirin masa lalu aku sama Elvan. Itu gak ada hubungannya karena yang terpenting kamu dan dia sekarang ini.”
“Entahlah, Nara. Aku ngga tahu lagipula, kamu, kan, tahu bukan cuman Elvan saja masih ada Bagas. Bukankah dia juga pria yang cukup baik? Rasanya gak enak banget kalau harus nolak dia.”
“Aku gak tahu kamu benar-benar punya perasaan serius dengan pria itu. aku pikir Bagas pun tidak begitu buruk,” ujar Inara setelah memikirkannya hati-hati dan melihat wajah Nadira ketika menyebut nama pria itu, jelas sekali mengandung harapan. “Semua keputusan ada ditanganmu. Aku hanya bisa dukung dan ikut bahagia kalau kamu juga bahagia.”
“Ah, Nara! Kamu memang sahabat terbaikku,” ucap Nadira sambil berdiri lalu setengah memutar hanya untuk memeluk Inara.
“Tapi, kamu harus tahu. Aku lebih prefer kamu bersama Elvan. Kita sudah mengenalnya cukup lama juga, kita bakalan jadi saudara ipar kalau kamu sama dia.”
Nadira memutar bola matanya malas, tidak menyangka Inara akan memberikan alasan yang tidak masuk akal seperti itu tetapi, akhirnya dia tersenyum juga. Elvan memang tidak buruk tetapi, dia harus sedikit dididik agar tidak serakah dan berpikir semua wanita ada ditangannya. ‘Seharusnya Elvan, sekarang dalam perjalanan pulang. Semoga dia bisa baik-baik sampai rumah.’
**
Elvan yang seharusnya dalam perjalanan pulang setelah semalam tidak kembali pulang terjegat sesuatu. Dia yang tidak sengaja ingin melewati perusahaan Malik harus melihat jika, di depan sana banyak orang berkumpul karena penasaran, dia berhenti di sana dan melihat kejadian di mana seorang wanita tengah menahan Ravin, kakaknya.
“K-kamu!” Ravin menahan amarahnya dan hanya menatap wanita itu tajam dengan sorot matanya. “Pergi dari sini! Atau aku harus mempermalukanmu dulu?”
Soraya menggeleng berulang kali dengan tatapan matanya yang berkaca-kaca tetapi, dengan mulut yang tidak menjawab sesuai apa yang ditanyakan Ravin. “Tolong, hanya kali ini.”
Ravin mendengus. “Apa lagi ini? Cepatlah menyingkir, aku tidak suka menjadi tontonan.” Dia tidak akan luluh dengan hanya penampilan seperti itu, belum lagi dia tidak kenal dengan wanita ini, sudah cukup dia terlibat dengan wanita lain yang bukan istri atau ibunya.
“A-aku juga tidak suka,” balas Soraya gugup tetapi, dia tidak punya pilihan lain selain menghadang pria ini saat akan masuk perusahaan karena berapa kalipun dia membuat janji, tidak sekalipun dia bisa bertemu dengan pemimpin perusahaan saat ini. “tapi, aku kesulitan untuk bertemu dengan Anda.”
“Kalau begitu lepaskan tanganmu ini!” kesal Ravin karena sejak tadi lengannya belum dilepas, bisa saja dia bersikap kasar dengan menghempaskan tangan wanita itu tetapi, sekali lagi dia wanita dan akan kabar buruk juga baginya jika, menggunakan kekerasan hanya karena ada seorang wanita memohon padanya dan terluka. Dia di sini akan bersalah. Ah, dan jangan salah berpikir Ravin sudah berusaha menarik tangannya agar terlepas tetapi, wanita itu juga tidak membiarkannya.
Elvan yang berada di antara kerumunan, yang sebenarnya masih merupakan karyawan-karyawan perusahaan di sana. Dirinya maju ke depan dan terkejut. “Soraya? Mas Ravin,” panggilnya dengan cukup keras. Dan, langsung terbersit pikiran negative jika, ada sesuatu di antara mereka. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya lagi dengan cepat menyerbu di depan mereka.
“Elvan!” tapi, siapa yang sangka Soraya yang melihat Elvan datang langsung menghambur ke dalam pelukannya dan mulai menangis. “Elvan, kamu harus nolongin aku, please!”
“Soraya, lepasin!” Elvan berusaha terlebih dulu melepas pelukan wanita dihadapannya lalu, tanpa sengaja melihat Ravin yang mendesah lega dan tengah membersihkan tangannya seolah baru saja dia kena kotoran dan sampai akhirnya pandangan kami bertemu.
“Urus teman wanitamu itu dan jangan biarkan dia menginjak perusahaan lagi,” ucapnya jelas pada Elvan dan segera membalikkan badan.
“Mas, Mas Ravin tunggu! Kenapa aku?!”
Soraya juga yang mendengar kata-kata Ravin segera melepas pelukannya pada Elvan dan berbalik melihat pria yang ia tahu sebagai pemimpin perusahaan di depannya dan mau tak mau, dirinya membutuhkannya. “Elvan, bantu aku bicara sama kakakmu?!” Pinta Soraya menarik Elvan untuk berjalan kearah Ravin.
“Soraya, kamu apa-apa’an, sih? Lepasin tangan aku.”
“Elvan, bantu aku!” pintanya kali ini sudah meneteskan air.
Melihat air mata Soraya, Elvan merasa luluh juga dan menghela napasnya untuk bisa lebih bersabar. “Jangan menangis! Hanya katakan apa yang bisa kulakukan tapi, jangan di sini. Kita cari tempat lain.”
Akhirnya Soraya mengikuti langkah Elvan dan menjauh dari perusahaan. Elvan membawanya ke sebuah café dan mulai berbicara. Soraya menutupi wajahnya, antara malu dan tidak berdaya. “A-aku salah. Semua gara-gara kecelakaan itu …. “
Elvan mendengar ceritanya pelan-pelan bahkan, sampai di mana Soraya memutuskan kontraknya di perusahaan cuman karena mendengar bukan dia lagi yang memimpin. Sedikit terharu tetapi, juga sedikit konyol. “jadi, apa yang kamu lakukan sama Mas Ravin tadi?”
Soraya mengangkat wajahnya. “Aku harap dia bisa membatalkan surat keputusannya dan memberikan aku kesempatan lagi. Kalau tidak?! Elvan, bantu aku,” ujarnya sambil meraih tangan Elvan. “aku bakal hancur habis-habisan.kalau sampa Tidak akan produsen yang memakai aku jadi model lagi.”
Elvan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Wanita ini memang sedkit bodoh, bagaimana dia bisa hanyan pergi setalah menandatngani surat tersebut. “Aku bakal coba bicara dengan Mas Ravin tetapi, semua keputusan ada padannya.”
“Aku ngerti!” balasnya dengan sedikit menundukkan wajah menyembunyikan sedihnya.
Ravin berbeda lagi di dalam kantor. Dirinya harus menghadapi gossip yang ditimbulkan Soraya. Sampai dia harus menyuruh Rudi untuk membuat sebagian para karyawan itu diam. “Gara-gara hal itu pekerjaanku terlambat,” keluh Ravin.
Rudi di depannya hanya bisa tersenyum kecut. Tidak berani menjawab dan hanya memerhatikan bosnya yang terus-menerus menandatangani berkas-berkas penting yang memang dilewatkannya beberapa waktu lalu kali ini ditambah insiden pagi tadi membuat keadaan terhambat.
“Rudi, gimana sama model iklannya kamu sudah memilih siapa?”
“Belum Pak, kita belum menemukan yang cocok.”
“Kenapa kamu makin lamban sekali.”
‘Sabar! Sabar! Kamu cuman bawahan tenang aja,’ bujuk Rudi pada dirinya sendiri. “Ini tidak lamban tetapi, prosesnya memang sulit.” 'Kita tidak sedang mencocokan tutup botol tapi, artis yang cocok dengan image baru Mall.'
Ravin sebenarnya tidak mau mendengar kata-kata sulit tetapi, sebenarnya memang hal itu ada. “Oh, ya, kamu juga harus menyuruh penjaga untuk lebih waspada tidak membiarkan wanita seperti itu masuk.”
“Baik, Pak. Hal seperti tadi tidak akan terjadi lagi.”
Helaan Ravin terdengar sangat jelas, menimbulkan rasa gugup pada Rudi. Sebagai seorang asisten dia mulai mengerti dan meamhami sifat dan sikap bosnya. “Sungguh membosankan, hal seperti ini tidak bisa terulang lagi, Rudi. jaga perusahaan dari orang-orang yang menyusahkan seperti itu.”
"Tentu saja, Pak! Maaf tadi kami terlambat."
"Kamu bukan terlambat, Rudi," tukas Ravin dengan tatapan tajamnya. "kamu cuman diam di sana dan melihat saya jadi lelucon dan para karyawan itu juga sama saja. Apa aku harus menggantikan mereka semuannya, ya?"
Kini raut wajah Rudi yang segera berubah. Memang benar dia tidak bergerak dan hanya memerhatikan kondisi bosnya karena tidak mendengar perintah secara langsung. dia kira mereka punya masalah pribadi. 'bodohnya.' . "Tolong jangan Pak. kami akan bekerja lebih baik dari sebelumnya. jangan dipecat ...dan menambah beban pekerjaan saya.'
Ravin mendengus lagi menyerahkan berkas-berkas yang sudah ditandatanganinya. "Ya, sudah! cepat selesaikan semua pekerjaan dan jangan biarkan para karyawan bergosip tentang hal pagi. tetapi, jika ada yang masih suka melakukan hal itu pecat saja. apalagi jika, terendus media. aku akan menyalahkan para karyawan di sini."