Elvan tidak yakin bisa membantu Soraya untuk memperbaharui surat kontraknya, yang berarti tidak ada lagi jalan untuk kembali dan pastinya juga perusahaan sudah memprosesnya. Dia melihat lagi Soraya tetapi, dia tidak punya kesan mendalam padanya kecuali dia merupakan seorang wanita yang pernah menyatakan cintanya tetapi, tentu saja karena saat itu dia sudah memiliki Inara dan wanita ini juga mulai sibuk dengan dunia modelnya jadi, tidak pernah ada yang benar-benar serius.
“Elvan, kalau aku tidak bisa memperbaiki kontrakku yang ini. Aku pasti bakal mati,” ucap Soraya dengan sangat memelas tak lupa tangannya yang bergerak menggenggam tangan Elvan.
“Aku gak bisa janji.” Elvan melepas genggaman tangan Soraya. “mungkin kamu malah harus membayar dendanya.”
Soraya menggigit bibirnya sangat gugup, dia benar-benar bodoh saat itu dan tidak berpikir panjang akan ada hari seperti ini lalu sekarang bagaimana dia bisa hidup. Jika, dia memikirkan lagi dia jadi membenci Mario kalau dia tidak memaksa menyetir saat mabuk semua gak akan kayak gini. Tiba-tiba Soraya mendongak memperlihatkan tatapan matanya yang serius. “Bos baru itu, dia sungguh kakak kandungmu, kan?”
“Hm,” jawab Elvan menggumam sambil menyeruput minumannya.
“Dia pasti setidaknya bisa mendengar permintaanmu, kan?”
Tawa tertahan Elvan terdengar begitu saja lalu, bersungguh-sungguh menatap Soraya. “Kamu pikir Mas Ravin itu bisa semudah itu mendengarkan permintaanku?” tanyanya dengan helaan napasnya yang panjang, mengeluarkan rasa frustrasi diri. “kalau dia bersedia mendengarkan permintaan adik satu-satunya. Aku gak akan jadi penggangguran atau jadi pria menyedihkan mengharapkan kembali mantan kekasihnya. Setelah mengatakan hal itu, aku jadi berpikir sepertinya aku gak bisa bantu kamu.”
“Van,” panggil Soraya dengan suara melasnya.
“Itu juga merupakan urusan perusahaan. Orang luar kayak aku gak bisa ikut campur.”
“T-tapi.”
“Aku gak tahu, kenapa kamu lakuin hal itu tetapi, bukan berarti aku yang bisa kamu jadikan alasan untuk memutuskan kontrak tersebut karena jelas bukan aku yang menyuruhmu melakukan hal bodoh itu.”
Air mata Soraya jatuh juga, tidak ada yang bisa membantunya padahal awalnya dia melakukan semua itu untuk Elvan. Pria dihadapannya meski, bukan siapa-siapa tetapi dialah orang yang dia sukai. “Sekali saja bantu aku. Manager dan agensiku tidak bisa melakukan apapun, aku harus bertanggungjawab terhadap banyak perusahaan,” lirihnya benar-benar meminta simpati.
Melihatnya begitu menyedihkan Elvan juga tidak ingin terus menolak meskipun, dia sangat jelas. Ravin tidak mungkin akan merubah putusannya hanya karena simpati jadi, pun untuk membuat tenang Soraya dia hanya bisa menjawab seperti yang pertama dia ucapkan. “Aku bakalan coba tetapi, tidak berjanji jika akan berhasil.”
Soraya hanya bisa mengangguk lesu, tidak percaya diri dan tidak mengucapkan apapun lagi sampai smartphone-nya berdering dan memberikannya kabar yang membuatnya makin terpuruk hingga, tidak tahan untuk menghentikan air matanya yang luruh dan menatap Elvan penuh ketidakberdayaan. “E-elvan.”
“Ada apa?” tanyanya bingung. “Jangan menangis dulu, katakan sesuatu ada apa? Siapa yang menghubungimu?”
“Kakakmu menuntutku,” ucapnya dengan kata-kata yang tersedak air mata.
Elvan tentu saja terkejut, tidak menyangka kakaknya tegas dan sedikit tidak berperikemanusian. “Dia menuntutmu atas apa?”
“Kelalaian berkendara. Aku lupa, kakakmu juga pasti masih dendam dengan kecelakaan yang terjadi dan gara-gara hal itulah. Semua pekerjaanku hancur!” Kenang Soraya, yah, karena pergi mabuk-mabukkan lalu terjadi kecelakaan beberapa sponsor menghentikan sementara hubungan mereka tetapi, jika dia juga ditetapkan sebagai tersangka sudah barang tentu bukan lagi, sementara tetapi langsung pemutusan kontrak dan juga konpensasi yang harus dia bayar.
“Kamu, cobalah tenang dulu! Aku coba hubungi Mas Ravin dulu,” ujarnya kali ini merasa sangat iba. Akhirnya, tanpa membuang waktu Elvan menghubungi Ravin untuk menanyakan tentang masalah ini dan jawaban yang diterimanya tidak jauh berbeda dengan kenyataan dan tidak ada harapan juga untuk membuat kakaknya mengendur.
Melihat Elvan sudah selesai berbicara, Soraya segera meminta jawabannya dalam diam. Dia tidak mengatakan apapun hanya matanya yang berbicara. Elvan menarik napasnya terlebih dulu sebelum, memasang wajah prihatin dan tidak berdaya untuk Soraya. “Maaf, yah, Mas Ravin melakukannya.”
Soraya langsung menyembunyikan wajahnya, menahan untuk tidak berteriak dan menangis dengan sangat kencang. Dia tidak berdaya, banyak orang yang menekannya saat ini. ‘Ah, sialan! Bagaimana hidup sekarang. Aku gak bakalan bisa hidup tenang lagi.’
“Lebih baik kamu istirahat dulu, tenangkan pikiranmu terlebih dulu,” ucap Elvan di depan pintu rumah Soraya. Baru saja dia mengirim wanita itu kembali ke kediamannya.
“Terima kasih, sudah mengantarku sampai rumah.”
“Tidak masalah! Sekarang masuklah, aku akan pergi.” Elvan melangkah mundur, berjalan kembali ke mobilnya sampai dia akan berlalu pergi. Soraya masih diam di tempatnya, mungkin menunggunya sampai menghilang tak terlihat lagi. ‘Kasihan sekali! Tapi, aku juga tidak bisa bertanggung jawab penuh hanya karena dirinya dia memutuskan kontrak.’ Batin Elvan saat meningglkan rumah Soraya.
***
Di sore hari Ravin menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat bahkan, sebelum para karyawannya pulang. Dia juga melewati Mall tempat butik Inara tidak berniat menjemputnya dan langsung pergi ke jalanan, mermarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah. Menuruni mobil sambil membawa sebuah kotak kue ulang tahun yang sudah dia pesan beberapahari lalu ketika, mengingat jika hari ini Jovanka berulang tahun.
Senyuman lebar dengan raut wajah pucat adalah yang pertama kali Ravin lihat ketika pintu rumah itu terbuka. Ravin tidak tahu jika, Jovanka lah yang langsung membuka pintu biasanya ibunya Maria atau asisten rumah tangga mereka karena hal itu Ravin akhirnya tidak bisa menyembunyikan kotak kue yang sedang di jinjingnya.
Melihat apa yang sedang dipegang Ravin, perasaan Jovanka semakin berbunga ketika bisa menebak kotak yang sedang dipegangnya. Dengan sedikit malu-malu dia bersuara. “Apa kamu nyiapin kue ulang tahun?”
Ravin mengangguk sedikit malu, mengacungkan kotaknya sedikit ke atas. “Seperti yang dilihat! Kue ultahmu yang special.”
Jovanka tidak berharap, Ravin masih ingat hari ulang tahunnya. Bahagianya kini berlipat ganda dan tanpa ada hujan dan angin, Jovanka tidak ragu menarik lengan Ravin untuk menggandengnya masuk. “Terima kasih sudah mengingat hari ini padahal, cukup dengan kehadiranmu di sini tiap waktu. Aku sudah sangat bahagia,” ucap Jovanka sambil berjalan masuk.
Namun, Ravin-lah yang kini tidak bisa berkata-kata dengan kebahagian yang diutarakan Jovanka. “Aku hanya sekadar meningatnya kuharap kamu mengerti.”
Bola mata Jovanka yang awalnya tampak cerah dan gemilang dengan perlahan sedikit meredup. Kini senyumannya hanya berupa ulasan semata, mendengar kata-kata Ravin yang jelas tidak ingin memberikannya harapan. “Pokoknya alasan apapun yang kamu bawa. Aku masih harus sangat berterima kasih. Aku tidak tahu, apa tahun depan aku masih punya waktu untuk menghargai hari ini.”
Mulut Ravin terbuka dan menutup, tidak berdaya untuk menjawab. Melihat dengan sangat jika, mungkin apa yang dikatakan Jovanka benar adanya tidak aka nada perayaan ulang tahunnya lagi di tahun depan. ‘Haruskan ini jadi perayaan terakhir Jovanka? Tidak mungkinkah ada keajaiban lagi jika, akhirnya dia bisa kembali sembuh,’ pikir Ravin dalam hati.
Tidak berharap banyak dengan perayaan ulang tahunnya hari ini. Jovanka melarang Maria, ibunya untuk menyiapkan banyak hal tetapi, karena Ravin sudah membawa kue yang bisa dilakukan ibu satu putri itu menyiapkan makan malam yang lebih baik untuk mereka semua. Kali ini juga Maria menyuruh Jovanka untuk berganti pakaian yang lebih baik dan selama itu dia ditinggalkan bersama Ravin di ruang tamu sambil menunggu Jovanka turun dan suaminya kembali pulang.
“Terima kasih.” Kali ini ucapan itu disebutkan Maria ketika, hanya ada mereka berdua. Maria mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca tampak sangat pilu. “Sebelumnya Jovanka sangat menolak perayaan ini meski, hanya sekadar perayaan kecil-kecilan dia tidak menginkannya dia berkata seolah mengingatkannya dengan umurnya yang mungkin akan berakhir.”
“Aku hanya tanpa sengaja mengingatnya,” ungkap Ravin jujur.
“Tidak masalah, Nak. Meskipun, kamu baru saja mengingatnya yang terpenting bagi kami Jovanka bahagia dengan hadiahmu.”
Ravin tersenyum tulus, mengangguk dengan napas lega. “Aku tidak bisa berbuat banyak jika, hal sederhana ini bisa membuat Jovanka bahagia aku rasa, aku juga cukup bahagia.”
Maria berbalik kini benar-benar menghadap Ravin. Meraihnya dan menggenggamnya erat, memohon dengan setulus hati. “Tante hanya bisa meminta bantuanmu, Ravin, Tante mohon hanya sampai waktunya tiba, bahagiakanlah Jovanka karena kamulah sumber kebahagiannya.”
“T-tante …” Ravin tidak tahu harus menjawab apa, dia merasa tidak berdaya karena dari keterangan dokter jika, kehidupan Jovanka hanya tinggal menghitung waktu. Bagaimana dia bisa begiu tega.
“R-ravin.”
Panggilan dari Jovanka menghentikan pikiran Maria yang kalut, melihat putri cantiknya tengah memakai gaun putih dengan sedikit riasan membuatnya tampak lebih bersinar. Maria ingin membiarkan Jovanka dan Ravin makan malam yang istimewa, dia sudah mempersiapkanya secara mendadak tetapi special. Di taman belakang mereka, sebuah gazebo disulapnya jadi tempat makan indah.
“Bagaimana penampilanku?” tanya Jovanka setelah berdiri di depan Ravin.
Ravin mengangguk dengan senyuman. “Kamu selalu cantik.”
Meskipun, hal yang dikatakan Ravin tidak sepenuhnya jujur Jovanka masih terbilang sangat bahagia dan puas dengan pujian diberikan Ravin. “Terima kasih tapi, aku tahu kamu berbohong. Aku tidak selalu cantik malah, kamulah yang selalu terlihat tampan bahkan, ditiap hari tidak pernah terjeda sedikit pun dan malah membuat hatiku semakin sulit menerima kenyataan jika, kamu bukan milikku lagi.”
Tuk!
Ravin mengetuk dahi Jovanka. “Kamu harus sudah menerimanya saat ini,” ucapnya dengan tatapan tidak berdaya lalu, menarik tangan Jovanka mengaitkannya di lengannya dan berujar sambil menatap ke depan di mana tempat makan malam mereka sudah siap. “Tapi, di malam special buat kamu. Aku akan menemanimu menjadi orang special untukmu meskipun, itu hanya sementara karena kamu harus ingat untuk mengembalikanku pada si Punya.”
Jovanka tidak peduli lagi dengan hal apapun, hatinya sudah membuncah ketika cukup ada Ravin di sampingnya meskipun itu hanya sementara karena hidupnya pun tinggal sementara jadi, dia harus berlapang d**a ketika akhirnya Ravin mungkin tidak pernah menjadi miliknya sekalipun. “Aku akan berterima kasih padanya jika, aku memiliki kesempatan. Semoga si Punya mu tidak terlalu marah dan keberatan dengan malam ini,” balas Jovanka dengan senyum teduh sambil melirik Ravin.
“Jangan memberitahunya, dia hanya akan keberatan,” ucap Ravin diselingi tawa ketidakberdayaan dan Jovanka pun mengangguk setuju. "rahasiakan ini, cukuplah ini jadi kenangan bahagiamu."