Bunga yang layu

1528 Kata
Malam itu berakhir begitu saja terasa seperti sebuah mimpi ketika Jovanka kembali membuka matanya di pagi hari. Tidak seperti hari-hari biasanya ketika dia terbangun, yang pertama kali dia rasakan adalah kehampaan, dia masih hidup dalam keadaan tubuh sakit. Tidak sedikit dia bersyukur saat itu tetapi, menjadi ketika setiap hari dirinya selalu khawatir tak pernah terbangun lagi berbeda tadi malam sepertinya dia sangat bahagia dan tertidur lelap sampai terbangun kembali luapan kebahagianlah yang tersisa. “Jo, apa tidurmu nyenyak?” tanya Maria saat melihat putrinya menuruni tangga dengan wajah penuh senyum membuatnya sama bahagianya melihatnya secerah matahari pagi ini. “Nyenyak, Ma. Sangat-sangat nyenyak,” jawabnya ketika sudah sangat dekat dengan Maria mengambil tempat duduk di sampingnya lalu, bersandar manja di bahu Maria. “Sampai terbangun tadi, aku masih tidak percaya bisa tertidur sangat nyenyak seperti semalam.” “Sepertinya efek Ravin masih belum hilang.” “Hm.” Angguk Jovanka setuju. “Ravin memang penyemangat hidupku.” Maria cukup setuju untuk itu tetapi, dalam hatinya juga masih penuh ganjalan berpikir jika saja Ravin bisa menemani hari-hari Jovanka lebih sering hal itu, mungkin membuat putrinya lebih bahagia. ‘Apa lagi yang harus kulakukan agar membuatmu lebih bahagia, Sayang,’ ucapnya dalam hati sambil dibelainya kepala Jovanka yang berbalut bennie. “Apa jam segini Ravin sudah berada di kantor?” tanya Jovanka yang sebenarnya entah pada siapa karena padangannya sendiri melihat jauh ke luar jendela. “rasanya aku ingin menghubunginya, Ma.” Kali ini tatapannya beralih pada Maria yang juga sedang menatapnya. “Mama, gak yakin juga, Jo,” jawab Maria. Entah itu Jovanka atau Maria sama-sama tahu jika, Ravin sedang berada di dekat Inara atau keluarganya yang lain. Pria itu tak akan pernah mengangkat sambungan telepon mereka hanya jika,Ravin berada di kantorlah Jovanka punya kesempatan untuk berbicara meskipun, tidak pernah lebih dari beberapa menit. Ravin selalu jelas dengan kesibukannya dan Jovanka cukup jelas dia tidak pernah menjadi prioritas pria itu dan hanya sumber simpatinya saja. “Ma,” panggil Jovanka entah apa yang sedang dipikirkannya. “Ada apa, Jo? Kamu lapar?” Maria menoleh mengusap wajah Jovanka. “Ayo, kita sarapan dulu, yah. Papamu harusnya pulang kemarin tapi, huh… Mama jadi kesal sekali. Bagaimana dia gak merhatiin ulang tahun putrinya.” “Ma,” lirih Jovanka ingin mengatakan sesuatu tetapi, rasa sakit ditubuhnya tak mampu membuatnya berkata-kata lebih banyak. Maria merasakan keanehan tersebut, kali ini dia tidak hanya menoleh tetapi, langsung membalikkan tubuhnya dengan tangan yang tetap menahan kepala putrinya. Barulah setelah berhdapan dia bisa melihat apa yang sedang dialami Jovanka. Wajahnya memucat seiring waktu dengan keringat dingin yang muncul, mata Jovanka menutup tetapi, dari geretakkan giginya Maria tahu jika, putrinya tengah menahan sakit lagi. “Jo, kamu akan baik-baik saja. Mama telepon dokter sekarang, gitu juga sama papa kamu.” Air mata Maria sudah luruh jatuh dengan tangan gemetar, dia masih bisa meminta bantuan dan segera membawa Jovanka ke rumah sakit. Hal ini bukan sekali atau dua kali tetapi berkali-kali namun, meskipun begitu hal seperti ini tidak pernah membuat dirinya terbiasa. Melihat putri tunggalnya, buah hati yang dia kandung dan besarkan sakit hanya malah menambah rasa sakit pada diri sendiri dan tak mampu membayangkan jika, hal buruk terjadi. “Jo, kamu masih dengar Mama, kan?” Maria menggenggam tangan Jovanka erat, baru saja sebuah ambulans datang menjemput nereka dan saat ini keduanya sudah berada di dalamnya. “Jo, kamu harus bertahan, Sayang. Mama di sini, Papa akan segera menyusul kita, Jo ….” Kelopak mata Jovanka terbuka perlahan-lahan dia mendengar semua yang ibunya ucapkan tetapi, tubuhnya bahkan, mulutnya tidak bisa lagi berbicara banyak terlebih saat ini dirinya tengah menggunakan masker oksigen. Jelas kesulitan apa yang dia hadapi sehingga hanya tatapan matanya yang sayu , yang bicara. ‘Ma, aku sakit, Ma. Sangat sakit! Aku lelah tapi, tidak ingin kalah,’ keluhnya dalam hati. Maria yang seolah tahu apa yang tengah dipikirkan, menggeleng pelan dengan air mata berjatuhan. “Bertahanlah, Sayang. Mama dan papa masih begitu membutuhkanmu. Kamu gadis luar biasa kami, haruskah Mama juga panggil Ravin?” tanyanya saat terlintas. Jovanka tampak tidak merespon tetapi, gerakan tangannya yang lemah di dalam genggaman tangan Maria. “Ok, Mama mengerti, Sayang,” ujar Maria. “Ravin, iya, Ravin juga harus datang.”          Berdiri sendiri di depan pintu ruangan yang tertutup, Maria tidak bisa tidak menjatuhkan diri tak berdaya selama beberapa waktu lamanya hingga, dia bisa dengan cepat memulihkan kembali pikirannya yang pertama kali, dia panggil adalah suaminya yang berada di luar kota dan tidak disangka sedang berada diperjalanan pulang kemudian, sesuai keinginan Jovanka. Maria menghubungi Ravin, yang dia harapkan cepat datang. Namun, sayang. Saat dihubungi Ravin memang sedang berada di kantor tetapi, dia tidak bisa memegang ponselnya karena rapat perusahaan yang cukup menyita waktu dengan waktu yang masih pagi dan sedang sibuk-sibuknya. Tidak mendapat jawaban dari Ravin, dalam hati Maria hanya bisa mengumpatinya, begitu kesal dan marah. Ini untuk putrinya yang mungkin sedang sekarat saat ini. “Ayo, Ravin! Ravin kamu harus mengangkatnya. Kamu harus tahu keadaan Jovanka sekarang, dia membutuhkanmu di sisinya,” ujar Maria sambil menatap smartphone-nya yang masih terus menghubungi Ravin. *** “Saya mohon, saya bisa memperbaiki hal ini.” Soraya tampak memelas meski, dari matanya terpancar tekad kuatnya. “Tidak ada perubahan, yang berarti tidak adanya perbaikan,” balas Ravin yang juga keras kepala tidak ada negosiasi bagi keduanya. Semua sudah dia putuskan berarti, tidak ada yang bisa menelan ludah sendiri. Suasana hati Soraya yang semula ringan dan merasa percaya diri sehingga, berpikir bisa membalikkan kehidupannya lag tetapi, yang tidak disangka adalah alasan mereka memanggilnya kemari adalah untuk menuntas kontrak yang sama-sama kedua pihak sepakati sebelumnya. “Dan untuk kompensasi yang harus kami terima –“ Mendengar kata kompesasi, kepalanya menyembul ke atas dengan tatapan ke khawatiran berbeda dengan pertama kali dia datang untuk memutuskan kontrak. Kepalanya terangkat dengan sangat percaya diri. Dan, dalam waktu yang kurang dari satu bulan. Soraya sendirilah yang terpuruk membuatnya hampir setengah gila juga saat ini mendengar uang tuntutan atau kompensasi yang harus dibayar. “Kali ini, kompensasinya terlalu besar saya tidak mampu membayarnya,” ucap Soraya dengan wajah tertunduk meski, memalukan dia tidak punya pilihan lain untuk mengungkapkan hal tersebut kali ini. Mndengar hal ini, semua orang menoleh pada sosok Soraya dan menatapnya dengan cermat. Sebelumnya dirinya sendiri yang memutuskan kontrak dan yang tidak peduli dengan harga kompensasi, yang malah tanpa ragu merobek surat kontrak di sini. Kali ini pun seperti sebelumnya tanpa agen namun, kali ini dirinya terus menunduk tidak berdaya bahkan, pengacara yang dibawanya tampak tidak berguna tidak mampu mengatakan apapun. “Bagaimana Anda mengatakan hal itu di saat seperti ini. Apa yang Anda inginkan sebenarnya?” Soraya menyenggol kaki pengacara di sampingnya, berharap orang itu bisa mengatakan sesuatu. Pria dengan kacamata, yang kini berpeluh keringat tersenyum tidak berdaya saat merasakan gerakan kaki Soraya. “B-boleh aku bicara,” ucapnya gugup tanpa ragu lagi ini hanya penuh keraguan. “Katakan? Anda mau bicara apa?” “Perkenalkan saya Bambang pengacara Nona, Soraya. D-disini klien saya mengatakan.” Matanya melirik Soraya dengan tangannya yang sibuk mengusap keringat di keningnya sendiri. “Hari itu dirinya terlalu impulsive dan dalam keadaan pengaruh alcohol sehingga bisa dengan berani memutuskan kontrak besar seperti ini.” “Itu bukan alasan yang tepat karena, dari pihak kami pun sudah sangat serius dan berulang kali mempertayakan keputusannya namun, hasil yang di dapat saat itu adalah keseriusan nona Soraya.” Perwakilan karyawan Ravin bersuara dan dengan percaya diri mengangkat dagunya dan mengarahkannya pada Soraya. Soraya yang ditatap tentu saja merengut, merasa lebih tidak berdaya dan ingin terus menyanggah sampai orang-orang ini melupakan urusannya. Sayang itu semua hanya akan berada dalam mimpinya. “Saya bersalah,” akunya. “tidak bisakah saya diberikan kesempatan yang lain. “Apa Anda pikir itu mungkin?” “Pak Ravin,” panggil Soraya memelas dan menatapnya. “Saya mohon kali ini saja. saya sungguh, tidak mungkin bisa lagi membayar kompensasi sebesar itu.” “Tetapi, kami tidak punya pilihan lain. Semua sudah sesuai perjanjian di surat kontrak kerja kita. Jika, salah satu melanggar kontrak hanya akan membayarkan tiga kali bayaran yang sudah ditawarkan.”       Soraya hanya ingin menangis dan menjerit saja saat ini darimana lagi dia akan mendapat bayaran besar sedangkan, sekarang kontrak kerja yang dimilikinya pun sedang menunggu dalam urusan pemutusan kontrak. "Tidak bisakah ..." Ravin tidak ingin berbicara lagi, tampang Sorata benar-benar membuat semua orang tidak berdaya tidak tampak lagi kesombongannya dalam tempo hari. "Seharusnya Anda yang sudah dewasa dan berpikir jernih tidak akan melakukan tindakan gegabah hanya karena dorongan hati sesaat yang akhirnya seperti ini ... menyesatkan Anda dalam kesulitan diri sendiri." "Aku tahu dan sangat menyesal. Pak Ravin ...sekali saja." pintanya sungguh-sungguh, Kali ini bukan hanya Soraya tetapi, hampir semua karyawan di bawah kepemimpinan Ravin tengah menatapnya menunggu kepastian karena jika, Ravin bisa luluh. Soraya benar-benar dia bisa selamat dari kebangkrutan tetapi, orang-orang ini bodoh. apa hanya karena permintaan lemah seorang wanita dia bisa merubah kepurusan seperti itu. "Keputusan sudah dibuat dan tidak bisa diubah. Saya harap ini akan menjadi pembelajaran yang berharga untuk Anda. terima kasih untuk tahun-tahun sebelumnya dan kerja sama kita terputus di mulai saat ini," balas Ravin tegas membuat semua orang hanya bisa mendesah dalam hati sedangkan Soraya sendiri sudah menunduk lesu bagai bunga yang layu.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN