Firasat

1364 Kata
“Ada apa? Kenapa datang-datang wajahmu sudah kusut?” Inara baru saja melirik Nadira dengan tangan yang penuh kain yang siap dijahit. Nadira menggeleng tidak ingin mengatakan apa-apa dan segera berdiri membantu Inara. Melebarkan dan melilitkan kain di tangan Inara pada patung model dan segera focus pada pekerjaannya sampai mereka berdua selesai. “Kamu masih belum cerita, ada apa?” tanya Inara sekali lagi. “Aku lapar tadi tidak sarapan,” ucap Nadira lalu memesan makanan paket antar lama setelah selesai Nadira masih tidak ingin bicara. Inara yang setenagah kesal hanya bisa mengeluh. "Oke, terserah kamu Dir. mau cerita atau tidak tapi, ingat jangan membuat kacau saat bekerja jadi. fokus." Nadira tersenyum dan mengangguk yakin tetapi, Inara sebenarnya tidak puas dan itu terlihat jelas diwajahnya membuat Nadira sendiri tidak nyaman dan mulai berpikir dan akhirnya setelah memikirkan hal ini bukanlah masalh besar Nadira kembali menatap Inara dengan pandangan kosong. "Aku tidak bisa menemui Bagas," ucapnya bersamaan dengan helaan nafas panjang. "Memangnya kemana dia?" "Itulah yang aku gak tau. Dia jadi sulit dihubungi." "Udah coba ke rumahnya atau kantornya." Nadira menoleh, melihat Inara yang juga sedang menatapnya. "Aku gak berpikir sampai sana lagipula, ini baru beberapa hari." Inara berdecak, meletakkan gelas minumnya di meja sebelum merangkul sahabat di sampingnya ini. "Tapi, mungkin dia sakit. Harusnya gak perlu pikir panjang dan datang ke rumahnya aja. Mau aku anter?" "Gak usah," balas Nadira setelah cukup lama terdiam. Lalu, ragu-ragu bicara dengan suara pelan. "Lagipula Bagas belom beneran pacar sama aku, rasanya ...malu." "Ngapain harus malu, meskipun dia masih belum jadi pacarmu. Apa salahnya menengoknya sebagai teman. Seperti kamu gak pernah nengok teman sakit." "Kamu bener juga, sepertinya aku terlalu banyak berpikir," balas Nadira kali ini dengan sedikit senyuman malu dan di dalam hati dia sudah menetapkan hati untuk menengok Bagas nanti sepulang kerja. Inara pun jadi tenang melihat Nadira sudah seperti semula. Dia merasa lucu sekali dengan sikap Nadira yang untuk pertama kali memperlihatkan hal-hal seperti ini sungguh cinta mengagumkan bisa membuat orang berubah, hal ini juga berlaku untuk dirinya. Ketika mereka berbicara lebih banyak Tuti seorang pegawainya berbicara tergopoh dan wajah serius . Inara segrra tanggap dan bertanya, "Ada apa?" "I-itu wanita yang tempo hari datang lagi." "Siapa? Soraya?" "Iya!" "Dia membuat keributan lagi?" Tuti menggeleng untuk pertanyaan terakhir ."katanya dia ingin bertemu Mbak Inara." "Ngapain dia mau ketemu Inara?" Sebelum ada yang menjawab pertanyaan Nadira tentang hal ini. Tiba-tiba dari belakang Tuti, Soraya datang dan membuatnya berjalan mundur. "Aku di sini bukan mengajak ribut kali ini." Melihatnya Nadira segera berkacak pinggang seolah tengah menantang. Soraya mendengus, melibat tinggkahnya tetapi juga tidak bisa apa-apa. "Mau apa kemari lagi?" "Menemui kalian berdua terutama kamu ...Inara!" Tunjuk Soraya dengan dagunya. "Jangan buang waktu," ujarnya lalu meraih pintu di sampingnya dan menutupnya hanya biarkan dirinya dan Inara juga Nadira berada di sana. Dari wajah Soraya tidak tampak lagi rasa sombongnya, saat ini hanya kacamata bulat yang menutupi matanya dan dibalik itu Inara maupun Nadira yakin bukan hal bagus untuk dilihat. "Ada apa? Katakanlah sesuatu?" Pertama kali Inara bicara, dirinya tidak yakin sudah berapa lama tidak melihatnya terakhir kali satu atau dua tabun lalu, saat dengan percaya dirinya mengejar Elvan tidak pedulu sudah ada yang punya atau belum. Dan, terakhir kali dia juga mendengar keributan yang disebabkannya sampai-sampai katanya Ravin datang karena khawatir. Berbicara tentang hal itu Inara pun jadi ingat, Ravin pernah bercerita. Saking sombongnya wanita ini memutus kontrak dengan perusahaan untuk seorang Elvan. Suasana masih sunyi Soraya meremas tangannya gugup dan ýang pasti hatinya kesal tidak terima. 'Jika bukan karena hal itu, aku gak bakal yakin ada di sini,' ucapnya dalam hati dengan mata yang bergerak mencari CCTV yang akan mungkin merekam mereka srmua di sinj dan yah, memang ada dan hal itu hanya menambahkan kekesalannya saja. "Apa kamu masih akan diam? Kita tidak punya waktu untuk menungguimu cepat selesaikan lalu pergi," ujar Nadira kali ini tidak sabaran. Soraya juga tidak sabar lagi, menelan saliva gugup dan mulai membuka mulut. "Aku minta maaf." Hanya tiga kata itu yang keluar tetapi, cukup membuat suasana hening seketika karena ketidakpercayaan, orang sombong seperti Soraya bersedia minta maaf. "Kamu serius baru saja minta maaf?" tanya Nadira dengan senyum mengejeknya. Sebaliknya Soraya menjadi lebih kesal. "Iya, aku sudah minta maaf. Inara katalan pada suamimu, dia harus menepati janjinya." "Kenapa aku harus mau mendengarmu," sahut Inara jijik karena tiba-tiba saja merasa diperintah dan jelas sekali wanita di depannya ini tidak tulus meminta maaf padanya, apalagi setelah mendengar perkataan barusan itu pasti perintah Ravin. "I-inara!" Kesal Soraya memanggilnya. "Berani kamu kesal begitu?" Nadira berjalan satu langkah ke depan, memerhatikan penampilan Soraya yang mungkin saja berbahaya. "Aku sungguh-sungguh ingin minta maaf," ucapnya tidak berdaya. Menunduk malu, menjatuhkan pandangannya. Inara dan Nadira lagi-lagi tercengan tetapi, saat mereka ingin mengatakan sesuatu pintu tiba-tiba terbuka dan sosok Elvan yang masuk. Melihat Elvan di sana, Soraya langsung memeluknya seperti tempo hari melepaskan keluhannya atas semua ini. Kali ini yang merasa penuh kekesalan bukan lagi Soraya tetapi, Nadira. Perasaannya baru saja terasa ada yang menjatuhkan beban seratus kilo dihatinya melihat dua orang di depannya berpelukan dengan mesra. Namun, Nadira mengatur emosinya lagi. 'Tidak usah pedulikan mereka. Ingatlah Elvan bukanlah siapa-siapa. Dia tidak pernah lagi masuk rencana masa depanmu ...' Elvan merasa malu meberobos tiba-tiba dan malah mendapatkan pelukan juga dari Soraya. Dia kesulitan melepaskan pelukan tersebut, Soraya terisak di sana. Pandangan Elvan pun menyapu kedua gadis lainnya. Inara yang seolah tidak peduli dan Nadira yang menyimpan emosinya karena wanita itu segera memalingkan wajahnya melihatnya perasaan tak nyaman. "Cukup Soraya," ucap Elvan sambil berusaha melepaskan diri sendiri. "Elvan, kamu harusnya bantuin aku. Kamu tuh, harusnya ada di sana," ucap Soraya menjatuhkan keluhannya. Suaranya pun kini berubah menjadi serak seolah tengah menahan tangis. Elvan tidak menyahutinya tetapi, malah terus melirik Inara maupun Nadira berkali-kali. Nadira segera menghadapi tatapan Elvan dengan dengusan. "Sekarang cukup, yah, di sini bukanlah panggung. Kalian bisa pergi sekarang, tidak ada urusan lagi dengan kita-kita,kan?" "T-tunggu. Tunggu dulu," cegah Elvan saat ini ketika Nadira mulai mendorongnya dan Soraya keluar. Tetapi, siapa peduli, Nadira menyingkirkan mereka berdua. "Akhirnya pergi juga," ujar Nadira sambil menepuk kedua tangannya seolah baru selesai mengusap debu melihatnya Inara yang masih berdiri di tempatnya malah tertawa. Di balik pintu, wajah Elvan menjadi kusut dan suram karena baru saja terusir. "Kenapa kamu ke sini? Apa ingin buat lagi keributan?" Nadira menatap Elvan lalu, memalingkan wajah penuh keluhan. " Aku ke sini gara-gara kakak kamu. President perusahaan itu..." Setelah gambar kata-kata Soraya, Elvan tidak bisa berkata apa-apa lagi Ravin sudah mengambil keputusan dan tidak akan bisa diubah dan Sudah barang tentu dia tidak bisa ikut campur. "Aku juga harus minta maaf tidak bisa membantumu semua keputusan ada di tangan Mas Ravin." Sakit hati Soraya, tentu juga penuh keluhan mendengar kenyataan seperti itu tetapi, bisa apa dia. "Hm, aku tahu. Aku yang bodoh dan menanggung ini semua sendiri," ucapnya sedih sambil berbalik pergi, setangah berlari meninggalkan Elvan. Elvan yang ditinggalkan berdiri mematung melihat antara wanita yang pergi dan pintu yang tertutup. "Aku juga bisa gila jika, harus menghadapi hal seperti ini setiap hari. Kenapa gak pernah ada yang berjalan mulus," ujarnya kesal sambil menjambak rambut sendiri lalu, memilih juga pergi dari sana karena yakin dua wanita lainnya dibalik pintu tertutup itu pasti enggan bicara dengannya juga. Kembali ke ruangan. Nadira masih saja berwajah suram membuat Inara sedikit heran, bukan tidak pernah berpikir jika ada sesuatu antara dia dan Elvan tetapi, Nadira sendiri seringkali mengelak dan tidak bicara jujur. Kali ini Inara tidak bisa diam saja, dia terlalu ingin tahu. "Jujur, Dira. Kamu marah,kan, melihat Elvan dan Soraya berpelukan?" Kerutan dahi langsung muncul di wajah Nadira ketika mendengar pertanyaan Inara. "Apa maksudnya? Kenapa harus marah." Inara menghela napas tidak percaya. "Bodohi saja dirimu sendiri." "Aku gak membodohi diri sendiri,kok," elak Nadira. 'Elvan itu cowok plin-plan gak tahu siapa yang dia suka,' ujarnya dalam hati karena itulah yang memvuat bingung dan kesal. Melihat Nadira diam, Inara menutup mulutnya sendiri biarlah urusan mereka menjadi milik mereka karena aku mempunyai beban pikiran sendiri Entah kenapa firasatnya tidak bagus sejak beberapa hari ini di mana saat itu Ravin pulang sangat larut dengan penampilan yang tidak biasa membuatnya curiga ditambah dia membaui parfum wanita dari pakaiannya meski, tampak jujur tidak seharusnya dia percaya sepenuhnya pada Ravin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN