Hukuman karena berbohong

1524 Kata
Inara masih duduk menunggu sambil minum coklat panasnya, mala mini Ravin pun mengatakan akan pulang terlambat. Menyebalkan memang tetapi, bagaimana lagi tentu saja itu untuk perusahaan belum lagi sebelumnya dia mendorongnya untuk mengambil posisi sebagai bos di sana tetapi, tidak terbayangkan kesibukkanya begitu berat. Berulang kali Inara memeriksa jam di dinding, dia juga sudah berulang kali menguap tetapi, kali ini dia tidak ingin tidur lebih dulu seperti biasa lakukan entah kenapa ingin sekali melihat wajah suami tampannya itu. “Kapan Mas Ravin pulang? Ini sudah terlalu larut,” ucapnya dengan nada sedikit kesal. Tanpa terasa dengan membawa perasaan kesal dan lelah akhirnya dia tertidur di sofa dengan tayangan televisi yang menyala. Ravin benar-benar pulang tengah malam, wajahnya kuyu dan lelah. Siang tadi setelah menyelesaikan rapat serta pekerjaannya dia mendapatkan telepon dari Maria, yang mengabarkan Jovanka kembali masuk rumah sakit. Meskipun, sedikit khawatir dan enggan akhirnya Ravin tetap mencoba menjenguknya dan sekali lagi dia harus tertahan lama membuatnya terlambat pulang. Ravin benar-benar sangat lelah. Berkali-kali memegang batang lehernya yang pegal belum lagi punggungnya yang terasa panas, dia berjalan dengan menggeliat melemaskan tubuhnya. “Owh, ow … Sayang?! Kenapa masih duduk di sana?” tanyanya terkejut melihat istrinya duduk di sana sambil memandangnya. “Aku yang harusnya nanya. Kenapa Mas masih bisa pulang, heh? Gak sekalian aja nginep di kantor,” ujarnya ketus. “Maaf, Sayang. Pekerjaanku benar-benar banyak,” ucap Ravin sambil segera berjalan mendekati Inara untuk meraihnya tetapi, Inara segera menepisnya memilih bangkit dan hendak pergi ke kamar. Tetapi, sedetik kemudian dia berbalik mengendus sesuatu yang baunya cukup dihafalnya. “Mas habis pergi dari mana?” “Pergi ke mana?” balas Ravin berbalik tanya. “Memangnya aku pergi ke mana? Aku gak ke mana selain kantor dan apartemen kita.” “Mas, sedang berbohong!” Inara masih mencoba bersabar. Diam-diam Ravin menelan salivanya, dia benar-benar tidak ingin Inara tahu sudah pergi ke mana dia. Jika, istrinya tahu semua ini hanya akan menjadi masalah saja dan menganggapnya berselingkuh padahal, dia tidak pernah berniat pun tidak. “Aku sungguh tidak pergi ke mana-mana kecuali di kantor, Sayang.” Mendengar jawaban kukuh seperti itu, Inara tidak punya kesabaran lagi selain memilih pergi ke kamarnya dan tidak ingin mendengar semua omong kosong suaminya. Pertama kalinya dia kecewa berat tetapi, karena masih tidak memiliki bukti lebih baik dia diam terlebih dulu lalu, dia akan menampar suaminya jika berani berbohong lagi. Ravin semakin gugup melihat Inara pergi begitu saja, dia setengah berlari untuk menyusul tetapi tepat satu langkah memasukan kakinya ke kamar. Pintu dengan cepat tertutup tepat di depan batang hidungnya. Sambil berbicara dia mencoba mengungkit engsel tetapi, itu sudah terkunci. “Inara, Sayang. Buka pintunya aku bersalah. Aku tidak akan berani pulang larut malam lagi.” “Berisik! Jangan bicara lagi, aku ingin tidur sekarang.” “Sayang, tapi aku masih di luar,” lirih suara Ravin dan memukul pintu kamarnya dengan kepalannya. Dia juga lelah dan ingin tidur di kasur yang nyaman tetapi, berapa kali pun dicoba pintu kamar masihlah tertutup. Akhirnya, mau tidak mau Ravin berbalik kembali ke sofa, menjatuhkan tubuhnya di sana tidak peduli tubuhnya masih berbalut kemeja kerjanya. Pagi hari Inara bangun dengan tubuh yang tak nyaman. Perutnya terasa kembung dan ditenggorokan terasa mual, buru-buru dia ke toilet untuk muntah tetapi, hal itu hilang begitu saja meskipun, perutnya masih tidak nyaman. Melihat ke kasurnya yang kosong, Inara ingat sudah membiarkan suaminya tidur di luar. “Semoga saja dia bakal jera,” ujar Inara sambil berjalan ke luar. Dan, benar saja Ravin sudah seperti bayi. Tubuhnya meringkuk dengan kedua kaki ditekuk sampai d**a dan hanya berselimut jasnya tampak tidur nyaman meski, dalam penampilan seperti itu. Inara tidak ingin membangunkannya, saat ini lebih baik tak mengacuhkannya saja dan meneruskan apa yang ingin dilakukannya yaitu minum air hangat membuat perut kembungnya lebih baik. Dari sudut pantry dan duduk di depan meja makan setelah dia menyiapkan air hangat serta sereal untuk sarapannya. “Aku tidak akan membangunkanmu, Mas terserah saja jika, Mas terlambat datang ke kantor malah, bagus sekalian gak usah kerja.” Sesuai kata-katanya, Inara sama sekali tidak membangunkan Ravin bahkan, dia berusaha sebisa mungkin bergerak tanpa menimbulkan suara juga, gorden-gorden pun tidak ia buka sama sekali. Smartphone-nya yang sudah hampir sekarat dan tergeletak di meja pun di matikannya sehingga tidak akan ada yang mengganggu Ravin kecuali dirinya terbangun karena upayanya sendiri. Inara bukan karena kasihan sampai melakukan hal ini tetapi, niatnya lebih untuk memberinya pelajaran. Senyum yang sudah seperti smirk terukir di bibir Inara ketika, terakhir kalinya dia melewati Ravin yang benar-benar masih tertidur dan tidak terganggu apapun. “Aku pergi dulu, ya, Mas. Sampai jumpa,” ucapnya sambil berlalu pergi. Sesampai di butiknya. Inara melepaskan kekesalannya dan menjalani harinya dengan ceria, mengerjakan beberapa tugas pesanan. Meskipun, mood-nya buruk tetapi inspirasi tidak berkurang dan semangatnya tumbuh saat itu juga tidak lalai, Inara mengerjakan apa yang dia bisa berbeda dengan Nadira. Sejak kedatangannya tadi pagi, mood-nya terus anjlok. Wajahnya tertekuk, tidak ingin bicara dengan siapapun. Inara menghela napas, setelah menyelesaikan dua sketsanya Inara segera merenggangkan tubuhnya membuat s**u coklat kegemarannya sekarang. Datang ke depan Nadira yang masih mengutak-atik laptopnya tanpa menghasilan apapun hanya garis-garis tak karuan yang muncul tidak peduli juga, saat terlihat ada notifikasi dari ponselnya. “Gimana kalau pesan-pesan itu datang dari pelanggan kita, kamu masih bakal mendiamkannya? Hm?” “N-nara,” panggilnya terkejut karena saat berbalik wajah Inara tepat di depannya. “Ada apa? Ngagetin aja, ih?” “Bukan aku yang ngagetin tapi, kamu sendiri yang banyak sekali melamun. Ada apa cerita dong? Kamu udah janji, loh, kalo punya masalah gak bakal bikin kerjaan kamu ke ganggu tapi, sekarang?” “Inara,” panggil Nadira sedikit serius kali ini setelah menghela napasnya sambil menopang dagu dan menatapnya dengan mata anak kucing yang imut. “Kenapa rasanya akhir-akhir ini kamu ma…makin cerewet?” “Oh, ya? Lalu gimana sama kamu yang akhir-akhir malah makin sering bergalau ria seperti bukan Nadira yang kukenal dulu,” ujar Inara sambil memutar bola matanya lalu, menyipitkan matanya ketika tatapan mereka bertemu. “Yang tidak peduli ada masalah apa, Nadira sahabatku hanya akan focus pada apa yang ada dihadapannya.” Mulut Nadira terkatup rapat, dengan bibir mencebik, dia kalah lagi dari sahabatnya. Mengeluarkan napas panjang sebelum akhirnya menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan berulang kali mengetuknya. “Sekarang katakan apa yang terjadi?” tanya Inara tidak memberi kesempatan Nadira mengelak. “Aku nungguin, loh.” Nadira mendongak, hanya melihat Inara yang sedang melipat kedua tangannya di depan d**a. “Ok, aku cerita! Ini masih masalah tentang Bagas. Akhirnya, aku mendapat kabar darinya. Ternyata, dia baik-baik saja dan hanya sedang sibuk. Itu katanya.” “Hanya itu?” “Kayaknya cuman itu tapi, aku gak percaya,” keluh Nadira kesal. “Kalau memang dia seperti itu, lalu kamu mau apa? Kita gak akan bisa dengan mudahnya menekan sifat seseorang kan? Juga gak cukup untuk asal memberinya kesempatan orang lain itu maju ke depan umum.” Nadira pun mengangguk setuju, semua yang dikatakan Inara benar sepertinya kini dia sudah mulai berubah menjadi wanita lemah setelah dekat dengan pria padahal baru saja Bagas, bagaimana jika ada yang lain. Apa dia bisa? Memikirkannya membuat Nadira malu sendiri. Dulu berpikir, dirinya wanita tangguh dan tidak akan mudah goyah oleh godaan seorang pria ternyata bullshit. “Makasih, yan, Nara.” “Makasih buat apa?” tanya Inara heran terlebih saat ini Nadira beranjak dari tempatnya. “Kamu mau ke mana?” “Aku mau pergi dulu. Aku masih penasaran meskipun, Bagas bilang hal seperti itu aku, kan perlu mengkonfirmasinya. Jika, dia berengsek aku hanya tinggal meninggalkanya daripada aku hanya terus memikirkannya dan hanya mengira-ngira.” Kali ini Nadira ingin bergerak cepat dan tegas. Inara hanya bisa mendukungnya. Memikirkan apa yang dilakukan Nadira, Inara pun memikirkan untuk belajar mengajar Ravin agar tidak pernah berani berbohong padanya meskipun, tidak yakin. Semalam Inara membaui bau desinfektan seperti yang biasanya ada di rumah sakit tidak mungkin salah karena akhir-akhir ini dia sensitive denga bau. Jadi, tidak perlu berpikir terlalu banyak. Seseorang yang akrab dengan bau rumah sakit dan tidak mungkin menjauh dari rumah sakit hanya satu orang yang masih paling sering ada Jovanka. Membayangkannya membuat Inara marah lagi dan kesal pada suaminya yang masih berani memperhatikan wanita lain di depan hidungnya. ‘Gak akan aku maafin, Mas. Kalau kamu bernai-beraninya selingkuh.’ Di dalam apartemen. Bulu kuduk Ravin berdiri, seolah baru saja seseuatu meniuplam kejahatan di balik punggungnya. Ketika membuka mata, yang terlihat adalah ruangan yang teduh berbalik dia melihat jika, itu gorden yang tertutup dan dari balik gorden itu dia yakin matahari sudah terbit tinggi. Sekejap dadanya berdebar kencang dan merah ponselnya yang ternyata mati tidak menyala. Akhirnya hanya bisa menoleh ke jam dinding. Betapa terkejutnya, ini sudah sangat siang dan taka da yang membangunkannya. “Inara!” teriaknya dengan setengah kegilaan berlari ke arah kamar yang sudah terbuka tetapi, tidak menemukan siapapun. Panic tentu saja, Ravin menjambak rambutnya frustrasi sambil memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Saat ini dia tidak bisa lebih kacau. Menjaga pikirannya Ravin mandi dan setelah segar, dia sampai lupa untuk mengecash smarthphone nya dan yang pertama kali dia hubungi setelah ponselnya menyala adalah istri cantiknya yang sepertinya sedang menghukumnya dengan sangat benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN