"Inara." Ravin masih saja berkali-kali menggumamkan nama istrinya antara kesal dan tidak habis pikir bagaimana bisa istrinya melakukan hal ini. Ravin keluar dari kamar mandi dalam waktu beberapa menit, hanya memastikan seluruh tubuhnya basah dan wajahnya bersih tidak peduli akan kebutuhan sabun kali ini saja. Menghapus semua air dengan kecepatan kilat lalu, setengah berlari membuka lemari pakaian yang dalam sekejap memilih satu set jas asal dan segera memakainya.
Sudah hampir jam sebelas ketika Ravin keluar dari apartemen dan berlari ke tempat parkir, mengisi daya baterainya dari sana dan mulai menghubungi Rudi asistennya. Bukan lagi kejutan ketika saat menghubungi asistennya, suara Rudi-lah yang pertama kali terdengar.
"Pak Ravin! Anda ada di mana?" tanyanya dengan suara nada panik.
"Tenanglah, aku sedang dalam perjalanan."
Rudi di seberang ingin sekali mengeluh Bagaimana bisa menjadi sebentar saja ini sudah lebih dari 2 sampai 3 jam dari jadwal pagi mereka, belum lagi semua berkas-berkas yang harus ditandatangani segera karena harus melakukan proses hari ini juga. "Apa saya harus menjemput Anda?" tanyanya lagi kali ini dengan tidak berdaya. " ada berada di rumah sakit lagi?"
"Aku sedang di jalan dan ah...sialan! Di sini macet."
"Tentu saja akan macet. Ini Ibu kota, harusnya ada datang lebih pagi," rengek Rudi tidak percaya yang merupakan hal penting seperti ini. Kemacetan sudah seperti makanan yang harus mereka nikmati dipagi, siang dan terutama sore hari ketika para karyawan pulang dan lelah.
Ravin sakit kepala, memegang pangkal hidungnya agar sedikit menekan denyutan nyeri di dalam kepalanya. Belum lagi perutnya yang mulai keroncongan, rasanya perih Dia benar-benar sangat lapar merasa lemas setelah melalui gerakan cepat seperti tadi. "Aku sedang lelah, Rud. Jangan terlalu banyak bicara dan lakukan sesuatu untuk meringankan pekerjaanku."
Mendengar suara dingin dan tegas itu Rudi kembali tegak di tempat duduknya dia mulai memeriksa pekerjaannya lalu berbicara, "Saya sudah melakukan hal yang bisa, Pak. Soal lain yang penting, itu tentu saja harus menunggu keputusan Anda. Pertemuan hari ini di jam sepuluh bersama pak Darma terpaksa saya undur karena ketidakhadiran Pak Ravin meskipun, pihak di sana jelas tidak senang."
Ravin pun berdecak kesal karena dia sudah berulang kali terpaksa memundurkan beberapa pertemuan karena alasan lain hal. "Ya, sudah kirim mereka sesaatu sebagai permintaan maaf kita."
"Baik, Pak. Saya akan mengurusnya." Rudi sedikit berdeham kali ini. "Pak Ravin, maaf tapi untuk rapat bersama PT. Humuse kita tidak mundur lagi atau bisa-bisa kita kalah dengan pesaing kita."
"Jam berapa?"
"Jam satu ini. Anda harusnya masih punya waktu dan saya di sini akan mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan."
"Oke, kalau begitu. Aku akan berusaha untuk segera sampai perusahaan." Setelah mengatakan hal itu Ravin segera menutup sambungan teleponnya dan menghubungi yang lain. Tetapi, Inara tidak mengangkat teleponnya membuat dirinya marah bercampur kesal.
Belum puas dia mencoba untuk menghubungi Inara kembali, ada sambungan lain muncul merusak konsentrasinya. Jika, bukan karena slip tangannya Ravin mungkin tidak ingin menjawab panggilan ini.
"Halo, Ravin."
"Ya, Halo," jawabnya ketus. Dia benar-benar kesal saat ini dan tidak memiliki seseorang untuk jadi pelampiasannya tetapi, orang yang menghubunginya saat ini menjadi orang yang merasa paling pantas mendapatkannya.
Maria merasakan emosi Ravin tetapi, tak diacuhkannya karena dalam dirinya sendiri tengah merasakan kegembiraan dan hanya ingin membagikannya. "Ravin, Jovanka telah sadar. Apa kamu bisa menjenguknya kemari."
Entahlah saat ini Ravin yang tidak bahagia mendengar hal tersebut, dirinya juga ingin tak acuh jadi, jawaban yang diberikan pun bernada cukup dingin. "Syukurlah, aku sibuk sekarang tidak akan bisa datang," jawabnya lugas dan bersiap mematikan sambungan. "Sudah hanya itu,kan. Aku tutup teleponnya."
Tut.
Ravin benar-benar menutup sambungannya tanpa menunggu jawaban dari Maria meski, terlihat tak sopan pada orang yang lebih tetapi, dia juga tidak punya pilihan lain. Dia masih ingin menghubungi Inara, memarahi istri cantiknya sedikit. Bagaimana dia mengabaikannya? Tidak peduli padanya pagi hari ini, setelah semalam dia juga harus tidur di kursi. Tubuhnya kali ini benar-benar sakit dan mendesah tidak menyangka kemarahan Inara bisa sampai seperti ini.
Dari balik sambungan Maria yang memiliki perasaan puas dan bahagia menjadi kesal melihat smarthphone-nya. Baru saja Ravin matikan sambungan teleponnya begitu saja tanpa mendengar apa yang ingin dikatakannya. Dia menoleh dan melihat kearah ranjang rumah sakit di mana Jovanka terbaring dengan membuka kedua matanya dan tersenyum.
"Apa Ravin akan ke sini?"
"Dia sibuk, Sayang," jawab Maria dengan kedutan di sudut bibirnya yang tidak bisa menahan kesal.
Jovanka menghela napas sangat pelan, dia masih menggunakan masker oksigen di hidungnya. Berkali-kali dalam kondisi seperti ini terkadang sangat melelahkan namun, kebahagian kecil menyempil dari lubuk hatinya ketika dia masih diberi kehidupan. Dan, satu hal lagi, dia ingin sekali saat membuka mata pertama kali ada Ravin, pria yang dicintainya meskipun, dia masih harus bahagia ketika ibunya mengatakan kemarin malam ravin ada di sisi-nya menungguinya.
Sebenarnya hal itu dilakukan juga karena Maria yang menyuruhnya untuk menunggui Jovanka. Maria tahu keinginan putrinya ya ingin melihat rafin pertama kali ketika membuka matanya jadi dia sedikit memaksa Ravin menunggu sampai tengah malam namun, baru tadi pagi Jovanka membuka matanya.
"Tidak apa-apa, ya, saat ini mungkin Ravin mungkin memang benar-benar sibuk di kantornya. Nanti sore kita akan menghubunginya lagi dia pasti akan datang menjengukmu."
"Hm," guman Jovanka menyetujui.
Ravin di jalan masih sibuk mengatasi kemacetan. Dengan smartphone yang terus mencoba berdering untuk menghubungi seseorang. Sampai akhirnya teleponnya kali ini tersambung.
"Halo, Mas--"
"Inara!" sela Ravin dengan suara tinggi, baru kali ini dia berteriak padanya seperti ini. "Gimana kamu bisa pergi tanpa bangunin aku. Apa kamu tahu, aku terlambat dan masih dijalan gara-gara kamu! Belum lagi kamu mengabaikan telepon aku dari tadi."
Inara tentu saja terkejut, dengan suara omelan keras Ravin. Matanya berkaca-kaca tidak tahu harus mengatakan apa tetapi, malah terselip kemarahan yang besar juga di hatinya. Kali ini ini dia menghilangkan kan perasaan menyesalnya Sebelumnya dia pun tidak sengaja mengabaikan telepon Ravin tetapi itu semua karena dia sedang sibuk berbicara dengan pelanggannya. "Kamu sudah berteriak dan marah-marahnya?" tanya Inara dengan suara menahan tangis dan marah. "Sekarang giliranku yang bicara! Aku gak akan peduli lagi sama kamu." Setelah mengatakan hal itu Inara segera menutup teleponnya dan mematikan dayanya agar tidak bisa dihubungi Ravin lagi. "Lihat saja, aku gak akan pulang ke apartemen. Aku bakal pulang ke rumah orang tuaku."
Ravin yang hanya mendengar kata-kata itu langsung tertegun. Dia diam dengan tangan yang berusaha terus menekan nomor untuk menghubungi Inara kembali tetapi sambungan kali ini bukan seperti sebelumnya, Inara mematikan daya smartphone-nya. "Akh, gila. Kenapa aku marah-marah pada Inara seperti itu. Sebelumnya aku hanya akan minta maaf lagi." Ravin menyesal berkali-kali lipat. Dia ingin terbang rasanya untuk segera sampai di hadapan istrinya kalau perlu bersujud. Istrinya, Inara tidak bersalah dirinya sendirilah yang bodoh.
Niat Ravin segera berubah dia akan terlebih dulu pergi ke butik Inara tetapi sebelum itu sebuah telepon kembali menyala dari Rudi, asistennya yang mengingatkannya untuk segera sampai perusahaan.
Sungguh tidak bisa diandalakan pikirnya saat itu. Hari ini emosi Ravin benar-benar terkuras habis, yang paling tidak bisa dia kendalikan adalah pertengkarannya barusan dengan Inara, dia merasa tidak tenang sama sekali. Dalam hati terus bertanya-tanya kemungkinan apa yang akan dilakukan Inara saat ini. Dia khawatir semua orang mengetahui pertengkaran mereka, sungguh dia tidak ingin membuat hal seperti ini menjadi besar.
"Pak Ravin, Anda tidak bisa melamun." Rudi di sampingnya yang berbicara mengingatkanya untuk kembali menekuni berkas-berkas dihadapannya.
"Berapa lama lagi, rapat diadakan?"
"Kurang dari sepuluh menit, Pak. Tidak ada waktu."
Ravin menghela napas dan mulai mencoba fokus dengan pekerjaan di depannya mencoba melupakan masalah rumah tangga nya untuk saat ini.