Menjemput Inara

1521 Kata
Kali ini bukan hanya dirinya yang berwajah masam tetapi, juga sahabatnya Inara yang setelah dia memerhatikan beberapa waktu lalu menerima telepon, padahal tidak sampai lima menit segera saja mood-nya berubah. Dan, Nadira bisa tahu jika itu dari Ravin. Jadi, kemungkinan besar mereka tengah bertengkar dan cukup lama dia berpikir apakah harus bertanya atau tidak. Khawatir jika Ravin tahu, dia yang bersikap sok ikut campur akan jadi masalah lagi terakhir kali saja, suami Inara itu bersikap dingin. Namun, sebagai sahabat tidak bisa diam saja. Nadira berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Inara membawakan tissu untuk menghapus air matanya sebelum, dia juga pergi membuatkan coklat panas kegemarannya akhir-akhir ini. "Minumlah, semoga perasaanmu lebih baik." "Makasih, Dir," sahut Inara dengan suara sengau orang yang baru saja menangis. Nadira mengangguk, "Maafin aku ya, kali ini aku gak bisa nanya kamu kenapa. Karena rasanya ini ada urusanmu sama rumah tangga kamu lagi." "Gapapa, segini aja udah cukup," balas Inara helaan napas juga senyum tipisnya. Setelah minum coklat panasnya, perasaan Inara sedikit lebih baik dan bisa berpikiran jernih lagi meskipun, dengan segala kerunyaman dihatinya ingin memarahi Ravin tetapi, demi apa itu percuma. Sebaik-baiknya pria ternyata tetap saja dia memiliki sifat dasar egois. 'Ya, Tuhan! Baru kali ini aku sangat kesal dengannya,' keluh Inara dalam hati. "Nara," panggil Nadira. "Apa?" "Rasanya mood kita, tidak sedang baik-baik saja. Gimana kita libur kerja saja buat hari ini? Ayo, menonton atau bermain saja?" Inara tidak perlu berpikir kali ini. Dia langsung mengangguk setuju. "Mau ke mana?" "Ke mana saja yang penting Happy, ssmpai bisa lupain masalah kita." Nadira sudah berdiri penuh senyum, sambil menyampirkan sling bag-nya. "Ayo, aku siap!" Inara tidak kalah cepat, dia juga siap dengan tas tangannya. Saat ini dia akan melupakan terlebih dulu pertengkarannya dengan Ravin. Kesehatan mentalnya juga penting. "Kita pergi ke mana?" Nadira mengemudikan mobilnya, mereka sudah berada dijalanan . Suasana siang hari tentu saja kemacetan yang ada. "Makan dulu, deh. Udah laper, aku pengen makan enak kalo hati sedang dongkol,tuh." "Tentu saja makan adalah yang paling utama. Aku juga lapar, kita ke tempat terakhir makan, gimana?" "Oke!" Inara dan Nadira akhirnya benar-benar menghabiskan setengah hari siang itu dengan bersenang-senang, menjalani hari mereka seperti dulu tidak lupa mengajak sahabat mereka yang lain mengobrol sampai lupa waktu. Tidak peduli sesenang apa akhirnya waktu kebersamaan mereka berhenti. "Kamu gak pulang ke apartemen?" tanya Nadira ketika akan mengantarkan Inara untuk pulang. "Ngga," jawab Inara dengan wajah ditekuk. Perasaan marah dan kesalnya kembali lagi seiring teringat pertengkarannya dengan Ravin. "Masalahnya serius banget ya sampai kamu nggak mau pulang ke apartemen." Inara mengulum bibirnya yang tetasa kering. "Entahlah apa di bisa disebut serius atau tidak. Tapi, sekarang aku tidak mau bertemu dulu sama Mas Ravin." Nadira mengangguk mengerti tidak meneruskan pertanyaan-pertanyaan lainnya lagi atau dia akan jadi orang penasaran. "Ok, jadi, kita pulang kerumah orang tuamu, ya?" "Yah, tentu aja ke sana. Tidak dirasa ternyata aku kangen Mama sama Papa," shutnya sambil menghela napas sambil menatap keluar jendela pada sisi jalan di mana sebuah pemandangan bergerak begitu cepat. Ravin melihat jam tangannya, sudah lewat satu jam dari waktu para karyawan pulang. Niat sebelumnya adalah pulang tepat waktu dan mengajak Inara makan malam diluar tetapi, akhirnya dirinya sendiri yang tidak punya waktu dan terlambat. Saat pulang tak lupa Ravin membeli kue coklat sebagai permintaan maaf. "Inara," panggilnya kali ini dengan hati berdebar tetapi, tidak ada menyahutinya. Ravin menghela napas berpikir tentu saja tak akan dijawab istrinya sedang marah jadi, Ravinlah yang perlu mencarinya. "Inara, Sayang! Maafin aku, aku tahu aku yang salah." Cklik! Ravin membuka pintu kamar mereka tetapi, tidak ada siapapun. Dia berkeliling rumah memastikan semua tempat dan Inara tidak ada. Ravin segera menghubungi Inara, ponselnya masih mati sejak tadi. Segera setelah meletakkan barang di tangannya,Ravin kembali pergi dipikirannya hanya satu Inara. Dia pergi sesuai tebakannya saja, karena yakin tak mungkin wanitanya pergi jauh. Saat ini Ravin sudah ada di depan rumah mertuanya, dia yakin istrinya berada di dalam. "Aku tidak boleh marah, tidak boleh marah!" Ravin memperingati dirinya sendiri, menepuk-nepuk dadanya mencoba memgontrol emosinya saat melihat kembali ke depan. Tidak peduli apa yang harus membawa Inara pulang. Menarik nafas tenang Ravin bersiap keluar mobil dan masuk ke sarang singa. Tidak perlu diragukan lagi, orang tua akan marah jika, anaknya terluka atau tersakiti oleh orang lain jadi, Ravin pun siap jika akan dimarahi. "Ravin?" Farah cukup terkejut menantunya berdiri di luar. "Malem, Ma." sahut Ravin dengan senyum tenangnya padahal dalam hati sedang jantungnya berdebar kencang. "Ravin ke sini mau jemput Inara." "Ayo, masuk dulu!" perintah Farah. Tidak perlu diperintah dua kali, Ravin melangkah masuk dan mulai tak sabaran ketika bertanya, "Inara ada di sini, kan, Ma?" Farah melirik menantunya, "Ada," jawabnya singkat. "Mama panggilkan dulu." Ravin bernapas lega, mertua perempuannya tidak bertanya apa-apa tentang masalah mereka. Malu dia jika, sampai mereka tahu dan berharap Inara tidak mengatakan apa-apa juga. "Inara, Sayang. Suami kamu datang, tuh," ujar Farah setelah masuk kamar putrinya. "Kalian bertengkar,kan? Mama bukan ingin tahu banyak hanya memastikan saja. Asal kamu baik-baik saja tidak apa-apa. Bertengkar antara suami-istri itu wajar." Inara segera meletakkan novel yang sedang dibacanya, bernapas berat lalu lari ke pelukan ibunya. "Makasih, Ma. Aku tahu Mama yang terbaik." "Kalau begitu cepat turun. Gak udah pake acara kabur-kaburan juga selesaikan semuanya sama suami kamu." "Aku masih kesel, Ma. Males ketemu Mas Ravin." Inara menolak dirinya masih ingin menginap di sini. "Gak baik, gitu. Ravin udah dateng jauh-jauh," ujar Farah. "Kalau kamu nginep di sini boleh aja asal harus dapat izin dulu dari suami kamu itu." Wajah Inara ditekuk lagi tetapi, tidak menolak saat Farah menariknya untuk berjalan turun ke ruang tamu. Di sana Ravin sedang berbicara santai dengan ayahnya. Entah, apa yang mereka bicarakan hal itu membuat Inara tidak enak saja. Kenapa ayahnya tidak membantunya memarahinya. "Inara," panggil Ravin semangat melihat kehadirannya. "Oh, kamu udah turun." Inara mengangguk mendengar pertanyaan ayahnya, Inara berpura-pura tidak melirik Ravin sampai kedua orang tuanya memilih pergi meninggalkan dia dan Ravin untuk berbicara. Mulut tipis Inara masih terkatup rapat, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh suaminya. Ravin sendiri mendesah sedih, dia mencoba menarik jarak dekat tetapi, Inara memilih mundur membuat Ravin mau tidak mau langsung menarik tangannya dan meraih pinggangnya agar wanita itu tidak terus memberi mereka jarak. "Jangan terus mundur, Mas, kan, ingin bicara." "Mas, bicara aja tapi, gak usah pake deket-deket juga dan lepasin!" Inara berusaha melepas tangan Ravin dari pinggangnya. "Eh, eh, kok, rasanya pinggang kamu gendutan ya." Ravin dengan sengaja mengalihkan pembicaraan, dia juga cukup tidak tahu malu memeluk istrinya seperti ini di rumah mertuanya. Tetapi, belum sadar diri jika, kemarahan Inara sudah diatas ubun-ubunnya. Tidak ada wanita yang mau dibilang jika, dia tengah gendutan. Itu kata-kata keramat yang seharusnya dihindari. "Aa-aakh!" Inara sangat kesal, bagaimana bisa suaminya bilang dia gendutan padahal dia sangat sedikit makan. Jadi, Inara mencubit bagian perut Ravin sangat keras tanpa pikir dua kali. "Sakit," rengek Ravin dengan mata berkaca-kaca tetapi, tidak sedikitpun melepas tangannya dari pinggang sang Istri. "Bodo amat," ketus Inara sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya juga, memalingkan wajahnya tidak ingin melihat suaminya. Ravin mendusel, dileher Inara sambil menciuminya sampai geli. "Maafin, aku, yah?" ucapnya penuh rasa bersalah. "Aaakh!" Inara terus mencoba menghindar ketika Ravin melakukan aksinya."Dasar gak tau malu! Jangan menciumku di sana itu geli!" Kesal Inara sambil menjauhkan wajah Ravin dari lehernya. Ravin tidak peduli, dia malah senang. Keduanya masih seperti ini beberapa lama sampai Inara yang melepaskan tangannya sendiri karena kesal tidak bisa menjauh dari Ravin, yang notabene pria. Melihat Inara menyerah Ravin semakin mengeratkan pelukannya."Ok, ok! Kalau gitu kamu maafin aku dulu dong? Terus kita pulang sekarang, yah?" "Gak mau!" "Inara," panggil Ravin dengan nada manja. "Mas yang salah. Mas tadi emosi sama kamu, kamu boleh marah tapi jangan kabur kayak gini." "Aku nggak kabur cuman ingin tidur di rumah orang tuaku." Ravin mendesah, mencium puncak rambut Inara. "Kita pulang, ya?" Inara kesal dengan dirinya sendiri merasa akan dulu hanya karena kata-kata sederhana dari Ravin. "Gimana kalau aku tetep gak mau." "Harus pulang, Sayang. Kita, kan sudah punya rumah sendiri. Jangan repotin mereka." Masih saja kesal, Inara memukul d**a Ravin. "Mereka orangtua-ku gak bakal merasa repot." "Tapi, aku suamimu. Kamu nginep di sini, aku juga bakal di sini juga... lihat nanti di kamar apa aja yang bakal kita lakuin." Inara melotot, memukul d**a Ravin lagi bahkan, ingin mencubitnya. Sayang tangannya segera ditahan Ravin dan malah dicium. "Yakh! Mas Ravin nyebelin banget, sih." Inara mendorong Ravin menjauh dan segera beranjak bangun. Sambil menghentakkan kakinya, dia tidak punya pilihan lain untuk pulang atau pria yang sedang menyeringai bodoh itu bakal melakukan hal bodoh lainnya. Ravin tidak menunggu lama, ketika Inara turun dengan barang-barangnya. Mereka segera pamit pada kedua orang tua Inara. "Maafin Ravin, ya, Ma, Pa. Udah ganggu waktu istirahat kalian. Lain kali kami ke sini lagi." "Iya, gapapa. Tapi, kenapa gak nginap di sini aja, sih? Udah malem juga." "Gak usah, Ma. Kita pulang aja," tukas Inara. Melirik Ravin sebal lalu memasuki mobil. "Iya, mending kita pulang saja. Masih ada yang bicarain sama kita berdua." Kedua orang tua Inara mengangguk mengerti. Tidak memaksa toh, itu urusan rumah tangga keduanya. "Kalian hati-hati." "Iya, Ma, Pa. Sekali lagi terima kasih," ucap Ravin dan segera kembali masuk mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN