Ravin berkali-kali melirik Inara dari ketika mereka masih di mobil sampai keduanya berjalan berdua di koridor apartement. Dia ingin memegang tangannya tetapi, Inara tidak pernah membiarkannya berkali-kali tangannya ditepis. "Inara," panggilnya melas.
Panggilan itu tidak diacuhkan Inara, memilih memasuki apartement terlebih dulu dan segera masuk ke kamar membersihkan diri sedikit sebelum masuk ke dalam selimut dan langsung memejamkan mata.
Ravin mendesah, melihat Inara yang sudah berbaring tidak pikir panjang dia segera ikut berbaring tidak peduli jika pakaian yang digunakannya masihlah kemeja dari luar. Di bawanya Inara dalam pelukanya.
"M-mas!" teriak Inara sebal sekaligus terkejut karena ulah tiba-tiba Ravin.
"Apa?"sahutnya sambil mendusel di tubuh Inara. "Maafin Mas,ya, jangan marah lagi."
Inara mendengus sambil mendorong Ravin menjauh. "Mas, bersihin dulu tubuhnya ganti baju baru naik ke atas kasur. Cepat, cepat sana! Atau aku gak bakal maafin,Mas."
Mendengar hal itu Ravin segera beranjak bangun dan melesat langsung ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dengan mandi lalu berganti pakaian. Menyelesaikan urusan kebersihannya Ravin berdiri mematung dilihatnya Inara sudah tertidur. Berjalan terhuyung-huyung sampai ke atas ranjang, akhirnya Ravin hanya bisa memeluk Inara dari belakang tanpa berbicara apapun malam ini. "Aku masih harus minta maaf sama kamu, Sayang. Maafin aku," ujar Ravin pada keheningan malam yang tersisa di antara mereka.
Di pagi hari. Inara terlebih terbangun dan melihat wajah suaminya tepat di depannya. Disentuhnya wajah itu dari atas kening, hidung, bibir sampai ke ujung dagu lalu, tak lama rasa marahnya muncul kembali maka, dengan jahil Inara menyentil kening Ravin. "Bangunlah, ini sudah siang Apakah Mas mau terlambat lagi?" ujarnya sambil menggeliat dan melepaskan pelukan suaminya itu.
Ravin menguap lebar merenggangkan tubuhnya selebar-lebarnya dengan mata yang setengah menyipit melihat Inara disisi ranjang beranjak pergi padahal, belum sempat Ravin memeluknya bahkan memanggilnya.
Ravin sudah sangat ingin berbicara dan menyelesaikan antara mereka tetapi, Inara seolah tidak memberinya kesempatan dan memilih menyibukkan diri dengan apapun yang bisa dia lakukan sampai akhirnya, keduanya telah menyelesaikan sarapan mereka dan tak lama waktu keduanya berangkat kerja. Untuk kali ini Ravin bersedia terlambat, terserah saja yang terpenting saat ini dia bisa menahan Inara di sisinya. "Jangan pergi dulu! Kita harus bicara."
"Bicara apa? Mas bakal terlambat masuk kerja."
"Aku gak peduli. Terserah saja kali ini," sahut Ravin yang menarik Inara supaya duduk di sofa, dan dirinya sendiri bersimpuh di depannya dengan kedua tangan digenggam.
"Ada apa, sih?" tanyanya jelas dengan nada risih sepertinya, jelas Vihara belum memaafkan Ravin sepenuhnya.
"Kamu pasti masih marah. Belum memaafkan Mas, kan? Mas, mau mengaku dan meminta maaf soal yang terjadi kemarin."
"Ngga usah minta maaf. Akunya yang salah," ujar Inara sambil berdiri tetapi, masih ditahan oleh ravin hingga didudukan kembali ke tempatnya semula.
"Dengarkan, Mas, dulu!" Pinta Ravin sungguh-sungguh. Mata mereka saling bertatapan yang satu baris yakin dan dengan lain memerhatikan. "Kemarin Mas'lah yang emosi dan gak sepantasnya marah apalagi berteriak sama kamu."
Bola mata Inara bergerak ke bawah di mana Ravin kini diam setelah menyelesaikan kata-katanya dan sangat ingin mengangguk setuju pada kata-katanya, tidak seharusnya dia marah padanya.
"Sayang, maafin, Mas."
"Hm," gumam Inara tetapi adalah yang disesalinya. Dalam hati dia berteriak karena terlalu cepat mengambil jawaban.
Sebaliknya, Ravin sangat berterimakasih sampah mencium tangan Inara berulang kali. "Makasih, Sayang. Aku bener-bener nyesel lakuin hal itu sama kamu. Hidupku gak tenang."
"Udah. Gak usah lebay," ucap Inara jengah melihat perilaku Ravin yang berlebihan kali ini.
Ravin memyeringai senang, memeperlihatkan deretan giginya yang rapih. Untuk terakhir kali dia mencium Inara di bibirnya meskipun, masih mendapat protesnya juga. Dalam hati dia sungguh sangat lega, satu masalahnya berkurang dan kini masih ada hal lain yang perlu dia akui dan bicarakan."aku masih harus mengakui kesalahanku yang lain dan aku harap kamu masih bisa maafin aku."
"Jadi, kamu punya salah yang lain?"
"Iya," sahut Ravin sambil memgangguk. Ya, dia bakalan sangat merasa bersalah jika dia terus menyembunyikan hal ini.
"Apa?" tanya Inara yang kali ini ini mulai penasaran dan sedikit rasa takut karena pikirannya kini mulai mencoba menebak-nebak kesalahan apa yang dilakukan suaminya.
Sebelum bisa berbicara terus terang Ravin menarik napas, mempersiapkan dirinya terlebih dahulu tak lupa, dia meremas tangan Inara juga menggenggamnya erat sambil menatap Inara dengan ketulusan yang tidak pernah disembunyikannya selama ini.
Inara mulai kesal, Ravin belum juga berbicara dan hanya menatapnya cukup lama. "Mas cepet ngomong atau aku pergi aja."
"Jangan-jangan, Mas bakal bicara sekarang."
"Kalau begitu cepat."
"Ok!" Ravin menguatkan dirinya. "Jadi, alasanku selalu terlambat pulang bukan hanya karena urusan kantor tapi, juga...." Ravin menelan salivanya, takut dengan tanggapan Inara selanjutnya. Mata mereka bertemu ketika Ravin memilih mendongak. "Aku masih menjenguk Jovanka."
Udara disekitar Inara terasa menyempit, dirinya tidak pernah curiga atau sebenarnya mengelaknya karena terlalu percaya pada suaminya. Bagaimana urusan yang telah lalu terulang kembali pikirnya. Dan, kali ini Inara masih seperti tidak pada tempatnya, dirinya terdiam membisu dengan tatapan mereka berdua yang belum terlepas.
"Inara, Mas tahu kamu pasti bakalan marah tapi, Mas mohon dengarkan penjelasan Mas dulu."
"Gak ada yang perlu dijelasin," ucap Inara akhirnya membuka suaranya sambil menepis tangannya dari genggaman Ravin.
Namun, Ravin segera berbalik memeluknya tidak membiarkannya pergi atau menjauh. "Kamu harus dengar dulu penjelasan, Mas."
"Apalagi?! Udah jelas Mas, ternyata masih mencintai wanita itu, kan? Makanya, Mas berani berbohong dan masih terus menemuinnya."
"Dia sekarat, Sayang."
"Lalu apa hubungannya sama kamu,Mas. Apa Mas sendiri yang buat dia sekarat?"
"Tentu saja, ngga."
Inara meremas kemeja depan Ravin, mendongak dengan tatapan tajam. "Lalu, kenapa? Kenapa Mas masih menemuinya," ucapnya penuh emosi. "Padahal sebelumnya Mas sudah janji tidak akan berhubungan lagi dengannya."
"Mas, tahu! Mas salah."
"Mas, Jahat! Jadi, kemarin malam memang Mas dari rumah sakit menemuinya, hah?"
Ravin, mengangguk mengiyakan.
"Pantas aja aku bisa mencium bau rumah sakit lalu .... malam sebelumnya, ke mana Mas pergi? Karena aku bisa mencium bau parfum wanita. Apa kamu juga main sama wanita lain? Berselingkuh?"
"T-tidak! Tidak," jawab Ravin gugup. "I-itu pada malam sebelumnya, aku merayakan ulang tahun Jovanka. Kami makan malam ber-sama."
Inara ingin menjerit kesal tetapi, tubuhnya kaku dengan mulutnya kelu tidak bisa bicara sepatah kata pun. Kecewanya jadi, begitu dalam.
"I-inara Jovanka tengah sekar—"
Rasanya Inara tidak mau mendengar lagi, tubuhnya kali ini memberontak melepas dari pelukan Ravin. " lepasin aku jangan memelukku lagi," ujarnya sedikit lemah. Ravin meninggalkan pelukannya tetapi tetap tidak melepaskan Inara dari lingkraan tangannya.
"Sayang?"
"Jangan menyebut-nyebut kata sayang lagi. Kamu berani berbohong sungguh membuat kecewa."
"Aku tidak bermaksud," ujarnya lirih dan malah mengerutkan pelukannya pada Inara. "Aku tidak punya perasaan lagi padanya, atau terbersit mencintainya. Itu tidak sama sekali. Karena, yang kucintai saat ini sampai akhir nanti cuman kamu."
"Apa Mas pikir aku masih bisa percaya?"
"Percaya aku Inara, aku jujur jika hanya kamu yang aku cintai saat ini," ucapnya penuh percaya diri.
Inara ingin menangis saja tetapi, tidak didepan Ravin, suaminya. Dia tidak mau dibilang lemah apalagi cengeng meski jika, saat ini jelas sakit hati karena dibohongi. "Aku gak bicara sama Mas lagi," ucapnya sambil berbalik pergi menuju kamar dan menguncinya.
Ravin ingin mengejar tetapi, akhirnya dia memilih membiarkan Inara pergi untuk menenangkan diri mungkin, apa yang dia katakan memang benar-benar menyakiti hatinya. Namun, dia berdiri di balik pintu dan berbicara, "Inara, kamu boleh istirahat tapi, ingatlah Jangan melarikan diri. Jangan Pergi! Ok, Mas sayang sama kamu dan cuman cinta sama kamu. Mungkin Mas berbohong tapi, tidak pernah membohongi hati Mas sendiri. Alasan Mas masih menemuinya karena Jovanka sedang sakit dan sekarat."
"Diem, Mas! Aku gak mau denger alasan kayak gitu lagi."
"Ya, sudah. Mas harus pergi dulu ke kantor tapi, ingat kamu tidak boleh pergi kemana-mana. Mas, pulang cepat."
Mendengar suara langkah yang berbalik dan mulai menjauh, Inara yang masih berdiri di depan pintu tertutup berjalan terhuyung dan menjatuhkan diri di atas ranjang bergelung dengan selimut dan mulai terisak menangis.
Ravin tiba di kantor sedikit lebih siang tetapi tidak seperti hari kemarin tanpa banyak bicara dia mulai menyelesaikan pekerjaannya sedikit demi sedikit. Rasanya mulai tidak bisa menahan diri untuk segera pulang masih di kantor dia berkali-kali menghubungi Inara memastikan istrinya tidak lagi dan melarikan diri ke rumah orang tuanya, tiap jam seperti itu sampai di sore hari Waktunya mendekati pulang kerja. Smartphonenya berdering menyematkan nama yang menjadi sumber pertengkarannya dengan Inara 'Jovanka' tetapi, bukan suara wanita itu yang terdengar melainkan Maria ibunya.
"Ada apa, Tante?" tanya Ravin, to the point tanpa basa-basi lagi terakhir ketika Maria menyebut 'halo'.
"Ravin, tante hanya ingin menyampaikan kabar jika sekarang jovanca sudah membuka matanya nya dan jika bisa maka datanglah kamu juga pasti ingin melihat Jovanka, bukan?"
"Hari ini aku tidak bisa, " balas Ravin dengan lusu. " lain kali lagi aku akan menemuinya. Terima kasih atas kabarnya. Sekarang aku harus segera pulang."
"T-tapi Ravin. Jovanka ingin menemuimu."
"Aku tidak bisa, Tante. Urusanku terlalu banyak saat ini jadi, aku akan menyelesaikan urusanku terlebih dahulu sebelum nanti menemui Jovanka lagi."
"Jangan begitu Vin. mungkin saja Jovanka tidak memiliki banyak waktu lagi." Di seberang sana Maria meremas tangannya gugup setengah takut. Putrinya tidak memiliki waktu lagi dan kebahagiaannya hanya bersumber pada Ravin dia ingin memberikan kebahagiaan yang terakhir kalinya.
Ravin sendiri kukuh pada pendiriannya dia akan mengurusi Inara terlebih dulu sebelum nanti bisa menemui Jovanka lagi. Meski, entah itu nanti mantan kekasihnya tidak lagi bernapas. Dia sudah melakukan yang terbaik jadi,jika Inara masih tidak memaafkannya dan tidak membiarkannya untuk bertemu Jovanka dia tiada akan mengulanginya lagi.
"Bagaimana kalau Tante yang bicara pada Inara," usul Maria tiba-tiba, dirinya tidak ingin sampai Ravin tidak menemui Jovanka lagi. Tubuh Jovanka benar-benar sudah lemah dan entah kapan Tuhan akan mencabutnya dan hanya Ravin kebahagiaan terakhirnya yang ingin dia berikan.
"Jangan lakukan, istriku mungkin malah akan semakin marah. Tante, maaf."
"Jangan minta maaf Ravin kamu tidak bersalah. Ini hanyalah permintaan seorang ibu dari seorang putrinya yang tengah sekarat yang mungkin akan mati dengan kesedihan."
Ravin tidak mencoba berkata-kata lain. dia mungkin tidak sepenuhnya mengerti pengorbanan seorang Ibu tetapi, dirinya masih bisa bersimpati ketika merasakan penderitaan ketika ditinggalkan.